Tafsir Surat Al-Furqan ayat 01 - 06        

(1) Maka berkatlah Tuhan, yang telah menurun kan al-Furqan kepada hambaNya, untuk memberi peringatan kepada seluruh Alam.

 (2) Tuhan, yang bagiNyalah Kerajaan seluruh langit dan bumi, dan tidak Dia mengambil anak , dan tidak ada padaNya sekutu dalam KerajaanNya, dan Dialah yang menjadikan segala sesuatu, lalu diukumya menurut ukuran tertentu.

 (3) Dan mereka ambil selain dari Dia tuhan-tuhan , yang tidak sanggup menciptakan sesuatu pun , malahan merekalah yang di­ciptakan , dan tidak ada kekuasaan mereka terhadap diri mereka sendiri untuk mendatang kan bahaya ataupun manfaat, dan tidak mere ka dapat menguasai maut , tidak pula dapat menguasai hayat dan tidak pula menguasai kebangkitan kembali.

 (4) Dan berkata orang-orang yang menampik kebenaran itu: Ini tidak lain hanyalah kebohongan yang hanya diada-adakan saja, dan dalam hal itu dia dibantu oleh kaum lain. Sesungguhnya orang-orang ini telah datang dengan sikap yang salah dan sombong.

 (5) Dan mereka katakan pula, ini hanyalah dongeng-dongeng pur­bakala yang dimintanya orang menuliskan, lalu dibacakan ke­padanya pagi dan petang.

 (6) Katakan olehmu: Dia (al-Furqan) ini diturunkan langsung oleh Yang Maha Mengetahui rahasia di sekalian langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun dan Maha Penya­yang.

                                                           Al-Furqan Sebagai Peringatan

Di ayat yang pertama ditegaskan oleh Tuhan betapa besar berkat yang dilimpahkan kumiaNya kepada perikemanusiaan seluruhnya oleh karena telah diturunkan al-Furqan kepada hambaNya, yaitu Nabi Muhammad s.a.w. Supaya hamba kekasih itu menyampaikannya pula sebagai peringatan kepada seluruh alam.

 Di dalam ayat ini dijelaskan oleh Tuhan bahwa hambaNya yang dikasihi­Nya itu tidaklah bertindak atas kehendak sendiri menyebarkan peringatan kepada isi alam. Dia hanya semata-mata pelaksana yang diperintah dan dititah­kan Tuhan buat menyampaikan.

 Hamba yang terpilih itu membawa perintah, yaitu al-Furqan, nama yang lain daripada al-Quran. Jika al-Quran berarti bacaan, al-Furqan berarti pem­beda pemisah. Artinya, apabila orang telah menerima al-Furqan itu memaham kan dan mengamalkan, niscaya dapatlah dia membedakan di antara yang baik dengan yang batil, yang salah dengan yang benar. Al-Quran bukan semata didengar, tetapi dibaca dan difahamkan, dimasukkan ke dalam hati. Apabila dia telah lekat di dalam hati, dia akan meninggalkan kesan, yaitu cahaya (nur) petunjuk, sehingga dia tidak perlu kepada petunjuk lain lagi.

Saiyidina Umar b:n Khathab setelah memeluk agama Islam dan me­mahami isi al-Quran, dapatlah dia membedakan yang benar dengan yang salah, yang hak dengan yang batil, sehingga berkali-kali telah terjadi, dia mem berikan pertimbangan kepada Rasulullah dalam beberapa perkara, yang kemu­dian pendapatnya itu sesuai dengan wahyu yang turun. Oleh sebab itu dia diberi oleh Nabi s.a.w. gelar "al-Faruq" adalah lanjutan daripada "al-Furqan", sama rumpun artinya. yaitu kesanggupan membedakan buruk dan baiknya sesuatu. Tegasnya, :noga-moga dengan berpedoman kepada "al-Furqan" se­seorang akan dapat mEncapai "al-Faruq".

Apatah lagi yang membawa al-Furqan itu ialah `Abdihi, HambaNya sendiri. Segala kita makhluk ini pada hakikatnya ialah hamba Tuhan, tidak ada yang terlepas. Tetapi ada o:ang yang sadar akan perhambaannya dan ada pula yang tidak sadar. Orang yang sadar bahwa dirinya itu adalah hamba dari llahi, sanggup memikil penntah berat dipikul, ringan dijinjing. Ditempuhnya segala kesulitan dan diatasinya segala rintangan karena mengharap ridha daripada Tuhan tempat dia memperhambakan diri itu. Orang-orang yang seperti inilah yang diberi kehormatan oleh Tuhan, lalu dipanggilkan dianya "HambaKu".

Apabila kita perhatikan dengan seksama, tidaklah selalu Tuhan me­manggilkan utusanNya itu dengan panggilan `Abdun (hamba). Gelar itu hanya dipanggilkan sekali-sekali, yaitu di saat memikul tugas yang berat dan penting.

Apabila kita baca dengan seksama dan mendalam, maka dalam kata `abdun itu tersimpan perlindungan dan jaminan Tuhan atas RasulNya, Isra' dan Mi'raj ke alam Malaikat, menjemput syariat sembahyang, panggilan `Abdihi itulah yang diberikan kepadanya. Dan apabila disebutkan tugasnya sebagai pembawa titah dan wahyu, sebagai tersebut di surat yang kita bicarakan sekarang, atau sebagai disebutkan dalam Surat al-Kahfi ayat 1, bahwa dia membawa Kitab (al-Quran) yang isinya. tidak berbelit-belit, juga disebut pang­gilan sebagai "`Abdun". Dengan kata itu dia mendapat kehormatan tertinggi. Satu jiwa yang besar tidaklah mau tunduk kepada siapa pun di dalam alam ini. Sebab segala isi alam ini hanyalah makhluk sebagai kita juga. Jiwa ini hanya menghambakan dirinya kepada pencipta alam, kepada Khaliq bukan kepada makhluk. Fianya jiwa yang demikian yang tahan clan sanggup memikul tugas, betapa pun beratnya. Hanya jiwa yang semacam inilah yang sanggup berdiri sembah - yang tengah malam (tahajjud) sehingga sampai gatal dan semutan kaki­nya saking lama berdiri.

 Dialah Rasulullah, ikutan kita.

  Di dalam ayat ini juga sudah ditegaskan kewajiban Rasul itu. Rasul yang dipanggilkan "`Abdun" dan bangga dengan panggilan itu. Tugasnya ialah membawa wahyu dan memberi peringatan (nadzira). Wahyu yang bernama "al-Furqan": Lil Alamina, kepada seluruh alam. Bukan hanya terbatas kepada suku Quraisy tetapi untuk sekalian suku. Bukan hanya terbatas untuk bangsa Arab, tetapi untuk sekalian bangsa dan bukan terikat pada suatu zaman tetapi buat seluruh zaman.

 Setengah ahli tafsir berpendapat bahwasanya `Alamin itu meliputi akan seluruh alam ini, bukan manusia saja tetapi buat seluruh yang bemyawa. Dan bukan di bumi saja, bahkan meliputi seluruh langit clan bumi. Tetapi setengah penafsir yang menyatakan lagi bahwasanya yang dimaksud dengan `Alamin ialah sekalian manusia saja. Dan setengahnya lagi mengambil jalan tengah, lalu berkata bahwa yang dimaksud dengan `Alamin ialah ats-tsaqalaini, yaitu manusia dan jin.

 Bau-bau yang ditinggalkan oleh penafsir lama itu tidaklah perlu kita masukkan lagi ke dalam suasana sekarang. Yang terang ialah bahwa ketukan wahyu ialah atas akal dan budi, atas jalan fikiran dan pandangan hidup. Meski pun berbeda bahasa yang dipakai manusia karena perbedaan iklim dan ruang atau masa, namun seluruhnya makhluk yang berakal selalu mencari ke­benaran, selalu menginginkan yang baik dan tidak menyukai yang buruk. Keinginan kepada kebenaran itulah yang diberi tuntunan dengan "al-Furqan". Dan meskipun makhluk Allah yang lain tidak menerima khithab (seruan) syariat, namun segala makhluk dapat dipergunakan oleh manusia di dalam daya hidupnya. Gunung didaki manusia mencari rahasianya, laut diseberangi mencari simpanannya, bahkan binatang dan burung-burung, tanam-tanaman dan kayu di hutan pun dipegang oleh tangan manusia dan dipergunakan.

Kalau jiwa manusia tidak dapat membedakan di antara yang baik dengan yang buruk, maka segala barang yang terpegang oleh tangannya akan ter­ancam kebinasaan tidak membawa rahmat djan tidak membawa berkat. Oleh sebab itu jika yang dituju dengan `Alamin ialah manusia, maka perbaikan jiwa manusia itu akan berpengaruh juga kepada alam lain di sekelilingnya.

 Di ujung ayat ini diterangkan tugas itu dalhm satu kata, yaitu nadziran memberi peringatan atas bahaya-bahaya yang akan menimpa jika kehendak Tuhan dilanggar. Kata nadziran bertimbalan dengan kate basiran, memberi khabar kesukaan clan kegembiraan bagi orang yang patuh menuruti perintah Tuhan clan menghentikan larangannya. Maka nadziran itulah yang cocok dan tertonjal di sini, karena yang dihadapi ummat manusia yang lengah dan lalai karena dipesona oleh kehendak-kehendak yang rendah, tersebab kegelapan fikiran (zhulm) dan kepalsuan (zur).

 Kerajaan Tuhan

Di ayat 2 diterangkan kekuasaan dan kebesaran Tuhan Allah yang me­nurunkan al-Furqan clan mengutus hambaNya itu kepada seluruh alam. Dia adalah Tuhan yang menguasai seluruh langit dan bumi. Penguasa dari sekalian Penguasa Raja dari sekalian Raja, menaikkan dan menurunkan, memuliakan dan menghinakan.

 KekuasaanNya adalah mutlak dan kekal. Alamat kekuasaan itu terasa apa­bila ilmu kita bertambah. Dengan ilmu pengetahuan alam dapatlah kita sedikit demi sedikit melihat kekuasaan yang mutlak itu. Perjalanan matahari yang ter atur detik demi detik, persamaan terbit -dan terbenamnya pada persamaan tanggal dan bulannya, sehingga satu detik pun tidak ada selisih, adalah bukti nyata dari kekuasaannya. Dan apabila kita menambah ilmu pengetahuan kita tentang llmu Alam, Ilmu Bumi, Ilmu Tumbuh-tumbuhan dan sekalian cabang ilmu yang lain, bertambah nyatalah kekuasaan yang mutlak itu sehingga kian manusia dapat mengetahui satu cabang ilmu, kian insaflah dia bahwa yang di­ketahuinya ini adalah perkara yang telah ada sejak berjuta tahun. Ilmu penge­tahuan manusia bukanlah menambah peraturan yang baru pada peraturan yang telah ada, melainkan hanya semata-mata telah mengetahui perkara yang tadinya belum dike.tahui.

Yang kedua, DIA tidak memungut anak, atau sebagai ditegaskan lagi dalam Surat al-Ikhlas, tidak Dia beranak dan tidak Dia diperanakkan. Beranak clan berketurunan adalah suatu peraturan Tuhan di dalam alam supaya yang bemyawa itu sambung-menyambung hidup. Orang seorang pasti mati apabila badan jasmani tidak kuat lagi menanting badan nafsani. Ayah me­rindukan mendapat anak untuk menyambung hidupnya. Bagaimana Tuhan Allah akan memerlukan sambungan kehidupan, padahal Dia hidup terus? Dia tidak pemah lemah, sehingga mengharapkan bantuan?

Kalau dalam satu ayat Tuhan menyatakan dirinya "Lam yalid", tidah beranak karena Tuhan yang senantiasa Hidup tidak memerlukan adanya keturunan, maka dalam ayat ini disebut "Lam yattakhidz waladan", tidak memungut anak, tidak mengambil anak, atau cara sekarang ini tidak "mengambil anak pungut".

 Tegas dalam ayat ini dinyatakan pendirian Islam, pendirian yang disampai­kan oleh Utusan Tuhan itu kepada seluruh alam. Suatu faham yang mengata­kan Tuhan beranak atau Tuhan mengambil anak pungut, tidaklah dapat diterima oleh fikiran yang sihat. Yang ada hanyalah Tuhan Allah yang men­ciptakan segala sesuatu dengan Kudrat IradatNya. Nabi Isa yang dilahirkan tidak melalui jalan biasa, yaitu dengan perantaraan ayah, bukanlah anak Tuhan atau anak pungut Tuhan, sebagaimana Nabi Adam yang lahir di luar keayahan clan keibuan bukan anak Tuhan atau anak pungut Tuhan. Isa a.s. clan Adam a.s. adalah makhluk (dijadikan) sebagai yang lain pun makhluk.

    Dan Dia pun tidak berserikat dan bersekutu dengan yang lain dalam kekuasaanNya yang mutlak itu. Persekutuan adalah alamat kelemahan. Per­sekutuan adalah gabungan dari beberapa kekuasaan, clan kekuasaan yang digabungkan sama-sama tidak penuh kekuasaan. Kalau ada Tuhan sendiri. yang menguasai langit dan ada Tuhan sendiri yang menguasai bumi, maka jelaslah Tuhan langit tidak sampai kekuasaannya ke bumi, clan Tuhan bumi tidak sampai kekuasaannya ke langit. Dan kalau mereka telah bersekutu, per­sekutuan adalah hasil dari kompromi, yakni sama-sama berjanji tidak akan mencampuri kekuasaan, dalam hal kedua-duanya sama-sama tidak puas dengzn kekuasaan yang ada. Kalau dalam pemerintahan yang didirikan oleh manusia, temyata tidak lancamya (stabil) kalau ada kekuasaan, atau negara lain dalam negara, maka dalam kekuasaan seluruh alam tidak masuk di akal adanya dua kekuasaan.

 Kalau di ujung dijelaskan lagi bagaimana Tuhan melaksanakan kekuasaan­Nya itu. Yaitu bahwa segala sesuatu diatur dan dihinggakan dengan ukuran­ukuran clan peraturan-peraturan yang tertentu dan tetap yang sedikitnya tidak boleh berubah. Dan apabila berubah sedikit saja pun, kehancuranlah yang akan menimpa, "runtuh sebuah, berkucaian semua".

A. Cressy Morison menulis dalam bukunya: "Man Does Not Stand Alone" (Manusia tidak tegak sendiri).* * Telah disalin ke dalam bahasa Indonesia oleh Hilman Madewa dan Mr. Muchtar Kusumaatmaja (sekarang Prof.) dengan judul "Ummat Manusia Tidak Berdiri Sen­diri". Dikeluarkan oleh "Pustaka Rakyat Jakarta" (1958) dan disalin ke dalam bahasa Arab oleh Mahmoud Sa1eh AI-Falaki dengan judul AI-Ilmu Yad'u ilal Iman". (Ilmu membawa kepada Iman). Kedua penerbitan itu kerjasama dengan penerbit Franklin New York.

Demikianlah di antara lain.

"Demikian banyaknya syarat-syarat yang diperlukan bagi keperluan hidup di bumi kita ini, sehingga secara Ilmu Pasti adalah tidak mungkin bahwa semua syarat itu pada suatu waktu dapat tenuujud secara kebetulan saja pada tiap-tiap bumi dalam hubungan yang layak.

 Oleh sebab itu mestilah ada suatu arah yang diperhitungkan di dalam alam ini. Andaikan hal ini benar, maka tentulah harus ada maksudnya:"

 Katanya selanjutnya: "Beberapa ahli falak menerangkan kepada kita bahwa kemungkinan dua buah bintang akan saling melewati dengan jarak yang demikian dekatnya, sehingga membangkitkan air pasang yang dahsyat serta menimbulkan malapetaka, adalah dalam deret jutaan, sedangkan ke­mungkinan terjadinya suatu tubrukan adalah demikian kecilnya sehingga ber­ada di luar perhitungan. Ndmun salah satu teori-teori Ilmu Bintang mengatakan bahwa pada suatu ketika katakanlah duaribu juta tahun yang lampau, sebuah bintang pemah bersilangan dengan matahari demikian dekatnya, sehingga menimbulkan air pasang yang hebat, sedangkan benda-benda berpelantingan ke ruang angkasa yang kita kenal sebagai planet, bagi kita alangkah besarnya, akan tetapi di dalam dunia perbintangan tidak berarti. Di antara benda-benda yang berpelantingan ke luar tadi terdapat segumpal kosmos yang kemudian menjadi apa yang kita namakan bumi. Dalam dunia perbintangan ia tiada seberapa penting, sungguhpun begitu sepanjang pengetahuan kita dapat ditunjukkan sebagai yang terpenting.

Kita harus mendugakan bahwa bumi kita ini terdiri dari beberapa unsur yang terdapat pada matahari akan tetapi yang tidak ada di lain-lain tempat unsur-unsur ini berada di bumi dalam perbandingan prosentase terutama yang sepanjang mengenai permukaan bumi telah ditentukan dengan kepastian yang memuaskan. Ukuran besar bumi sekarang telah berkurang menjadi ukuran luas yang sangat permanen, sedangkan massanya sudah dipastikan orang. Ke­cepatan mengelilingi matahari sangat tetap. Putaran pada sumbunya telah dipastikan orang dengan demikian cermatnya, sehingga perubahan sebanyak satu detik dalam satu aoad akan berakibat perhitungan ahli-ahli falak akan menjadi kacau-balau. Bumi disertai oleh sebuah satelit yang kita kenal sebagai bulan, yang gerak-geraknya telah pula dapat ditetapkan orang, dan urutan perubahan-perubahannya berulang kembali dalam 18 tahun. Sekiranya ukuran bumi ini lebih besar atau andaikata kecepatannya berlainan, maka letaknya akan jauh atau lebih dekat dengan matahari, dan keadaan yang sangat berlainan ini sangat berperigaruh atas segala macam hidup, termasuk ummat manusia.

Demikian dalamnya pengaruh ini, sehingga keadaan bumi dalam salah satu dari kedua hal yang riiwbut tadi cukup berlainan dari yang sekarang, tidak akan mungkin ada hidup seperti yang kita kenal sekarang. Di antara semua planet sepanjang pengetahuan kita, bumi adalah satu-satunya yang memung­kinkari adanya hidup, yang disebabkan oleh hubungannya dengan matahari." Kemudian itu beliau menyemukakan pula hasil-hasil ilmiah yang menyata­kan bahwa pada bintang-bintang seumpama Mercury atau Mars, ataupun bintang-bintang yang lain tidak mungkin terdapat kehidupan, kemudian beliau menyatakan pula tentang bumi.

"Bumi berputar pada sumbunya dalam waktu duapuluh jam, atau dengan kecepatan kira-kira seribu mil sejam. Misalnya ia berputar dengan kecepatan seratus mil sejam. Mengapa tidak boleh jadi? Maka dengan demikian hari-hari siang dan malam hari akan berlangsung sepuluh kali lebih lama daripada sekarang. Pancaran panas matahari selama musim kemarau akan membakar segala tumbuh-tumbuhan selama hari siang yang lama itu, sedangkan pada malam hari, dalam keadaan yang demikian itu, setiap tunas akan membeku. Matahari yang merupakan sumber segala kehidupan, pada permulaannya mempunyai derajat panas tertinggi 12,000 derajat Fahrenheit, dan jauh letak bumi kita ini dari matahari itu adalah demikian rupa, sehingga "api abadi" itu menjadi cukup untuk sekedar memanaskan kita dan tidaklah terlampau panas.

 Derajat panas ini sungguh mengagumkan, clan selama jutaan tahun per­ubahan-perubahan adalah demikian kecilnya, kita kena( ini dapat berllngsung terus. Sekiranya derajat panas di bumi ini rata-rata berubah sebanyak lima­puluh derajat dalam satu tahun, maka segala macam tumbuh-tumbuhan akan mati, hangus atau menjadi beku, demikiarn juga manusia. Bumi beredar mengelilingi matahari dengan kecepatan delapanbelas mil tiap detik. Andai­kata kecepatan edaran ini 6erlainan, katakanlah enampuluh atau empatpuluh mil satu detik, jarak antara bumi dengan matahari akan terlampau jauh atau ter­lampau dekat bagi kehidupan kita untuk berlangsung terus."

 Tentang sempitnya daerah clan ruang untuk hidup beliau berkata: "Jarang sekali kita sadari bahwa segala hidup adalah terbatas pada ruang di antara salju-salju di puncak-puncak gunung dengan panas perut bumi. Dibandingkan dengan garis tengah bumi, maka kesempitan daerah tadi adalah setipis se­tengah halaman dari sebuah buku yang mempunyai 1,000 halaman. Sejarah semua makhluk hanya tertulis di atas permukaan setipis kertas itu. Seandainya segala udara yang akan menjadi cair, ia akan menggenangi bumi sedalam tiga­puluh lima kaki atau sebagian dari enamratus ribu dari jarak ke pusat bumi, suatu penyesuaian yang tepat."

Tentang bulan beliau berkata:

"Jauh letak bulan adalah 240,000 mil, dan pasang naik dan pasang surut air yang terjadi dua kali sehari adalah merupakan ingatan yang halus bahwa bulan itu ada. Di beberapa tempat air pasang di samudera sampai mencapai tinggi enampuluh kaki, bahkan kulit bumi dua kali melengkung keluar se­banyak beberapa inci yang disebabkan oleh tarikan bulan. Segala keadaan nampaknya biasa saja, demikian rupa sehingga sedikit pun kita tidak merasakan kekuatan dahsyat yang mengangkat seluruh daerah samudera sampai beberapa kali tingginya serta melengkungkan bumi, yang kelihatannya begitu kokoh. Mars mempunyai bulan kecil hanya enamribu mil jauhnya daripadanya. Sekiranya bulan kita itu, misalnya tidak sejauh sekarang, akan tetapi hanya limaribu mil saja, maka air pasang akan demikian hebatnya, sehingga segala tanah-tanah rendah yang terdapat di semua benua akan digenangi air bah yang demikian dahsyat sehingga gunung-gunung pun akan segera dihanyutkan, clan barangkali tidak akan ada benua yang akan timbul dari dasar yang dalam itu cukup cepat untuk kembali pada keadaan seperti sekarang. Bumi akan pecah remuk dalam bencana malapetaka ini dan arus-arus udara tiap hari akan menimbulkan angin taufan.

 Seandainya semua benua terhapus oleh air, maka dalam air di seluruh bumi ini akan rata-rata satu setengah mil clan tak mungkin akan ada hidup lagi. Kecuali di dasar samu dera yang tak terduga berapa dalamnya, yang di sana makhluk dapat mencari makanan nya sendiri, sampai dia lenyap pula. Ilmu pengetahuan kelihatannya menyokong teori yang mengatakan bahwa keadaan ini memang pemah terjadi pada zaman kacau-balau purbakala , sebelum bumi menjadi padat. Menurut hukum-hukum yang diakui , air-air pasang tadilah yang telah mendorong bulan makin lama makin jauh letaknya dan semen - tara itu pun memperlambat kecepatan edaran bumi, sehingga hari-hari yang dahulu lama­nya enam jam, sekarang telah menjadi 24 jam. Dengan demikian bulan yang baik budi itu sekarang telah menjadi kesenangan bagi mereka yang sedang berkasih-kasihan dan mem punyai daya harapan akan tetap tinggal dalam keadaan begitu selama ribuan jutaan tahun. Ahli-ahli falakiyah juga percaya bahwa jauh di masa hadapan berdasarkan dalil-dalil falak, bulan akhimya akan kembali ke bumi, dan akan meletus apabila sudah cukup mendekati dunia dan menghiasi bumi kita yang mati itu dengan cincin-cincin seperti keadaannya semula dengan Satumus!"

Akhimya sarjana Morison berkata: "Dari kekacauan percampuran unsur-unsur yang terle pas dari matahari yang berderajat duabelas ribu hawa panas­nya, dan dilontarkan ke ruang angkasa yang luas dengan kecepatan seberapa saja yang dapat kita khayalkan, timbullah sistem matahari kita ini. Dari kekacauan timbullah keadaan yang teratur, demikian baik - nya  sehingga tempat yang akan dihiasi oleh tiap-tiap bagian.pada setiap waktu dapat dirasakan sampai kepada satu detik.

 Keseimbangan keadaan ini adalah demikian sempumanya, sehingga tidak berubah-ubah dalam waktu seribu juta tahun dan tetap demikian sampai hari kemudian. Dan semuanya itu dikendalikan oleh hukum. Dengan hukum ini pula maka keadaan teratur ini sebagaima na yang kita lihat pada sistem matahari, di tempat lain berular,g kembali...."

Sekian kita salin tinjauan A. Cressy Morison.

    Bacalah buku ini dengan seksama sampai tamat, niscaya akan anda lihat dan rasakan bahwa segala  sesuatu yang amat teratur, tersusun dan seimbang di dalam alam ini tidaklah mungkin terjadi sendirinya dan manusia pun tidaklah sunyi sepi hidup dalam alam ini : Benar-benarlah Tuhan. (Menjadikan segala sesuatu, lalu diukumya menurut ukuran tertentu).

Apabila kita turuti tuntunan Islam di dalam kehidupan moden ini, lalu kita tuntut ilmu pengetahuan alam dengan seksama akan lebih mengertilah kita apa yang dimaksud dengan kalimat "Takdir", yang akan jauh lebih maju artinya dalam tanggungan kita, daripada faham kita yang lama-lama.

Dan setelah kita baca dari kita rasakan isi ayat yang kedua itu, dapatlah jiwa kita mengerti maksud ayat ketiga selanjutnya:

"Dan mereka ambil selain DIA (Allah) menjadi tuhan-tuhanan, yang tidak sanggup menciptakan suatu pun, malahan merekalah yang diciptakan dan tidak ada kekuasaan mereka terhadap diri mereka sendiri untuk mendatangkan bahaya ataupun manfaat, don tidaklah mereka itu menguasai maut, tidak pula menguasai hayat dan tidak pula menguasai hari kebangkitan kembali."

 Apabila kita renungkan alam dengan pengetahuannya yang Iuas, sebagai sejemput kecil telah dibayangkan oleh Morison tadi, berfikirlah kita: Segala isi cakrawala, bulan, bumi, bintang-bintang Saturnus dan Venus, Mars dan Jupiter dan berjuta bintang yang lain, semuanya diatur menurut suatu HUKUM yang telah ditentukan (ajalin musamman), tidak boleh keluar dari garis itu walaupun sedetik, sehingga semuanya tidak ada yang berkuasa atas dirinya: Maka betapa lagi makhluk yang lain, baik manusia sendiri yang jaminannya untuk hidup hanya pada setengah halaman dari buku tebal 1,000 halaman? Ataupun makhluk yang lain?

 Alangkah bodoh manusia yang menuhankan sesuatu yang selain Allah! Berhala yang mereka sembah tidak dapat menjadikan sesuatu pun tidak dapat menciptakan dirinya sendiri! Berhala itu hanya ciptaan belaka dari manusia, dan manusia adalah ciptaan Tuhan, dalam daerah terbatas di bumi yang sempit.

Di ayat keempat dan kelima dikatakan bahwa orang-orang yang kafir, yang menampik kebenaran dengan serta-merta telah menolak seruan kebenaran yang dibawa oleh Nabi. Mereka dakwakan bahwasanya segala yang'diserukan oleh Rasul Allah itu hanya kata bohong yang dibuat-buat belaka, dan dalam kebohongan itu dia dibantu oleh suatu kaum dari tukang-tukang dongeng, dikumpulnya dongeng itu falu dihafalkannya. Dan dongeng itulah yang diulang-ulangkan pagi dan petang.

    Di ujung ayat keempat dinyatakan bahwa orang yang pada sikap pertama (a priori) telah bersikap menampik kebenaran (kafir), selalu memilih jalan, gelap (zhulm) untuk memper tahankan keingkarannya. Dia tak mau mengerti, dia tidak dapat diajak berunding. Dirinya didindingnya dengan kepalsuan (zhur). Sebab itulah maka agama Islam selalu menghasung ummat manusia supaya mempergunakan otak berfikir dan menyelidik. Agama Islam menyu ruh dan menggalakkan setiap orang menuntut ilmu pengetahuan. Karena hanya orang yang berilmu jualah yang dapat terbebas daripada zhulm (kegelapan sikap) dan zhur (kepalsuan) Sesudah itu datanglah ayatyang keenam dengan secara lemah-lembut:

    "Katakanlah olehmu, hai utusanKu, bahwasanya yang menurunkan segala wahyu yang Furqan ini ialah Allah. Yaitu Tuhan Yang Maha Mengetahui akan segala rahasia yang terkan dung di seluruh langit dan di bumi pun. Dan Allah Yang Maha Mengetahui akan segala raha sia langit dan bumi itu adalah mem­punyai sifat Pemberi Ampun dan Penyayang atau Pemurah."

 Sikapmu yang penuh dengan kegelapan dan kepalsuan, lain tidak hanya­lah karena se mata hatimu belum terbuka. Kalau mata hati telah terbuka, engkau hanyalah semata makhluk kecil saja, yang hidup di bawah kasihan Tuhan. Kalau kamu telah menginsafi ini, dan kamu pun surut ke dalam garis kebenaran, maka segala dosa keingkaranmu selama ini akan diampuni. Tuhan amat kasihan melihat kamu meraba-raba di dalam gelap-gulita hidup, tidak melihat cahaya terang.

 Kebenaran itu ada, tetapi dia masih tersembunyi di dalam sekali, tertimbun oleh kebeba lan dan kelengahanmu, sehingga engkau hidup dalam serba kegelapan, walaupun matahari ada, dan kepalsuan walaupun sepuhan warna emas tidak dapat menyembunyikan tembaga atau emas lancung. Terimalah seruan Nabi ini, niscaya hatimu akan dipenuhi oleh terang, sehingga kamu akan dapat membedakan yang buruk dengan yang baik, yang baik dengan yang hak. Karena untuk inilah dia diturunkan, yaitu untuk "Furqan" membeda­kan yang terang dengan yang gelap.....

 01  02  03  04  05  06  07  08  09  10                                               Back To MainPage       >>>>