TAFSIR SURAT YAASIIIN AYAT 22 - 29


 

22- Mengapa aku tidak akan menyembah kepada yang telah menciptakan daku dan kepada Nya kamu semuanya akan dikembalikan?


23- Apakah aku akan mengambil tuhan-tuhan selain Dia? Jika Tuhan Maha Pengasih hendak memudharatkan daku, maka tidaklah berguna untukku syafa’at mereka sedikit jua pun dan tidaklah mereka akan dapat menyelamatkan daku

.

24- Sesungguhnya jadilah aku - kalau demikian - dalam kesesatan yang nyata.

25- Sesungguhnya aku telah percaya kepada Tuhan kamu itu, maka dengarkanlah akan daku.

26- Dikatakan: “Masuklah ke dalam syurgai” Dia berkata:
‘Ah, sayangl Alangkah baiknya jika kaumku mengetahui.

-

27- Dengan ampunan yang telah dikurniakan Tuhanku
kepadaku dan Dia telah menjadikan daku termasuk orang-orang yang dimuliakan.”

-

28- Dan tidaklah Kami menurunkan ke atas kaumnya itu, sesudah dia, suatu pasukan pun dan langit dan tidaklah Kami menurunkan

29- lidak ada, selain pekikan sekali saja maka tiba-tiba padamlah nyawa mereka semua.

 

Satu pertanyaan timbul dan si laki-laki yang datang dan ujung negeri itu:

وَما لِيَ لا أَعْبُدُ الَّذي فَطَرَني
“Mengapa aku tidak akan menyembah kepada yang telah menciptakan daku?!” (pangkal ayat 22).

Suatu peringatan yang dibawa kepada diri sendiri: Suatu da’wah yang jauh maknanya. Isi pertanyaan laki-laki itu yang dihadapkannya kepada dirinya sendiri, adalah sindiran kepada kaumnya. Adakah patut saya tidak bersyukur dan tidak menyembah kepada Allah? Padahal tidak ada tuhan-tuhan yang lain yang sanggup menciptakan daku? Bagaimana mungkin, kalau aku ini seorang yang berakal, aku akan menyembah kepada yang lain?

وَ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Dan kepadaNya kamu semuanya akan dikembalikan?” (ujung ayat 22).

Sesudah dia mengingatkan kepada kaumnya dengan mengambil pangkalan pada kejadian dininya sendiri, barulah di ujung kata dia mempeningatkan bahwa mereka itu semuanya akan dikembalikan kepada Allah jua. Mereka semuanya pasti satu waktu akan dapat panggilan dan Tuhan. Kemudian diiringinya dengan pertanyaan lagi:

أَأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ آلِهَةً
“Apakah aku akan mengambil tuhan-tuhan selain Dia?” (pangkal ayat 23).

Apakah aku akan menyembah berhala atau patung? Atau benda-benda lain yang aku ambil sendirii lalu aku puja sendiri? Padahal akulah yang berakal. sedang barang sembahan yang terdiri dari menyembah berhala atau patung? Atau benda-benda lain yang aku ambil sendiri lalu aku puja sendiri? Padahal akulah yang berakal, sedang barang sembahan yang terdiri dari benda itu tidaklah terkenal kalau bukan aku yang mengenalkan. Tidaklah bertuah apa-apa kalau tidak aku yang menuahkan. Tidaklah berharga kalau tidak aku yang menghargainya.

إِنْ يُرِدْنِ الرَّحْمٰنُ بِضُرٍّ
“Jika Tuhan Maha Pengasih hendak memudharatkan daku.”

Hendak menimpakan suatu bahaya ke atas diriku

لا تُغْنِ عَنِّي شَفاعَتُهُمْ شَيْئا
‘Maka tidaklah berguna untukku syafa’at mereka sedikit jua pun.”

Misalnya berhala-berhala atau tuhan-tuhan buatan itu aku letakkan di tengah rumah kediamanku untuk aku sembah dan aku puja. Tiba-tiba pada suatu malam rumahku terbakar. Maka tidaklah aku akan selamat, dan sekali-kali tidaklah berhala itu dapat menyelamatkan daku kalau aku terkurung dalam rumah terbakar itu dan tidak segera lari keluan. Dan apabila aku segera lari keluan, lupa membawa lari berhala itu, dia akan turut hangus dimakan api dan akulah yang selamat. Barulah dia selamat kalau lekas aku bawa dia ke luar. Kalau tidak lekas ketungkasan, aku lari dan rumah punah, maka jika api telah padam dan hari telah siang, yang akan aku dapati ialah onggokan dan runtuhan rumah yang telah jadi bana dan abu, termasuk berhala yang tidak dapat menolong dirinya itu.

ً وَلا يُنْقِذُون
“Dan tidaklah meneka akan dapat menyelamatkan daku.” (ujung ayat 23).

Misal rumah terbakar dan berhala turut terbakar karena tidak ada yang lekas melarikannya keluar, sehingga pagi-pagi didapati berhala pun telah turut jadi tumpukan abu dan bana ini  adalah perumpamaan yang tepat tentang tidak dapatnya selain Allah memberikan syafa’at.

إِنِّي إِذاً لَفي‏ ضَلالٍ مُبينٍ
“Sesungguhnya jadilah aku  kalau demikian  dalam kesesatan yang nyata.” (ayat 24).

 Yaitu kalau kiranya aku menyembah tuhan-tuhan yang lain, padahal sudah nyata bahwa apa yang dianggap jadi tuhan-tuhan itu tidak memberi mudharat dan tidak pula memberi manfaat, niscaya termasuk orang yang sesatlah aku atau termasuk orang yang bodohlah aku jika perbuatan seperti demikian masih tetap aku kerjakan. Kemudian dengan penuh keyakinan orang yang datang dan ujung, negeni dengan tergesa-gesa itu menutup perkataan dengan penuh ketegasan:

إِنِّي آمَنْتُ بِرَبِّكُمْ
“Sesungguhnya aku telah percaya kepada Tuhan kamu itu.” (pangkal ayat 25).

Yaitu Tuhan Allah Yang Maha Esa, Yang Tunggal, yang tiada bersekutu yang lain dengan Dia, dan itulah Tuhan kamu yang sebenarnya. Sedang berhala-berhala atau yang lain yang kamu katakan tuhan berbagai macam itu adalah tuhan bikinan belaka, tuhan acak-acakan.

فَاسْمَعُونِ
“Maka dengarkanlah akan daku.” (ujung ayat 25).

Turutilah nasihatku. Nasihatku inilah yang benar, yang akan membawa selamat bagimu jika kamu turuti. Setelah orang yang datang dari ujung negeri itu memberikan nasihat yang demikian kepada kaumnya, maka dalam susunan Surat, datanglah lanjutan pada ayat 26.

قيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ
“Dikatakan: “Masuklah ke dalam syurga!” (pangkal ayat 26).

Kemudian datang sambungan ayat,

قالَ يا لَيْتَ قَوْمي‏ يَعْلَمُونَ
‘Dia berkata: Ah, sayang! Alangkah baiknya jika kaumku mengetahui.” (ujung ayat 26).

Menurut tafsir yang disampaikan oleh lbnu lshaq dan Abdullah bin Mas’ud (moga-moga ridha Allah ke atasnya), bahwa setelah orang yang datang dari ujung negeri itu selesai menyampaikan nasihat dan seruannya kepada kaumnya, orang sekampung halamannya, tidaklah nasihat itu diterima baik. bahkan orang-orang itu sangat naik darah dan murka kepadanya, sampai mereka tidak dapat mengendalikan diri . Dia dikerumuni bersama-sama lalu dipukuli sampai terjatuh. Dan setelah dia terjatuh lalu diinjak-injak sampai keluar isi perutnya lantaran diinjak, lalu mati. Maka datanglah sabda Tuhan kepada ahli da’wah yang jujur itu setelah dia mencapai syahidnya dan masuk ke alam barzakh.

“Masukilah kamu ke dalam syurga!”

Karena memang demikianlah janji yang telah ditentukan Tuhan untuk onang-orang yang menjadi kurban dan sebab menyampaikan da’wah kepada jalan Tuhan . Maka setelah dia melihat pahala dan balas jasa yang telah disediakan Tuhan untuk dirinya, mengeluhlah dia:

“Ah sayang ! Alangkah baiknya jika kaumku mengetahui.”
Di dalam ayat ini bertemu ucapan si penda’wah itu di pangkal katanya:

“Ya laita ! ” Menurut aturan tata bahasa Arab kalimat laita ialah kalimat mengharap suatu hal yang tidak mungkin lagi kejadian. Seumpama orang yang telah mati mengharapkan agar dihidupkan kembali, atau seseonang yang menyesal hidup lalu mengharap agar dia dikembalikan saja ke dalam penut ibunya, dan sebagainya. Di sini ketika menafsinkan dan menguraikannya kita tambah di pangkal dengan kata-kata, “Ah sayangl”, supaya dapat mendekati maksud laita itu agak sedikit.

Ayat selanjutnya, yaitu ayat 27 adalah sambungan senafas dan ayat 26, yaitu si penda’wah, yang kata setengah ahli tafsir namanya Habib itu menyesal, mengapalah kaumnya tidak mengetahui hal yang telah dihadapinya setelah dia merasakan maut. Telah lepas sakit hati kaumnya, karena dia telah mati karena perutnya mereka injak-injak. Padahal sakit mati kanena diinjak itu hanya sebentar waktu saja dirasainya, mungkin sekira lima atau paling banyak sepuluh menit. Setelah rohnya pindah ke alam barzakh, kedatangannya telah disambut oleh suara , yaitu suara malaikat atau perintah Tuhan mempersilakannya masuk ke dalam syurga. ltulah yang dikeluhkan oleh si penda’wah. Sayang kaumnya tidak mengetahui apa yang dia rasakan sekanang.

بِما غَفَرَ لي‏ رَبِّي
“Dengan ampunan yang telah dikumiakan Tuhanku kepadaku.” (pangkal ayat 27).

Sehingga kalaupun ada kesalahan, kealpaan dan kelalaian sebagai manusia pada waktu hidupku di . dunia, semuanya telah diampuni Tuhan. Semuanya dipandang soal kecil saja oleh Tuhan, karena telah dibandingkan dengan usahaku yang lebih besar, yaitu menyadarkan kaumku akan Kebenaran, supaya Iman kepada seruan yang dibawa oleh Rasul-rasul Tuhan.

وَ جَعَلَني‏ مِنَ الْمُكْرَمينَ
“Dan Dia telah menjadikan daku termasuk orang-orang yang dimuliakan.” (ujung ayat 27).

Ayat ini adalah penambah keyakinan dan penebalan Iman bagi tiap orang yang berjuang menyerukan Kebenaran, melakukan seruan dan da’wah kepada jalan Tuhan. Biarpun dia dianiaya sampai mati, namun matinya adalah syahid. Kesakitan maut hanya sebentar saja dirasakan, entah dua tiga menit saja, yang selebihnya adalah nikmat dan rahmat ilahi. Pintu syurga dibukakan dan berbagai sambutan kehormatan diberikan dan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang dimuliakan. Kalau kendor keyakinan kita tentang ini , lemahlah perjuangan kita. Sebab telah lemah iman kita.

Adapun tentang kaumnya yang telah membunuh ahli da’wah yang jujur itu, keadaan mereka sepeninggal dia telah dijelaskan oleh Tuhan dalam ayat yang selanjutnya.

وَما أَنْزَلْنا عَلى‏ قَوْمِهِ مِنْ بَعْدِهِ
“Dan tidaklah Kami menurunkan ke atas kaumnya itu, sesudah dia,” (pangkal ayat 28)

 yaitu sesudah si penda’wah itu meninggal sebagai seorang syahid 

مِنْ جُنْدٍ مِنَ السَّماءِ
“Suatu pasukan pun dari langit” Tegasnya: Sesudah penganjur yang jujur itu meninggal dunia, Tuhan mulailah dengan berangsur menurunkan azab siksanya kepada kaumnya yang menolak kebenaran itu. Tetapi tidaklah dengan menurunkan suatu pasukan besar dari langit buat menghancurkan mereka

وَما كُنَّا مُنْزِلينَ
“Dan tidaklah Kami menurunkan.” (ujung ayat 28).

Tidak ada tentara malaikat yang dikirimkan dari langit dan tidak pula Tuhan menurunkan yang lain.

إِنْ كانَتْ إِلاَّ صَيْحَةً واحِدَة
“Tidak ada! Selain pekikan sekali saja.” (pangkal ayat 29).

Begitu gagah perkasa mereka selama ini menantang Tuhan, akhirnya dengan tidak perlu Tuhan mengirimkan tentara besar dari langit atau menurunkan azab yang lain yang hebat-hebat. Cukup dengan pekik sekali saja. Yaitu teriakan keras yang sangat menyeramkan dan menakutkan, entah dari sebab gunung merapi yang meletus sekali saja, lalu mereka ditimpa lahar, atau bunyi gelora air bah dan banjir besar, sehingga mereka binasa tenggelam.

ً فَإِذا هُمْ خامِدُون
“ Maka tiba-tiba padamlah nyawa mereka semua.” (ujung ayat 29).

Khaamiduun yang di ujung ayat berarti orang yang tidak bisa bernafas lagi, misalnya karena tertimbun tanah, atau terbenam dalam air, atau karena terkurung dalam satu lobang, udara tidak masuk sehingga mati sendiri. lbnu Katsir setelah menyalinkan kata riwayat setengah ahli tafsir yang mengatakan bahwa kejadian ini ialah di negeri lnthakiyah dan Rasul ketiga itu ialah Rasul-rasul menurut istilah Kristen, murid-murid Isa Almasih anak Maryam yang dikirim ke sana, akhirnya mengambil kesimpulan meragukan riwayat lnthakiyah itu, yang bersumber dari Qatadah. Sebab di ayat 14 disebutkan “Arsalna”, yang berarti: Telah Kami utus, artinya utusan langsung dari Allah. Dan dalam sejarah pun disebutkan bahwa lnthakiyah tidaklah pernah menolak kedatangan murid-murid Isa Almasih yang beliau utus, bahkan dianggap termasuk empat negeri yang jadi tiang-tiang penegak Agama Almasih. Yaitu Jerusalem , lnthakiyah, lskandariyah dan Roma .

Melihat ujung dari ayat 29 yang mengatakan bahwa setelah mendengar pekik sekali pekik itu make padamlah nyawa penduduk negeri itu semuanya, kita mengemukakan tafsiran yang lain. Boleh jadi negeri ini ialah negeri Pompeyi di Italia, yang terletak di kaki gunung Vesuvius. Gunung itu meletus pada tahun 79 setelah Nabi Isa lahir. AhIi-ahli pencatat sejarah menerangkan betapa hebatnya bunyi gunung itu ketika meletus, sehingga ketika mendengar bunyinya saja telah banyak orang yang padam nyawanya, terbongkar tali jantungnya karena tidak tahan mendengarkan letusan itu. Letusan yang amat dahsyat itu telah menyemburkan lahar hitam yang panas, sehingga gelaplah langit dan tertimbunlah oleh debu letusan itu kota-kota Pompeyi, Herculanum dan Stabiae. Mulai dari tahun 1748 barulah dimulai orang menggali kembali timbunan kota-kota itu. Masih dida­pati manusia yang tertimbun debu itu. Masih sedang berjalan di pasar, masih bergurau dengan teman, masih minum-minum di kedai, masih bercinta-cintaan laki-laki dan perempuan. Benar-benar mereka tidak siap lebih dahulu buat lari, karena tiba-tiba telah tertimbun debu.

Sekarang tembok-tembok kota Pompeyi itu masih dipelihara dan dijadikan obyek turis. Maka kelihatanlah ukuran di dinding yang telah kuno itu peri kehidupan orang di zaman itu, yang benar-benar telah lupa kepada nilai-nilai yang patut dipegang. Sampai digambarkan bagaimana caranya bersetubuh yang paling asyik.

Masuklah di akal kita, jika datang dua utusan Tuhan ke sana tidak diperdulikan orang, sehingga sampai diperkuat seorang lagi. Kemudi­an datang seorang yang tidak tertarik oleh kehidupan gila-gilaan. Dia datang dari ujung negeri!  

Datang dari ujung negeri mengisyaratkan bahwa orang ini tidak mau campur dalam hidup mewah yang gila-gila­an itu. Setelah dia mendengar ada Rasul-raaul Tuhan datang, dia keluar dari tempat persembunyiannya yang jauh, lain diajaknya kaum­nya agar menerima kedatangan ketiga Rasul itu dan percaya kepada­nya. Tetapi dia dibunuh orang. Sehingga samalah nasibnya dengan seorang muballigh yang pergi melakukan da'wah ke tempat orang berbuat segala maksiyat sejak dari judi, minum arak, berjina, menipu dan berkelahi. Di sana dia mengajak orang kembali ke jalan yang benar. Orang bosan mendengarkan,lalu dibunuh orang! Mungkinkah di negeri Pompeyi yang telah runtuh, yang pendu­duknya penat bernafas karena ditimbun debu, yang dapat dibuktikan ketika orang menggalinya, di sanalah kejadian itu. Jika nama ketiga Rasul tidak disebut, tidaklah kita heran. Karena Tuhan pun bersabda di dalam AI-Qur'an (Surat ke-40, Ghaafir, 78):

"Dan sesungguhnya telah Kami utus Rasul-rasul dari sebelum engkau. Dari antara mereka ada yang kami kisahkan kepada eng­kau dan setengah dari mereka tidak Kami kisahkan kepada eng­kau".

Ini adalah kemungkinan saja. Sebab pada kitab-kitab tafsir yang terdahulu sejak dari Thabari, sampai Ar-Raazi, Alkasysyaaf dari Zamakhsyari, Ibnu Kats'ir dan Al-Qurthubi tidaklah ada yang membayangkan tentang kemungkinan negeri Pompeyi itu. Apatah lagi dia terletak di tanah Italia, dan baru digali orang pada tahun 1748.

Wal­lahu A'lamu bish-shawabi!

 
 
01     02      03    04    05     06    08    09    10                                          Back To MainPage       >>>>