TAFSIR AYAT  6 - 6
                                                                           

6- وَ ما أَفاءَ اللَّهُ عَلى‏ رَسُولِهِ مِنْهُمْ فَما أَوْجَفْتُمْ عَلَيْهِ مِنْ خَيْلٍ وَ لا رِكابٍ وَ لكِنَّ اللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُ عَلى‏ مَنْ يَشاءُ وَ اللَّهُ عَلى‏ كُلِّ شَيْ‏ءٍ قَديرٌ
Dan dari harta yang dirampaskan Allah untuk RasulNya, daripada mereka, maka tidaklah kamu mengerahkan ke atasnya dari kuda dan tidak pula kendaraan unta, melainkan Allahlah yang memberikan kegagah perkasaan kepada Rasul-rasulNya dan ke atas barangsiapa yang Dia ke­hendaki. Dan Allah atas tiap se­suatu adalah Maha Menentukan.


7- ما أَفاءَ اللَّهُ عَلى‏ رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرى‏ فَلِلَّهِ وَ لِلرَّسُولِ وَ لِذِي الْقُرْبى‏ وَ الْيَتامى‏ وَ الْمَساكينِ وَ ابْنِ السَّبيلِ كَيْ لا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِياءِ مِنْكُمْ وَ ما آتاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَ ما نَهاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَ اتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَديدُ الْعِقابِ
Barang apa yang dirampaskan Allah untuk RasulNya dari pen­duduk negeri-negeri, itu adalah untuk Allah dan untuk Rasul dan untuk kerabat dan anak-anak yatim dan orang-orang miskin dan orang dalam perjalanan; supaya dia jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya di antara kamu. Dan apa yang didatangkan kepada kamu oleh Rasul hendaklah kamu ambil dan apa yang dia larang hendak­lah kamu hentikan; dan takwalah kepada Allah. Sesungguhnya adalah Allah itu sangat keras hukumNya.


8- لِلْفُقَراءِ الْمُهاجِرينَ الَّذينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيارِهِمْ وَ أَمْوالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِنَ اللَّهِ وَ رِضْواناً وَ يَنْصُرُونَ اللَّهَ وَ رَسُولَهُ أُولئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
(Yaitu) untuk orang-orang fakir yang berhijrah, yang diusir dari kampung halaman mereka dan harta-benda mereka, karena mengharapkan kurnia daripada Allah dan keridhaan dan mereka menolong Allah dan RasulNya; itulah orang-orang yang benar.

                    Harta Rampasan Perang

       وَ ما أَفاءَ اللَّهُ عَلى‏ رَسُولِهِ مِنْهُمْ
"Dan dari harta yang dirampaskan Allah untuk RasulNya, daripada mereka.'' (pangkal ayat 6).

Yaitu al-Fai', harta yang Allah sendiri merampaskan­nya daripada mereka orang-orang Yahudi Bani Nadhir itu;

        فَما أَوْجَفْتُمْ عَلَيْهِ مِنْ خَيْلٍ وَ لا رِكابٍ
"Maka tidaklah kamu mengerahkan ke atasnya dari kuda dan tidak pula kendaraan unta."

Arti­nya tidaklah sampai kamu datang menyerbu ke sana dengan susah payah sampai mengendarai kuda ataupun unta, baik karena sukarnya ditempuh atau jauhnya, karena jarak antara kota Madinah dengan perkampungan Bani Nadhir itu hanyalah kira-kira dua mil saja.

         وَ لكِنَّ اللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُ عَلى‏ مَنْ يَشاءُ
"Melainkan Allahlah yang memberikan kegagah-perkasaan kepada Rasul-rasulNya dan ke atas barangsiapa yang Dia kehendaki. "

Sehingga bagaimanapun kuatnya musuh itu, bilamana Allah telah memberikan sikap yang gagah-perkasa atau tuah tertinggi kepada Rasul-rasul-Nya, timbullah gentar dalam hati musuhnya. Nabi s.a.w. pun pernah bersabda bahwa musuh-musuhnya gentar menghadapinya, walaupun jarak antara beliau dengan musuh-musuhnya itu sebulan perjalanan. Maka yang menimbulkan rasa gentar dan takut di hati musuh itu adalah Allah sendiri.

      وَ اللَّهُ عَلى‏ كُلِّ شَيْ‏ءٍ قَديرٌ
"Dan Allah atas tiap sesuatu adalah Maha Menentukan." (ujung ayat 6).

Sehingga mudah saja bagi Allah menjatuhkan orang yang sedang di puncak kemegahan dan mudah pula bagi Allah mengangkat martabat orang yang tadinya masih di bawah.
Dengan ayat ini dijelaskan bahwa harta-benda Bani Nadhir itu jatuh ke tangan kaum Muslimin sebagian besar adalah benar-benar atas Kekuasaan Allah belaka. Kaum Muslimin sendiri tidaklah banyak mengeluarkan tenaga untuk merampasnya. Dengan ancaman pengepungan beberapa lamanya, mereka pun menyerah dengan perjanjian.

Oleh sebab itu maka harta rampasan yang didapat dengan cara begini, yang dinamai al-Fai' tidaklah dibagi empat perlima kepada seluruh Mujahidin dan seperlima untuk Rasulullah s.a.w. sendiri untuk beliau dibagi-bagikan pula kepada orang-orang yang tidak turut berperang tetapi patut diberi bantuan hidup.

Harta rampasan pada Bani Nadhir itu, yang dirampaskan Allah untuk RasulNya, adalah khas diserahkan ke bawah kekuasaan dan kebijaksanaan Rasulullah s.a.w. sendiri. Tersebut dalam riwayat bahwa harta yang telah jatuh seluruhnya ke bawah kekuasaan beliau itu sebahagian besar beliau berikan kepada kaum Muhajirin yang miskin, yang datang dan Makkah tidak membawa apa-apa.

Adapun orang Anshar yang beliau beri hanya tiga orang saja, yaitu Abu Dujanah, Sahl bin Haniif dan al-Harst bin ash-Shammah. Menurut suatu riwayat lagi berempat dengan Mu'az bin Jabal; kepada Mu'az yang masih muda ini beliau berikan sebilah pedang rampasan kepunyaan Abu Haqiiq. Dua orang Bani Nadhir terus memeluk Islam lalu dikembalikan barang-barang dan harta mereka dan diperbolehkan tinggal di Madinah, dua orang itu ialah Sufyan bin `Umair dan Sa'ad bin Wahab.

Menurut sebuah Hadis yang dirawikan oleh Muslim dari riwayat Umar bin Khathab harta rampasan Bani Nadhir selain dari pembagian kepada Muhajirin dan tiga orang Anshar itu, selebihnya beliau ambil untuk membeli perlengkapan senjata untuk perang dan pembeli beberapa ekor kuda yang diternakkan untuk perlengkapan perang, dan yang untuk beliau sendiri beliau ambil buat belanja rumahtangga untuk setahun.

Fakhruddin ar-Razi menyebutkan dalam tafsirnya bahwa ayat ini turun ialah karena ada dalam kalangan kaum Mujahidin yang turut pergi mengepung perbentengan Bani Nadhir itu yang datang menanyakan apakah harta itu tidak akan dibagi, sebagaimana kebiasaan pembagian pada harta rampasan sebelum itu.

Tetapi untuk yang selanjutnya datanglah berikutnya menjelaskan pula;

ما أَفاءَ اللَّهُ عَلى‏ رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرى‏ فَلِلَّهِ وَ لِلرَّسُولِ وَ لِذِي الْقُرْبى‏ وَ الْيَتامى‏ وَ الْمَساكينِ وَ ابْنِ السَّبيلِ
"Barang apa yang dirampaskan Allah untuk RasulNya dari penduduk negeri-negeri, itu adalah untuk Allah dan untuk Rasul dan untuk kerabat dan anak-anak yatim dan orang-orang miskin dan orang dalam perjalanan." (pang­kal ayat 7).

Ibnu Abbas menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan negeri-negeri ialah yang terdapat pada empat negeri;
(1) Harta Bani Nadhir,
(2) Harta Bani Qurai­zhah,
(3) Tanah di Fadak yang jauhnya tiga mil dari Madinah dan ke
(4) ialah Khaibar.
Ada lagi perkampungan di `Urainah dan Yanbu'; keduanya ditentukan khusus untuk Rasulullah.s-a.w.

Ma'mar membagi harta penghasilan Negara kepada tiga bahagian;
(1) Al-Fai', yaitu yang didapat dengan jalan perdamaian atau penyerahan tidak ber­syarat sebagai Bani Nadhir itu atau al-Fai' yang lain. Harta semacam ini di­serahkan kebijaksaannya kepada Nabi sendiri pada harta yang di Bani Nadhir. Adapun al-Fai' yang selebihnya dibagikan menurut ayat ketujuh Surat al-Hasyr ini. Yaitu Nabi yang utama lebih dahulu, lalu dibagikan kepada kerabat beliau, anak yatim, fakir miskin dan orang yang dalam perjalanan.

(2) Jizyah dan aI-Kharaaj; Jizyah ialah tanda ketundukan yang harus dibayar oleh tiap-tiap ahlul-kitab (Yahudi dan Nasrani) dan majusi yang ber­lindug di bawah naungan Islam dan diberi kebebasan melakukan agama masing-masing. AI-Kharaaj ialah uang sewa tanah yang dibayarkan kepada Khalifah pada negeri yang ditaklukkan dan penduduknya diberi kebebasan megerjakan tanahnya.

(3) Ghanimah; Yaitu harta rampasan yang didapat dalam perjuangan peperangan, yang pembagiannya telah ditentukan di dalam Surat al-Anfal; yaitu seperlima untuk Rasul dan empat perlima dibagikan kepada para Mujahidin yang ikut berperang. Dan yang seperlima untuk Rasul itu ialah bahwa kepada beliau diberi kekuasaan membagikan kepada yang patut menerimanya.

Imam Syafi'i menyatakan dua pendapat tentang pembagian harta ini dan pertalian di antara ayat 6 dan ayat 7 Surat al-Hasyr ini. Menurut beliau kedua ayat ini satu maksudnya. Yaitu bahwa harta kaum kafir yang didapat tidak dengan berperang dibagi kepada lima bagian;

empat perlima diserahkan ke­pada Nabi s.a.w., seperlima yang tinggal dibagi lima pula, yaitu seperlima kembali kepada Rasul s.a.w., seperlima untuk kaum kerabat beliau, yaitu Bani Hasyim dan Bani Muthalib; sebab mereka tidak boleh menerima zakat. Seper­lima untuk anak yatim, seperlima untuk fakir miskin dan seperlima lagi untuk ibnus-sabil, yang umum diartikan orang yang terlantar dalam perjalanan.

Kata Imam Syafi'i selanjutnya: Adapun setelah Rasulullah s.a.w. wafat, maka bahagian yang tadinya ditentukan untuk Rasulullah s.a.w. itu dibagikan untuk Mujahidin yang diserahi menjaga batas-batas negeri Islam. Karena mereka itu telah melakukan perbuatan yang di waktu hidupnya dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. Dan dalam kata beliau yang lain (pendapat beliau yang se­buah lagi) dipergunakan untuk kemuslihatan kaum Muslimin, seumpama untuk memperkuat sempadan dan batas-batas kekuasaan Islam, atau untuk memper­dalam sungai-sungai untuk dilayari atau untuk membangun jembatan, dengan catatan mendahulukan mana yang lebih penting.

Begitulah yang harus dilakukan kepada empat perlima harta al-Fai' yang terserah kepada Rasulullah s.a.w. itu setelah beliau wafat. Adapun dari hal yang seperlima dari seperlima yang dibagi lima tadi, dan yang seperlima pula yang beliau berhak atas harta ghanimah, maka seluruhnya itu dipergunakan semata-­mata untuk kepentingan kaum Muslimin. Demikian pendapat Imam Syaf'i yang tidak ada pendapat Imam yang lain yang membantahnya.

Alasannya ialah dari sabda Rasulullah s.a.w. sendiri:

لَيْسَ لِيْ مِنْ غَنَائِكُمْ إلاَّ الْخُمُسُ وَالْخُمُسُ مَرْدُوْدٌ إِلَيْكُم      ْ
                   - رواه أبو داود والإمام أحمد والطبراني والنسائي
Tidak ada untukku dari rampasan perang kamu itu, kecuali seperlima dan yang seperlima itu pun dikembalikan kepada kamu juga." (Riwayat Abu Daud, Imam Ahmad, ath-Thabrani dan an-Nasa'i)

Dan lagi jangankan harta-benda peninggalan beliau yang berupa tanah, sadangkan harta yang lain, tidaklah ada yang diwariskan. Beliau sendiri pula yang bersabda;

نَحْنُ الأَنْبِياءُ لاُ نُوْرَثُ مَا تَرَكْنَاهُ صَدَقَة      ً
               - رواه الإمام أحمد وأبو داود
"Kami Nabi-nabi tidaklah diwarisi; apa yang kami tinggalkan adalah sadaqah.' (Riwayat Imam Ahmad dan Abu Daud)

Setelah Rasulullah s.a.w. meninggal datanglah puteri beliau, Fatimah menghadap Khalifah Abu Bakar Shiddiq menerangkan bahwa tanah beliau yang di Fadak telah ditentukan buat dia.

Oleh sebab hal itu telah ditentukan semasa beliau masih hidup, niscaya harta itu pemberian beliau kepadanya dan tidak termasuk lagi pada yang tidak diwariskan. Dengan sikap kasih-sayang Abu Bakar berkata;
"Kau Fatimah adalah orang yang paling mulia di sisiku, jika kau miskin dan paling aku sayangi jika kau kaya! Tetapi perkataan itu tidak dapat aku terima kalau kau tidak mengemukakan saksi."
Lalu Fatimah mengemukakan dua orang saksi, yaitu Ummu Aiman bekas pengasuh Rasulullah s.a.w. dan seorang budak laki-laki yang telah dimerdekakan Rasulullah, tetapi kesaksian itu ditolak oleh Abu Bakar.

Beliau meminta saksi yang dapat diterima menurut hukum syara'. Tetapi Fatimah tidak dapat membawakan saksi yang lain. Oleh sebab keterangan yang lengkap itu tidak ada, tetaplah harta itu dipegang Abu Bakar dalam kedudukan beliau sebagai Khalifah dan dibaginya menurut pembagian Nabi s.a.w. ketika hidupnya dan yang selebihnya dibeli­kannya senjata untuk berperang dan temak untuk kendaraan peperangan.

Dan setelah Abu Bakar wafat digantikan oleh Umar, oleh beliau diserahkan me­ngurus harta itu kepada Ali dan oleh Ali dilakukan sebagai yang dilakukan Abu Bakar dan Nabi. Kemudian dikembalikannya tanggungjawabnya kepada Umar. Setelah Usman jadi Khalifah dilakukannya pula seperti itu dan setelah Ali bin Abu Thalib naik menggantikan Usman, dia pun melakukan seperti itu pula, tidak dipakainya untuk kepentingan anak-anaknya dengan Fatimah sebagai apa yang dituntut oleh Fatimah.

Artinya bahwa keempat Khalifah telah menjalankan amanat tentang harta peninggalan Rasulullah s.a.w. dengan baik.

Al-Qurthubi dalam tafsirnya "Al-Jami`u Li Ahkamil Quran" menulis tentang macam-macam harta-benda umum yang di bawah kekuasaan Imam (Kepala Negara);

'Hartabenda yang di bawah kekuasaan Imam-imam dan Penguasa­penguasa masuk dari tiga macam:

Pertama; lalah yang dipungut dan kaum Muslimin sendiri untuk pem­bessihan harta itu, yaitu sebagai sedekah-sedekah dan zakat-zakat.

Kedua; lalah Ghana-im (jama' dari ghanimah). Yaitu yang sampai ke tangan kaum Muslimin dari harta-benda orang-orang kafir karena peperangan yang di sana Muslimin menang dan mereka kalah.

Ketiga: Ialah al-Fai'. Yaitu harta-benda kaum kafir yang jatuh ke tangan kaum muslimin tidak dengan susah payah perang dan penyerbuan; sebagai hasil perdamaian atau bayaran jizyah atau kharaaj atau sepersepuluh yang diambil dari saudagar-saudagar kafir. Atau seumpama orang musyrik lari ke negeri lain lalu dia tinggalkan hartanya. Atau ada di antara mereka meninggal di Negara Islam (Darul Islam), sedang warisnya tidak ada.

Kata al-Qurthubi selanjutnya; "Adapun hartabenda sadaqah yang dipungut dari kaum Muslimin itu hendaklah dia bagikan kepada fakir miskin dan pekerja­-pekerja yang mengurusnya ('Amiliin `alaiha) dan seterusnya, sebagaimana yang tersebut di dalam Surat at-Taubah (Surat 9, ayat 60). (Lihat Juzu' 10).

Adapun ghana-im maka di permulaan Islam terserah semuanya kepada kebijaksanaan Rasulullah s.a.w. sebagaimana yang tersebut dalam Surat al-Anfal (Surat 8, ayat 1) (Lihat Juzu 9). Kemudian diperjelas lagi dalam Surat al-Anfal juga, ayat 41 (Lihat Juzu' 10 pada permulaannya).

Adapun al-Fai', pembagian dan pembagian yang seperlima adalah sama, yaitu di bawah kekuasaan langsung Rasulullah s.a.w. Menurut Imam Malik, ke mana akan dipergunakan terserah kepada Imam (Kepala Negara); kalau Imam menimbang baik dijadikan cadangan untuk digunakan bagi kepentingan-­kepentingan kaum Muslimin, bolehlah dia berbuat begitu. Dan kalau beliau menimbang hendak membagikan kedua macam harta itu (seperlima ghanimah dan seluruh al-Fai') supaya dibagikan rata kepada kaum Muslimin dengan sama rata baik Arabnya, ataupun bangsa lain yang telah bergabung (maula) pun boleh. Hendaklah beliau mulai memberi mana-mana yang sangat melarat, sampai dia kaya, laki-laki perempuan. Dan diberi pula kaum keluarga Rasulullah s.a.w. dari al-Fai' beberapa patutnya menurut pertimbangan Imam.

Terjadi perselisihan pendapat di antara Ulama, apakah keluarga Rasulullah s.a.w. yang kaya-raya atau tidak. Imam Malik berpendapat bahwa yang diberi hanya mana yang miskin, akan ganti pembegian zakat (sebab mereka tidak boleh menerima zakat).

Menurut Imam Syafi'i segala harta kafir yang didapat tidak dengan per­tempuran, di zaman Nabi s.a.w. dibagi kepada dua puluh lima bagian, yang dua puluh bagian khusus untuk Rasulullah, yang beliau berhak membagikan menurut kebijaksanaan beliau. Yang lima lagi dibagi ke atas yang berhak menerima seperlima ghanimah." Sekian al-Qurthubi.

Selanjutnya disebutkan dalam ayat mengapa maka harta itu dibagi demi­kian rupa, bahkan yang dikuasakan kepada Rasulullah s.a.w. tidak diwariskan; Supaya dia jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya di antara kamu." Telah teradat di zaman jahiliyah jika terjadi peperangan dan musuh dapat dikalahkan maka yang pertama berhak atas hartabenda itu hanyalah para pemimpin saja. Adapun para perajurit hanya diberi sekedar belas kasihan dari pemimpin yang telah kaya sendiri itu. Janganlah yang kaya bertambah kaya dan yang miskin hanya menyaksikan kekayaan orang yang sudah kaya saja.

           وَ ما آتاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ  

"Dan apa yang didatangkan kepada kamu oleh Rasul hendaklah kamu ambil."

Artinya bahwa peraturan yang telah beliau aturkan, baik menurut ayat keenam atau ayat ketujuh hendaklah diterima dengan segala kepatuhan dan kerelaan. Artinya pembahagian-pembahagian yang beliau lakukan dengan kebijaksanaan beliau janganlah dibantah.

                  وَ ما نَهاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا 
"Dan apa yang dia larang hendaklah kamu hentikan."

Yang dilarang di sini tentu saja membagi sendiri dan me­ngambil sendiri sebelum dibagi, meskipun harta itu rampasan belaka.

وَ اتَّقُوا اللَّهَ                  َ
"Dan takwalah kepada Allah."

Karena dengan ketakwaan kepada Allah rasa loba dan tamak, ingin kelebihan kepada diri sendiri akan hilang atau dapat dikendalikan;

إِنَّ اللَّهَ شَديدُ الْعِقاب                 ِ                 
"Sesungguhnya adalah Allah itu sangat keras hukumNya. (ujung ayat 7)

Pada ujung ayat yang pertama telah disebutkan dua sifat Allah menentu­kan dalam hal pembagian harta rampasan ini. Yaitu yang pertama 'Aziz, yang berati Perkasa dan yang kedua Hakiim, yang berarti Bijaksana. Sudah pasti bahwa pembagian yang akan ditentukan oleh Allah dan RasulNya itu akan sangat bijaksana dan pertimbangan yang halus. Oleh sebab itu maka barang­siapa yang hendak memandai-mandai pula membuat aturan sendiri atau tidak puas dengan peraturan Allah, niscaya akan mendapat hukuman yang berat. Maka kebijaksanaan Tuhan itu bertemulah dalam ayat yang selanjutnya, di dalam menentukan siapa-siapa yang berhak mendapat pembahagian harta rampasan, baik al-Fai' atau al-Ghanimatu.

لِلْفُقَراءِ الْمُهاجِرين            َ
"(Yaitu) untuk orang-orang fakir yang berhijrah." (pangkal ayat 8).

Di dalam susunan ayat nampak jelas bahwa dia menjadi fakir karena dia berhijrah. Kalau dia tidak hijrah tentu dia akan tetap kaya dengan harta, tetapi mereka adalah;

         الَّذينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيارِهِمْ
"Yang diusir dari kampung halaman mereka,"

mereka tinggalkan kampung halaman dan rumah kediaman di Makkah itu lalu hijrah ke Madinah tentu men­dapat ganti rumah kediaman yang patut;

               وَ أَمْوالِهِمْ
      
"Dan hartabenda mereka,"

tidak boleh dibawa, atau mereka sendiri tidak mau membawanya, karena akan memberati saja bagi perjalanan penting itu, yaitu hijrah, berpindah kepada Allah dan Rasul. Ada yang berangkat hanya dengan bungkusan kecil saja. Ada yang berangkat sembunyi-sembunyi karena takut dihalangi oleh keluarga. Ber­pisah dengan anak, dengan ayah atau dengan keluarga yang lain bahkan antara suami dengan isteri. Semuanya itu adalah;

         يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِنَ اللَّه
"Karena mengharapkan kurnia daripada Allah dan keridhaan."

Karena mereka yakin bahwa Tuhan tidak akan mengecewakan mereka karena perpindahan itu bahkan Tuhan meridhai dan menyukai;

              وَ يَنْصُرُونَ اللَّهَ وَ رَسُولَه
"Dan mereka menolong Allah dan RasulNya. "

Meski­pun teranglah bahwa Allah Maha Kuat, Maha Kuasa, namun untuk menghargai tinggi pengurbanan mereka, Tuhan menyebut bahwa mereka berhijrah itu ada­lah karena menolong Allah dan Rasul, serangkaian dengan sabda Tuhan pada bahagian lain; Surat 47, Muhammad ayat 7, bahwa kalau kamu tolong Allah niscaya kamu akan ditolonglah pula dan diteguhkannya pendirian kamu,

               ُ أُولئِكَ هُمُ الصَّادِقُون
"Itulah orang-orang yang benar." (ujung ayat 8).

Mereka disebut orang-orang yang benar, sebab pengurbanan mereka meninggalkan kampung halaman, rumah-tangga, sanak-saudara dan hartabenda adalah karena iman yang benar, sesuai keyakinan dengan perbuatan. Mereka tidak perduli biar jatuh melarat jadi fakir sebab yakin bahwa pendirian mereka benar. Maka tersebutlah bahwa yang paling sesuai sebutan-sebutan yang mulia ini ialah dengan Abu Bakar Shiddiq, sehingga setelah pindah ke Madinah di­pandanglah beliau orang kedua setelah Rasulullah, dan cenderunglah pilihan orang kepada dirinya untuk menjadi Khalifah Rasulullah memimpin ummat setelah Rasulullah wafat. Dan terhentilah segala perselisihan setelah beliau yang diangkat.

Itulah enam keutamaan bagi orang-orang Muhajirin itu;

Pertama   ; mereka adalah orang-orang fakir miskin.
Kedua     ; mereka adalah orang Muhajirin (berpindah tempat karena agama).
Ketiga     ; mereka diusir dari kampung halaman, dirampas harta-benda.
Keempat ; mereka mengharapkan kumia Allah dan keridhaan.
Kelima    ; mereka menolong Allah dan Rasul.
Keenam  ; mereka adalah orang-orang yang benar.

00     01      02    03    05     06                                        Back To MainPage       >>>>