PENDAHULUAN


 

Juzu' ke-23 kita mulai dengan Surat Yaasin, yaitu Surat yang ke-36 dalam susunan Al-Qur'an dan yang mengandung 83 ayat, dan diturunkan di Mekkah. Diturunkan sesudah Surat Al-Jinn.

Sebagaimana kebiasaan Surat-Surat yang diturunkan di Mekkah, pokok utama yang dibicarakan ialah 'aqidah. Mula sekali dengan sumpah "Demi Al-Qur'an yang penuh berisi hikmat", Tuhan menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw. memanglah Utusan Allah seba­gaimana Utusan-utusan Allah yang telah terdahulu jua. Muhammad diutus ke dunia memimpin manusia melalui jalan yang lurus, dengan memakai AI-Qur'an, wahyu Tuhan itu sebagai pedoman. Diterangkan­lah selanjutnya bagaimana pentingnya manusia mendapat bimbingan, agar hidupnya di dunia jangan sampai tersesat, dan di akhirat pun jangan sampai menderita azab tersebab kesalahannya di dunia ini. Malahan bahagialah hendaknya hidupnya di dunia dan bahagia pula kelak kemudian hari di akhirat.

Kemudian dari itu dijelaskan betapa hebat perjuangan Utusan­-Utusan Allah itu bila mereka menyampaikan da'wahnya kepada manusia. Untuk ini diceritakanlah perjuangan dua orang Utusan Allah, yang kemudiannya dibantu oleh seorang Utusan lagi. Mereka telah bersungguh-sungguh menyampaikan da'wah itu, namun bantahan dari kaum mereka sangat keras, akhirnya kaum itu jualah yang binasa. Semua untuk peringatan.

Setelah mengemukakan perjuangan Utusan-utusan Tuhan itu dan kebinasaan yang menimpa kaum mereka, barulah wahyu selanjumya mengajak manusia yang menerima seruan. Di sini tertentulah kepada ummat manusia seluruhnya, meskipun asal-usul diturunkan untuk peringatan kepada kaum yang menolak Kebenaran yang dibawa Muhammad, supaya diperhatikanlah keadaan alam di keliling.

Perhatikanlah bumi tempat kamu hidup ini, bagaimana bila bumi itu telah mati kering karena hujan tidak turun, kemudian dia dihidup­kan kembali oleh Allah, keluarlah hasil bumi itu dan dari sana kamu makan. Buah-buahan subur, air pun mengalir. Semua terjadi berpa­sang-pasangan, berjantan berbetina, malam bergantian dengan siang, matahari beredar di tempatnya yang telah ditentukan dan bulan pun berkeliling sejak bulan sabit sampai purnama dan sampai susut kembali, semua beredar dengan teratur, sehingga matahari tidak boleh mengejar bulan dan malam tidak boleh mendahului siang.

Kemudian itu dibangunkanlah kenangan manusia tentang asal usulnya dari zaman dahulu, tatkala dengan sebuah bahtera besar nenek generasi kedua manusia membawa dan menyelamatkan manu sia yang beriman karena orang yang tidak man menerima anjuran kebenaran akan ditenggelamkan. Hal ini diperingatkan yang dapat kita fahamkan secara mendalam bahwa pelayaran dengan bahtera itu sampai sekarang masing diteruskan oleh anak-cucu, kita pun masih berlayar, baik dengan kapal yang sungguh-sungguh ataupun hidup itu sendiri laksana berlayar adanya. Sewaktu-waktu kapal ini dapat saja tenggelam, hanyalah rahmat dan belas kasihan Tuhan jualah yang mempertahankan kita, sampai kepada satu waktu yang tertentu.

Lalu dibayangkanlah bahwa satu waktu kelak panggilan akan datang, satu pekik yang keras dan dahsyat saja akan mengubah keadaan, dan jemputan itu tidak dapat dielakkan lagi, sehingga berwasiat pun tidak sanggup. Dan nanti, dalam satu waktu yang ditentukan oleh Tuhan sendiri, makhluk yang trlah tidur nyenyak dalam alam maut entah berapa waktu lamanya, akan tersentak karena dibangunkan dengan sekali pekik pula. Maka datanglah hari perhi­tungan itu; tiap orang akan menerima ganjaran dari bekas amalnya di kala hidup di dunia ini. Malanglah mana yang hidupnya durhaka, clan bahagialah mana yang hidup dalam tha'at.

Setelah itu diperingatkanlah kepada manusia yang lalai dan lengah, sehingga sampai mereka lupa kepada Persembahannya yang sejati, yaitu Allah, ditukamya dengan menyembah syaithan, mengapa

salah memilih jalan. Sekarang begini yang tersua! Neraka jahannam menganga menanti; mulut terkunci, tetapi tangan mengakui kesalahan dan kaki menjadi saksi.

Memang banyak sanggahan kepada Nabi, sampai dia dianggap enteng, dikatakan hanya seorang penyair. Allah pertahankan Nabi­Nya, bahwa orang semacam itu bukanlah tampak penyair.

Itulah macamnya manusia; mereka tidak ingat bahwa dirinya hanya terjadi dami air mani segumpal, namun dia masih suka mendebat dan:mencari selisih. Bahkan ada yang sambil mencemooh menanyakan apakah tulang yang telah mumuk ini akan hidup kembali? Siapa yang akan menghidupkan? Nabi disuruh menjawab, yang akan menghidup­kan kembali itu ialah yang menciptakannya sejak <iari tanah, lain jacii nuthfah dan lalu jadi manusia itu; "Allah!".

Bukan saja manusia Dia ciptakan dengan qudrat iradat-Nya seca­ra demikian, bahkan pohon kayu yang hijau pun ada yang mengan­dung api, sehingga dengan kayu hijau itu kamu dapai menghidupkan api. Bagi Allah semuanya itu hanya bergantung kepada sxtu kata saja, yaitu KUN. Yang berarti JADILAH! Maka dia pun terjadi.

Surat Faathir yang terdahulu daripadanya (Surat ke-35) sama tebalnya dengan Surat Yaasin, sama-sama 6 halaman atau tiga lembaran kertas. Tetapi Surat Faathir hanya terdiri dari 45 ayat sedang Surat Yaasin mengandung 83 ayat. Maka ayat-ayat dari Surat Yxasin ini pendek-pendek dan mengandung gaya bahasa dan susun kata yang jitu tapi amat berkesan. Apatah lagi kalau dibaca dengan lagu yang khusyu'. Bila kita mengerti isi kandungannya, tahu akan maknanya, akan besarlah pengaruh atas hati kita.

Bersabda Nabi saw.:

"Dari Ma'qal bin Yasaar (moga-moga Ridha Allah atas dirinya), berkata dia, berkata Rasulullah saw.: "Bacakanlah Dia atas orang man kamu" (yaitu Yaasin). (Dirawikan oleh At-Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasaai. Dirawikan juga oleh lbnu Majah dari hadits Abdullah ibnu Al-Mubarak).

AI-Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan jika Surat ini dibacakan di dekat orang yang dalam sakaratil maut, Allah akan meringankan baginya dan mudah keluar roh.

Tambahnya pula, "Surat ini membawakan rahmat dan berkat dan memudahkan keluarnya roh dari badan". Demikian dicatatkan oleh Ibnu Katsiir dalam tafsirnya.

Demikianlah di antara beberapa pengalaman penulis tafsir ini, seketika pergi menziarahi ('Iyaadah) seorang saudara yang sakit di Rumah Sakit Pelni, Jati Petamburan Jakarta, pada hari Jum'at 6 Dzul Qa'idah 1396, bertepatan dengan 29 Oktober 1976 pada pukul 5 petang hari. Maka sebelum sampai ke bilik tempat saudara yang sakit itu tidur, saya melalui bilik lain yang di sana seorang perempuan separo umur, sekitar 50 tahun sedang dikerumuni oleh ahli keluarga­nya, anak-anak dan cucu-cucunya. Semuanya menunjukkan duka cita, sebab sejak pagi tadi perempuan itu telah dalam sakarat, tetapi amat susah akan melepaskan nafasnya. Sudah berulang kali diajarkan Kalimat Syahadat, tidak ada yang didengarkannya lagi, namun kesusahan melepas nafas itu kian lama kian nampak. Saya terus saja ke bilik saudara yang saya tengok itu. Setelah kira-kira 10 menit duduk di dekat saudara yang sakit itu, datanglah dua orang anak dan keluar­ga dari orang yang sakarat tadi, mohon saya datang ke bilik itu. Barangkali dengan bimbingan saya, si sakit dapat terlepas dari kesu­litan sakarat itu. Mereka pun semuanya sudah maklum bahwa harapan buat sembuh sudah tidak ada lagi.

Saya duduk di dekat pembaringannya, saya suruh beberapa ke­luarga yang ramai mengelilinginya itu bertenang, jangan gelisah, jangan menangis. Lalu saya bacakan Surat Yaasin dengan suara yang tenang, penuh khusyu' dan haru dan mengharap serta memohon kepada Tuhan, jika memang telah waktunya agar dia jangan dibiarkan lama menderita. Sejak mulai ayat pertama Yaasin dibaca, mulailah si sakit tidak menghempas-hempas lagi, kian lama kian tenang dan sesampai saya membaca pada ayat 77 (Awalam yaral insaanu anna khalaqnaahu min nuthfatin fa idzaa huwa khasiimun(m)mubiin". Sampai di ujung ayat itu saya membaca dan sampai di situ pulalah nafasnya yang terakhir. Sesudah itu bergerak sekali saja dagunya, dan dia pun pergilah buat selama-lamanya. Maka kedengaranlah pekik ratap, tangis menggarung-garung dari gadis-gadis dan keluarga yang tidak terkendalikan dan bacaan saya teruskan sampai ke akhir Surat: "Wa ilaihi turja'uun".

Waktu itu saya rasakan benar pengaruh dari bacaan itu dan menambah keyakinan saya kepada apa yang diterangkan oleh seorang di antara Imam-imam kita yang berpengalaman, Imam Ahmad bin Hanbal dalam menjalankan sabda Rasulullah, supaya dibacakan Yaasin untuk orang yang telah dekat waktunya meninggalkan dunia fana ini.

Sedangkan orang yang tidak mengerti artinya lagi terpengaruh, apatah lagi orang yang mengerti makna dan maksud tiap-tiap ayat AI­Qur'an itu.

 
 
 
01     02     03    04    05     06  08  09  10                                          Back To MainPage       >>>>