Tafsir Surat Al-Furqan ayat 35 - 44        

(35) Dan sesungguhnya telah Kami datangkan kepada Musa sebuah Kitab dan Kami jadikan pula ber samanya saudaranya sendiri, Harun menjadi Wazir.

 

 (36) Maka Kami katakan berangkat­lah kalian keduanya kepada kaum yang mendustakan ayat Kami itu; maka telah Kami hancurkan kaum itu sebenar­benamya hancur.

 

 (37) Dan (demikianlah juga) kaum Nuh tatkala mereka mendusta­kan utusan-utusan Kami, Kami tenggelamkan mereka semua dan Kami jadikan mereka men­jadi tanda (kekuasaan Kami) untuk para manusia, dan telah Kami sediakan untuk orang yang aniaya siksaan yang pedih.

 

(38) Demikian pula kaum 'Ad dan kaum Tsamud dan kaum yang empunya sumur tua, dan kurun kurun yang banyak di antara itu.

 

 (39) Semuanya itu telah Kami jadikan kias ibarat, semuanya pun telah Kami rusak binasakan.

 

 (40) Dan mereka pun sudah pemah datang kepada desa yang pemah Kami hujani dengan hujan yang jahat, apakah tidak mereka lihat desa itu? Bahkan mereka tidak mengharapkan hari kebangkitan.

 

 (41) Dan jika mereka melihat engkau, lain tidak mereka hanya meng­ambil engkau jadi olok-olok. Orang semacam itukah yang dibangkitkan Allah menjadi utusan?

 

 (42) Dia cuma menyesatkan kita dari Tuhan-tuhan kita , kalau kita. tidak sabar menerimanya. Kelak alcan tahulah mereka setelah mereka melihat siksaan Tuhan datang, siapakah yang telah menempuh jalan sesat?

 

 (43) Adakah engkau lihat (hai utusan­Ku) betapa halnya orang yang bertuhan kepada hawanya sendiri. Apakah engkau yang menerima perwakilan untuk mereka?

 

(44) Apakah engkau sangka bahwa sebahagian besar mereka itu mendengar ataupun berfikir? Keadaan mereka tidak lain, hanyalah laksana binatang-bina­tang saja, bahkan lebih sesat lagi dalam perjalanan.

 

Pejuang Yang Hak Dan Tantangan Atasnya

Sebagaimana telah tertulis di ayat-ayat yang pertama Surat ini, adalah hidup itu perjuangan, di antara yang hak dengan yang batil. Kedatangan Utusan-utusan Tuhan, Nabi-nabi dan Pasul-rasul adalah penjelasan garis pemisah di antaru yang hak dengan yang batil itu. Garis pemisah itulah yang dimaksudkan yang terkandung di dalam kalimat Furqan. Di dalam menentukan garis pemisah itu, bukanlah mudah tugas yang dipikul oleh seorang Nabi. Kisah sekalian Nabi-nabi itu adalah tali rantai sambung-bersambung daripada suatu seruan yang hak clan perlawanan dan tantangan daripada orang yang me­negakkan yang batil.

Pada ayat 35 dijelaskan lagi kepada Nabi Muhammad s.a.w. bahwa per­juangan yang hebat dan dahsyat ini telah ditempuh oleh Nabi Musa. Dia diutus

Tuhan Allah membawa sebuah Kitab, yang berarti perintah, yaitu Kitab Taurat. Untuk membantu pekerjaannya yang sulii itu, Tuhan Allah telah mengangkat pula saudara Nabi Musa itu sendiri, Nabi Harun menjadi Wazirnya, atau pem­bantunya yang utama. Mereka diperintahkan datang kepada kaum yang men­dustakan ayat-ayat dan peringatan Tuhan. Itulah Fir'aun dengan sekalian malaaihi, sekalian penyokong penganutnya atau regimnya, menurut istilah orang sekarang. Kekuasaan Fir'aun itu tegak atas kekafiran, yaitu menolak kata yang benar, kalau kebenaran itu akan mengganggu kekuasaannya.

 Adalah suatu pekerjaan yang sulit untuk menyampaikan seruan kepada orang yang telah mendinding hati sendiri dengan kekafiran. Dia terlebih dahulu celah berprasangka sebelum mendengar seruan. Tetapi pejuang-pejuang yang diutus istimewa untuk menghadapi itu, yaitu Musa dan Harun, tidaklah boleh berhati kecil atau patah semangat. Bertambah orang yang kafir itu membantah, bertambah lebih keraslah hendaknya kedua Rasul itu berusaha clan bekerja.

 Apa sebab? Sebabnya ialah karena Tuhan kasih kepada hambaNya. Dalam hakikat yang sejati; Tuhan pun kasih kepada Fir'aun itu, ataupun kepada orang-orang yang kafir itu. Sebab Tuhan telah menentukan suatu aturan pasti, bahwasanya orang yang kafir, zalim, aniaya dan ingkar pada akhir akibat, mesti jatuh kepada kehancuran. Suatu waktu dia akan mencapai apa yang di zaman sekarang disebut "Klimaks". Dalam pepatah orang kita tersebut "Terlalu panjang jadi patah". Itu sebab maka Tuhan mengutus Utusan kepada manusia. Musa dan Harun selalu memperingatkan bahaya; tetapi Fir'aun selalu pula membantah dan ingkar, akhirnya dia hancur runtuh, bukan clan sebab tidak sampai kepadanya seruan dan bukan pula karena kelalaian Musa dan Harun, tetapi dari kesalahan Fir'aun sendiri.

Di ayat 36 diterangkan pula contoh yang lain, yaitu kaum Nabi Nuh. Lama sebelum Fir'aun. Mereka pun berbuat demikian pula. Seruan kebenaran yang dibawa oleh Utusan-utusan Tuhan mereka dustakan. Mendustakan bukan saja mulut berkata: "Engkau berdusta." Bahkan sikap perbuatan yang tidak meng­acuhkan kebenaran, walaupun tidak dikatakan dengan mulut, adalah men­dustakan juga. Akibatnya pun demikian pula. Tuhan menyuruh Nuh membuat bahtera karena bahaya besar akan datang kalau seruan Tuhan tidak juga diperhatikan. Mereka sambut ajakan naik bahtera itu dengan ejekan. Akhirnya bahtera dengan Nabi dan orang-orang yang beriman terlepas dari bahaya dan orang-orang yang menampik itu tenggelam belaka ke dasar laut. Sayangnya dalam yang tenggelam itu termasLik pula anak kandung Nabi Nuh sendiri. "Hukum Besi" Ilahi tidaklah memilih bulu.

 Hukum itu pun berlaku kepada kaum `Ad yang mengingkari seruan Nabi Hud, dan hukum itu pun berlaku kepada kaum Tsamud yang menolak seruan Nabi Shalih. Hukum itu pun berlaku kepada kaum yang empunya sumur tua, bahkan hukum itu pun berlaku kepada kaum-kaum yang lain dari kurun-kurun yang lain yang banyak sskali.

 Kaum `Ad diajak Hud kepada jalan yang benar agar desa clan negeri mereka beroleh rahmat dan kesuburan, gemah ripah loh jinawi, namun mereka hanya rintang dengan kemewahan. Kaum Tsamud diberi Allah tanda ke­benaranNya dengan melahirkan unta dari hang batu; unta itu mereka bunuh. Kaum yang empunya sumur tua pun demikian, didatangi oleh seorang Nabi mengajak kepada kebenaran. Nabi itu mereka tangkap clan mereka masukkan ke dalam sumur tua itu, lalu mereka timbun clan atas. Begitu pula laku perangai kurun yang lain di tempat lain atau di waktu yang lain.

 "Semua itu" - kata Tuhan pada ayat 39 - "Kami jadikan tamsil ibarat untuk engkau", hai utusan Kami, supaya engkau peringatkan pula kepada kaummu di Makkah itu. Hukum Tuhan itu adalah Hukum Besi. Manusia tidak akan diazab kalau tidak dari salahnya sendiri. Satu kaum, satu ummat, satu bangsa ataupun satu generasi, kurun demi kurun di dalam hidup di dunia ini, harus tunduk kepada kebenaran sejarah itu.

 Barangsiapa yang menyeleweng daripada garis kebenaran dan keadilan, mesti binasa. Azab Tuhan itu datang adalah menuruti garis yang telah ditentu­kan, yang tidak ada kekuasaan manusia buat mengalihkannya. "Lalang tidaklah menumbuhkan padi."

Hal ini bukanlah semata-mata -dongeng, melainkan satu kenyataan. Mereka orang Quraisy itu tidaklah mendengar semata-mata dongeng saja, bah­kan dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri bekas kehancuran ummat yang menentang kebenaran. Mereka telah selalu pergi balik di antara Makkah dan Syam karena berniaga. Di tengah jalan mereka melalui suatu bekas runtuhan negeri Sadum (dekat Laut Mati), bertemu runtuhan dari satu negeri besar. Warta berita nenek-moyang telah menyatakan dari mulut ke mulut bahwa penduduk negeri Sadum itu hancur-lebur seketika negeri mereka di­hujani dengan hujan batu yang panas sehingga mereka semuanya terbakar hangus. Mereka telah diberi peringatan berkali-kali oleh Nabi Luth. Budi mereka sangat rusak, mereka memperisteri sesama laki-laki. Segala seruan kebenaran mereka abaikan, tidak mereka acuhkan. Mereka tidak sanggup lagi mengendalikan hawanafsu. Datang waktunya, mereka pun hancur-lebur dan hancur-lebur pula negeri tempat tinggal mereka. Bekasnya masih dapat dilihat.

 "Tidaklah mereka lihat bekas itu?" Bahkan kaum itu pun tidak ada peng­harapan akan hari kebangkitan kembali, hari nusyur. Tidak adanya kepercaya­an akan hari kiamat, hari nusyur, hari kebangkitan dan hari pembalasan, menyebabkan jiwa tidak terkendali dan hanya memperturutkan apa yang ter­kenang di hati saja.

 Sikap orang-orang yang membantah itu sangat berbahaya bagi diri mereka sendiri. Di dalam ayat yang selanjutnya (41) dinyatakan sikap mereka itu: "Jika mereka melihat engkau (ya utusanKu), tidak ada tingkah laku mereka selain mengejek."

 Mengejek adalah alamat dari kesat hati, kerendahan budi dan tidak ada rasa tanggung jawab. Mereka berkata: "Orang semacam inikah. yang diutus menjadi Rasul?"

"Dia hanya hendak menyesatkan kita saja dari tuhan-tuhan yang kita puja. Kita mesti sabar (bertahan) atas semuanya itu."

Demikianlah mereka. Apabila seseorang telah berani menghina orang lain, padahal orang yang dihina itu datang membawa kata kebenaran, adaiah alamat bahwa jiwa itu sangat nista. Dengan sendirinya kepada orang yang bertingkah laku yang demi kian, azab siksa Ilahi pasti datang. Maka kalau azab itu datang kelak, waktu itulah baru dia tahu siapakah sebenarnya yang menempuh jaian sesat. Nabi yang mengajaknya kepada kebenaran lalu diejeknya itukah, atau mereka sendiri.

 Tuhan memberi ingat pada ayat yang sesudahnya (43) bahwa orang-orang itu adalah orang yang telah mempertahankan hawanafsunya sendiri. Bagi orang yang bertuhan kepada hawanafsunya itu, ukuran dan nilai kebenaran tidak ada. Jiwanya kosong, yang berbicara adalah perasaannya belaka. Sebab itu dia tidak mempunyai pertimbangan tentang buruk dan baik, tentang mudharat dan manfaat.

 Hawa diambil dari kata yang berarti "angin" atau "udara". Sebab itu maka sifatnya kosong. Rumpunnya hanya semata-mata perasaan, disebut juga oleh orang asing "gevoel"; apa yang terasa dicakapkan. Orang Indonesia moden menyebufiya "sentiment".

 Sikapnya angin-anginan. Kalau datang orang memuji-mujinya setinggi langit, kembang-kempislah hidungnya karena girang. Apa yang diminta kepadanya ketika itu akan dapat saja. Tetapi kalau hatinya sudah bend, muka nya berubah sekali. Kekusutan perasaan dan hawanya itu membayang kepada mukanya. Apabila dia marah, dirinya tidak dapat dikendalikannya. Dia tidak dapat menguasai dirinya. Sebab hawanya telah menjadi Tuhannya.

 "Adakah engkau lihat, hai utusanKu, bagaimana rupanya orang yang mempertuhan hawanya?"

 Dengan orang yang seperti ini, amat susah berurusan. Apatah lagi tentang hal perubahan jiwa manusia itu, menunjukinya jalan atau menginsafkannya, tidaklah Kami wakilkan kepada engkau. Kewajibanmu adalah menyampaikan. Engkau tidak boleh bosan-bosan di dalam menyampaikan itu, sebagaimana tidak boleh bosan-bosannya Nabi-nabi yang terdahulu daripada engkau. Karena apabila manusia telah terlepas dari cengkeraman "tuhan hawa", akan jernihlah kembali jiwanya dan akan timbullah hakikat Iman yang sejati.

 "Apakah engkau sangka mereka mendengar atau berfikir?"

 Tidak, mereka tidak mendengar atau berfikir. Mereka hanya tahu makan dan minum clan kepuasan berkelamin. Hidupnya tidak mempunyai tujuan sebab itu tidak bemilai,

 "Bahkan mereka serupa dengan binatang, bahkan mereka lebih dari binatang." (ayat 44).

 Memang, apabila orang telah memperturutkan kehendak hawanya dan nafsunya, cahaya ketuhonan kabur dalam hatinya. Hawa itulah yang menutup. pendengaran dan penglihatannya, hawa membatas saluran penghubung di antara pendengarannya dengan hatinya. Sebab itu meskipun mata mereka melihat, tidak ada yang nampak. Meskipun telinga mendengar tidak ada yang masuk. Hati telah lama putus dengan pancaindera. Maka lebih rendahlah dia dari binatang.

 Dia insan, dipakainya sifat binatang, niscaya lebih rendah dia clan binatang. Binatang pun masih dapat dipuji karena kepatuhannya mengikut perintah tuannya. Tetapi manusia yang telah kehilangan pangkalan fikiran waras, siapa yang akan dipatuhinya? Manusia yang demikian sengsara batinnya, sebab sebagai manusia dia masih mempunyai akal. Dia melawan akalnya sendiri, sebab itu dia sengsara. Akan langsung jadi binatang pun dia tidak bisa.

 Tuhan memberi peringatan kepada UtusanNya begitu berat tugas yang dihadapinya. Dia wajib jalan terus. Dia adalah Utusan, makhluk yang terpilih untuk memberi tuntunan bagi manusia. clan manusia adalah medan per juangan di antara aslinya sebagai binatang dengan keinginan batinnya yang ingin naik ke tempat mulia, sebagai manusia.

 Dengan kesepuluh ayat ini kita mendapat kesan yang mendalam betapa cinta kasih-sayang Tuhan kepada makhlukNya yang bernama Insan itu. Insan adalah Khalifah llahi di atas dunia ini. Mereka diberinya akal budi buat me nyisihkan di antara yang buruk dengan yang baik. Dia disuruh memakai akal­nya buat mqnimbang segala perkara. Namun kasih cinta Tuhan itu tidak dicukupkanNya hanya hingga sekian saja, lalu diutusNya para UtusanNya, menunjukkan jalan. Ini adalah amat perlu, karena di dalam diri manusia itu selalu terjadi pertentangan di antara cita-cita yang tinggi dengan hawa dan nafsu, angkara dan murka. Sudah terang, apabila hawanafsu dan angkara murka itu tidak terkendali. Iman akan hancur ke dalam kehancuran dan derajat­nya akan jatuh menjadi binatang. Sudah nyata bahwa hidupnya akan kusut dan masyarakatnya berkacau-balau, yang kuat menindas yang lemah dan yang kuasa menekan yang tidak berkuasa, padahal makhluk yang ditindas itu manusia juga, mempunyai pula nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diperguna­kan menghasilkan rahasia Tuhan dalam Alam, yang menurut istilah-istilah yang kita sebut sekarang mempunyai "Hak-hak Asasi Manusia"

 Apabila kekuasaan muZlak Fir'aun tidak diberi Ilham oleh Wahyu Ilah:, alamat segala bangunan megah yang dia bangun hanyalah untuk kemegahan dirinya dengan mempergunakan tenaga "orang kecil". Karena merasa bahwa kuasanya tidak ada yang membatasi, dia akan bersikap lebih sombong, dan sekali kesombongan telah mempengaruhi jiwa, sudahlah sukar buat mengem­balikannya kepada garis jalan yang lurus. Fir'aun akhirnya binasa. Ini adalah akibat yang wajar!

 Kekuasaan para pemimpin dalam satu masyarakat, baik dia masyarakat kaum Nuh, atau masyarakat Fir'aun dan malaaihi (regimnya), atau masyarakat kaum `Ad yang tidak mengingat hari esok, atau masyarakat kaum Tsamud yang membunuh unta Tuhan karena angkuhnya, atau masyarakat kaum yang empunya sumur tua yang membenamkan Nabi mereka ke dalam sumur itu karena berani menegur kesalahan mereka, ataupun masyarakat Quraisy dengan Abu Jahal dan Abu Lahab dan lain-lainnya, jika terus-menerus me­nempuh jalan yang salah, mereka akan hancur. Yang hancur itu baik diri peri­badi, sebagai Fir'aun yang tenggelam dalam lautan Qulzum, atau masyarakat itu sendiri sebagai kaum-kaum yang telah binasa itu.

 Nabi Muhammad disuruh terus berusaha menyadarkan kaumnya dengan selalu memperingatkan langkah-langkah sesat yang telah ditempuh oleh ummat-ummat yang telah terdahulu tadi. Beliau tidak boleh bosan memberi ingatan. Hal-hal yang menyedihkan itu sedapat-dapatnya jangan kejadian lagi. Karena kalau Tuhan menurur.. an azabNya bukanlah sekali-kali karena Tuhan bersifat aniaya, melainkan bersifat adil, menurut aturan tertentu:

"Dan tidaklah pemah Allah akan berlaku zalim kepada mereka, melainkan mereka sendirilah yang berlaku zalim kepada diri mereka. "

 Dan sudah kehendak Tuhan pula, apabila bahaya itu datang, kerapkali bukan saja orang yang bertanggungjawab bermula yang kena, bahkan orang yang tak bersalah pun turut teraniaya:

"Dan awasilah olehmu suatu fitnah yang bukan saja khusus mengenai orang yang aniaya (bersalah), dan ketahuilah bahwasanya hukuman Tuhan itu sangat dahsyat."

 Di sini kita pun mendapat pula suatu rahasia yang mendalam lagi. Yaitu bukan saja Tuhan yang kasih cinta kepada Insan, malahan Nabi Muhammad s.a.w. itu sendiri pun kasih cinta kepada ummat. Dalam perjalanan beliau melakukan Da'wah ke Thaif, beliau te'.ah dilempari batu, sehingga mengalir darah sampai ke terompahnya karena bekas luka dilempar. Di tengah per­jalanan pulang datanglah Malaikat Jibril menyatakan sesal atas kejadian itu dan dia bersedia jika Muhammad menghendaki, hendak menghancurkan negeri yang telah berlaku sangat rendah kepada Nabinya.

 Tetapi Rasulullah s.a.w. telah menolak tawaran itu dan berkata bahwa yang diharapnya akan menerima petunjuk yang akan diberikan Tuhan kepada­nya untuk disampaikan kepada kaumnya, bukanlah semata-mata daripada yang tua-tua, yang telah berat melepaskan kebiasaan yang lama. Beliau meng­harapkan seruan ini akan diterima oleh anak cucu mereka, oleh generasi yang akan datang di belakang. Pada waktu itulah hati beliau terobat, karer.a :?i tengah jalan bertemu dengan seorang pemuda banasa Ninive bersama `Adas,

beragama Nasrani. Sedang Nabi berlindung di bawah sepohon kayu, dia pun datang. Dia dengarkan ajaran Nabi s.a.w. clan difahamkannya baik-baik lalu dia pun mengakui: "Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad hambaNya dan UtusanNya."

Dalam perjalanan pulang itu dia berdoa dengan penuh khusyu`:

'Ya Tuhanku, beri hidayat kiranya kaumku, karena mereka itu tidak mengetahui. "  

Memanglah patut kalau jiwa yang sebesar itu diangkat Tuhan menjadi Nabi Akhir Zaman, S:idak ada Nabi sesudahnya lagi.
01  02  03  04  05  06  07  08  09  10                                               Back To MainPage       >>>>