Tafsir Suroh YaaSiin Ayat 1 - 11


 

1. Yaa Siin
 

“ Yaa-Siin.” (ayat 1).
lbnu Jarir menerangkan dalam tafsirnya bahwa menurut lbnu Abbas dalam satu riwayat, bahwa kalimat Yaasiin itu adalah satu sumpah yang dipakai Tuhan. Menurut riwayat itu, kalimat itu adalah salah satu dari nama Allah. Qatadah mengatakan bahwa Yaa-Siin itu adalah salah satu dan nama al-Quran.

Tersebut dalam Tafsir Syaukani, bahwa menurut Khalil dan Sibawaihi, “Yaasiin adalah semata-mata nama Surat.” Salah satu riwayat dari Said bin Jubair dan beberapa ulama yang lain bahwa Yaa-Siin adalah salah satu daripada nama-nama Nabi Muhammad.

Abu Bakar al-Warraq mengatakan bahwa arti Yaasiin ialah, “Hai Penghulu segala manusial” Dalam riwayat sebuah lagi dari lbnu Abbas, arti Yaasiin ialah, “Hai Insan! Hai Manusial” Yang menganut pendapat ini termasuk lknimah , adh-Dhahhak, Hassan Bishri, dan Sufyan bin Uyaynah. Said bin Jubair mengatakan pula bahwa dalam bahasa Habsyi arti Yaa-Siin memang “Hai Manusia!” Tetapi ini dari dokumen lama. Apakah sampai sekarang bahasa yang terpakai di Ethiopia masih itu, belumlah kita ketahui.

Az-Zajjaj menguatkan bahwa arti Yaasiin ialah “Ya Muhammad!” , Oleh sebab itu maka yang terbanyak ahli tafsir membawa artinya kepada nama Nabi Muhammad saw. dan kalau dikatakan bahwa artinya ialah “Hai Manusia” maka yang dimaksud dengan manusia itu ialah Nabi Muhammad. Oleh sebab itu maka bersama dengan dua huruf di pangkal Surat Thaha, keduanya disebutkan orang menjadi nama dari Nabi kita Muhammad saw. Maka adalah orang yang memakai nama “Muhammad Yaasiin” dan “Muhammad Thaha”. Di tulisan indah untuk menghiasi dinding Masjid Nabawi di Madinah, dituliskan orang nama-nama Nabi kita Muhammad saw., nama Thaha dan Yaasiin turut dituliskan.

Tetapi ahli Tafsir yang terkenal al-Imam Fakhruddin ar-Razi ketika menafsirkan kalimat Yaasiin sebagai ayat pertama dari Surat ke 36 ini telah menguraikan demikian:

“Ketahuilah olehmu bahwasanya ibadat itu ada yang ibadat hati, ada ibadat lidah dan ada ibadat anggota tubuh. Dan tiap-tiap satu-satunya itu terbagai dua pula. Satu bagian dapat dicari dengan akal apa maksudnya dan hakikatnya. Tetapi yang sebagian lagi tidak dapat dicari dengan akal apa maksudnya dan hakikatnya. Tetapi yang sebagian lagi tidak dapat dipergunakan akal untuk mengetahui maksud dan hakikatnya. Adapun ibadat hati, meskipun dia sangat jauh dari meragukan dan kebodohan, namun di dalamnya ada juga yang tidak dapat diketahui dalilnya menurut akal. Tetapi kita wajib beriman tentang adanya dan dijadikan kepercayaan sebab telah kita dengar. Umpamanya ialah tentang titian ash-Shirathal Mustaqim. Dikatakan bahwa lebih halus dari rambut, lebih tajam dari pedang, dan orang yang beriman dan yakin akan lalui di atasnya secepat cetusan kilat. Demikian juga tentang miizaan atau timbangan untuk penimbang amalan, yang pada pandangan orang yang memandang tidak ada beratnya. Demikian juga tentang hal-ihwal syurga dan neraka. Semuanya in tentang wujudnya tidaklah dapat diketahui dengan dalil akal. Yang dapat diakui oleh akal hanyalah kemungkinan terjadinya dan dapat dimaklumi, lalu dipercayai karena demikian yang didengar dari keterangan Rasul sendiri. Begitu juga hal-ihwal yang dapat dipelajari dan diterima; sebagai ilmu Tauhid, dari hal nubuwwat dan qudrat Allah dan kebenaran Rasul. Seperti itu pula segala macam ibadat yang bersangkutan dengan tubuh, ada yang diketahui maksudnya dan yang tidak; yaitu seumpama berapa ukuran yang satu nisab pada zakat dan berapa rakaat sembahyang. Hal ini sudah pernah kita uraikan, yaitu bahwa seorang hamba Allah apabila mengerjakan suatu perintah dengan tidak mengetahui terlebih dahulu apa keuntungan yang akan didapatnya niscaya dia mengerjakan semata-mata ibadat.

Lain halnya jika dia mengetahui akan faedah mengerjakannya, tentu dia kerjakan karena mengharapkan faedah atau keuntungan, meskipun dia tidak percaya. Umpamanya ialah seorang tuan yang menyuruh budaknya memindahkan batu, “Pindahkan batu ini dari sini!” Sedang si budak tidak tahu apa akibat dari pemindahan itu, semata-mata karena turut perintah. Tetapi kalau si tuan berkata, “Pindahkan batu ini dari sini. Di bawahnya ada hartabenda! boleh kau ambil buat dirimu sendiri!” Perintah itu akan segera dilaksanakan, meskipun mulanya dia tidak percaya. Karena mengharapkan keuntungan yang dijanjikan.

“Demikian jugalah dengan ibadat yang berhubung dengan sebutan lidah , Wajiblah ada ibadat lidah yang tidak diketahui artinya. Sehingga apabila dianya dibaca oleh seseorang hamba Allah, dia sadar bahwa dia mengerjakannya membawa itu semata-mata karena melaksanakan perintah dari Tuhan yang disembah, yang berhak menyuruh dan berhak melarang.

Lantaran itu kalau Tuhan memakai huruf-huruf di awal Surat-surat, sebagai HaaMi, Yaa-Siin, Alif-Laam-Miim, Thaa-Siin, si hamba membacanya dengan penuh kesadaran bahwa membaca huruf yang tidak diketahui artinya iniadalah semata-mata melaksanakan perintah, dengan tidak memerlukan tahu akan artinya, ataupun tidak tahu.” Demikianlah dijelaskan oleh Imam ar-Razi.

 

2. Demi Al-Qur’an Yang Maha Bijaksana,

 
 

Demi al-Quran Yang Maha Bijaksana.” (ayat 2).

Dijadikanlah oleh Allah al-Quran menjadi persumpahan untuk menguatkan keterangan yang akan diberikan Tuhan tentang kedudukan Nabi Muhammad s.a.w. pada ayat 3 nanti. Demi al-Quran yang Maha Bijaksana. Yang penuh dengan Hikmat dan rahasia Kebenaran, sebagai wahyu yang turun langsung dari Tuhan sendiri, bagi keselamatan dan bimbingan ummat manusia. Guna mengeluarkan manusia itu dan dalam gelap-gulita kepada terang-benderang. Dia disebut bijaksana, baik karena isinya, atau karena susunannya, atau karena cocok dan sesuai selalu dengan tiaptiap zaman yang dilaluinya.

 

3. Sesungguhnya engkau adalah termasuk orang-orang yang diutus.

 

“Sesungguhnya engkau adalah termasuk orang-orang yang diutus.” (ayat 3).

Di ayat 2 Tuhan bersumpah “Demi al-Quran Yang Maha Bijaksana.” Sumpah ml adalah guna menguatkan keterangan yang diberikan Tuhan atau kesaksian Tuhan di ayat 3 ini bahwa Nabi Muhammad saw. benar-benarlah termasuk orang-orang yang diutus oleh Allah. Artinya kalau orang mengakui bahwa dahulu dari Nabi Muhammad saw. sudah diutus oleh Tuhan beratus Rasul dan beribu Nabi-nabi, maka Muhammad ini adalah salah seorang di antara mereka.

Di antara ayat 2 dengan ayat 3 sangatlah rapat pertaliannya. bilamana orang kagum membaca dan memperhatikan isi al-Quran, baik bahasanya yang fasih, atau isinya yang tepat, wa’adnya dan wa’idnya (janjinya dan ancamannya), berita yang terkandung di dalamnya, pelajarannya yang kekal, hukumnya yang jitu dan tepat, orang pasti akan mencari siapakah yang membawanya. Dari mana datangnya. Tuhan menguatkan dengan sumpah bahwa Muhammad s.a.w. itu adalah termasuk seorang Rasul. Sudah diketahui bahwa Muhammad itu adalah Ummi, tidak tahu menulis dan membaca dan tidak pernah dia belajar kepada seorang guru pun sebelum ayat-ayat al-Quran ini turun setelah genap usianya 40 tahun. Maka kesanggupannya menyampaikan ayat-ayat al-Quran inidengan jelas, adalah bukti yang terang sekali bahwa dia adalah seorang Rasul. Kalau dia bukan Rasul, yang khusus diutus buat menyampaikan al-Quran ini tidaklah akan sanggup dia menyampaikan ayat-ayat ini dari kepandaiannya sendiri.

Di samping itu orang-orang kafir selama ini mengingkari dan tidak mau percaya bahwa Muhammad itu Rasul Allah. Tetapi setelah Tuhan sendiri mengambil al-Quran menjadi sumpah, maka kalau ada di kalangan yang kafir itu yang berakal dan masih ada sisa fikinan sihat, tidaklah mereka akan dapat membantahnya. Karena memang al-Quran itu suatu susunan bahasa suci yang mengatasi kesanggupan manusia, yang dalam bahasa Arab dinamai Al-I’JAAZ.

 

4. .Atas jalan yang lurus,

 
 

“Atas jalan yang lurus.” (ayat 4).

Dalam ayat 4 yang pendek ini Tuhan telah menjelaskan khittah, atau garis perjuangan yang digariskan oleh Muhammad s.a.w. dalam da’wahnya. Yaitu membawa manusia berjalan dalam hidup ini di atas garis yang lurus.Telah diketahui bahwasanya garis lurus ialah jarak yang paling dekat di antara dua titik. Titik pertama ialah kita sendiri, titik kedua ialah tujuan yang dituju. Yang dituju itu ialah Tuhan sendiri. Dan Dia kita datang dan kepadaNya kita akan kembali. Yang menentukan diri kita itu ialah niat dan kesadaran kita. Kesadaran kepada hidup dan kesadaran kepada tugas.

Apabila kita lihat puncak gunung dengan mate telanjang, terasalah bahwa hubungan di antara kita dengan puncak gunung itu disambungkan oleh satu garis lurus dalam alam ingatan. Padahal kalau sudah kita tempuh temyata bahwa buat mencapai puncak gunung itu kita akan mendaki dan kita akan menurun, akan melereng dan mendatar.

Meskipun dalam penjalanan ternyata jalan itu benbelok-belok, asal saja ingatan kita tetap tidak beralih dari pada tujuan, yaitu puncak gunung itu, tujuan kita masih tetap lurus.

Demikian juga belayar di lautan. Palau atau pelabuhan yang dituju sudah nampak. Tetapi : ombak dan gelombang memukul biduk yang kita kayuhkan, sehingga dapat terbelok kepada yang lain. Namun kemudi yang kita pegang tetap ditujukan kepada pulau atau pelabuhan yang dituju. Sebab itu maka Jalan Lurus hendaklah dibina dalam jiwa kita sendiri, bukan dalam keadaan jalan darat yang kadang-kadang terpaksa membelok, menurun dan mendaki.
Tujuan lurus hendaklah dibina dalam hati, meskipun pelayaran kadang-kadang diombang-ambingkan oleh ombak besar dan gelombang.

Lanjutan ayat menjelaskan sifat Tuhan dalam membimbing manusia melalui jalan yang lurus itu.

 

5. Diturunkan oleh Yang Maha Perkasa, Maha Penyayang.

 
 

“Diturunkan oleh Yang Maha Perkasa, Maha Penyayang.” (ayat 5).

Dalam ayat ini bertambah jelas yang dikehendaki Allah mengutus RasulNya ke atas muka bumi ini  Yaitu mengajak manusia agar menempuh jalan yang lurus menuju Tuhan. Tetapi oleh karena yang mesti lurus itu ialah hati atau niat yang tidak pernah berubah, sedang bumi yang akan dijalani ini berliku berkelok, menurun dan mendaki,jelaslah bagaimana beratnya perjuangan manusia menegakkan jalan yang lurus itu. Dalam ayat ini ditunjukkan dua sifat Tuhan. Pertama Maha Perkasa, yaitu barangsiapa yang melanggar peraturan Tuhan dengan sengaja, barang siapa yang berjalan menyeleweng daripada garis lurus itu karena memperturutkan hawa nafsunya sendiri, tidak memperdulikan tuntunan Rasul, orang itu akan dihukum oleh Tuhan dengan sifatNya Yang Perkasa, yang tidak boleh dilalui, yang tak boleh dibantah. Namun apabila jiwa tetap ikhlas menuju tujuan, menuju ridha Tuhan, meskipun menemui berbagai kesulitan, kadang-kadang terengah jatuh, kadang-kadang terhenyak, kadang-kadang terhenti karena kesesakan nafas, namun tidak pernah putus asa, dan bangun kembali dan meneruskan perjalanan lagi menuju tujuan yang tidak pernah berubah, maka Allah di sini menunjukkan sifat Maha Penyayang (Rahiim).

 

6. Supaya engkau beri ancaman kaum yang tidak pernah diancam bapak-bapak mereka, maka mereka pun lalai.

 

“Supaya engkau beri ancaman kaum yang tidak pernah diancam bapak-bapak mereka.” (pangkal ayat 6).

Yang dimaksud mulanya dengan ayat ini ialah kaum Quraisy, yang sejak meninggalnya Nabi Ibrahim dan Ismail tidak pernah lagi ada Nabi atau Rasul diutus Tuhan kepada mereka buat menyampaikan ancaman kepada barangsiapa yang tidak menuruti jalan yang lurus. Sebab itu belumlah mereka mengerti apa tujuan hidup. Belumlah mengerti mereka itu apa artinya Bertuhan Yang Tunggal, tiada bersekutu dengan yang lain. ltulah sebabnya maka mereka menyembah berbagai macam berhala. Padahal dahulunya Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail diperintah Allah mendirikan Ka’bah ialah sebagai pusat tempat berkumpul beribadat dan ummat yang sefaham menyembah Allah. Sampai berbagai macam kepercayaan yang karut, yang musyrik dimasukkan ke sekeliling Ka’bah itu. Lantaran itu,

“Maka mereka pun lalai” (ujung ayat 6).

Menjadi lalai dan lengah dan tidak lagi mempunyai pedoman hidup selain mengumpulkan kekayaan, berbangga dengan keturunan, berperang memperebutkan pengaruh, yang kaya menindas yang miskin, memandang hina rendah kepada perempuan, berebut pengaruh di antara kabilah sesama kabilah.

Hati yang lalai atau lengah adalah hati yang tidak bekerja lagi, atau hati yang telah nganggur. Timbul suatu kalimat dalam bahasa Indonesia atau Melayu, yaitu perhatian. Timbulnya perhatian ialah karena orang suka memperhatikan. Maka kata-kata perhatian dan memperhatikan, tersebab karena hati bekerja. Kalau tidak suka memperhatikan, maka tidaklah ada perhatian, tandanya hati tidak bekerja. Hati yang telah lalai inilah yang mesti dibangunkan kembali. Selama hati tidak memperhatikan dan lantaran itu perhatian tidak ada, hidup itu sendiri tidaklah ada artinya. Sama saja dengan binatang. Ingatannya siang dan malam hanya makan. Matanya mata lembu, bukan mata manusia.

Kemudian itu dijelaskan lagi oleh Tuhan akibat hidup orang yang hatinya telah lalai itu, apakah kemalangan yang akan menimpa dirinya.

 

7. Sesungguhnya telah paslilah kata atas kebanyakan mereka utu ; maka tidaklah mereka itu beriman.

 
 

:. “Sesungguhnya telah pastilah kata atas kebanyakan mereka itu.” (pangkal ayat 7).

Kelalaian memperhatikan keadaan sekeliling, keadaan memperhatikan kepada diri sendiri, kelalaian merenungkan langit dan bumi dan rezeki pemberian Tuhan, menyebabkan,

“Maka tidaklah mereka itu beriman.” (ujung ayat 7).

Karena kelalaian mereka sejak semula, Tuhan pun menetapkan kata, menentukan nasib untuk kebanyakan di antara mereka. Nasibnya ialah termasuk dalam golongan orang yang tidak beriman. Begitulah nasib dan ketentuan bagi kebanyakan mereka; mereka menjadi penantang kebenaran. Karena hati mereka telah tertutup dan petunjuk Tuhan. Sudah payah mereka buat bangkit.

 
8. Sesungguhnya telah Kami jadikan pada leher-teher mereka itu belenggu-belenggu, maka dia pun sampailah ke dagu-dagu mereka, maka mereka pun tertengadah.
 

“Sesungguhnya telah Kami Jadikan pada leher-leher mereka itu belenggu-belenggu.’ (pangkal ayat 8).

Leher-leher itu terbelenggu dan belenggu itu terbelit di ‘Dan dia pun sampailah ke dagu-dagu mereka.” Belenggu itu tebal dan berat sekali, karena tebalnya telah menyundak sampai ke dagu,

“Maka mereka pun tertengadah.” (ujung ayat 8).

Dalam ayat ini digambarkanlah bahwa dalam hidup di dunia ini mereka tidak mempunyai kemerdekaan diri lagi karena kelalaian dahulu itu. Mereka telah dibelenggu oleh adapt-istiadat, oleh kepercayaan yang salah, oleh kemusyrikan dan kebebalan.

Cobalah kita gambarkan sendiri bagaimana rupanya orang yang lehernya dikenakan belenggu dan belenggu itu telah menyundak sampai ke dagu, sehingga menekur ke bawah tidak bebas lagi, melainkan tertengadah atau tertingayuk ke atas.
 

9 Dan telah Kami jadikan di hadapan mereka suatu sekatan dan di belakang mereka pun suatu sekatan, lalu Kami selubungilah mereka; maka tidaklah mereka dapat melihat .


 
 

“Dan telah Kami jadikan di hadapan mereka suatu sekatan dan di belakang mereka pun suatu sekatan.” (pangkal ayat 9).

Akan maju ke muka terhambat, akan surut ke belakang terhalang, sehingga mereka hanya berputar di sana ke sana saja, tidak ada kemajuan dan tidak pula surut ke belakang karena putaran hidup bukanlah surut ke belakang melainkan maju ke muka, namun mereka tidak dapat maju. Terkurung, terbelenggu dan terhambat.

"Lalu Kami selubungilah mereka; maka tidaklah mereka dapat melihat.” (ujung ayat 9).

Cobalah gambarkan sekali lagi betapa malang nasib orang itu, atau kebanyakan daripada mereka itu karena iman tidak ada. Tangan dialihkan ke belakang dan dibawa ke kuduk dan kuduk penuh dengan belenggu, sehingga tersundak ke dagu. Dagu tertengadah sehingga tidak dapat lurus melihat ke muka, melainkan tertengadah ke atas. Sebab itu gelaplah jalan yang akan ditempuh, terselubung. Tidak bebas buat melihat dan mempertimbangkan. Diri telah terbatas petunjuk dan kebenaran, karena di muka tertutup dan di belakang pun tertutup. Semua jadi gelap, semuajadi terhalang dan terhambat.

 

10 Dan samalah atas mereka, apakah mereka engkau ancam ataupun tidak engkau ancam mereka; tidaklah mereka akan percaya.

 

 

“Dan samalah atas mereka, apakah mereka engkau ancam ataupun tidak engkau ancam mereka; tidaklah mereka akan percaya.” (ayat 10).

lnilah orang yang telah dicap, dicetak atau dimaterai hatinya, sebagaimana tersebut dalam ayat 7 dari Surat al-Baqarah: Hati dicap, sehingga jadi kesat dan kasar. Pendengaran pun dicap dan disumbat, sehingga tidak ada yang terdengar, dan penglihatan telah kabur mendekati buta. Azab siksalah yang akan mereka terima. Sungguhpun demikian, namun bagi yang beriman senantiasa terbuka pintu harapan:

 

11 Lain tidak yang akan dapat engkau ancam hanyalah orang yang mengikuti peringatan dan takut kepada Tuhan Yang Rahman di dalam ghaib. Maka beri berita gembiralah mereka dengan ampunan dan ganjaran yang mulia

 

 

Lain tidak, yang akan dapat engkau ancam hanyalah orang yang mengikuti peringatan dan takut kepada Tuhan Yang Rahman di dalam ghaib.” (pangkal ayat 11).

Yaitu orang yang terbuka hatinya dan lantaran itu terbuka pula pendengarannya buat mendengarkan peringatan atau ancaman yang disampaikan oleh Rasul yang telah diutus Tuhan itu. Mereka sediakan din mengikuti seruan Rasul, dan takut kepada Tuhan yang bersifat Rahman, bersifat Penyayang dan Pemurah di dalam ghaib. Artinya bahwa ketakutan kepada Tuhan itu timbul dan kesadarannya sendiri sesudah dibawanya tafakkur di tempat ghaib sedang duduk seorang din tidak karena pengaruh orang lain. Dan bukan pula takut kepada Tuhan yang dibikin-bikin karena menqharapkan pujian sesama manusia. Maka bersabdalah Tuhan :. kepada Rasul di ujung ayat ,

“Maka beri berita gembiralah mereka dengan ampunan dan ganjanan yang mulia.” (ujung ayat 11).
Dijelaskan di ujung ayat ini
berita gembira yang pertama akan diterimanya ialah bahwa dosa-dosa dan kesalahannya akan diampuni. Orang yang akan diampuni itu ialah orang yang pernah bersalah. Tetapi karena dia insaf dan selalu ingat kepada Tuhan walaupun sedang dalam seorang diri , terbuktilah dengan itu bahwa dia sudah benar-benar taubat dari salahnya. Itu semuanya akan diampuni. Dan diberikan pula benita gembira yang kedua, yaitu bahwa dia akan mendapat ganjaran yang mulia di sisi Allah. Yaitu menenima nikmat dan ganjaran di negeni akhirat, ditempatkan dalam syurga yang telah disediakan Tuhan buat orang-orang yang muttaqiin.

 
 
 
01     02      03    04    05     06    08     09     10                                          Back To MainPage       >>>>