Tafsir Surat Al-Furqan ayat 7 - 16         

(7) Dan mereka berkata pula: Mengapa Rasul ini memakan makanan dan jalan-jalan di pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya malaikat, untuk memberikan peringatan ber­sama-sama dengan dia?

(8) Atau (mengapa tidak) diturunkan kepadanya perbendaharaan, atau dia mempunyai kebun untuk makannya? Dan berkata pula orang-orang yang aniaya itu, bahwasanya yang kamu ikuti itu hanyalah seseorang yang telah dirasuk sihir.

(9) Cobalah engkau perhatikan (wahai utusanKu) betapa mereka telah berbuat perumpamaan me ngenai dirimu. Maka sesatlah mereka dan tidaklah mereka sanggup lagi untuk berjalan.

 (10) Amat berkatlah Tuhan, yang jika Dia suka, akan dibuatkanNya untuk engkau taman yang lebih baik dari itu, yaitu taman-taman mengalir di bawahnya sungai­sungai dan diperbuatkanNya pula untuk engkau istana.

 (11)Tetapi sebenarnya mereka ada­lah mendustakan saat (kiamat) itu dan telah Kami sediakan buat orang yang tidak mempercayai akan hari kiamat itu neraka sa'ir.

 (12)Apabila mereka kelihatan dari jauh, niscaya akan kedengaran kemarahannya yang bemyala dan suara gegap-gempita.

(13) Dan jika mereka dijatuhkan ke tempat yang sempit dalam neraka sambil dibelenggu, di kala itulah mereka menyerukan nasibnya yang malang.

 (14) Pada hari ini janganlah hanya menyerukan nasib malang satu kali saja, serukanlah nasib malang itu berkali-kali.

 (15) Katakanlah olehmu (hai utusan­Ku), nasib demikianlah yang baik? Ataukah syurga al-Khuld (kekal) yang telah dijanjikan untuk orang-orang yang takwa? Yang telah disediakan bagi mereka sebagai ganjaran dan tempat kembali.

 (16) Di sana tersedia apa yang mereka kehendaki, lagi kekal selamanya. Itu adalah janji Tuhan yang selalu dimohonkan orang.

Berfikir Yang Kacau-balau

Sebagaimana telah disebutkan pada ayat 4 yang terdahulu, orang yang kafir dan menampik dan akan tetap dalam tampikannya selama dia belum mau berfikir yang teratur.

Dinding tebal menghambat mereka daripada kebenaran, dinding itu ialah zhulman wa zuran. Zhulman ialah kegelapan, dan kegelapan menimbulkan serba sesuatu yang salah. Bertambah bertumpuk kesalahan-kesalahan, ber tambah bertumpuklah kebohongan. Maka dalam ayat 7 ini bertemu lagi kelanjutan kesalahan dan kebohongan itu. Mereka tidak merasa puas, me­ngapa maka seorang manusia biasa diangkat menjadi Rasul? Mengapa Rasul itu makan dan minum, mengapa dia berjalan masuk keluar pasar. Rasul itu mestinya tidak begitu. Dia mesti lain dari manusia biasa. Atau sekurang-kurang­nya, kalau manusia juga hendak diangkat menjadi Rasul, adakanlah pembantu­nya dari bangsa malaikat, supaya mereka bekerjasama menyampaikan peringatan-peringatan Tuhan itu kepada ummat manusia.

Maka di ayat 9 Tuhan menyuruh kepada utusanNya Nabi Muhammad s.a.w. itu, betapa orang-orang membuat perumpamaan, macam-macam kata yang mereka keluarkan.

Dipandang sepintas lalu sanggahan itu benar, tetapi apabila dipertimbang­kan dengan akal yang sihat, dan pengalaman rohani yang suci murni, segala perumpamaan yang mereka keluarkan itu timbul dari kesalahan penilaian mereka belaka. Kesalahan itu kian lama kian bertumpuk, yang membawa mereka kian lama kian sesat.

Kian lama mereka "dimaling" oleh belukar yang mereka perbuat sendiri, akhimya mereka tidak sanggup lagi melepaskan diri buat meninggalkan tempat itu, selangkah pun mereka tidak dapat maju. Tak tahan lagi jalan yang mana yang akan ditempuh.

Dan kita pun ummat Muhammad marilah kita sama merenungkannya dengan Nabi kita sendiri, akan nilai perumpamaan-perumpamaan yang me­reka tonjolkan itu. Mula-mulanya dituduhnya bahwa wahyu Tuhan kepada Nabi itu hanya buatan-buatannya saja (ayat 4), dan kata buatan itu pun ditolong pula oleh kaum yang lain. Tetapi kaum yang lain itu tidak jelas. Mereka tidak sanggup menilai inti kebenaran Tauhid, bahwa Tuhan tidak berserikat, bahwa Tuhan tidak beranak clan ti dak memungut anak. Lalu kata demikian mereka tuduh buatan saja, padahal merekalah yang menyembah berhala. Kemudian xnereka dikatakannya pula bahwa seruan Tauhid yang dibawa oleh Nabi itu hanya dongeng-dongeng p.urbakala yang dikumpulkan dari mulut ke mulut, lalu dibacakannya ke hadapan umum pagi-pagi clan petang-petang.

Nyata bahwa mereka sendiri tidak tahu apa arti yang mereka katakan. Dongeng-dongeng purbakala, baik di Timur (India) atau di Barat (Yunani), atau di sekeliling bangsa-bangsa, Semit clan bangsa Arab sebelum Ibrahim, seluruh nya adalah berisi pemujaan kepada dewa-dewa, penyembahan kepada ber-

hala menakuti clan mempertuhankan sesama manusia, atau mendewakan bintang-bintang di langit. Itulah yang dongeng (Asaathir) dari orang dahulu kala.

Alangkah bodohnya dan dangkalnya perumpamaan yang mereka ke­mukakan ini. Walaupun begitu, namun Nabi Muhammad diutus Tuhan menghadapi cara yang mereka pakai ini dengan dada lapang, dan pintu buat mereka insaf masih begitu lebar (ayat 6).

Sekarang keluar lagi sanggahan lain. Kalau dia benar-benar Nabi mengapa dia masih makan makanan sebagai manusia biasa? Kalau dia memang seorang Rasul, mengapa dia kelihatan berjalan-jalan di pasar-pasar sebagai manusia biasa? Mengapa tidak diberi dia pembantu, yaitu malaikat? Supaya malaikat itu turut membantunya menyebarkan peringatan Tuhan?

Fikirkanlah sekarang dengan akal yang teratur! Adakah nilainya perkataan atau sanggahan yang mereka keluarkan ini? Mereka sendiri kalau ditanya dari hati ke hati, mengakui bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa yang bemama Allah itu memang ada. Meskipun mereka mengenal adaNya Tuhan, sayangnya mereka tidak mengenal Kebesaran Tuhan. Bukan Muhammad saja, bahkan berkali-kali sebelum Muhammad, termasuk nenek-moyang orang Arab sendiri.

Nabi Ibrahim, yang juga makan makanan dan berjalan di pasar. Mereka itu telah dipilih dari kalangan manusia buat menerima wahyu llahi dan ditugaskan menyampaikan kepada anak manusia. Mereka makan, mereka minum, kawin dan berjalan di. pasar, sebab mereka memang manusia. Tetapi jiwa mereka telah digembleng oleh Tuhan buat menerima wahyu yang agung itu. Dan malaikat memang diturunkan kepada mereka buat menyampaikan wahyu itu. Bahkan kadang-kadang mereka ditemani oleh malaikat itu ke mana pun mereka pergi, tetapi tidak kelihatan oleh mata manusia.

Bagaimana hendaknya lagi? Hendaknya kalau dia Rasul hendaklah belanjanya ditanggung dari langit. Turun hendaknya emas bergumpal-gumpal dari langit untuk perbelanjaannya. Dan bagaimana lagi. Atau ada sebuah kebun luas, cukup tumbuh di sana gandum dan korma, sehingga Muhammad hanya datang memetik saja untuk makannya?

Kemudian ada pula yang berkata: Apa gunanya Muhammad itu diikuti. Dia hanya seorang yang rusak ingatan karena kena sihir.

Nilailah semua jalan fikiran yang demikian, niscaya akan temyata kacau­nya, timbul dari orang yang kacau fikiran.

Yang mesti dinilai, bagi orang sihat fikiran, bukanlah cara hidup yang ganjil-ganjil itu. Orang-orang yang berakal sihat, tidaklah dapat ditaklukkan dengan turunnya emas dari langit. Orang yang sihat fikiran tidaklah akan ter pesona oleh tiba-tiba muncul saja sebuah kebun besar dan luas penuh buah­buahan. Itulah dia yang dongeng. Hanya enak buat didongeng dan dikhayal­kan. Bukan Tuhan Allah tidak sanggup akan berbuat demikian. Nabi-nabi yang terdahulu sebagai Nabi Musa, telah dapat dengan izin Allah membelah laut dengan tongkatnya. Maka kagum dan terpesonalah orang sebentar, kemudian yang kafir-kafir juga, yang Mu'min-mu'min juga. Nabi Shalih sudah diberi mu'jizat unta keluar dari liang batu, karena ummat itu sendiri yang meminta­nya. Tetapi setelah unta ganjil clan mu'jizat itu keluar tidak jugalah semua mereka beriman. Bahkan datang satu komplot membunuh unta itu.

Bukan Tuhan tak sanggup membuatkan Muhammad taman indah, mengalir di bawahnya sungai-sungai yang jemih aimya, dan bukan Tuhan tidak sanggup membikinkan Muhammad istana (ayat 10). Tetapi segala hal itu tidaklah menjamin akan mengubah fikiran orang yang tadinya telah dimulai dari pangkalan yang tidak sihat. Ada pepatah Minangkabau yang terkenal: "Kambing di parak panjang janggutnya. Orang yang enggak banyak sebutnya".

Pokoknya ialah bahwa mereka hendak sengaja mendustakan hari kiamat. Mengapa mereka dustakan? Karena mereka telah biasa dengan hidup cara lama. Bukanlah perkara mudah bagi satu kelompok yang telah keenakan memegang cara yang lama buat berpindah saja kepada suatu ajaran baru yang mengubah samasekali.

Muhammad mengajarkan Tuhan hanya satu. Bagaimana berhala mereka?

Muhammad mengajarkan jangan makan riba, bagaimana harta mereka?

Muhammad mengajarkan bahwa orang yang mulia di sisi Tuhan, hanyalah orang yang takwa kepadaNya. Bagaimana mereka akan mau disamakan dengan si Bilal, budak belian dengan penghulunya "Tuan" Mughirah?

Muhammad menganjurkan membayar zakat, menolong fakir miskin. Padahal selama ini hartabenda bagi, mereka bukan untuk disedekahkan kepada si miskin, karena tidak ada faedahnya yang akan didapat daripada memberi itu. Mereka hanya mengenal mengadakan jamuan-jamuan besar pada sesama hartawan, bermegah-megah dengan menghormati tetamu orang besar-besar, memperhitungkan kemegahan suku. Karena itu berbalasan!

Muhammad mengatakan ada lagi hidup di belakang hidup yang sekarang. Di sana manusia akan menerima pembalasan. Kalau ajaran itu diterima, nilai kepada kemeg'ahan berubah samasekali. Selama ini seseorang menjadi amat terpandang dalam kaumnya karena banyak hartanya. Karena berpuluh ekor menyembelih unta untuk mengadakan jamuan atau karena menang dalam perlombaan mempertahankan nama kabilah atau kaum karena bertanding siapa lebih pandai bersyair clan sebagainya.

Sebagai Rasul Nabi Muhammad harus bersikap tegas menerangkan bahaya yang akan menimpa mereka kalau mereka masih terus bertahan pada pangkalan . berfikir yang salah itu. Mereka mendustakan hari pembalasan. Mereka sebenamya telah lupa bahwa hidup yang seperti ini tidak akan lama. Mereka disadarkan, diberi peringatan (nadziran) bahwa amat besarlah akibat yang akan menimpa diri mereka karena mendustakan hari pembalasan itu. Mereka akan masuk neraka sa'ir, neraka nyala. Dari jauh-jauhan pun sudah kedengaran gelegak gelora dan deru dahsyatnya api neraka sa'ir itu. Bahkan di kala mereka masih hidup pun telah mendengar suara itu dalam hati sanubari mereka sendiri, debar-debar clan denyutan jantung mereka karena kusut fikiran, kusut pangkal menyebabkan kusut ujung.

Di ayat 12. 13; 14 diterangkan sifat-sifat mereka itu. Bunyinya yang dahsyat kedengaran dari jauh-jauh. Penuh kemarahan clan kemurkaan. Dilemparkanlah manusia yang berdosa itu ke dalam api nyala itu, sambil di belenggu tangannya. Sempit tempat itu. Karena saking takut, pedih dan siksa, meraung rnemekiklah mereka di sana, meminta ampun dan karena tiada jalan. Di ayat 14 dijelaskan lagi, berkali-kali pun mereka meraung clan memekik, meminta ampun, tidak ada lagi faedahnya. Hutang mesti dibayar, dosa mesti diganjar. Kalau tidak ada yang demikian, manatah lagi keadilan?

Ini mesti terjadi, tak dapat tidak!

Apabila ayat-ayat ini dibaca dalam asli Arabnya, terasalah betapa dahsyat­nya neraka itu. Terbayang semua yang ngeri dan menakutkan. Kita dengar dengan penuh takut dan ngeri apabila sebuah gunung mulai meletus. Ke dengaran gemuruhnya dalam perut bumi. Kita lihat betapa ngeri seketika lahar mengalir, penuh belerang dan panas membakar, melanda segala bangunan, menghanyutkan segala yang berteriiu di jalan. Kita dengarkan dengan penuh kengerian jerit berputusasa apabila terjadi air bah besar dan banjir hebat di tengah malam. Seni pekik dan menakutkan. Ngeri kita melihat seorang ibu hamil menggendong anaknya, mencoba melangkah meraba-raba tanah dengan kakinya, tetapi tak berdaya, dia pun hanyut terus memekik terus, sambil hilang pekiknya dan pekik anaknya ditelan banjir.

Satu kali kita melihat di rimba Panti Air hangat menggelak dalam. hutan, sebentar-sebentar ;muncul dari bawah sebagai kepala hantu, kedengaran gemuruhnya, ngeri dan menakutkan.

Itu semua belum apa-apa jika dibandingkan dengan neraka.

Maka timbullah pertanyaan Tuha.n, disampaikan olah lidah utusanNya pada ayat berikutnya (ayat 15). Apakah itu yang baik? Ataukah Syurga Khuldi? Syurga yang kekal? Mengapa hanya takut kepada siksa Tuhan, dan tidak ingat betapa sangat dermawannya Tuhan memberi nikmatnya kepada hambaNya dengan tanpa perhitungan?

Percaya kepadaNya, tidak diperserikatkan Dia dengan yang lain, maka pir.tu rahmatNya terbuka sekali. Segala dosa dapat diampuni, karena manusia payah mensucikan dirinya dari kesalahan, asal saja yang satu itu, yaitu meng­esakan Allah, fidak memperserikatlianNya, dipegang teguh, tak dilepaskan.

Diperbuat satu kebajikan, diberi pahala sepuluh. Alangkah royalnya mem­beri? Diberikan sedekah kepada fakir clan miskin, atau dikurbankan hartabenda untuk jalan Allah, maka diberi pahela 700 kali lipat? Bayangkanlah di fikiran, seorang nyonya rumah memberikan uang 100 rupiah kepada seorang miskin, tiba-tiba di akhirat kelak dia menerima balasan 700 kali 100?

Seorang yang beriman mengajak orang yang masih belum beragama supaya memeluk agama Islam, orang itu pun masuk Islam. Tiba di akhirat dia menerima pahala "Khairun minod dunya wamo fiha". Lebih baik daripada

suatu dunia bersama segala isinya. Hanya kerja kecil, mensyahadatkan orang, namun pahalanya besar berjuta ganda dari yang dikerjakan?

Diperbuat amal kebajikan, sepuluh pahalanya. Diperbuat satu kesalahan, hanya satu dosanya.

Berijtihad bersungguh-sungguh memecahkan satu soal, lalu terdapat hasil yang benar, mendapat dua pahala. Pahala berijtihad dan pahala benar hasil ijtihad. Berijtihad pula bersungguh-sungguh memecahkan suatu soal, lalu salah hasil usaha itu, berpahala juga walaupun hanya satu, yaitu pahala ijtihad. Dan tidak berdosa kalau hasil itu salah, karena tidaklah salah yang disengaja. Siapa Tuhan lain yang seroyal ini. Siapa Tuhan lain yang sekasih ini? Penuh hidup selama ini dengan dosa, lalu insaf clan taubat, segala dosa tadi dihabiskan Tuhan dan diberi kesempatan membangun hidup baru! Begitu pemurah Tuhan, masih jugakah hati kita membatu?

Azab siksa neraka yang mengerikan itu, tidak dapat dielakkan lagi nanti, kalau kiamat telah datang. Lebih baik sekarang saja menjauhinya, dan tidak sukar. Percaya keesaan Tuhan dengan mempergunakan akal yang mumi. Ber ibadat kepada Allah dan mengasihi sesama manusia. Berbuat jasa untuk pakaian hidup yang sekarang clan hidup yang sesudah mati. Memang ngeri orang yang durjana clan fasik meringkuk dalam neraka. Tetapi apakah tidak mena'jubkan bagi seseorang manusia yang tadinya tersesat atau kehilangan jalan, lalu memilih jalan baik, dosanya diampuni, dia diberi nur dari kehidupan dan dia kekal di syurga di belakang hari, padahal yang dikerjakan di dunia tidak lebih daripada apa yang dikerjakan oleh manusia.

Dalam syurga, terdapat apa yang dikehendaki dan diinginkan, dan kekal pula. Hal itu bukanlah main-main dari senda-gurau, tetapi kata yang benar, janji yang tidak akan dimungkiri. Dan itulah yang selalu diminta, dimohonkan dan diharapkan oleh hati kecil manusia.

Sebagai ummat yang telah dari bermula menyatakan percaya kepada Tuhan, dan percaya pula kepada Rasul yang diutusNya, percaya bahwa neraka itu benar dan syurga itu benar. Di samping azab siksanya yang kejam keras kepada yang tidak mengikuti kebenaran, kemurahannya berlimpah tidak ber­jangka kepada orang yang taat. Dan di dalam hati sanubari kita sendiri, dalam lubuk jiwa kita adalah sesuatu yang hidup, yaitu percaya dan yakin.

Ada sesuatu yang hidup yaitu kepercayaan akan kebaikan. Kita mengakui bahwa pada kita ada desakan-desakan nafsu yang merayu kita keluar dari garis, tetapi dasar baik masih tetap ada pada pihak kita untuk menuruti dan menjalani garis yang telah ditunjukkan oleh Nabi. Kita tidaklah semata-mata jahat. Apatah lagi ajaran Islam mengakui kebersihan manusia dan fikirannya. Manusia tidak dilahirkan dalam dosa, tetapi dalam suci. Sebab itu pada seorang Muslim tidak ada rasa putusasa akan berbuat baik.

01  02  03  04  05  06  07  08  09  10                                               Back To MainPage       >>>>