Setelah Rasulullah dan kaum Muslimin di Makkah berpindah (hijrah) ke Madinah, sesudah mengatur persaudaraan di antara Muslim sesama Muslim, Rasulullah s.a.w. pun membuat pula perjanjian dengan penduduk Madinah sendiri, yang terdiri dari kaum Yahudi dan orang Arab sendiri yang masih musyrik, belum memeluk Islam.

Dalam perjanjian itu, yang di surat hitam atas putih disebutkan bahwa orang Muhajirin dan orang Anshar telah menjadi ummat yang satu. Disuratkan pula bahwa segala kabilah Yahudi yang berdiam di negeri Madinah itu akan hidup aman sentosa, bertetangga secara damai. Kaum Muslimin berjanji akan memberikan perlindungan bagi mereka itu dalam mengerjakan agama mereka. Dan jika ada bahaya mengancam kota Madinah mereka akan mempertahan­kannya bersama-sama. Di dalam surat perjanjian itu pun jelas dituliskan;

وَإِنَّ مَنْ تَيِعَنَا مِنْ يَهُوْدَ فَإِنَّ لَهُ النَّصْرَ وَالأُسْوَةَ غَيْرَ مَظْلُوْمِيْنَ وَلاَ مُتَنَاصِرِيْنَ عَلَيْهِمْ

"Dan barangsiapa orang Yahudi yang telah ikut kita, maka mereka itu hendaklah ditolong dan dibela, tidak dianiaya dan tidak pula akan berse­kongkol menghadapi mereka."

Dan disebut pula;

وَأَنَّ اليَهُوْدَ يُنْفِقُوْنَ مَعَ المُؤْمِنِيْن مَادَامُوْا مُحَارِبِيْنَ وَأَنَّ يَهُوْدَ بَنِيْ عَوْفٍ أُمَّةٌ مَعَ المُؤْمِنِيْنَ ، لِليَهُوْدِ دِيْنُهُمْ وَلِلمُسْلِمِيْنَ دِيْنُهُمْ وَمَوَالِيْهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ

"(Kalau terjadi peperangan) maka kaum Yahudi mengeluarkan perbelanja­an yang sama dengan kaum beriman selama mereka menantang Islam. Yahudi Bani 'Auf adalah ummat bersama orang-orang yang beriman. Bagi Yahudi 'Auf agamanya sendiri dan bagi kaum Muslimin agamanya sendiri pula, begitu juga orang yang dalam perlindungannya dan dirinya.'

Kemudian itu disebut pula nama-nama kabilah-kabilah Yahudi satu demi satu, bahwa mereka akan hidup bersama kaum Muslimin, akan bersama mem­pertahankan Madinah jika Madinah diserang orang, akan hidup bertetangga secara baik, tetapi dengan ketentuan bahwa masing-masing akan hidup dalam agama masing-masing pula. Artinya dalam soal agama tidaklah akan singgung ­menyinggung.

Pada mulanya tidaklah keberatan kaum Yahudi itu menyetujui perjanjian yang telah dituliskan hitam di atas putih itu, sebab orang Yahudi tidak me­nyangka bahwa pengaruh Nabi s.a.w. dan agama yang beliau bawa itu ber­tambah lama akan bertambah kuat, yang berbeda sama sekali daripada apa yang mereka duga, namun setelah nyata bahwa perkembangan Islam berlainan dari yang mereka duga semula, mulailah hati mereka tidak merasa senang lagi. Dan itu pun kian lama terasa oleh Nabi s.a.w. dan kaum Muslimin; sudah banyak cemuh, sudah banyak persoalan, bahkan kepala yang amat terkemuka dari Bani Nadhir, Ka'ab bin al-Asyraf pemah membuat hubungan rahasia dengan pemuda Quraisy dan ketika ditanyakan kepadanya mana yang benar di antara agama Muhammad dengan agama Quraisy penyembah berhala, dia tidak segan-segan mengatakan bahwa agama penyembah berhalalah yang lebih benar. Padahal kalau dia hendak tegak pada kebenaran, sepatutnya dikatakan­nya bahwa agama Islam lebih dekat dengan agama Yahudi sebab sama-sama percaya kepada Tuhan Yang Esa. Tetapi politik jangka pendek rupanya telah sangat mempengaruhi jalan fikiran Ka'ab bin al-Asyraf itu.

Akhirnya terjadilah suatu kemelut dengan Bani Nadhir.

Asal mulanya ialah ketika Nabi ditipu oleh seorang pemimpin musyrik ber­nama 'Amr bin Thufail agar mengirim utusan ke negerinya untuk mengajarkan agama kepada kaumnya, lalu Rasulullah s.a.w. mengirimkan 70 (tujuh puluh) orang yang sudah ahli tentang al-Quran untuk mengabulkan permintaan 'Amr bin Thufail itu, tetapi sesampai di satu tempat bemama sumur Ma'unah utusan yang dikirim itu telah dicederai secara jahat, mereka dikepung dan dibunuh. Yang terlepas hanyalah seorang, bernama 'Amr bin Umayyah. Karena sakit hatinya atas pengkhianatan itu, ketika akan pulang ke Madinah, dibunuhnya dua orang dari kabilah Bani Kilab yang disangkanya termasuk golongan kaum mengkhianati itu pula. Kemudian ternyata bahwa Bani Kilab adalah kabilah yang telah membuat perjanjian damai dengan Nabi. Sebab itu maka 'Amr bin Umayyah mesh membayar diyat atas pembunuhan yang salah itu.

Oleh karena telah ada perjanjian akan bantu membantu jika terjadi hal yang serupa itu maka datanglah Nabi s.a.w. ke perkampungan Bani Nadhir menemui pemuka-pemuka mereka meminta supaya mereka turut mengumpulkan bantuan diyat yang mesti dibayar oleh `Amr bin Umayyah atas kematian dua orang yang bukan musuh itu, sesuai dengan bunyi perjanjian yaitu akan hidup bantu membantu di antara Muslimin dengan Yahudi tersebut.

Tetapi apa yang terjadi? Seketika Rasulullah s.a.w. duduk tersandar ke dinding luar sebuah rumah orang Yahudi terkemuka di Bani Nadhir itu ber­bisik-bisiklah beberapa orang di antara mereka, bahwa inilah saat yang sebaik-­baiknya buat menyingkirkan Muhammad ini dari dunia. Lebih baik naik se­orang di antara mereka ke atas sutuh-sutuh rumah tempat Nabi bersandar itu, lalu jatuhkan batu besar ke bawah, tepat mengenai kepalanya. Niscaya mampuslah dia.

Tetapi setelah muafakat itu bulat dan mereka akan segera bertindak membawa batu besar itu ke atas. Ilham telah datang kepada Rasulullah bahwa beliau dalam bahaya. Lalu beliau segera berdiri dari tempat itu dan segera pula berangkat meninggalkan tempat itu. Beliau segera kembali ke Madinah.

Beliau agak terlambat kembali, sehingga sahabat-sahabat beliau di Madinah menjadi cemas, lalu segera ada yang menukasi beliau ke perkampungan Bani Nadhir itu. Di tengah jalan mereka bertemu dengan beliau yang telah hendak kembali. Lalu beliau ceriterakan muafakat jahat hendak membunuhnya itu. Beliau pun tahu demi melihat kegugupan Yahudi-yahudi itu melihat maksud mereka gagal, bahwa yang akan melaksanakan menimpakan batu besar ke atas kepala Nabi itu ialah seorang pemuka Yahudi bernama `Amru bin Jahasy. Yang akan dijatuhkannya itu ialah lesung batu!

Sesampai di Madinah Rasulullah s.a.w. memerintahkan kepada sahabat beliau yang bernama Muhammad bin Muslimah menyampaikan "ultimatum" Nabi s.a.w. kepada mereka; "Bani Nadhir seluruhnya mesti keluar dari Madinah dalam masa sepuluh hari. Lepas dari sepuluh hari, kalau masih ada yang ter­dapat di Madinah, akan dipenggal kepalanya."

Kata lain tidak ada lagi!

Mendengar ancaman ultimatum keras itu mengertilah mereka bahwa mereka sedang berhadapan dengan suatu kekuasaan yang tidak dapat di­tantang lagi. Sudah mulailah mereka bersiap-siap mengemasi barang-barang yang akan diangkut bersama-sama, akan meninggalkan kampung mereka yang telah didiami ratusan tahun, demikian juga kebun-kebun mereka.

Setelah berita ancaman Nabi itu sampai kepada Abdullah bin Ubay yang menjadi pimpinan tertinggi kaum munafik di Madinah, dia menyampaikan pesan kepada Bani Nadhir supaya bertahan terus, jangan pindah, jangan di­gubris pengusiran itu. Dia menyatakan akan menolong mereka, dan kalau mereka diserang oleh Muhammad, dia Abdullah bin Ubay akan datang mem­bantu dan membela mereka dengan 2,000 (dua ribu) kawan sefahamnya.

Setelah menerima sokongan dari Abdullah bin Ubay itu, mulailah pemuka-pemuka Yahudi Bani Nadhir mengirimkan pesannya kepada Nabi bahwa mereka tidak hendak keluar dari Madinah, mereka akan tetap bertahan. Muhammad boleh melakukan tindakan apa jua pun yang akan dilakukannya.

Jawaban yang begitu sombong tidaklah begitu menggetarkan Nabi dan kaum Muslimin yang terdiri dari Muhajirin dan Anshar. Dengan segera dimulai­lah pengepungan kepada perkampungan Bani Nadhir dan dibuat pula maklu­mat kepada seluruh Yahudi dari lain kabilah, bahwa barangsiapa di antara mereka yang membantu Bani Nadhir, mereka akan merasakan akibatnya nanti, bahwa mereka pun akan diperangi dan akan diusir. Dan barangsiapa dari pen­duduk Arab sendiri dalam kota Madinah yang bersimpati kepada mereka, orang-orang itu akan dianggap musuh, dan akan tahu sendiri akibat yang akan mereka rasakan kelak.

Perkampungan Bani Nadhir mulai dikepung dengan ketat sekali. Bantuan dari luar tidak dapat dikirimkan ke dalam, karena barisan kaum Muslimin bersedia memerangi atau menangkap barang siapa yang mencoba berhubungan dengan Bani Nadhir. Mereka pun tidak pula bisa lagi keluar dari perbentengan kampung mereka, walaupun akan mengambil hasil ladang korma mereka. Bahkan sudah mulai ada ladang korma mereka yang dibakar oleh kaum Muslimin untuk mempercepat penyerahan mereka.

Setelah beberapa hari dikepung, mulailah kendor semangat Bani Nadhir yang bertahan itu. Sebab 2,000 orang bantuan yang dijanjikan oleh Abdullah bin Ubay itu ternyata tidak datang sama-sekali, jangankan 2,000 orang, sedang­kan dua orang pun tidak. Kaum Munafikin di bawah pimpinan Abdullah bin Ubay pun segera patah semangat setelah mendengar maklumat-maklumat yang disampaikan dalam kota, bahwa kalau ada orang Madinah sendiri pergi membantu Bani Nadhir, mereka akan merasakan akibat yang pahit di kemudian hari. Mendengar ancaman itu, mereka pun patah semangat.

Akhirnya mereka pun menaikkan bendera putih, alamat tunduk. Maka datanglah keputusan Nabi bahwa mereka boleh segera keluar dari perkam­punga itu, berangkat ke negeri lain. Hartabenda boleh dibawa, termasuk unta-unta mereka. Tetapi segala macam alat senjata mesti ditinggalkan, satu pun tidak boleh dibawa serta.

Pengusiran besar-besaran atas Bani Nadhir itulah yang bernama "al-Hasyr"; mereka disuruh berkumpul, berbaris satu persatu, atau dua demi dua, buat berangkat pergi meninggalkan Madinah; berangkat terus buat tidak kembali lagi untuk selama-lamanya.

Ini ketika kampung itu dimasuki setelah mereka kosongkan, didapatilah bahwa rumah-rumah dan barang-barang berharga yang tidak dapat mereka serta telah mereka rusakkan terlebih dahulu.
Setelah kejadian itu turunlah Surat al-Hasyr yang kita tafsirkan sekarang ini.


 00     01      02    03    05     06                                        Back To MainPage       >>>>