Tafsir Surat Al-Furqan ayat 25 - 34         

(25) Dan pada hari yang langit akan pecah-belah dengan awan­gumawan clan malaikat pun di­turunkan.

 

(26) Kekuasaan pada hari itu se­benamya ada pada Tuhan Yang Maha Pemurah; itulah hari yang amat sulit bagi orang-orang yang kafir.

 

 (27) Pada hari yang, orang-orang yang bersalah itu akan menggigil tangannya, sambil berkata, wahai malang, alangkah baiknya jika aku mengambil jalan yang ditempuh oleh Rasul itu dahulu­nya.

 

 (28) Wahai malang; mengapa maka si anu yang kuambil menjadi teman.

 

 (29) Sungguh dia telah menyesatkan daku daripada peringatan Tuhan, sesudah peringatan itu datang kepadaku. Dan syaitan adalah selalu membuat manusia kecewa (gagal).

 

 (30) Dan berkatalah Rasul: Ya Tuhanku! Kaumku ini sesung­guhnya telah meninggalkan jauh al-Quran.

 

 (31) Demikianlah halnya, Kami jadi­kan bagi setiap Nabi itu ada musuh terdiri dari orang-orang yang jahat; namun cukuplah Tuhan menjadi penunjuk jalan dan penolongmu.

 

 (32) Dan berkata pula orang-orang yang kafir itu: Mengapa al-Quran itu tidak diturunkan sekaligus? Memang demikianlah caranya, agar dengan al-Quran itu hendak Kami teguhkan hatimu, dan Kami bacakan dia dengan baca­an yang teratur.

 

 (33) Dan tidaklah mereka da'tang dengan suatu perumpamaan,tegasnya suatu masalah, melainkan Kami datangkan pula i kebenaran, dan dengan tafsir (penjelasan) yang sebaik-baikn­ya.

 

(34)  Dan orang-orang yang akan di­kumpulkan dan dihadapkan mukanya ke dalam neraka jahanam, itulah orang-orang yang akan mendapat tempat sejahat-jahatnya dan itulah orang yang menempuh jalan sesesat-sesatnya.

Kiamat

Didalam ayat ini, dari 23 sampai 34 diterangkanlah nasib yang akan dan penyesalan hati orang-orang yang memilih jalan sesat dan tidak mau menerima kebenaran itu.

 Kiamat mesti datang.

Kalau kiamat datang, langit akan pecah-belah dan robek-robek. Segala peraturan sempurna yang dapat kita saksikan pada langit dengan matahari, dan bintang-bintangnya, semuanya akan berubah samasekali. Langit akan pecah-belah dan robek, bintang akan terbang terganjak dari tempatnya dan langit menjadi kelihatan dahsyat dengan gumpalan-gumpalan awan yang berubah daripada biasa.

Berkali-kali diterangkan di dalam al-Quran bahwa Kiamat itu mesti datang, satu perubahan hebat akan terjadi. Bintang-bintang akan gugur, langit akan pecah belah , air laut akan meluap membuih, gempa akan menggegerkan seluruh permukaan bumi. Di dalam ayat ini khusus diterangkan akan ber­gumpal-gumpalnya awan di langit.

 Cobalah renungkan, sedangkan melihat gumpalan asap hebat seketika bom nuklir diletuskan, bulu roma kita lagi berdiri. Sedangkan melihat awan ,letusan gunung Agung di Bali, badan kita mengkirik ngeri. Sehingga ahli-ahli cuaca di New Zealand berkata bahwa perubahan cahaya matahari di negeri itu, yang sangat merah seketika petang hari, adalah dari akibat letusan Gunung Agung .

 Baru letusan Gunung Krakatau seabad yang lalu dan Gunung Agung di tahun 1953 sudahlah mendahsyatkan dunia. Padahal kalau kita lihat peta bumi, Krakatau dan Gunung Agung hanyalah bintik-bintik kecil saja. Kononlah jika dunia ini meletus seluruhnya, padahal "kunci-kunci" pemasangan letusan itu sudah diadakan sejak bumi diciptakan, yaitu pada gunung-gunung yang penuh mengandung lahar, dan belerang dan gas dan bensin di bawah bumi, dan batu­-batu dan lain-lain.

 Itulah mesti terjadi. Hasil penyelidikan manusia tentang Ilmu Alam ini, dengan segala cabang-cabangnya, di antaranya Vulcanologi, hanyalah semata-­mata buat menguatkan kepercayaan yang telah ditanamkan oleh agama, bahwa dunia akan kiamat.

Kalau itu terjadi, dan pasti terjadi, demikian diterangkan pada ayat 26, jelaslah nanti bahwa kekuasaan adalah seluruhnya di tangan Tuhan Yang Pemurah belaka. Sebagaimana setiap waktu pun kekuasaan yang mutlak tetap pada Tuhan Yang Pemurah juga. Cuma kita juga yang selalu lupa.

 Coba lihat! Siapa yang paling sengsara di hari itu? Yang paling sengsara ialah orang yang tidak mempunyai kepercayaan. Orang yang kafir menolak kebenaran. Yang sombong selama ini, merasa bahwa dia dapat berbuat se kehendak hatinya di dunia ini. Lupa bahwa umumya terbatas dan tenaganya pun terbatas.

 Datanglah hari yang hebat itu, maka ributlah si zalim aniaya, si bersalah menempuh jalan sesat. Tak tahu apa yang hendak dikerjakan, "nasi sudah jadi bubur", tempohnya sudah habis, sehingga menggigit tangan, menggigit jari, karena kehilangan daya, kehilangan pegangan dan kehilangan tujuan. Timbul­lah sesal, lalu meratapi diri, menyebut hal yang tidak perlu disebut lagi. Me­nyesali diri mengapa dari dahulu tidak diikut jalan yang telah ditunjukkan oleh Rasul Allah, Utusan Tuhan. Padahal sejak dahulu kebenaran ajakan Rasul itu sudah terasa dalam hati sanubari sendiri akan kebenarannya.

Keluhan dan sesal pertama dituruti dengan keluhan dan penyesalan yang kedua: Wahai malang nasibku, mengapa bukan Rasul yang aku ikuti, melain­kan ajakan si fulan yang aku perkenankan. Ajakan dan seruan Rasul sudah terang untuk keselamatanku dunia dan akhirat sedang ajakan si fulan hanya membawa sesatku saja, membawaku terperosok kepada jalan yang tidak benar. Dan selalu kejadian dalam hidup manusia, bila seorang teman jahat mengajak kepada jalan yang jahat telah berhasil maksudnya menyesatkan kita, sehingga kita terperosok, dia pun hilang. Setelah kita kecewa dan gagal, dia tidak muncul-muncul lagi.

 Untuk mengetahui latar belakang ayat ini, supaya setiap kita mengetahui pengaruhnya bagi jiwa, baiklah kita ketahui sebab-sebab dia diturunkan. Seorang Pemuka Quraisy di Makkah bemama Uqbah bin Abu Mu'aith, meskipun dia belum memeluk Islam, namun hubungan peribadinya dengan Nabi s.a.w. adalah baik. Kerapkali ia bertukar fikiran dan bercakap-cakap dengan Nabi s.a.w. dalam suasana pergaulan yang baik. Pada suatu hari, se­habis bercakap-cakap demikian, diundangnya Rasul Allah menjadi tetamu dan makan ke rumahnya. Seketika makanan mulai terhidang, karena pergaulan itu selama ini amat baik, Rasul Allah menyatakan bahwa dia belum mau memakan makanan yang terhidang itu sebelum Uqbah mengucapkan Dua Kalimah Syahadat.

Salah satu tradisi orang Arab sejak zaman sebelum Islam, dan setelah Islam tradisi itu pun masih tetap dipelihara, ialah memelihara hati tetamu selama dia berada di rumah kita. Sehingga kadang-kadang tuan rumah di saat menyeleng- garakan tetamu itu menyediakan dirinya sendiri seakan-akan menjadi khadam. Maka setelah makanan terhidang hendak dimakan, Rasul Allah mengambil kesempatan peluang baik itu, karena dia mengetahui baik jiwa Uqbah. Kata Rasul Allah: "Belum hendak saya makan hidangan ini sebelum anda mengakui Islam, anda mengucap Dua Kalimah Syahadat."

 Ini adalah jamuan terhadap tetamu yang dimuliakan. Kehendak tetamu pada saat yang demikian sangat tidak sopan kalau tidak diperlakukan. Dan Nabi Muhammad s.a.w. telah mempergunakan kesempatan yang baik itu. Nabi mengetahui dalam pergaulan selama ini bahwa Uqbah orang baik, orang yang dapat diajak bicara. Benar saja, ajakan Rasul Allah itu dikabulkannya. Dia ucap­kan Dua Kalimah Syahadat, diterimanya agama yang hak. Maka hidangannya pun dimakan oleh Rasul Allah.

 Beberapa waktu setelah kejadian itu bertemulah Uqbah dengan seorang teman lamanya yang sangat benci kepada Rasul, yaitu Ubayyu bin Khalaf. Diceriterakannya bahwa dia telah memeluk Islam, mengakui Allah dan Rasul Nya, demi menghormati Muhammad sebagai tetamu dalam rumahnya. Ubayyu sangat menyalahkan kelemahannya.

Dan Ubayyu mencelanya karena telah meninggalkan pegangan pusaka nenek-moyang yang telah dirusakkan oleh Muhammad. Di situ nampak ke­lemahan jiwa Uqbah. Dia menjadi cemas dan takut karena ancaman Ubayyu, bahwa kalau dia tidak menarik diri segera dari Islam, dia akan lepas dari ikatan masyarakat Quraisy. Lalu dia meminta akal kepada Ubayyu, bagaimana ikhtiar agar dia dapat membebaskan dirinya kembali dari ikatan Dua Kalimah Syaha­dat itu.

 "Mudah saja," kata Ubayyu, "Saya belum senang sebelum engkau datang kepada Muhammad itu, caci-maki dia lalu ludahi mukanya! Dengan itu engkau dapat membuktikan bahwa engkau bukanlah menuruti agamanya yang sesat itu." Dengan tidak memikirkan akibat yang jauh, Uqbah telah menuruti ajakan Ubayyu. Dicarinya Rasul Allah. Didapatinya beliau sedang sujud sembahyang di Daarun-Nadwah, lalu dimaki-makinya dan diludahinya mukanya.

 Waktu itu rupanya sudah dekat masanya Nabi s.a.w. akan hijrah ke Madinah. Maka beliau sambutlah cacian, penghinaan dan ludahan atas muka­nya itu dengan perkataan: "Apabila satu waktu kelak saya berjumpa dengan engkau di luar kota Makkah ini, pedang saya akan memotong kepalamu..."

 Rasulullah s.a.w. pun pergi dari tempat itu dan Uqbah pun pergi pula. Meskipun teman-temannya, terutama Ubayyu memujinya, namun dalam hati kecilnya terasa bahwa perbuatannya itu sangat salah. Tetapi kelemahannya jualah yang menyebabkan kehancuran jiwanya. Tekanan batin lama sekali menghimpit jiwa Uqbah.

 Mengapa saya tidak menuruti saja ajakan Rasul itu. Mengapa saya ambil si fulan, si Ubayyu menjadi teman. Dia telah menyesatkan saya kembali sesudahtadinya saya telah mengakui peringatan Tuhan, yaitu mengucapkan Dua Kalimah Syahadat. Ajakannya adalah ajakan syaitan belaka, setelah saya ter­jerembah ke lurah kesengsaraan jiwa, setelah saya dikecewakannya, si syaitan itu tidak datang lagi.

Akhirnya bertemu jugalah apa yang dikatakan Nabi itu. Tiba masanya, Nabi s.a.w. pun pindah ke Madinah dan beberapa waktu kemudian, terjadilah peperangan di antara Nabi dengan kaum Musyrikin di Perang Badar yang ter­kenal. Si Uqbah turut tertawan. Nabi memerintahkan Ali membunuhnya.

 Di dalam ayat ini kita menampak betapa besar pengaruh kawan dalam beragama. Kadang-kadang maksud dan cita yang baik dapat tertimbun oleh karena bujukan kawan yang bersikap sebagai syaitan merayu. Manusia tidak dapat melepaskan dirinya dari pergaulan sekelilingnya. Oleh sebab itu maka di dalam menilik perkembangan jiwa manusia, fakta orang yang ada di sekeliling­nya harus diperhatikan juga. Sampai ahli-ahli Tashawuf, terutama Imam Ghazali di dalam kitabnya "Ihya' Ulumiddin" memberikan beberapa petunjuk di dalam membentuk pergaulan, persahabatan dan perkawanan.

 Uqbah sebenarnya orang baik. Dia telah banyak bertukar fikiran dengan Nabi. Bahkan karena intimnya pergaulan sudah diajaknya Nabi s.a.w. makan ke rumahnya. Tetapi dia terjatuh lagi karena teman yang mengajak jahat, Ubayyu.

 Ajaran yang terang nyata dari Islam di dalam membentuk kawan, mencari teman clan sahabat, ialah anjuran berjamaah setiap waktu. Dengan demikian timbullah cinta kepada seseorang karena persamaan pendirian dan persamaan ibadat. Dianjurkanlah ziarah-menziarahi, tolong-menolong atas kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong atas dosa dan permusuhan. Dan ditegas­kan lagi oleh Hadis Nabi:

"Kalau hendak mencintai seseorang, cintailah karena Allah dan kalau hendak benci, bencilah karena Allah."

Keluhan Rasul

Pada ayat 30 Tuhan mengisahkan bahwa Rasul Allah itu pun pemah mengeluh. Dia mengadukan kesedihan hatinya kepada Tuhan, sebab kaum­nya, kaum Quraisy yang sangat diharapkannya hendak menerima kebenaran al-Quran, bahkan telah menjauhkannya, tidak memperdulikannya. Diambil Kalimat "Mohjuran", laksana suatu tempat yang telah lama ditinggalkan dan tidak diperdulikan lagi.

 Tuhan menganjurkan agar kita sebagai Muslim selalu membaca al-Quran. Dan Nabi pun memesankan agar membaca al-Quran itu dengan penuh minat dan perhatian, moga-moga dia masuk ke dalam hati sanubari, seayat demi se ayat. Sehingga dia menyelusuk ke dalam rongga diri kita, menjadi sebahagian daripada darah kita, membentuk pandangan hidup kita. Bahkan Nabi punmengizinkan membaca al-Quran dengan dilagukan, supaya pengaruh suara merdu itu membuka hati kita.

 Ayat 30 ini apabila kita baca dengan seksama dan penuh renungan, membukakan kepada hati suatu rahasia tersembunyi. Keluhan Nabi bahwa kaumnya telah menjauhi dan meninggalkan al-Quran ini adalah mengandungi cinta, belas dan kasihan kepada mereka. Kasihan kaumku ini, ya Tuhan! Al­Quran Yang Tuhan datangkan dan Tuhan suruh sampaikan kepadaku terhadap mereka, yang penuh dengan petunjuk kepada kebahagiaan, mereka tinggalkan dan tidak mereka perdulikan. Hanya hawanafsu mereka saja yang mereka turutkan. Mereka merasa bangga dalam kekufuran, padahal mereka telah sengsara mereka tak tahu.

 Maka keluhan Rasul itu disambut oleh Tuhan dengan ayat 31. Diperingat­kan: Memang sudah demikianlah halnya perjuangan di dalam dunia ini. Setiap Nabi datang menunjukkan jalan yang benar, petunjuk untuk keselamatan mereka dunia dan akhirat, mesti ada yang memusuhi menentang. Sebab "Manusia adalah budak clan kebiasaannya yang lama". Musuh-musuh itu terdiri daripada orang-orang yang jahat, mujrimin. Namun tentangan daripada musuh adalah ujian atas ketabahan hati pejuang.

 Dalam ayat 20 yang terdahulu Tuhan tefah menjelaskan kepada Nabi bahwa suatu cita yang tinggi, apatah lagi cita Wahyu dari langit akan ditegakkan dalam dunia ini atas ujian. Tantangan akan datang, sanggahan akan datang. "Sabarkah atau tidak?"

 Dalam ayat 31 ini Tuhan memberikan lagi kepastian jaminan:

4p> "Cukuplah kiranya Tuhanmu menjadi pemimpin dan penolong.

Yang engkau perjuangkan itu adalah kebenaran. Dan 4b`aj styld<"bnnt%qize812.0pt;fO.t-famil8A2ial3hapteb-rp #Ang:.2pp >2li  leJb`di lEkaje. Hujah bepapa /sPaN.pun <+cpaj< le"a4 nyA, Qehalgg! bUmi meljadiluepur se.mqal`a( na-4.CEBDRAN tidaklah ai`. da``p DipEn'2u`i mleh kemarau daN Iulpqb. Cetia0 engk`ubrJumpa  dancAn satuu*)anad`E0u. rintang`n( karena htilu 4.rpan&  l`ah 8s`aj stxle="fOnt%siHe: 1".0pt; f/nd-family8 @ria1 latt%`-spacilg: &2pt"> zika2!, Tundunab TdhAn MestI datale de0at P!da 7akDqnyA Dan pdrtnlonba. mesti tibadi c!at <)rp`n6 Yang <+span> %<%sPals0af 3T9lE< bond-3ize: 10.0pp; Folt)falihx: Ariad; l%t4a0-ppachNf: .2pt r`b te`$apAtlah satt kaAsan <+spa.< ap!nstylE1"bond-size:02.0Pt;fohpdaiiDy:AraAllette0-a`acijg:.0pt"AL$ah <-3pal6 83pan style="&knt-qije: 12.0pt*"ond)f`mihy" A0hAl: letteR,qpcijg: ,2pT"> mEIulai Isra#nxa dengan Beraq Ke adal terdifcFi( !tanglah B%rbadah  panag`haldi pe.eah jala&, <.3``N> 8spaL stql%9"fOn4)sije12.0pt;dnnt%f!lihyAraad;HedTep)spaai,c2,"pt":qAjc 8/span>  maC3qd.y! tidak <-cpal. ,s0a* Style="fN,t-shze:1*0`d;fent-famhLh:Arial: lEttep-cpac)ng:.2pt :lain $-qpan> ,q0al styld="fJnp-sizd: 12,0pt: fgnt-fam)l9: AbhaL; D`pterS`ACihg: 2pt > iadah mepiNdafgi dUbuaf s%meha dencan bma,-skal tdtec)`eneaK 4/qpan: 4r`a.Sthle="$/np-3azd*12.0`t bont,fAmily*Ari`l:ldttdr%rpacing:."pT".9anb dain, 8-span &f@sp+4's`An6span sty$e "fon4-sixe:06.Pt;bNfp-famhly A2ial)letter-cpacin':&1pt"6Q8/qpan>ural Didurunian Sekaligus<.q`al< di`ayaFejallafi ucql kaum kadir `t4 , c`a"> agar al-Quran itu diturunkan sekaligus saja. Mereka mencari-cari saja soal-soal yang akan diusul­kan. Dahulu mereka mengritik mengapa Nabi makan dan minum, mengapa Nabi masuk pasar keluar pasar. Kemudian diusulkannya pula kepada Nabi itu membawa pengiring dan pembantu yang terdiri daripada bangsa malaikat. Kemudian diusulkannya pula supaya Nabi itu kaya-raya mempunyai per­bendaharaan yang besar. Ada pula usul mereka supaya Nabi mempunyai kebun yang luas. Bahkan pernah mereka mengusulkan hendak melihat betapa rupa malaikat. Dan ada yang lebih hebat lagi, mereka mengusulkan hendak melihat betapa rupanya Tuhan itu. Sekarang datang lagi usul lain, yaitu supaya al-Quran itu diturunkan sekaligus saja, jangan terpotong-potong, seayat demi seayat sebagai sekarang.

 Meskipun segala usul dan sanggahan itu dipandang dari hati yang Mu'min adalah soal kecil belaka, namun bagi orang yang imannya sedang dibangun perlu juga penerangan yang jelas. Usulan yang demikian akan mereka turuti lagi dengan usulan yang lain, yang kadang-kadang amat ganjil, lucu clan jenaka, memperlihatkan kecilnya jiwa orang-orang yang kafir itu. Namun uhan masih manunbukkan jawabNya kepa`a Nabi UtusanNya.

 Tuhan menerangkan: Demikianlah adanya; supaya Kami tetapkan hatimu. Turun al-Qur!n seayat demi seayat, sehinge` setiap ,spanstyl%="font-size:12.0pt;font-fam)li:Arial; letter-spa#ing:.2pt">yang tiba dapap masuk ke dalam hati dan dapat mempertaguh hati. Kemudian iTu "Wa attalnaahu  tartilan"; Kami ajarkan kepadamu membacanya dengan sebenar-benar bacaan.

 KoNon setiap ayat yang telah turun, diajarKan lagi oleh Jibril kepada Nabi denga. bacaan yang yang telaH turun, terus sekali masuk menyelin`p ke dalain hati, bukan hanya semata-mata masuk, ke dalam aa4atan Surat. Dan diajarkaf pula oleh Nabi seayat demiseayat kepada para sahabat.

 Di dalam Surat al-Baqarah ayat 121 Tuhan menerangkan:8/Span>

"Orang-orang 4/sPan> yang 4span style="font-size: 12.0pt; fojt-family: Arial">Kami berikan kepadanya Kitab, lalu mereka baca Kitab itu rebenar-benamya membac!, itulah orang-orang yang aKan beriman kepadanya."

Pembacaan ,spal style="font-size:12.0pt;font-family:Arial;letter-spacing:.2pt">yang benar-Benar itu hanya akan didapat jika setiap<-span> yang turun dibaca dengan seksama, dengan tartil. Tetapi kalau diturunkan sekalhgus, mungkin dibaca juga, namun karena banyaknya, menJadi ragu, mana yang  akan didahulukan. Itulah sebabnya maka "An-a'i-lul awwal", rombongan penyambut Islam yang pertama amat besar pengaruh al-Quran kepada dirinya, sebab setiap ayat yang datang dia memahamkan benar-benar ayat demi ayat.

 Itulah sebabnya pula, setelah al-Quran menjadi mushhaf, telah terkumpul semuanya, banyak orang yang hafal al-Quran, cuma menghafal saja, namun pengaruh kepada jiwanya tidak ada. Iniiah yang dikatakan Nabi bahwa nanti akan datang zamannya orang membaca al-Quran laksana dengung lebah terbang, tetapi Iman tidak sampai masuk ke bawah dari kerongkongannya. Pada ayat 33 diterangkan lagi sebab yang kedua mengapa al-Quran tidak diturunkan sekaligus. "Dan tidaklah mereka datang dengan suatu perumpama­an, atau tegasnya suatu masalah, melainkan Kami datangkan pula suatu kebenaran, dan dengan tafsir (penjelasan) yang sebaik-baiknya."

Artinya di antara Wahyu itu diturunkan setelah ada suatu pertanyaan atau suatu kemusykilan. Nabi sendiri secara peribadi tidaklah sanggup menjawab­nya. Barulah beliau jawab setelah datang Wahyu, ini terbukti setelah beliau pindah (hijrah) ke Madinah, banyak pertanyaan datang, sampai urusan haidh (perempuan datang bulan), sampai urusan hartabenda yang didapat dalam perang, sampai urusan minum khamar (alkohol) dan perjudian, semua pertanyaan itu dijawab oleh Wahyu. Di Makkah pun pernah kaum Quraisy ber­tanya tentang Raja Iskandar Zulkamain, pun datang jawabnya dengan Wahyu.

 Itulah sebabnya maka al-Quran tidak turun sekaligus. Kalau dia turun sekaligus, niscaya kita tidak akan dapat memahamkan isinya. Sebab al-Quran tidak semata-mata doa munajat kepada Tuhan, sebagai Kitab Zabur misalnya, tetapi pun mengenai juga segi-segi kegiatan dan perkembangan masyarakat setiap masa.

 Setelah disambut kemusykilan orang kafir mengapa al-Quran tidak diturunkan sekaligus, sehingga jawabnya telah dapat memuaskan orang ber­iman, namun pada ayat 34, dijelaskan lagi penyelesaian menghadapi orang orang yang kafir, yang banyak merengek, meminta, mengemukakan usul yang tetek-bengek karena keengganan menerima kebenaran itu.

 "Orang-orang yang akan dikumpulkan dan dihadapkan mukanya ke dalam neraka jahannam, itulah orang-orang yang akan mendapat tempat yang sejahat jahatnya don itulah orang yang menempuh jalan yang sesesat­sesatnya. "

I`tibar yang mendalam dapat pulalah kita ambil daripada ayat-ayat ini. Tuhan Allah dan RasulNya bukanlah tidak sanggup meladeni segala permintaan atau segala usul. Tetapi haruslah diingat siapa engkau seketika bertanya itu. Dalam menghadapi Da'wah Islam, seorang pejuang penegak agama Rasul pun akan dihujani dengan pertanyaan dan permintaan yang bertubi-tubi. Tetapi tanya dan tanya ada dua. Tanya karena hendak mengelak tanya yang sematahendak melepaskan diri, sok-sok pintar, sewaktu-waktu boleh juga diladeni. Gayung disambut, kata berjawab. Namun memberi jawaban atas pertanyaan itu, bukanlah berarti bahwa si penanya telah lepas apa yang dimauinya, kalau dasar jiwa memang telah membantah sejak semula. Kalau pertanyaan itu di­jawab maksud pertama hanyalah untuk menguatkan pendirian, kawan-kawan yang sefaham, bukan untuk meladeni orang yang memang sejak bermula sudah ada pendirian menolak.

 Adapun orang yang beriman, dia pun akan bertanya pula. Tanyanya itu semata dan tidak tahu, maka jawaban kepadanya adalah pimpinan buat perjalanannya. Orang yang tidak pandai, memang sewajarnya bertanya kepada orang yang lebih pandai. Namun orang-orang yang "sok pandai" dan kufur, pertanyaan atau permintaannya hanyalah membayangkan kekafirannya belaka.

 Dalam zaman kita sekarang pun kadang-kadang didengar pertanyaan yang sok-sok pandai itu, yang membayangkan bahwa caranya berfikir tidak dalam lingkungan Iman lagi. Misalnya orang yang masih mengakui Islam lalu bertanya dengan penuh "cemuh" (sinis), mengapa maka daging babi diharamkannya memakannya.

 Guru yang menjawab mengatakan bahwa daging babi diharamkan karena dia mempunyai suatu zat hama atau cacing yang amat berbahaya bagi ke­sihatan. Maka yang bertanya tadi mengatakan bahwa hama atau cacing itu bisa mati dan hilang penyakit yang mengancam itu apabila daging babi itu dimasak dengan air yang sangat panas. Ketika yang ditanya itu memberikan jawab lagi yang tidak memuaskannya, dia pun menuduh bahwa Agama Islam tidak sesuai lagi dengan zaman kemajuan, sebab masih mengharamkan daging babi.

 Padahal kalau orang Mu'min, apabila datang perintah atau larangan dari­pada Allah dan Rasul, dia tidak bertanya lagi. Dia akan menyambut dengan "Sami'na wa atha'na". Namun seorang pejuang yang hendak menegakkan Agama Rasul, patut juga mempelajari jawab-jawab pertanyaan orang yang "kafir", bukan buat memuaskan si kafir, melainkan untuk meneguhkan hati orang yang beriman jua adanya.

 01  02  03  04  05  06  07  08  09  10                                               Back To MainPage       >>>>