|
Ibadur Kahman
Untuk
meresapkan ayat-ayat `Ibadur Rahman ini ke dalam jiwa, bacalah tzengan
penuh khusyu` ayat
yang sebelumnya,
yang tetah ditafsirkan di atas tadi. "Dialah,
Tuhan,
yang telah mempergantikan di antara malam dengan siang." Apabila hal itu
diperhatikan dan direnungkan, timbullah ingatan akan kebesaran Ilahi (zikir)
dan akan timbullah rasa syukur.
Pergantian siang dengan malam, pertemuan hari dengan bulan dan bulan dengan
tahun. Matahari terbit dan matahari terbenam, memperlihatkan pula putaran
roda nasib dalam dunia fana ini. Kadang-kadang ada bintang naik dan
kadang-kadang ada bintang jatuh. Usia manusia laksana terbitnya bulan, sejak
bulan sabit sampai bulan pernama Uan sampai susut bulan. Banyak yang kita
dapat baca dalam pergantian malam dengan siang itu. Ada bangsa jatuh, ada
bangsa naik dan kemudian tiba giliran bagi yang jatuh buat bangkit kembali,
semuanya berlaku dalam siang dan dalam malam. Dengan pergantian malam dengan
siang itulah kita mengumpulkan sejarah dalam ingatan kita.
Tak ada pergantian malam dengan siang, niscaya tak ada apa yang dinamai
sejarah. Bila menilik pergantian di antara malam dengan siang, akan
timbullah ingatan atas kekuasaan Tuhan (zikir). Tidak ada artinya clan
nilainya pergantian malam dengan siang itu bagi orang yang tidak menyediakan
jiwanya buat mengenal Tuhan dan mensyukuri nikmatNya.
Apabila zikir dan syukur telah tumbuh dalam hati, mulailah terasa bahwa
kehidupan makhluk seluruhnya, termasuk kehidupan kita sendiri, tidaklah
pernah terlepas daripada kasih-sayang dan kemurahan Tuhan. Ke mana saja pun
mata memandang, Rahman Ilahi akan jelas nampak. Rahman Ilahi meliputi
segala. Terasalah kecil diri di hadapan kebesaranNya, dan bersedialah kita
dengan segala kerelaan hati buat menjadi hamba dari Tuhan Pemurah itu.
Orang-orang yang insaf itulah `Ibadur Rahman.
Keinsafan siapa din di hadapan Kemurahan Tuhan menimbulkan kesukarelaan
mengabdi dan berbakti. Dasarnya ialah Zikr dan
Syukr
membentuk peribadi sehingga tumbulah "tokoh-tokoh" `Ibadur Rahman itu.
Adalah di dalam ayat-ayat akhir Surat "al-Furqan" ini Tuhan mewahyukan
kepada Rasul tentang sifat-sifat, karakter, sikap hidup clan pandangan hidup
dari `Ibadur Rahman.
Pertama sekali ialah sebagai yang dijelaskan pada ayat 63: Orang yang berhak
disebut `Ibadur Rahman (Hamba-hamba daripada Tuhan Yang Maha Murah), ialah
orang-orang yang berjalan di atas bumi Allah dengan sikap sopan-santun,
lemah-lembut, tidak sombong dan tidak pongah. Sikapnya tenang.
Bagaimana dia akan mengangkat muka dengan sombong, padahal alam di
kelilingnya menjadi saksi atasnya bahwa dia mesti menundukkan diri. Dia
adalah laksana padi yang telah berisi, sebab itu dia tunduk. Dia tunduk
kepada Tuhan karena insaf akan kebesaran Tuhan dan dia rendah hati terhadap
sesamanya manusia, karena dia pun insaf bahwa dia tidak akan sanggup hidup
sendiri, di dalam dunia ini. Dan bila dia berhadapan, bertegur sapa dengan
orang yang bodoh dan dangkal fikiran, sehingga kebodohannya banyaklah
katanya yang tidak keluar daripada cara berfikir yang teratur, tidaklah dia
lekas
'Seorang Hamba Allah sejati pun tidak melakukan zina. Zina adalah
perhubungan setubuh yang di luar nikah, atau yang tidak sah nikah. Karena
maksud kedatangan agama adalah guna mengatur keturunan. Kelahiran ke dunia
adalah menurut pendaftaran yang sah. Jelas hendaknya bahwa si anu
adalah anak si fulan. Perhubungan kelamin laki-laki dengan perempuan adalah
termasuk keperluan hidup
clan hajatnya. Agama mengatur hubungan kelamin itu dengan nikah-kawin dan
ditentukan pula perkawinan yang terlarang, yaitu dengan yang disebut mahram,
sebagai tersebut di Surat 4 ali Imran ayat 23-24.
Maka di dalam ayat 68 clan 69 dijelaskanlah bahwasanya orang yang memperserikat
kan Tuhan dengan
yang lain, atau menyeru pula akan Tuhan selain Allah dan membunuh sesama
manusia termasuk diri sendiri dan berzina, adalah orang-orang itu akan
bertemu dengan hukuman. AI-Quran menentukan hukuman bagi si pembunuh sesama
manusia, jiwa bayar dengan jiwa. AlQuran pun menegaskan hukum bagi pezina,
karena orang berzina adalah mengacau-balaukan masyarakat. Orang yang
kedapatan berzina akan dihukum, sebagaimana dahulu telah dijelaskan
perinciair hukuman ini dalam Surat an-Nur. Surat al-Furqan diturunkan di
Makkah. Dosa zina diterangkan sebagai dosa jiwa. Setelah di Madinah berdiri
masyarakat Islam, bagi zina diadakan hukuman badan. Setelah mereka menerima
hukumannya yang setimpal di dunia ini, setelah mereka mati akan mendapat
siksa berlipat-ganda lagi clan ditimpa pula oleh kehinaan.
Ayat 70 dan 71 menjelaskan bahwa pintu taubat senantiasa terbuka. Betapa pun
kerasnya Hukum Tuhan, namun pintu taubat selalu dibukakan. Di samping
kekerasan HukumNya, Tuhan pun adalah mengampun dan pengasih.
TAUBAT adalah kesadaran din atas kesalahan yang pernah dibuat. Dalam sudut
hati sanubari manusia tersimpanlah suatu perasaan yang mumi, kesadaran
bahwa yang salah tetaplah salah. Manusia berjuang dengan hawa nafsunya
sendiri untuk menegakkan kebenaran. Dia harus berjuang dengan hawanafsu itu.
Bertambah keras cita menegakkan yang benar bertambah keras pula rayuan nafsu
buat melanggar suara kebenaran itu. Tetapi selalulah timbul sesal apabila
telah terlanjur menuruti hawanafsu. Hati sanubari senantiasa meratap,
memekik, menjerit ingin lepas dari belenggu hawanafsu. Pada saat yang
demikian perjuangan batin itu maha hebat. Manusia jijik dengan kesalahannya
sendiri. Di saat yang demikian berkehendaklah kepada suatu IRADAH, kemauan
yang keras sebagai waja. Di hadapannya terbuka satu pintu, yaitu pintu
taubat. Tuhan memberi kesempatan, memanggil, supaya dia lekas keluar dari
kesulitan itu. Kekuatan iradahnya menyebabkan dia taubat. Arti taubat ialah
kembali kepada jalan yang benar.
Dilepaskan diri dari belenggu hawanafsu itu dan dengan kemauan yang keras,
dia masuk ke dalam pintu taubat itu dan dia tidak menolehkan mukanya lagi
kepada jalan raya kesalahan yang selama ini telah ditempuhnya. Dia sekarang
benar-benar merasai kebebasan jiwa karena lepas dari belenggu. Dia sekarang
menempuh hidup yang baru. Maka di dalam ayat 70 itu dijelaskan bahwa taubat
yang berjaya ialah taubat yang dituruti oleh amalan yang shalih. Sebab yang
taubat itu ialah hati sanubari, bukan semata-mata taubat di muiut. Taubat
ialah keinsafan, bukan permainan. Maka akibat atau konsekwensi dari taubat
ialah "mengamalkan arnal yang shalih", artinya mengerjakan
pekerjaanpekerjaan yang baik.
Pertukaran haluan hidup daripada kejahatan kepada menuruti suara batin yang
mumi adalah kemenangan batin yang tiada taranya. Selama din bergelimang
dalam dosa, selama itu pula batin tertekan dan hidup jadi gelisah.
Kadang-kadang meremuk-redamkan jiwa sendiri.
Dan bukan sedikit telah terjadi, bahwasanya dosa yang mengganggu jiwa,
menyebabkan jiwa menjadi sakit, dan sakit jiwa mempengaruhi pula kepada
jasmani. Itulah neraka dalam hidup. Itulah yang disebut di ujung ayat 68:
"Dan barangsiapa yang berbuat demikian itu akan berjumpalah dia dengan dosa."
Dan itulah neraka dalam hidup.
Maka dapatlah difahami satu ceritera yang dahulu pernah kita terangkan
panjang lebar dalam Surat an-Nur, bahwasanya seorang yang terperosok berbuat
zina pernah datang sendiri kepada Rasulullah s.a.w. mengakui perbuatan nya
clan minta dihukum. Meskipun dia tahu bahwa hukum zina adalah rajam (ditimpuk
dengan batu sampai mati), jiwanya merasa puas menerima hukuman itu. Apalah
artinya siksa badan, dibandingkan dengan kepuasan jiwa? Karena dosa rasa
tertebus?
Maka taubat kepada Allah hendaklah dituruti langsung oleh amal, oleh kerja
dan usaha. Sisa umur digunakan untuk beramal, agar sakit derita jiwa karena
tekanan dosa yang telah lalu dapat diobati atau dilupakan. Di situlah
terdapat isi-mengisi di antara batin dengan anggota. Batin bertambah insaf
clan sadar, lantaran itu arnal pun bertambah banyak. Bertambah banyaknya
arnal menambah kepuasan jiwa.

"Bagi mereka nikmat Allah, karena hasil usaha mereka sendiri."
Maka orang-orang yang demikian beransurlah merasai nikmat hidup baru.

"Akan diganti Allah amal-amal yang buruk selama ini dengan
berbagai
ragam kebajikan."
Kadang-kadang pun terdapatlah orang yang dahulunya durjana, seakanakan
kebenaran tidak akan masuk ke dalam hatinya, lalu dia bertaubat. Setelah die
taubat, dia mendapat kemajuan besar dalam perkembangan jiwa Iman.
Maka berkatalah setengah ahli Tashawuf, bahwasanya orang yang menyesali diri
karena pernah berdosa, kadang-kadang lebih suci hati dan lebih murni amalnya
daripada orang yang berbangga karena merasa din tidak pernah berdosa.
Diulang Tuhan sekali lagi dalam ayat 71, bahwasanya orang yang bertaubat
disertai amalan shalih, Tuhan memberikan taubat untuknya sebenarbenarnya
taubat.
Setelah itu datanglah ayat 72, sebagai lanjutan penegasan dari sifat-sifat 'lbadur
Rahman itu. Yaitu orang yang tidak suka memberikan kesaksian palsu. Atau
mengarang-ngarangkan ceritera dusta untuk menjahannamkan orang lain. Dan
mereka itu, apabila berjalan di hadapan orang yang sedang bercakap
mengkosong, ngobrol yang tidak tentu ujung pangkal, perkataan-perkataan yang
tidak bertanggungjawab, dia pun berlalu saja dari tempat itu dengan baik.
Dia menjaga agar dirinya jangan masuk terikat ke dalam suasana yang tidak
berfaedah. Usia manusia adalah terlalu singkat untuk dibuang-buang bagi
pekerjaan yang tidak berfaedah. Dia keluar clan tempat itu dengan sikap yang
mulia dan tahu harga diri, sehingga sikapnya yang demikian meninggalkan
kesan yang baik mendidik orang-orang yang bercakap kosong itu.
"Laghwi"
dalam bahasa Arab ialah omong kosong, cakap tak tentu ujung pangkal,
sehingga menjatuhkan martabat budi pekerti yang melakukannya. Inilah yang
disebut oleh orang Deli "membual", oleh orang Jakarta "ngobrol" clan oleh
orang Padang "ma-hota". atau oleh daerah lain disebut juga "memburas".
Pertama melakukan kesaksian dusta, kedua obrolan yang tidak tentu ujung
pangkal, amatlah membahayakan dan menjatuhkan mutu masyarakat. Karena
kesaksian dusta di muka Hakim, seorang jujur tak bersalah bisa teraniaya,
terhukum dalam hal yang bukan salahnya. Dan bisa pula membebaskan orang
yang memang jahat dari ancaman hukuman. Kesaksian dusta di muka hakim adalah
termasuk dosa besar yang payah dimaafkan.
Kata-kata yang
"laghwi"
cakap kosong, omong kosong, ngobrol yang tidak tentu ujung pangkal, tidaklah
layak menjadi perbuatan daripada `Ibadur Rahman. Seorang hamba Tuhan Pemurah
mempunyai disiplin diri yang teguh. Lebih baik berdiam diri daripada
bercakap yang tidak ada harganya. Kalau hendak bercakap juga, isilah lidah
dengan zikir, menyebut dan mengingat nama Allah.
Selanjutnya dalam ayat 73 diterangkan lagi sifat `Ibadur Rahman itu, ialah
apabila mereka mendengar orang menyebut ayat-ayat Tuhan, tidaklah mereka
bersikap acuh tak acuh seakan-akan tuli ataupun buta.
Sebenarnya kata kebenaran adalah ayat dari Tuhan. Apabila orang menyebut
kebenaran, meskipun dia tidak hafal ayat al-Qurannya ataupun Hadisnya, maka
seorang Hamba dari Tuhan Pemurah akan mendengarkannya
dengan penuh minat; tidak dia akan menulikan telinganya dan tidak dia akan
membutakan matanya. Seorang yang beriman mempertimbangkan nilai kata yang
benar dan mentaatinya, sebab Kebenaran adalah suara Tuhan. Apatah jagi kalau
bunyi ayat dari al-Quran telah didengar. Hidupnya telah ditentukan
buat menjunjung tinggi Kalimat Ilahi. Betapa dia akan menulikan telinga dan
membutakan matanya?
Cahaya kebenaran bukan saja memasuki jendela hatinya. Dia belum merasa cukup
kalau sekiranya ahli rumahnya, anaknya dan isterinya belum merasai kehidupan
yang demikian pula. Oleh sebab itu tersebutlah pada ayat 74 bahwa `Ibadur
Rahman itu senantiasa bermohon kepada Tuhannya agar isteri-isteri mereka dan
anak-anak mereka dijadikan buah hati permainan mata, obat jerih pelerai
demam, menghilangkan segala luka dalam jiwa, penawar segala kekecewaan hati
dalam hidup. Betapa pun shalih
dan
hidup beragama bagi seseorang ayah, belumlah dia akan merasa senang menutup
mata kalau kehidupan anaknya tidak menuruti lembaga yang dituangkannya.
Seorang suami pun demikian pula. Betapa pun condong hati seorang suami
mendirikan kebajikan, kalau tidak ada sambutan dari isteri, hati suami pun
akan luka juga. Keseimbangan kemudi dalam rumahtangga adalah kesatuan haluan
dan tujuan. Hidup Muslim adalah hidup Jamaah, bukan hidup yang nafsi-nafsi.
Di dalam Hadis Rasulullah s.a.w. ada dikatakan:

"Dunia ini adalah perhiasan hidup, dan sebaik-baik perhiasan dunia itu ialah
isteri yang shalih. "
Berjuta milyar uang pun, berumah, bergedung indah, bermobil kendaraan model
tahun terakhir, segala yang dikehendaki dapat saja karena kekayaan, semuanya
itu tidak ada artinya kalau isteri tidak setia. Kalau dalam rumah tangga si
suami hendak ke hilir dan si isteri hendak ke hulu. Akhirnya akan pecah juga
rumahtangga yang demikian, atau menjadi neraka kehidupan sampai salah
seorang menutup mata.
Apatah lagi anak. Semua kita yang beranak berketurunan merasai sendiri bahwa
inti kekayaan ialah putera-putera yang berbakti, putera-putera yang berhasil
dalam hidupnya. Putera berbakti adalah obat hati di waktu tenaga telah lemah.
Apakah hasil itu? Dia berilmu clan dia beriman, dia beragama clan dia pun
dapat menempuh hidup dalam segala kesulitannya, dan setelah dia besar dewasa
dapat tegak sendiri dalam rumahtangganya. Inilah anak yang akan menyambung
keturunan. Dan inilah bahagia yang tidak. habis-habisnya. Si ayah
akan tenang menutup mata jika ajal sampai.
Sebagai penutup dari doa itu, dia memohon lagi kepada Allah agar dia
dijadikan Imam daripada orang-orang yang bertakwa. Setelah berdoa kepada
Allah agar isteri dan anak menjadi buah hati, permainan mata karena takwa
kepada Allah, maka ayah atau suami sebagai penangungjawab menuntun isteri
dan anak menempuh jalan itu, dia mendoakan dirinya sendiri agar
menjadi Imam, berjalan di muka sekali menuntun mereka menuju Jalan
Allah.
Doa seorang Mu'min tiadalah boleh tanggung-tanggung. Dalam rumahtangga
hendaklah menjadi Imam, menjadi ikutan. Alangkah janggalnya kalau seorang
suami atau seorang ayah menganjurkan anak dan isteri menjadi orang orang
yang berbakti kepada Tuhan, kalau dia sendiri tidak dapat dijadikan ikutan?
Itulah dia - "`Ibadur Rahman" - orang-orang yang telah menyediakan jiwa
raganya menjadi Hamba Allah dan bangga dengan perhambaan itu. Mukanya selalu
tenang dan sikapnya lemah-lembut. Mudah dalam pergaulan, tidak bosan
meladeni orang yang bodoh. Bangun beribadat tengah malam, mendekatkan
jiwanya dengan Tuhan. Menjauhi kejahatan karena insaf akan azab api neraka.
Tengah malam dia bangun bermunajat, bertahajjud dan memohon ampun kepada
llahi, terdengar azan Subuh dia pun segera bersembahyang Subuh, kalau dapat
hendaklah berjamaah. Tidak dia mengangkat diri karena barang kali "kelasnya"
dalam masyarakat duniawi terpandang tinggi. Dia menyebarkan senyum dan sikap
sopan kepada sesama manusia. Selesai sembahyang, dia pun berjalan di atas
bumi Allah mencari rezeki yang telah disediakan Tuhan karena diusahakan. Dan
apabila rezeki itu telah dapat, dinafkahkannya dengan baik. Tidak dia royal
dan ceroboh dan tidak pula dia bakhil dan kikir. Dan bukanlah mereka, karena
sangat tekunnya sembahyang malam, tak kuat lagi berusaha siang harinya.
Teguh tauhidnya sehingga tidak ada tempatnya takut dan bertawakkai, kecuali
kepada Allah, tidak dia memuja kepada Tuhan yang lain, karena memang tidak
ada Tuhan yang lain. Hanya Allah. Tidak membunuh bahkan tidak pernah berniat
jahat kepada sesamanya manusia,.suci bersih kelaminnya daripada perzinaan,
dan tidak naik saksi dusta, tidak suka mencampuri omong kosong dan dia pun
tekun mendengar kebenaran. Bukan dirinya dan badannya sendiri saja yang
difikirkannya, bahkan isteri dan anak-anaknya pun, diberinya contoh teladan
sebagai Muslim yang baik.
"Mereka
itulah yang akan diberi ganjaran tempat yang mulia karena sabamya, dan dia
akan disambut di tempat itu dengan penuh kehormatan dan salam bahagia. "
(ayat 75).
Cobalah perhatikan inti ayat 75 itu. Mereka akan diberi ganja,ran tempat
yang mulia, bilik atau kamar yang indah permai, ruangan yang istimewa dalam
syurga karena kesabaran mereka.
Mengapa tersebut kesabaran? Sebab masing-masing orang yang berjalan
menegakkan Kebenaran, menyusun kekuatan diri clan melatih batin menjadi `Ibadur
Rahman, Hamba Allah Tuhan Pemurah, akan merasai bahwasanya menyusun program
apa yang harus ditempuh adalah mudah, tetapi menjalankannya amatlah sukar.
Setiap segi tanda hidup ini seorang yang beriman itu meminta percobaan,
meminta pengorbanan clan kadang-kadang mem5nta aliran darah dan airmata.
Kesabaran berjuang menegakkan keperibadian sebagai Muslim, sebagai hamba
Allah yang sadar, menyebabkan kebahagiaan jiwa, karena mendapat syurga
jannatun na'im,
tempat tinggal
yang tenteram, kediaman yang senang clan tenang; disambut oleh
Malaikat-malaikat Tuhan dengan ucapan Tahiyyat (selamat) dan Salam bahagia.
Akhirnya, sebagai penutup Surat al-Furqan ini, Tuhan dengan perantaraan
RasulNya menyuruh sampaikan kepada orang-orang yang selama ini lalai clan
lengah, yang belum juga mendapat pegangan hidup, belum juga melatih diri.
"Katakanlah olehmu, Tuhanku tidak akan memperhatikan kamu kalau tidaklah
karena doa atau ibadat kamu. Kamu telah mendustakan. Oleh sebab itu maka
siksaan Tuhan atas dirimu adalah hal yang pasti."
Tuhan telah menunjukkan jalan yang harus ditempuh oleh orang yang telah
insaf akan kurnia, Rahman dan Rahim Ilahi. Orang-orang yang dapat menuruti
garis yang telah ditentukan Tuhan itu patutlah merasa bahagia karena dia
telah diberi pegangan hidup, diberi penjelasan ke mana dia harus menuju.
Orang lain yang masih kafir clan ragu ada juga mempunyai keinginan mendapat
hidup bahagia, mendapat syurga yang dijanjikan. Tetapi dalam penutup Surat
ini sudah diberikan kata tegas, bahwa selama kamu masih menyembah kepada
yang selain Allah, selama kamu masih mempersekutukannya dengan yang lain,
selama kamu masih mendustakan seruan-seruan yang dibawa oleh Utusan Allah
janganlah kamu harap nasibmu akan berubah. Jalan yang salah itu pasti
berujungkan azab clan siksa.
Pasti kamu menderita kesengsaraan jiwa di dunia clan neraka jahannam di
akhirat.
Pintu taubat masih terbuka: Masuklah ke dalam pintu itu kalau kamu mau.
Tetapi kalau kamu masih menuruti jalln yang salah, azab siksa adalah pasti.
(Lizaman). Yang harus menentukan bukan orang lain, tetapi engkau sendiri.
Maka bagi orang yang telah mendalam perasaan cintanya kepada Tuhan
dirasainyalah satu kebanggaan jiwa yang amat tinggi apabila dia membaca
ayat-ayat `Ibadur Rahman dalam Surat al-Furqan ini, atau dalam Surat yang
lain yang mengandung panggilan Tuhan kepada hambaNya: "Ya `Ibadi", wahai
HambaKu. Pernahlah seorang hamba Allah yang saking sangat terharunya membaca
"Ya `Ibadi", atau `Ibadur Rahman, keluar ilham syairnya demikian bunyinya:

Satu hal yang amat menambah banggaku dan megahku, sehingga serasa berpijak
kakiku di atas Bintang Timur.
lalah Engkau masukkan daku dalam daftar "Hai HambaKu". Dan Engkau telah
jadikan Ahmad menjadi Nabiku.
Akan terasa
pulalah oleh kita nikmat menjadi Hamba Tuhan apabila syaratsyarat clan
latihan hidup yang telah digariskan dalam ayat-ayat `IBADUR RAHMAN dapat
kita kerjakan, setapak demi setapak, selangkah demi selangkah. Itulah yang
menentukan nilai peribadi kita sebagai Muslim.
Ayat `Ibadur
Rahman itulah cita (idea) seorang Mu'min!
Selesai
Penafsiran Surat al-Furqan Pada pagi hari Jum'at
9 Rabi'ul Akhir
1383 30 Agustus 1963
|