TAFSIR AYAT  18 - 21
                                                                           

18- يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَ لْتَنْظُرْ نَفْسٌ ما قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَ اتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبيرٌ بِما تَعْمَلُونَ
Wahai orang-orang yang ber­iman! Takwalah kepada Allah dan hendaklah merenungkan se­tiap diri, apalah yang telah diper­buatnya untuk hari esok. Dan takwalah kepada Allah! Sesung­guhnya Allah itu Maha Menge­tahui apa jua pun yang kamu kerjakan.


19- وَ لا تَكُونُوا كَالَّذينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْساهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولئِكَ هُمُ الْفاسِقُونَ
Dan janganlah keadaan kamu seperti orang-orang yang me­lupakan Allah, lalu Allah pun membuatnya lupa kepada dirinya sendiri; itulah orang-orang yang fasik.


20- لا يَسْتَوي أَصْحابُ النَّارِ وَ أَصْحابُ الْجَنَّةِ أَصْحابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفائِزُونَ
Tidaklah sama penghuni-peng­huni neraka dengan penghuni­-penghuni syurga, penghuni­-penghuni syurga, itulah orang­orang yang beruntung.



21- لَوْ أَنْزَلْنا هذَا الْقُرْآنَ عَلى‏ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خاشِعاً مُتَصَدِّعاً مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَ تِلْكَ الْأَمْثالُ نَضْرِبُها لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Kalau sekiranya Kami turunkan al-Quran ini ke atas sebuah gunung, niscaya akan engkau lihatlah gunung itu tunduk ter­pecah-belah disebabkan takut kepada Allah; dan perumpama­an-perumpamaan itu Kami perbuat untuk manusia supaya mereka berfikir.

                           Persediaan Untuk Hari Esok

Setelah demikian banyak diceriterakan tentang jalan salah yang ditempuh oleh kaum munafik dan pengkhianatan hendak membunuh Nabi sampai mereka diusir, yang dilakukan oleh Yahudi Bani Nadhir, maka sudahlah patut hal itu semua jadi cermin perbandingan bagi orang yang beriman. Di ujung ayat yang pertama pun sudah dianjurkan kepada orang yang berfikiran men­dalam suatu mengambil perbandingan atau I'tibaar dari kejadian Bani Nadhir ini, bahwa siapa pun yang mengkhianati janjinya dan memilih jalan yang salah dalam hidup pastilah dia akan menderita akibat yang buruk.

Selain dari itu banyaklah perbandingan yang dapat diambil dan kisah ini. Sebab itu sudah sepantasnyalah jika pada akhirnya Allah menyampaikan per­ingatanNya dengan perantaraan RasulNya kepada orang-orang yang telah mengaku percaya kepada Allah. Ayat 18 ini mulailah peringatan itu;

                     يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Takwalah kepada Allah." (pangkal ayat 18).

Iman ialah kepercayaan. Takwa ialah pemeliharaan hubungan dengan Tuhan. Oleh sebab itu semata-mata Iman atau percaya saja belumlah cukup, sebelum dilengkapi dengan mempercepat hubungan dengan Tuhan. Ke­ikhlasan batin kepada Ilahi tawakkal berserah diri, ridha menerima ketentuan-Nya, syukur menerima nikmatNya, sabar menerima percobaanNya, semuanya itu didapat karena adanya takwa. Memperteguh ibadat kepada Allah sebagai sembahyang, puasa, zakat dan sebagainya, semuanya itu apalah menyuburkan takwa. Terutama lagi selain dari mengingat Allah, hendaklah ingat pula bahwa hidup ini hanya semata-mata singgah saja. Namun akhirnya hidup di dunia ditutup dengan mati, dan di akhirat amal kita akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Itulah sebabnya maka di samping seruan kepada orang yang beriman, diperingatkan pula agar mereka tetap takwa kepada Allah. Dengan takwa itulah Iman tadi dipupuk terus.

                 وَ لْتَنْظُرْ نَفْسٌ
"Dan hendaklah merenungkan setiap diri,"

artinya bawa berfikir, bawa merenung, bawa bermenung, tafakkur dan tadzakkur (memikirkan dan mengingat);

                   ما قَدَّمَتْ لِغَدٍ
"Apalah yang telah diperbuatnya untuk hari esok."

Hari esok ialah hari akhirat. Hidup tidaklah akan disudahi hingga di dunia ini saja. Dunia hanyalah semata-mata masa untuk menanam benih. Adapun hasilnya akan dipetik adalah di hari akhirat. Renungkanlah oleh tiap diri apalah yang telah lebih dahulu diamalkan untuk didapati di akhirat itu kelak?

Maka ditentukanlah oleh Tuhan apa yang akan dikirim terlebih dahulu di waktu hidup ini, yang akan didapati di akhirat esok. Dalam permulaan mem­buka pelajaran al-Quran telah bertemu ayat 3 dari Surat al-Baqarah (Surat 2) bahwa pokok pegangan hidup itu ialah

(1) Iman kepada yang ghaib,
(2) men­dirikan sembahyang,
(3) menafkahkan rezeki yang diberikan Allah. Sesudah itu datang yang ke
(4) yaitu percaya akan peraturan Tuhan yang diturunkan kepada Nabi Muhammad,
(5) percaya pula kepada peraturan-peraturan yang diturun­kan Tuhan kepada Nabi-nabi yang sebelum Nabi Muhammad  dan akhirnya sekali, yang ke
(6) ialah yakin bahwa hari akhirat itu pasti ditemui.

Percaya kepada hari akhirat menyebabkan rezeki yang diberikan Tuhan sebahagian besar dikirimkan terlebih dahulu untuk persediaan hari esok, itulah arti "qaddamat", yaitu mengirim lebih dahulu.

Menurut suatu Hadis yang dirawikan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dengan isnadnya dari Abu Juhaifah, dari al-Mundzir bin Jurair, dari ayahnya, dia berkata; "Sedang kami duduk bersama di hadapan Rasulullah pada suatu tengah hari datanglah kepada beliau s.a.w. suatu kaum, tidak beralas kaki, tidak berpakaian, hanya berikat pinggang dan menyandang pedang. Umumnya dari Mudhar, bahkan semua dari Mudhar. Maka berubahlah muka Nabi s.a.w. me­lihat kemiskinan mereka itu. Lalu beliau masuk ke dalam rumahnya, kemudian beliau keluar pula. Lalu beliau perintahkan Bilal supaya azan (bang) dan beliau pun mengimami sembahyang. Sehabis sembahyang beliau berdiri dan ber­pidato.

Di antara ucapan beliau; "Yaa ayyuhan naasut taquu rabbakumul ladzii khalagakum min nafsin waahidatin… kemudian itu beliau baca pula ayat dalam Surat al-Hasyr (yaitu ayat ini); Wal tanzhur nafsun maa qaddamat li ghadin" Lalu berkata selanjutnya; "Bersedekahlah seorang lelaki dari dinarnya, dari dirhamnya, dari kain, dari segantang gandumnya, dari segantang korma­nya. Bersedekahlah, walaupun sekeping pecahan buah korma!"

Setelah mendengar pidato Rasulullah s.a.w. itu tampillah ke muka seorang dari Anshar membawa sebuah pundi-pundi penuh dengan isi yang berat, sampai lemah telapak tangannya karena beratnya; pundi-pundi itu langsung diserahkannya kepada Nabi. Kemudian tampil pula yang lain dan tampil pula berturut-turut, semuanya memberikan pemberiannya dan terlonggok teronggok di hadapan Nabi s.a.w., ada makanan, ada pakaian, sehingga aku lihat wajah beliau berseri seakan-akan disepuh emas layaknya, lalu beliau bersabda pula;

مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ ،َ مَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ اَوْزَارِهِمْ شَيْء
ٌ

"Barangsiapa yang menempuhkan dalam Islam suatu jalan yang baik, niscaya untuknya pahalanya dan pahala orang yang turut mengamalkannya sesudahnya; dengan tidak akan mengurangi pahalanya yang telah disediakan buat dia itu sedikit pun. Dan barangsiapa yang menempuhkan dalam Islam suatu jalan yang buruk, maka dia akan ditimpa oleh dosanya dan dosa orang-­orang yang menuruti jejaknya itu, dengan tidak pula mengurangi ganjaran dosa buat dia itu sedikit pun." (Hadis ini dirawikan pula oleh Muslim)

Maka dari sebab anjuran Rasulullah s.a.w. itu timbullah keinsafan lantaran adanya Iman dan adanya Takwa dalam hati sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. ketika itu, sehingga terkumpullah perbantuan untuk orang-orang kabilah Mudhar yang melarat datang menyerahkan diri dan bersedia memeluk Islam, ke dalam kota Madinah itu, berpindah daripada hidup mengelana sebagai badwi ke dalam kehidupan kota yang beradab.

Oleh sebab itu maka teranglah apa yang dimaksud dengan ayat ini. Yaitu seyogyanyalah orang-orang yang telah mengaku beriman memupuk imannya dengan takwa, lalu merenungkan hari esokya, apa gerangan yang akan di­bawanya menghadap Tuhan; hitunglah terlebih dahulu laba rugi hidup sendiri sebelum dihitung kelak. Renungkanlah apa baru perbekalan yang telah ada dan mana lagi yang kurang. Karena perjalanan akan termaju dari dunia ini ke pintu kubur, ke alam barzakh dan ke hari akhirat.
                      وَ اتَّقُوا اللَّهَ
"Dan takwalah kepada Allah!" Ini diperingatkan sekali lagi, supaya lebih mantap dalam hati;

           إِنَّ اللَّهَ خَبيرٌ بِما تَعْمَلُونَ
"Sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui apa jua pun yang kamu kerjakan." (ujung ayat 18).

Oleh karena tidak ada di antara kita yang terlepas daripada tilikan Allah, maka hanyalah dengan takwa itu jua kita akan selamat dunia akhirat. Karena dengan takwa Tuhan itu kita dekati, bukan kita jauhi.

Selanjutnya bersabdalah Tuhan;

                - وَ لا تَكُونُوا كَالَّذينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْساهُمْ أَنْفُسَهُمْ
"Dan janganlah keadaan kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah; lalu Allah pun membuatnya lupa kepada dirinya sendiri." (pangkal ayat 19).

Artinya menurut tafsir dari Ibnu Katsir ialah; "Janganlah kamu lupa mengingat kepada Allah, atau zikir. Karena bila kamu telah lupa mengingat Allah, Allah pun akan membuat lupa apa-apa yang patut dikerjakan untuk kepentingan dirimu sendiri, yang akan membawa manfaat bagimu di akhir kelak kemudian hari.

Ibnul Qayyim menulis tentang Tafsir ayat ini dalam kitabnya "Darus Sa`adah" (Negeri Bahagia); "Perhatikan ayat ini, niscaya akan engkau dapati di dalamnya arti yang sangat mulia dan dalam. Yaitu bahwa barangsiapa yang lupa kepada Tuhannya, Tuhan akan membuatnya lupa kepada dirinya sendiri, sehingga dia tidak mengenal lagi siapa sebenamya dirinya dan apa yang perlu untuk kebahagiaan dirinya. Bahkan dia pun akan dibuat lupa apa jalan hidup yang akan ditempuhnya untuk kebahagiaan dirinya sendiri baik untuk ke­hidupan dunia sekarang atau kehidupan akhirat kelak, sehingga dia hidup dalam kekosongan dan hampa, sama saja dengan binatang ternak yang di­halau-halau. Bahkan kadang-kadang binatang ternak itu lebih tahu apa yang baik untuk memelihara hidupnya dengan petunjuk naluri yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Tetapi manusia yang telah lupa diri ini, dia telah keluar dari garis fihratnya, yang dengan itu dia diciptakan. Dia telah lupa kepada Tuhan­nya, maka dia dibuat lupa oleh Tuhan kepada dirinya sendiri sehingga dia tidak ingat lagi bagaimana supaya diri itu mencapai kesempumaan dan bagaimana agar dia bersih, bagaimana supaya dia mencapai bahagian kini dan esok.

Tuhan bersabda;

وَلاَ تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطاً -

"Dan janganlah engkau ikuti orang yang telah Kami jadikan lalai hatinya dari mengingat Kami, lalu diperturutkannya kehendak hawanafsunya, dan jadilah segala perbuatannya di luar batas." (al-Kahfi: 28)

Dia telah lalai dan lengah dari mengingat Tubuhnya. Sebab itu maka segala tindak-tanduknya dan rasa hatinya tidak ada yang beres lagi, sehingga tidak ada perhatiannya untuk memperbaiki diri dan mencari yang muslihat, hati pecah berderai, jiwa porak-peranda, apa yang dikerjakan kucar-kacir, bingung tidak tentu arah hidup yang akan ditempuh.

Oleh sebab itu maka mengenal Allah adalah pokok pangkal segala ilmu, pokok pangkal kebahagiaan dan kesempurnaan seorang hamba Allah, dunia­nya dan akhiratnya. Dan kalau jahil, tidak mengetahui hubungan diri dengan Allah, pastilah dia pun tidak akan tahu siapa dirinya yang sebenarnya dan apa yang harus dilakukannya supaya dia mencapai kemenangan. Sebab itu maka mengenal Tuhan adalah pangkal bahagia, dan jahil akan Dia pangkal celaka." Sekian kita salin.

Di ujung ayat dijelaskanlah bagaimana kedudukan orang itu pada pan­dangan Tuhan;

                 أُولئِكَ هُمُ الْفاسِقُونَ
"Itulah orang-orang yang fasik." (ujung ayat.19).
Yaitu bahwa perjalanan hidupnya tidak melalui aturan, sebab itu kucar-kacir dan celaka terus.

                       لا يَسْتَوي أَصْحابُ النَّارِ وَ أَصْحابُ الْجَنَّةِ
"Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni syurga." (pangkal ayat 20).

Kalau di ujung ayat 19 sudah dijelaskan bahwa orang yang lupa kepada Tuhan, sehingga Tuhan pun membuat orang itu jadi lupa fasik. Maka sudah jelas pula bahwa tempat orang-orang yang fasik itu di akhirat kelak tidak lain hanyalah neraka. Lalu di pangkal ayat 20 ini dijelaskan bahwa penghuni neraka dengan penghuni syurga tidak sama. Maksud hal ini disebut ialah untuk jadi peringatan bagi orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah, agar mereka janganlah sampai terpesona melihat orang yang fasik, jalan hidup tidak menurut aturan itu. Bagaimana jua pun hendaklah orang beriman selalu ingat kepada Allah, zikir kepada Allah, beribadat terhadapNya. Orang yang selalu ingat akan Allah niscaya akan selalu dibimbing oleh Tuhan dalam jalan yang benar. Bagaimana susahnya berjuang menegakkan kebenaran itu namun jiwa­nya senang, hatinya tenteram, karena merasa dekat dengan Tuhan. Di dunia selamat, di akhirat masuk syurga;

                        أَصْحابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفائِزُونَ
"Penghuni-penghuni syurga, itulah orang-­orang yang beruntung. " (ujung ayat 20).

Mereka merasakan nikmat dari bekas usaha mereka sendiri.
Memang, soal neraka dan syurga adalah soal hari esok; wajiblah kita percaya akan hari esok itu. Namun yang terang dari hidup di dunia ini pun sudah jelas bahwa hidup orang yang melupakan Allah dengan hidup orang yang hidupnya dalam tuntunan kepercayaan tetap berbeda. Tabiat berbeda, jalan hidup berbeda, pandangan hidup berbeda, penilaian atas tiap-tiap soal berbeda; bagaimanapun mencoba mengkompromikan, mempersamakan atau menjadi kerukunan hidup di antara keduanya, namun keduanya tidaklah akan dapat bertemu untuk selama-lamanya. Bahkan sampai kepada pandangan ter­hadap ekonomi, atau social atau politik sekalipun, tidaklah mungkin disama­kan. Bagaimana akan menyatukan antara minyak dengan air……

Gunung Pun Bisa Runtuh...

Ayat selanjutnya ialah menerangkan betapa besarnya pengaruh al-Quran, sampai diperbuat perumpamaan;

           لَوْ أَنْزَلْنا هذَا الْقُرْآنَ عَلى‏ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خاشِعاً مُتَصَدِّعاً مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ
Kalau sekiranya Kami turunkan al-Quran ini ke atas sebuah gunung, niscaya akan engkau lihatlah gunung itu tunduk terpecah-belah disebabkan takut kepada Allah." (pangkal ayat 21).

Di ujung ayat kelak akan dijelaskan bahwa ini adalah perumpamaan. Oleh sebab itu janganlah dicoba membawa Mushhaf al-Quran ke atas sebuah gunung dan diletakkan di sana. Pada adatnya tidaklah gunung itu akan pecah berderai, hancur berantakan karena berat menerima al-Quran itu. Maksud kandungan ayat telah dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya; "Hendaklah khusyu` tunduk hati itu menerima al-Quran dan laksana pecah ketika men­dengarrya. Sebab di sanalah terdapat janji-janji Allah yang benar dan ancaman bagi siapa yang durhaka yang tegas.

Artinya; "Kalau kiranya gunung yang begitu besar dan kasar mempunyai fikiran sebagai manusia niscaya ia akan khusyu' tunduk merendahkan diri karena takutnya kepada Allah. Maka adakah patut bagimu, hai Insan, tidak akan lintuh lunak hatimu karena takut kepada Allah.

Padahal kamu telah dapat memahamkan apa isinya, mengerti apa yang diperintahkan. Sebab itu sudah seyogyanyalah kamu tunduk, karena kamu diberi Allah akal buat berfikir." Begitulah maksud tafsiran dari Ibnu Katsir.

Kita perbandingkan perumpamaan ini dengan perumpamaan yang serupa dalam Surat al-Baqarah (Surat 2 ayat 74) tentang keras membatunya hati orang Yahudi, bahkan lebih keras dari batu. Sebab dari dalam batu bisa juga me­mancar sungai-sungai, dan ada batu yang pecah, lalu keluar air dari dalamnya, dan ada batu yang runtuh dari sebab takutnya kepada Allah. Itu adalah perumpamaan.

Perumpamaan-perumpamaan yang dahsyat dan tepat kadang-kadang dapat merangsang hati manusia yang mempunyai perasaan halus. Itulah sebab­nya maka di ujung ayat Tuhan sabdakan;

                      وَ تِلْكَ الْأَمْثالُ نَضْرِبُها لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
"Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami perbuat untuk manusia supaya mereka berfikir." (ujung ayat 21).

Perumpamaan dalam al-Quran itu kadang-kadang sangat mempengaruhi. Nabi s.a.w. sendiri pernah tertangis tidak dapat menahan air matanya sehingga terlambat dia keluar akan sembahyang Subuh, dan tertunggu-tunggu sahabat­-sahabat dan cemas kalau-kalau beliau jatuh sakit. Karena pada malam itu turun ayat 190 dan 191 dari Surat ali Imran (Surat 3) yang menyatakan bahwa pada kejadian langit dan bumi dan pertukaran siang dan malam, adalah menjadi tanda bagi orang yang berfikiran halus.

Saiyidina Umar bin Khathab yang halus perasaannya dan keras pendirian­nya berubah dari seorang yang tadinya bertekad hendak membunuh Nabi, menjadi seorang yang beriman dan bersedia membela Nabi dengan nyawanya, karena membaca ayat-ayat pertama dari Surat 20 (Thaha).

Seketika turun Surat 52 (ath-Thuur), dari ayat pertama "Wath-Thuur" (demi bukit) sampai kepada ayat 7 "Inna `azaba rabbika la waaqi'" dan-ayat 8 "Maa Iahuu min daafi" (Tidak ada seorang pun yang dapat menolak).

Mendengar ayat-ayat ini seketika mulai turun dan dibacakan oleh Rasulullah s.a.w. gemetarlah tubuh Umar bin Khathab, lenyai letih seluruh persendiannya dan nyaris dia jatuh kalau tidak bersandar ke dinding. Setelah itu dia segera pulang ke rumahnya dan sampai di rumah dia jatuh sakit, sehingga hampir sebulan dia tidak keluar, sampai banyak orang yang datang melawatnya sakit itu.

Itulah yang dibayangkan Tuhan pula dalam Surat 8 (an-Anfal) ayat 3, bahwa orang yang beriman itu apabila disebut orang nama Allah, gemetarlah atau lintuhlah hatinya yang keras itu dan apabila telah dibacakan orang ke­padanya ayat-ayat Allah bertambah-tambahlah imannya.

Demikianlah yang terjadi pada diri Fudhail bin `Ayyadh ahli Shufi dan Zuhud yang terkenal itu, yang sampai disegani ketinggian peribadinya dalam Iman. Hatta oleh Khalifah Harun al-Rasyid sendiri. Dikenal orang sejarah hidup beliau, bahwa pada mulanya beliau itu adalah seorang anak muda yang sangat nakal, tidak mengenal jalan kepada Allah, "Lupa akan Allah, sehingga Allah pun melupakannya pula akan dirinya." Pada suatu malam "menjalarlah" dia memanjat dinding rumah seorang perempuan yang terdengar suara merdunya di tingkat tinggi sebuah rumah. Dipanjatnya dinding itu, didengarnya suaranya dan diintipnya rupanya. Rupanya memang cantik! Tetapi sedang dia tertegun melihat rupa, dia tafakkur mendengar suara. Bukan bernyanyi, melainkan membaca al-Quran dengan suara merdu. Ayat yang tengah dibacanya ialah:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ

"Belumkah datang masanya bagi orang-orang yang beriman, bahwa akan khusyu' hati mereka karena mengingat Allah dan (mengingat) Kebenaran yang diturunkan." (sampai akhir ayat).
(Surat 57 al-Hadid: 16)

Kita perbandingkan perumpamaan ini dengan perumpamaan yang serupa dalam Surat al-Baqarah (Surat 2 ayat 74) tentang keras membatunya hati orang Yahudi, bahkan lebih keras dari batu. Sebab dari dalam batu bisa juga me­mancar sungai-sungai, dan ada batu yang pecah, lalu keluar air dari dalamnya, dan ada batu yang runtuh dari sebab takutnya kepada Allah. Itu adalah perumpamaan.

Perumpamaan-perumpamaan yang dahsyat dan tepat kadang-kadang dapat merangsang hati manusia yang mempunyai perasaan halus. Itulah sebab­nya maka di ujung ayat Tuhan sabdakan; "Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami perbuat untuk manusia supaya mereka berfikir." (ujung ayat 21).

Perumpamaan dalam al-Quran itu kadang-kadang sangat mempengaruhi. Nabi s.a.w. sendiri pernah tertangis tidak dapat menahan air matanya sehingga terlambat dia keluar akan sembahyang Subuh, dan tertunggu-tunggu sahabat­-sahabat dan cemas kalau-kalau beliau jatuh sakit. Karena pada malam itu turun ayat 190 dan 191 dari Surat ali Imran (Surat 3) yang menyatakan bahwa pada kejadian langit dan bumi dan pertukaran siang dan malam, adalah menjadi tanda bagi orang yang berfikiran halus.

Saiyidina Umar bin Khathab yang halus perasaannya dan keras pendirian­nya berubah dari seorang yang tadinya bertekad hendak membunuh Nabi, menjadi seorang yang beriman dan bersedia membela Nabi dengan nyawanya, karena membaca ayat-ayat pertama dari Surat 20 (Thaha).

Seketika turun Surat 52 (ath-Thuur), dari ayat pertama "Wath-Thuur" (demi bukit) sampai kepada ayat 7 "Inna `azaba rabbika la waaqi'" dan-ayat 8 "Maa Iahuu min daafi" (Tidak ada seorang pun yang dapat menolak).

Mendengar ayat-ayat ini seketika mulai turun dan dibacakan oleh Rasulullah s.a.w. gemetarlah tubuh Umar bin Khathab, lenyai letih seluruh persendiannya dan nyaris dia jatuh kalau tidak bersandar ke dinding. Setelah itu dia segera pulang ke rumahnya dan sampai di rumah dia jatuh sakit, sehingga hampir sebulan dia tidak keluar, sampai banyak orang yang datang melawatnya sakit itu.

Itulah yang dibayangkan Tuhan pula dalam Surat 8 (an-Anfal) ayat 3, bahwa orang yang beriman itu apabila disebut orang nama Allah, gemetarlah atau lintuhlah hatinya yang keras itu dan apabila telah dibacakan orang ke­padanya ayat-ayat Allah bertambah-tambahlah imannya.

Demikianlah yang terjadi pada diri Fudhail bin `Ayyadh ahli Shufi dan Zuhud yang terkenal itu, yang sampai disegani ketinggian peribadinya dalam Iman. Hatta oleh Khalifah Harun al-Rasyid sendiri. Dikenal orang sejarah hidup beliau, bahwa pada mulanya beliau itu adalah seorang anak muda yang sangat nakal, tidak mengenal jalan kepada Allah, "Lupa akan Allah, sehingga Allah pun melupakannya pula akan dirinya." Pada suatu malam "menjalarlah" dia memanjat dinding rumah seorang perempuan yang terdengar suara merdunya di tingkat tinggi sebuah rumah. Dipanjatnya dinding itu, didengarnya suaranya dan diintipnya rupanya. Rupanya memang cantik! Tetapi sedang dia tertegun melihat rupa, dia tafakkur mendengar suara. Bukan bernyanyi, melainkan membaca al-Quran dengan suara merdu. Ayat yang tengah dibacanya ialah:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ

"Belumkah datang masanya bagi orang-orang yang beriman, bahwa akan khusyu' hati mereka karena mengingat Allah dan (mengingat) Kebenaran yang diturunkan." (sampai akhir ayat). (Surat 57 al-Hadid: 16)

Kita perbandingkan perumpamaan ini dengan perumpamaan yang serupa dalam Surat al-Baqarah (Surat 2 ayat 74) tentang keras membatunya hati orang Yahudi, bahkan lebih keras dari batu. Sebab dari dalam batu bisa juga me­mancar sungai-sungai, dan ada batu yang pecah, lalu keluar air dari dalamnya, dan ada batu yang runtuh dari sebab takutnya kepada Allah. Itu adalah perumpamaan.

Perumpamaan-perumpamaan yang dahsyat dan tepat kadang-kadang dapat merangsang hati manusia yang mempunyai perasaan halus. Itulah sebab­nya maka di ujung ayat Tuhan sabdakan; "Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami perbuat untuk manusia supaya mereka berfikir." (ujung ayat 21).

Perumpamaan dalam al-Quran itu kadang-kadang sangat mempengaruhi. Nabi s.a.w. sendiri pernah tertangis tidak dapat menahan air matanya sehingga terlambat dia keluar akan sembahyang Subuh, dan tertunggu-tunggu sahabat­-sahabat dan cemas kalau-kalau beliau jatuh sakit. Karena pada malam itu turun ayat 190 dan 191 dari Surat ali Imran (Surat 3) yang menyatakan bahwa pada kejadian langit dan bumi dan pertukaran siang dan malam, adalah menjadi tanda bagi orang yang berfikiran halus.

Saiyidina Umar bin Khathab yang halus perasaannya dan keras pendirian­nya berubah dari seorang yang tadinya bertekad hendak membunuh Nabi, menjadi seorang yang beriman dan bersedia membela Nabi dengan nyawanya, karena membaca ayat-ayat pertama dari Surat 20 (Thaha).

Seketika turun Surat 52 (ath-Thuur), dari ayat pertama "Wath-Thuur" (demi bukit) sampai kepada ayat 7 "Inna `azaba rabbika la waaqi'" dan-ayat 8 "Maa Iahuu min daafi" (Tidak ada seorang pun yang dapat menolak).

Mendengar ayat-ayat ini seketika mulai turun dan dibacakan oleh Rasulullah s.a.w. gemetarlah tubuh Umar bin Khathab, lenyai letih seluruh persendiannya dan nyaris dia jatuh kalau tidak bersandar ke dinding. Setelah itu dia segera pulang ke rumahnya dan sampai di rumah dia jatuh sakit, sehingga hampir sebulan dia tidak keluar, sampai banyak orang yang datang melawatnya sakit itu.

Itulah yang dibayangkan Tuhan pula dalam Surat 8 (an-Anfal) ayat 3, bahwa orang yang beriman itu apabila disebut orang nama Allah, gemetarlah atau lintuhlah hatinya yang keras itu dan apabila telah dibacakan orang ke­padanya ayat-ayat Allah bertambah-tambahlah imannya.

Demikianlah yang terjadi pada diri Fudhail bin `Ayyadh ahli Shufi dan Zuhud yang terkenal itu, yang sampai disegani ketinggian peribadinya dalam Iman. Hatta oleh Khalifah Harun al-Rasyid sendiri. Dikenal orang sejarah hidup beliau, bahwa pada mulanya beliau itu adalah seorang anak muda yang sangat nakal, tidak mengenal jalan kepada Allah, "Lupa akan Allah, sehingga Allah pun melupakannya pula akan dirinya." Pada suatu malam "menjalarlah" dia memanjat dinding rumah seorang perempuan yang terdengar suara merdunya di tingkat tinggi sebuah rumah. Dipanjatnya dinding itu, didengarnya suaranya dan diintipnya rupanya. Rupanya memang cantik! Tetapi sedang dia tertegun melihat rupa, dia tafakkur mendengar suara. Bukan bernyanyi, melainkan membaca al-Quran dengan suara merdu. Ayat yang tengah dibacanya ialah:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ
"Belumkah datang masanya bagi orang-orang yang beriman, bahwa akan khusyu' hati mereka karena mengingat Allah dan (mengingat) Kebenaran yang diturunkan." (sampai akhir ayat). (Surat 57 al-Hadid: 16)

Terketuk hati Fudhail lantaran ayat yang dibaca. Bukan lagi wajah perem­puan yang cantik yang mempesonanya dan bukan suaranya yang merdu yang merayunya, melainkan isi ayat itu sendiri. Lena hatinya, timbul perubahan perasaan. Hilang sikap galak, lalu tertunduk. Dan melangkahlah dia turun dari rumah itu perlahan-lahan, untuk mengubah sama sekali jalan hidupnya dari seorang yang "lupa Tuhan, lupa diri" menjadi salah seorang pelopor dari ke­teguhan Iman di zaman Daulat Abbasiyah.

Orang tua yang sangat dicintai oleh orang Minangkabau, Ulama Besar yang sangat berjasa di sana, bercerita kepada Penulis tafsir ini, bahwa sekitar tahun 1940 ketika ziarah beliau kepada beliau tentang dirinya. Bahwa beliau di waktu mudanya adalah seorang pemuda yang nakal; "perewa" kata orang Minangkabau. Kejahatan-kejahatan sebagai orang muda hampir semua telah dilakukannya. Beliau berkata; "Sudah tua begini dan sudah lebih 40 tahun berlalu, namun kalau ada orang menghisab candu agak 100 meter dari surauku ini, hidungku masih dapat mengetahui bahwa yang diisapnya itu adalah candu."

Lalu beliau ceriterakan bahwa pada suatu malam dia "berjalan" atau "tualang" melepaskan hati risau sebagai "orang muda", dalam hari gelap-gulita. Lalu terjadilah hal yang tidak disangka-sangka. Ada orang maling di kampung itu, ketahuan oleh orang ronda kampung. Lalu dikejar orang dan orang ber­sorak-sorak; "Maling! Maling!" Sedang beliau ada di sana. Dia takut kalau-kalau dia kelak yang akan dituduh maling, padahal perjalanannya malam itu bukan maling harta melainkan " maling perempuan". Dalam orang berkejar-kejaran mencari maling, dia bersembunyi segera. Yaitu masuk ke dalam tebat di halaman sebuah mesjid. Di tebat ada beberapa rumput banto. Di sana dia ber­sernbunyi dalam gelap. Tidur miring di tempat gelap, supaya dapat bernafas terus. Orang yang membawa suluh pencari maling pernah memukulkan pentung suluhnya ke tempat dia bersembunyi itu sehingga pinggangnya kena oleh potongan pentung suluh. Masih ada bekasnya di pinggangnya sampai tuanya.

Sambil berlinang air mata beliau menceriterakan bahwa dia bersembunyi terus di tepi tebat itu sampai telah jauh orang yang mencari maling itu dan sampai hati parak siang. Maka datanglah waktu Subuh, lalu kedengaran azan (bang) dalam mesjid di surau itu. Sudah beratus kali beliau mendengar azan, namun azan yang sekali itu masuk ke dalam jiwanya, sampai dia terisak-isak menangis. Dan isak tangis itu masih terulang ketika beliau berceritera.

Sebelum orang banyak turun dari rumah ke mesjid, beliau pun keluarlah dari persembunyian itu dan dengan sembunyi-sembunyi pula dia pulang ke rumah ibunya. Sejak itulah dia bertekad hendak merubah hidup. Ayahnya jadi penghulu Kepala di Gurun Panjang. Setelah hari siang dia pergi menemui ayahnya; lalu dengan air mata berlinang dia memohon kepada ayahnya agar dikirim ke Makkah. Sangat tercengang dan terharu ayahnya mendengar per­mohonan anaknya itu. Setelah dipertimbangkannya dengan masak, permohonan anaknya itu dikabulkannya. Bahkan beliau sendiri, Engku Kepala negeri Gurun Panjang pergi pula ke Makkah mengantarkan puteranya pergi mengaji ke sana. Di Makkah dia belajar bersungguh-sungguh kepada Ulama ­ulama Makkah waktu itu dan beliau menahun di sana beberapa lamanya, sampai akhirnya pulang ke tanahair sebagai seorang ulama besar yang di­segani, dicintai dan dibesarkan oleh Ummat Minangkabau. Salah seorang pembawa pembaharuan dan kemajuan agama di negeri itu. Itulah Syaikh Muhammad Jamil Jambek, ahli falak yang masyhur. Suraunya di tengah sawah, Bukittinggi selalu ramai di kala hidup beliau. Beliau meninggal pada akhir tahun 1947 di zaman berkobarnya revolusi terhadap penjajah Belanda di surau beliau tengah sawah Bukittinggi itu.

Tersebutlah pula perkataan tentang guru kitab Sibarani seorang Batak yang pada mulanya masih belum memeluk suatu agama, berasal dari negeri Porsea di tanah Batak. Kosong jiwa karena kosong dari suatu kepercayaan. Meskipun di negerinya Zending Kristen telah masuk, namun hatinya tidak tertarik sama-sekali kepada agama itu. Kepercayaannya masih tebal kepada hantu-­hantu, yang oleh orang Batak disebut begu.

Tetapi Tuhan membimbing tangannya dengan Qudrat lradatNya. Pada suatu ketika buat mendengarkan pidato agama yang disampaikan oleh seorang Muballigh dari Perkumpulan al-Jam`iyyatul Washliyah di Medan. Sekali lagi dan yang ke sekian kalinya lagi-lagi Allah menunjukkan KuatkuasaNya; Tabligh agama itu telah menarik hati beliau, mencekam ke dalam jiwa beliau. Ingat dia akan bahasa yang disebut dalam bahasa nenek-moyangnya Debata Nabolon, Maha Kuasa Maha Agung atas seluruh langit dan bumi, gunung dan ganang, darat dan laut ini. Sekali terdengar, terus sekali terpaku ke dalam hati, dan tidak akan tanggal lagi buat selama-lamanya.

Sejak itu guru kitab Sibarani menceburkan diri dalam perkumpulan al-Jam'iyyatul Washliyah, menjadi anggotanya yang setia, menjadi muballigh, menjadi penyebar agama Islam di kampung halamannya di Porsea, mengislam­kan orang sekampungnya, mendirikan mesjid-mesjid dan surau-surau. Kemu­dian dia pun menjadi Haji Kitab Sibarani.

Beliau meninggal dunia setelah Indonesia mencapai kemerdekaan. Beliau dimakamkan di pemakaman Sultan Deli di pekarangan Masjid Mashun, di Medan.

Itulah kita kemukakan beberapa contoh: Contoh zaman lama yang kita ambil dari Umar bin Khathab sendiri dan contoh Fudhail bin `Ayyadh, Ulama, Ulama Shufi yang terkenal, tempat Khalifah Harun al-Rasyid datang berguru, tempat orang bertanya soal-soal hukum dan kerohanian. Sampai pula kepada zaman kita ini, seorang Ulama Besar yang sangat dicintai dan dihormati dan seorang Muballigh yang asalnya kafir tidak memeluk agama dan sebelum memeluk agama Islam masih makan daging anjing dan memakan segala apa saja yang dapat masuk ke dalam perut, kesemuanya sama, mulanya kosong jiwa dan hati membatu dalam kefasikan, tetapi semuanya berubah karena ayat-­ayat al-Quran.

Setelah kita lihat contoh-contoh ini, dapatlah kita memahami lebih men­dalam apa maksud ayat 21 Surat al-Hasyr ini, seumpama diturunkanlah al-Quran ke puncak sebuah gunung, niscaya akan tunduklah gunung itu me­rendahkan diri kepada Tuhan dan beserpih berkeping-keping saking takutnya kepada Khaliqnya. Demikian hati manusia bila petunjuk datang, bila saat-saat tak disangka datang melanda, yang dalam sekejap mata merubah jalan hidup manusia.

00     01      02    03   04   05     06                                     Back To MainPage       >>>>