TAFSIR AYAT  9 - 10
                                                                           

9- وَ الَّذينَ تَبَوَّؤُا الدَّارَ وَ الْإيمانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هاجَرَ إِلَيْهِمْ وَ لا يَجِدُونَ في‏ صُدُورِهِمْ حاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَ يُؤْثِرُونَ عَلى‏ أَنْفُسِهِمْ وَ لَوْ كانَ بِهِمْ خَصاصَةٌ وَ مَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan orang-orang yang telah me­netap di kota itu dan (tetap) beriman dan sebelum mereka; mereka itu kasih kepada orang­-orang yang telah berhijrah ke­pada mereka dan tidak mereka dapati dalam dada mereka suatu keinginan pun dari apa yang telah diberikan kepada mereka; dan mereka Iebih mengutama­kan (saudara-saudara mereka yang baru datang itu), lebih dari diri mereka sendiri, walaupun mereka dalam kesulitan. Dan barangsiapa yang terpelihara dari kekikiran dirinya, maka orang-orang inilah yang beroleh kemenangan.


10- وَ الَّذينَ جاؤُ مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنا وَ لِإِخْوانِنَا الَّذينَ سَبَقُونا بِالْإيمانِ وَ لا تَجْعَلْ في‏ قُلُوبِنا غِلاًّ لِلَّذينَ آمَنُوا رَبَّنا إِنَّكَ رَؤُفٌ رَحيمٌ
Dan (pula) orang-orang yang datang sesudah mereka, mereka itu berkata; "Ya Tuhan kami! Ampunilah kami dan saudara­saudara kami yang telah men­dahului kami dengan iman dan janganlah Engkau jadikan di da­lam hati kami rasa dengki kepada orang-orang yang beriman; Tuhan kami! Sesungguhnya Eng­kau adalah Maha Penyantun, Maha Penyayang.

                                Al-Anshar

               وَ الَّذينَ تَبَوَّؤُا الدَّارَ وَ الْإيمانَ مِنْ قَبْلِهِم                           
"Dan orang-orang yang telah menetap di kota itu dan (tetap) beriman dari sebelum mereka." (pangkal ayat 9).

Itulah orang-orang Anshar, pembela dan penolong Rasul dan yang menampung beliau dan saudara-saudaranya yang hijrah dalam kemiskinan itu. Mereka adalah menetap dalam kota Madinah itu dan tetap pula dalam Iman lalu menunggu saudaranya yang hijrah dan me­ninggalkan kampung halamannya itu.

                                                  يُحِبُّونَ مَنْ هاجَرَ إِلَيْهِم                                    
"Mereka itu kasih kepada orang-orang yang telah berhijrah kepada mereka."

Tidak ada rasa benci atau muak atau bosan dengan saudara sefaham yang baru datang itu, melainkan belas kasihan­lah
yang ada.
                     وَ لا يَجِدُونَ في‏ صُدُورِهِمْ حاجَةً مِمَّا أُوتُوا
"Dan tidak mereka dapati dalam dada mereka suatu keinginan pun dari apa yang telah diberikan kepada mereka."

Artinya tidaklah ada rasa dengki atau iri hati kaum Anshar itu melihat Allah dan RasulNya memberikan anugerah berlebih kepada saudara-saudara kaum Muhajirin itu.

وَ يُؤْثِرُونَ عَلى‏ أَنْفُسِهِمْ وَ لَوْ كانَ بِهِمْ خَصاصَة          ٌ
"Dan mereka lebih mengutamakan (saudara-saudara mereka yang baru datang itu), lebih dari diri mereka sendiri, walaupun mereka dalam kesulitan."

Menurut suatu riwayat dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi s.a.w. setelah berkata kepada kaum Anshar itu;
"Kalau kamu suka, bolehlah kamu bagi-bagikan untuk saudaramu kaum Muhajirin itu rumah-rumah kediaman dan hartabenda kamu, dan aku bagikan kepada kamu harta rampasan itu sebagaimana telah aku bagikan kepada mereka, dan jika kamu kehendaki untuk mereka harta tampasan dan untuk kamu rumah-rumah kamu dan hartabenda kamu." Lalu mereka menjawab; "Kami tidak mau begitu! Mau kami ialah menyerahkan sebagian rumah kami dan harta kami kepada mereka dan harta rampasan itu biarlah mereka saja yang menerimanya, kami tidak usah!"

Pernah pula Rasulullah s.a.w. berkata kepada orang Anshar (menurut riwayat Abdurrahman bin Zaid bin Aslam);
"Saudara-saudara, mereka telah meninggalkan hartabenda mereka dan anak-anak mereka dan datang menumpang kepada kalian." Maka menjawab orang-orang Anshar itu; "Harta­benda kami kita bagi saja, sebahagian untuk saudara-saudara kami itu." Lalu Rasulullah s.a.w. berkata pula; "Bolehlah lebih lagi dari itu?" Mereka bertanya; "Apakah kiranya ya Rasulullah?" Nabi menjawab; "Saudara-saudara kamu itu tidak pandai bekerja (bertani), sudikah kalian bekerja untuk mereka, lalu basil tanaman itu diberikan pula kepada mereka?" Mereka menjawab; "Kami ber­sedia ya Rasulullah!"

Diriwayatkan pula bahwa oleh karena Anshar yang bersedia menampung di rumah mereka lebih banyak dari Muhajirin yang ditampung, maka diadakan undian bagi penampung-penampung itu.

                         وَ مَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ
"Dan barangsiapa yang terpelihara dari kekikiran dirinya.

"Sebab kikir atau batil adalah satu sifat pokok pada diri setiap orang. Misalnya jika seseorang me­lihat ada orang akan datang ke rumahnya, dari jauh dia telah bertanya-tanya dalam hatinya rasa curiga, apakah orang-yang akan datang itu hendak meminta bantuan atau minta diberi pertolongan. Hatinya tidak senang akan diganggu dalam kesenangannya. Padahal kalau orang itu disambutnya dengan baik, lalu dilawannya perasaan tidak senang itu dan diberinya orang itu bantuan, dada­nya akan terasa lapang. Oleh sebab itu barangsiapa yang dapat menguasai dan mengalahkan kikir yang menjadi sifat asli pada tiap-tiap diri seseorang itu;

                 فَأُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
"Maka orang-orang inilah yang beroleh kemenangan." (ujung ayat 9).

Yaitu terutama sekali kemenangan menguasi diri sendiri.
Di ujung ayat ini dapatlah seorang beriman mengambil kesimpulan bahwa orang yang dapat mengatasi atau menekan sifat kikir yang jadi bawaan dari setiap diri, sehingga kikir itu tidak menghalanginya lagi buat berkurban, adalah satu kemenangan utama bagi seseorang atas dirinya sendiri.

Dari hal kikir atau lokek atau kedekut kejai ini, Rasulullah s.a.w. pemah bersabda;

إِيَّاكُمْ وَالظُلْمَ فَإِنَّ الظُلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ القِيَامِةِ ، وَاتَّقُوْا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ، حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوْا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوْا مَحَارِمَهُمْ )
                       (رواه مسلم وأحمد
"Jauhilah olehmu perbuatan aniaya. Karena aniaya itu akan membawa kegelapan di hari kiamat kelak, dan peliharalah dirimu daripada pengaruh kikir. Karena kikir itulah yang telah membinasakan mereka yang sebelum kamu. Kikir itulah yang telah menyebabkan mereka menumpahkan darah dan memandang halal apa yang diharamkan bagi mereka.''
(Riwayat Muslim dan Imam Ahmad)

Dan bersabda Rasulullah s.a.w. menunjukkan obat manjur buat menghilangkan atau mengimbangi sifat kikir yang membahayakan itu. Sabda beliau;

          بَرِىءَ مِنَ الشُّحِّ مَنْ أَدَّى الزَّكَاةَ وَقَرَى الضَّيْفَ وَأَعْطَى فِيْ النَّائِبَة  )
                                      (رواه بن جرير
"Sembuh dari kikir barangsiapa yang membayar zakat dan menjamu tetamu dan sudi memberi di waktu ada orang susah. " (Riwayat Ibnu Jarir)

Maka kita dapati lima kelebihan dan pujian bagi kaum Anshar;

Pertama ; Mereka telah menunggu saudaranya Muhajirin di kota tempat mereka dengan tetap dalam iman.
Kedua   ; Mereka mencintai saudara-saudara mereka yang datang menumpang­kan diri itu.
Ketiga   ; Mereka tidak merasa dengki ataupun keberatan jika kaum Muhajirin itu diberi pembahagian lebih banyak, bahkan harta rampasan Bani Nadhir se­bahagian besar hanya untuk Muhajirin.
Keempat; Mereka lebih mengutamakan saudara-saudara mereka yang baru hijrah itu, lebih dari mengutamakan diri mereka sendiri.
Kelima  ; Mereka telah sanggup mengatasi sifat kikir mereka, sehingga mereka mendapat kemenangan.

Oleh sebab itu tegaklah Islam dengan teguhnya karena adanya kedua kaum ini, yaitu Muhajirin dan Anshar.

                       وَ الَّذينَ جاؤُ مِنْ بَعْدِهِمْ
"Dan (pula) orang-orang yang datang sesudah mereka.'' (pangkal ayat 10).

Ada dua tiga macam penafsiran tentang siapa yang dimaksud dengan orang­-orang yang datang sesudah Muhajirin dan Anshar ini. Setengahnya menafsir­kan ialah yang datang sesudah sahabat, yang diberi istilah nama Tabi'in. Yaitu mereka yang mendapati sahabat-sahabat Rasulullah dan berguru belajar kepada mereka.

Tetapi setengah ahli tafsir lagi menafsirkan bahwa yang datang sesudah Muhajirin dan Anshar itu ialah segala orang yang mengaku percaya kepada Risalah Nabi Muhammad s.a.w., walaupun telah berapa jauh jaraknya. Pertemuan di antara jiwa kaum Muslimin di seluruh tempat dan di seluruh zaman, tidaklah ada yang membatasinya.

Walaupun kita yang empat belas abad sesudah Nabi ini, masuklah juga dalam golongan orang-orang yang datang sesudah mereka, asal kita setia memegang teguh ajarannya, menjalan­kan sunnahnya. Meskipun jarak sudah sejauh itu, namun jiwa ini masih terasa amat dekat, sehingga dibuktikan dengan doa;

             يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنا وَ لِإِخْوانِنَا الَّذينَ سَبَقُونا بِالْإيمانِ
"Mereka itu berkata; "Ya Tuhan kami! Ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan iman."

Oleh sebab mereka telah lebih dahulu beriman kepada Allah dan RasulNya, sedang kami ini datang kemudian, sudilah kiranya Tuhan mem­beri ampun kepada kami kalau ada kesalahan kami bersamaan juga hendaknya dengan ampunan yang Engkau berikan kepada orang-orang yang beriman lebih dahulu itu.

               وَ لا تَجْعَلْ في‏ قُلُوبِنا غِلاًّ لِلَّذينَ آمَنُوا
"Dan janganlah Engkau jadikan di dalam hati kami rasa dengki kepada orang-orang yang beriman."
Karena dengki adalah penyakit yang paling berbahaya bagi merusakkan iman itu sendiri dalam jiwa orang yang pendengki;

                        رَبَّنا إِنَّكَ رَؤُفٌ رَحيمٌ
"Tuhan kami! Sesungguhnya Engkau adalah Maha Penyantun, Maha Penyayang." (ujung ayat 10).

Ayat diujungi dengan menyebut dua sifat Allah yang sesuai dengan perasaan halus orang beriman, yang meskipun mereka datang jauh di belakang hari, namun mereka mempunyai harapan kepada Ilahi agar diberi kedudukan berdekat juga dengan Muhajirin dan Anshar itu dalam Iman kepada Allah. Dan isi ayat pun memberikan kejelasan bahwa jika terjadi Jihad fi Sabilillah, yang memang tidak akan berhenti sampai hari kiamat, maka Mu'min dan mujahid yang datang jauh di belakang Rasul, pertemukan juga hendaknya dengan orang-orang yang telah terdahulu itu.

Apa yang diharapkan oleh kita, ummat Muhammad yang datang jauh di belakang ini dirasakan juga rupanya oleh Rasulullah s.a.w. dengan perasaan beliau amat halus dan mendapatkan tuntunan Ilahi. Maka tersebutlah di dalam Hadis yang shahih riwayat Muslim;
 
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ إِلَى المَقْبَرَةِ فَقَالَ : السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ ، وَدِدْتُ أَنْ رَأَيْتُ إِخْوَانَنَا ، قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ ! أَلَسْنَا بِإِخْوَانِكَ ؟ فَقَالَ : بَلْ أَنْتُمْ أَصْحَابِيْ وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الحَوْضِ

"Bahwasanya pada suatu ketika Nabi s.a.w. pergi ke kuburan, lalu beliau baca; "Assalamu`alaikum wahai isi kampung yang beriman, dan sesungguhnya­lah kami ini - Insya Allah - akan menyusul kamu. Inginlah aku akan melihat saudara-saudara kita." Lalu para sahabat bertanya; "Ya Rasulullah! Bukankah kami ini saudara-saudara engkau?" Rasulullah menjawab; "Bahkan kamu ini adalah sahabat-sahabatku. Yang saudara-saudara kita belumlah datang sekarang. Aku akan menemui mereka di telaga al-Haudh. " (Al-Haudh ialah nama telaga di akhirat).

Dan ada lagi Hadis-hadis lain yang menguatkan Hadis ini, di antaranya ialah yang telah kita salinkan pada Tafsir Al-Azhar Juzu' 1, bahwa Rasulullah menjanjikan tujuh kali lipat kebahagiaan bagi orang-orang yang datang jauh di belakang beliau, tidak pernah melihat wajah beliau, namun beriman kepada beliau.

00     01      02    03    04  05   06                                        Back To MainPage       >>>>