Tafsir Surat Al-Furqonn ayat 21 - 24         

21) Dan berkatalah orang-orang yang tidak mengharapkan hendak menemui Kami: Mengapa tidak malaikat yang diturunkan kepada kami, atau mengapa kami tidak melihat Tuhan? Mereka itu amat sombong dalam dirinya dan tersebab itu mereka melakukan pelanggaran yang sangat besar

 

(22) Peringatkanlah kepada mereka akan hari, yang pada waktu itu mereka memang akan melihat malaikat-malaikat. Tetapi tidak ada berita gembira di hari itu untuk orang-orang yang ber­salah. Dan (Malaikat-malaikat itu) akan berkata: Terlarang dan tertutup rapat.

 

 (23) Dan Kami datang dengan sengaja kepada pekerjaan­pekerjaan yang telah mereka kerjakan, dan Kami jadikan semuanya menjadi debu yang beterbangan.

 

 (24) (Hanya) orang-orang ahli syurga­lah pada hari itu yang akan mendapat sebaik-baik tempat kediaman dan seindah-indah tempat istirahat.

     

 

Jiwa Yang Tidak Mempunyai Pengharapan

Jiwa yang kesat kasar, yang tidak mempunyai tujuan hidup dan peng­hidupan, yang penilaiannya akan sesuatu hanya pada kulit lahir, tidaklah sanggup menilai kebenaran yang dibawa Rasul. Mereka akan mengemukakan usul yang tidak-tidak. Ketika Rasul menyatakan kebenaran dan menyeru kepada jalan Allah, bukanlah seruan itu yang mereka perhatikan atau per­timbangkan. Mereka minta yang datang itu jangan manusia, mereka minta Malaikat itu sendiri menyatakan diri kepada mereka. Dan ada permintaan mereka yang lebih hebat dari itu, yaitu meminta hendak melihat Tuhan.

 Jelaslah bahwa permintaan-permintaan yang dikemukakan ini timbul dari kesombongan. Seakan-akan mereka orang-orang istimewa, tidak mau me­nerima saja kalau hanya "manusia" yang datang.

 Padahal Malaikat sebagai makhluk yang suci tidaklah pantas diperlihatkan atau memperlihatkan diri kepada orang-orang yang sombong. Kalau dasar kesombongan sudah ada dalam hati, walaupun Malaikat itu sendiri yang datang, tidak jugalah akan mereka terima. Akan ada juga jawabnya buat mengelakkan diri.

 Lebih sombong lagi ialah permintaan hendak melihat Tuhan. Seorang yang telah beriman tidaklah akan sampai hati mengeluarkan perkataan demi­kian. Dengan apa Tuhanmu itu hendak engkau lihat? Apa alatmu yang lain daripada mata? Sedangkan mata itu pun, meskipun dia melihat benda yang nyata, kalau perhatian nya tidak ada kepada benda itu, tidaklah akan nampak olehnya, walaupun benda itu terbentang di hadapan matanya. Dan mata se­bagai alat untuk melihat Tuhan itu sendiri pun belum pemah mereka lihat ! .

Bukalah hati terlebih dahuiu dan hapuskan rasa sombong, tunduklah kepada Ilahi dan terimalah seruan Rasul. Jika ini telah engkau lakukan clan engkau pegang teguh-teguh, malaikat itu akan turun sendiri ke dalam dirimu, memberikan keberanian dan perangsang buat hidup. Sahabat-sahabat Nabi di Madinah, sedang duduk-duduk beramai-ramai dengan Rasul Allah, pernah didatangi oleh Malaikat, dan malaikat itu, yaitu Malaikat Jibril menyatakan diri­nya, kelihatan oleh seluruh sahabat yang hadir. Padahal mereka itu tidak pemah meminta atau memasukkan usul buat "menonton" malaikat. Sedangkan ke dalam sebuah rumah yang ada anjing saja pun malaikat tidak mau masuk, kononlah ke dalam hati yang penuh sombong, yang lebih hina dari anjing.

Demikian juga dengan melihat Tuhan Allah.

Musa, Utusan pilihan Tuhan yang gagah berani, pernah terlanjur me­mohon hendak melihat Tuhan Allah, padahal dia bukanlah sombong. Maka Tajallilah Nur Allah kepada salah satu puncak dari pegunungan Thursina, maka hancur lumatlah gunung itu laksana salju kena panas, tersungkurlah Musa memohon ampun. "Innaka lantaraani" - Engkau takkan dapat melihatKu . Siti Aisyah pemah bertanya kepada Muhammad Rasul Allah: "Seketika engkau dipanggil Mi'raj, wahai Utusan Tuhan, dapatkah engkau melihat Tuhan Allah?"

Rasul Allah menjawab: "Tidak! Aku hanya diliputi oleh Nur belaka!'

 Tetapi di akhirat kelak, dalam Alam yang lepas bebas daripada tanah dan air ini, daging dan darah ini, Tuhan Allah menjanjikan bahwa Dia akan mem­perlihatkan diriNya kepada hambaNya yang percaya:

"Segala wajah pada masa itu akan berseri-seri, karena dia akan melihat Tuhannya: "

Pada ayat 22 diterangkan bahwa nanti memang akan datang harinya, di hari akhirat, Malaikat-malaikat akan memperlihatkan diri, karena Roh Mu'minin telah setaraf dengan Roh Malaikat-malaikat, bahkan ada yang lebih tinggi taraf­nya.

 Sedang setengah Mu'min - sebagai tersebut dalam Hadis Shahih yang dirawikan oleh Bukhari dan Muslim daripada Umar bin Khathab - lagi dapat melihat malaikat di dunia, apatah lagi di hari akhirat itu kelak. Namun baginya mujrimin, orang-orang yang durjana dan sombong tidak ada artinya khabar gembira itu, mereka tidak akan dapat melihatnya, entah kalau malaikat­malaikat penjaga yang akan menjatuhkan siksaan kepadanya. Mereka terlarang keras melihatnya, tidak ada kesempatan samasekali. Bagi mereka kesempatan itu tertutup rapat (Hijran Mahjuuran)

 Bahkan sebagai dijelaskan di ayat 23 segala amalan dan usaha yang mereka kerjakari selama hidup akan diletakkan di hadapan mereka, supaya mereka lihat sendiri bahwa amalan itu akan hangus jadi debu yang beter­bangan, karena tidak ada dasarnya.

 

             

"Yang batil itu tidak ada hakikatnya."

Arang habis besi binasa, tukang menghembus payah saja, karena amalan tidak mempunyai dasar dan tidak mempunyai tujuan.

Tetapi lain halnya dengan Ash-habul Jannah, orang yang telah ditentukan buat ahfi syurga, yang telah membina hidupnya dengan taat di kala di dunia, selain diberi kesempatan bergaul dengan malaikat, pun akan melihat wajah Tuhan. ltu saja pun telah menjadi puncak dari segala kebahagiaan dan menjadi obat dari segala jerih payah. Kemudian itu ditentukanlah bagi mereka tempat tinggal yang baik, yang tenteram dan yang seindah-indah tempat istirahat di Syurga.

 Di sini teranglah bahwa segala keinginan yang tadinya dianggap besar dan hebat, menjadi perkara kecil belaka asal hati telah dibukakan terlebih dahulu buat menerima lman Melihat malaikat, bahkan pun melihat Tuhan, atau tempat tinggal yang baik, atau tempat istirahat yang aman tenteram , kehidupan yang kekal dan bahagia , bebas daripada rasa takut dan cemas, semuanya itu perkara yang bukan sukar, apabila hidup beriman telah dimasuki. Dengan Iman kita menaiki tingkat hidup yang lebih tinggi; yaitu hidup kerohanian. Mulanya kita melalui taraf sebagai orang Muslim, naik ke tingkat Mu'min, naik ke tingkat Muttaqin, naik ke tingkat Muqarrabin, sehingga kita kian lama kian dekat dan kian mengenal siapa Tuhan Allah. Sesudah mengenal timbullah per­kenalan. Maka sampailah kita kepada taraf peneguhan janji Allah bahwa dia menjadi pelindung kita:

                 

"Allah adalah menjadi wali dari orang yang beriman, dikeluarkanNya mereka daripada kegelapan kepada terang-benderang (Nur)."

 Dan ingatlah pula bahwa Malaikat itu pun terjadi daripada Nur. Perlindungan positif dari Tuhan Allah menimbulkan kesadaran pada jiwa, sehingga meskipun pada kulit kita ini terjadi daripada daging dan tulang, namun latihan jiwa dapat menyampaikan kepada derajat wilayah. Kalau Allah telah menjadi Wali dari orang yang beriman, maka orang yang beriman itu pun berhak disebut menjadi Wali Allah.

Jika jalan raya keimanan itu hanya kita lihat dari luar, atau enggan me­masuki, karena takut-takut akan durinya pada permulaan jalan, tidaklah kita akan mengenal nikmat yang ada di dalamnya. Tetapi apabila kita telah masuk ke dalam dan telah pasar jalan itu karena diternpuh, akan terasalah kebahagia­an jiwa yang tidak terpermanai. Segala kekayaan dalam dunia ini tidak ada yang dapat untuk menilainya, karena dia terletak dalam lubuk rohaniah. Kalau per­jalanan diteruskan, sedang kemanisan Iman itu tidak juga dirasai, periksailah kembali, barangkali ada yang rusak atau salah pasang.

Berkata Rasulullah s.a.w. di dalam satu Hadis yang shahih:

 

"Tiga perkara, barangsiapa yang ada padanya, merasailah dia kemanisan Iman; yaitu barangsiapa yang telah merasai bahwa Allah dan RasuINya lebih dicintainya daripada apa dan siapa pun juga. Dan barangsiapa yang mencintai dia akan orang lain, dan cintanya itu tiada lain hanyalah dalam rangka cinta­nya kepada Allah jua. Dan barangsiapa yang tidak suka lagi kembali ke dalam kufur, sesudah Tuhan Allah membebaskannya dari bahaya itu, sebagaimana bencinya akan dimasukkan ke dalam neraka. "

 Bertambah timbulnya kegembiraan itu, bertambahlah dekat kita kepada­Nya, dan bertambahlah Tuhan menjadi buah ingatan kita sepanjang hari, maka bertambahlah ringan rasanya segala beban yang dibebankanNya kepada kita, meskipun orang lain memandangnya berat. Dan kita jalan terus, dan jalan terus, dengan penuh kegembiraan.

 01  02  03  04  05  06  07  08  09  10                                               Back To MainPage       >>>>