Tafsir Surat Al-Furqan ayat 17 - 20         

(17) Dan pada hari itu Tuhan akan mengumpulkan seluruh mereka dan segala yang mereka sembah selain Allah itu. Maka bersabda­lah Tuhan: Kamukah yang telah menyesatkan hamba-hambaKu itu, ataukah mereka yang telah tersesat sendiri?

 

 (18) Menjawablah mereka: Maha Suci Engkau ya Tuhan, tiadalah layak bagi kami akan mengambil pula selain Engkau menjadi pemimpin-pemimpin. Tetapi Engkau telah memberikan kesenangan kepada mereka dan kepada nenek-moyang mereka, sehingga mereka pun lupa akan peringatan, maka lantaran itu jadilah kaum yang hancur luluh.

 

 (19) Maka (sabda Tuhan): Sesungguhnya mereka telah membohongi apa yang telah kamu katakan itu. Maka tidaklah kamu akan berdaya untuk mengelak­kan siksa dan tidak pula ada yang dapat menolong. Dan barangsiapa di antara kamu masih berlaku aniaya, akan Kami timpakan siksa yang besar.

 

(20) Dan tidaklah Kami mengutus sebelum engkau seorang Rasul pun melainkan semuanya memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebagian kamu menjadi percobaan bagi yang lain. Adakah kamu sabar? Dan adalah Tuhan engkau itu selalu memperhati­kan.

Pertentangan Yang Memuja Dengan Yang Dipuja

Kelak had kiamat itu pasti datang: Seluruh insan akan dikumpulkan oleh Tuhan, clan dikumpulkan pula bersama dengan mereka segala orang atau barang yang selama ini mereka jadikan pujaan, yang mereka sembah. Entah yang mereka sembah dan puja itu berhala buatan tangan mereka sendiri, atau lambang yang timbul dari rangkaian khayal, lalu dipaksa supaya dipandang sebagai suatu kenyataan, atau syaitan clan hantu, pohon dan batu, keris atau pedang pusaka, atau kuburan guru yang telah mati, atau seorang pemimpin sudah dianggap sebagai Tuhan, walaupun lidah tidak mengakui. Semua yang disembah itu akan dihidupkan bersama dengan yang menyembah iadi dalam suatu pertemuan besar, lalu ditanyakan kepada persembahan-persembahan itu apakah mereka yang telah mengajarkan ajaran yang sesat kepada si penyem­bah itu? Adakah mereka menanamkan pengaruh dan penipuan, sebagai per­buatan Fir'aun atau Namrudz di zaman purbakala, atau manusia-manusia yang lupa diri karena mencapai kebesaran di dunia moden, sehingga mereka me­minta, supaya mereka diagungkan sebagaimana mengagungkan Tuhan, dan kalau sedikit saja kurang pemujaan kepada mereka, mereka pun marah, se­hingga berakibat bahwa manusia yang disesatkan itu tidak sanggup berfikir dan meninjau kesalahan mereka?

Ataukah si pemuja penyembah tadi yang sesat karena ketotolannya. Mereka takut melihat tempat yang seram, lalu mereka puja tempat yang seram itu. Mereka muliakan suatu benda lalu mereka sembah?

 Manusia-manusia yang telah mabuk oleh kebesaran bisa menyusun fikiran orang banyak secara teratur, supaya mengakui bahwa beliau adalah Maha Kuasa. Lama-lama datanglah bisik-desus teratur bahwa beliau mendapat wahyu dari Tuhan, bahwa perbuatan beliau tidak pemah salah dan di zaman purbakala sengaja dikatakan bahwa raja-raja bukanlah berasal dari manusia, tetapi putera Tuhan, keturunan dari Dewa Zeus (Iskandar) atau anak dari Sang Surya Matahari atau Raja (Fir'aun Mesir). Dai Nippon mempunyai dasar kepercayaan bahwa raja-rajanya adalah keturunan Amaterasu Omikami yang datang dari matahari dan menciptakan pulau-pulau Jepang.

 Selain daripada itu raja-raja yang dipuja orang-orang yang shalih atau orang-orang yang berjasa, setelah dia mati dipuja kubumya, setelah dia hilang dibuatkan patungnya.

 Manusia-manusia ataupun raja, ataupun pemimpiri, ataupun orang-orang yang berjasa yang dipuja, akan dihadapkan dalam sidang majlis Tuhan ber­sama dengan orang-orang yang memuja itu, ditanyai, kaliankah yang telah menyebabkan orang-orang, ini jadi sesat? Ataukah mereka sendiri yang tolol, yang sontok fikiran, lalu khayal ingatan mereka sendiri mereka tuhankan?

Salah satu dari keduanya pasti ada atau dipusatkan oleh oxang-orang yang berkuasa itu, atau manusia sendiri sesat karena tidak ada bimbingan. Manusia sendiri menjadi sesat, karena tidak tahu jalan. Kebesaran alam yang diciptakan Tuhan mempesonakan sehingga lupa bahwa yang mencipta­kan alam itulah Yang Maha Besar, bukan alam itu sendiri, karena dia hanya ciptaan.

 Pada ayat 18 ini dinyatakan jawaban orang-orang atau barang-barang yang dipuja itu atas pertanyaan Tuhan tadi. Maha Suci Engkau. Insaflah kami bahwa ini tidak berarti apa-apa, tidak ada kekuatan dan kebesaran pada kami, hanyalah anugerah Engkau jua. Mereka itulah yang salah. Anugerah ke­senangan clan kemewahan hidup yang pemah Engkau berikan kepada mereka, mereka lupa.daratan, mereka tidak memperdulikan lagi pengajaran yang baik, sehingga akhimya mereka pun binasa. Hilanglah dasar tempat tegak clan kaburlah tujuan kehidupan. Dan kalau dasar dan tujuan telah hilang tuntutlah peribadi, dan apabila peribadi tidak tegak lagi itulah dia kebinasaan.

 Di sini patutlah direnungkan apakah artinya kebahagiaan hidup itu. Banyaklah manusia yang salah faham, menggantungkan pengharapan hidup semata kepada kemewahan dan kecukupan. Di zaman moden orang berlomba menuju hidup yang mewah. Barang-barang yang kurang perlu dipandang sangat perlu, sebaliknya yang amat perlu tidak menjadi perhatian. Orang me­nyangka bahwa penilaian hidup adalah semata-mata pada pangkat yang tinggi, rumah yang mewah, kendaraan mobil model yang paling baru. Sepintas lalu kefihatan kegembiraan mereka itu. Tetapi kian lama hilanglah suatu yang amat penting yaitu kekayaan batin. Penuh di luar, tetapi kosong di dalam. Ke­mewahan kerapkali menjadi racun bagi jiwa. Diberi Allah Ta'ala kesempatan, tetapi tidak pandai mempergunakan kesempatan itu. Akfiimya menyembah clan memuja kepada benda clan makhluk, mendewakan sesama manusia atau barang yang tidak ada harganya, hanyalah dipaksakan kepada jiwa diri sendiri buat memujanya.

 Di ayat 19 membalikkan bicara kepada orang-orang yang memperserikat­kan Tuhan dengan manusia atau benda itu. Tuhan bersabda: Sesungguhnya jelaslah sekarang bahwa pemuja-pemujamu itu telah mendustakan atau me mungkiri apa yang kamu katakan. Mereka melepaskan diri daripada tanggung­jawab, mereka pun merasakan bahwa tidak ada sesuatu pun yang berhak dijadikan sebagai pelindung selain Allah, tidak ada Wali lain. Wali hanya satu, yaitu Tuhan Allah. Oleh sebab itu kamu tidaklah dapat menghindarkan diri lagi daripada siksa Ilahi dan tidak seorang pun yang dapat menolong clan membela, kamu di dalam menghadapi azab 'Ilahi itu. Dari masa ke masa Tuhan telah mengirimkan utusanNya buat memberikan penerangan yang jelas tentang Hak Nabi dipuja, dengan sendirinya, kamu juga yang tidak perduli.

 Sudahlah hal yang wajar bahwa barangsiapa yang bersalah akan merasai siksaan yang besar. Apatah lagi di dalam ayat yang lalu sudah dijelaskan pula oleh Tuhan:

"Tuhan tidak dapat mengampuni jika Dia dipersekutukan dengan yang lain, dan Dia dapat member! ampun dosa yang lain, (selain syirik) bagi barang­siapo yang dikehendakiNya. °      (an-Nisa': 48)

 Kemudian itu diulang lagi menjelaskan pada ayat 20, bahwasanya sejak zaman purbakala, jauh masanya sebelum Nabi Muhammad s.a.w. telah ber­ulang-ulang jua Tuhan mengirimkan utusan ke dalam alam ini. Utusan itu di pilih dari kalangan manusia sendiri. Manusia, bukan malaikat! Manusia bukan jin! Karena tidaklah sesuai kalau yang akan diberi peringatan itu makhluk insani, lalu dipilih utusan yang bukan insani. Semua Rasul-rasul itu makan clan minum sebagai manusia yang lain, masuk pasar keluar pasar seperti manusia yang lain. Bukan mereka segolongan kecil manusia yang hidup dalam istana gading, berani memberikan pelajaran tentang hidup, padahal dia sendiri tidak berani masuk ke dalam gelanggang hidup. Rasul-rasul itu hidup dalam kalangan manusia, makan dan minum, masuk pasar, artinya hidup di tengah-tengah masyarakat ramai. Mereka datang membawa wahyu, menunjukkan jalan dan tuntunan yang diberikan Ilahi tentang bagaimana caranya melaksanakan dan mengisi hidup dengan cita-cita tinggi dan, mumi.

 Nabi Muhammad s.a.w. pemah mengatakan:

"Perkara-perkara yang berhubungan dengan agama, maka termasuklah ke dalam tugasku. Tetapi perkara-perkara yang berkenaan dengan duniamu, kamu lebih mengerti."

 Dalam pergaulan hidup yang luas itu, Rasul-rasul sama-sama memikul yang berat clan menjinjing yang ringan. Kadang-kadang suatu pemikiran men­dapat ujian atau percobaan sebab pergaulan hidup itu ialah tempat menguji kebenaran fikiran. Itu sebaliknya maka dikatakan dalam inti ayat 20 ini. "Dan Kami jadikan sebagian kamu menjadi ujian"untuk yang lain."

 Banyak sekali rahasia jiwa yang terkandung di dalam ayat ini. Seorang Rasul ataupun seluruh Rasul menyerbukan dirinya ke tengah masyarakat, tetapi dia akan memimpin masyarakat itu kepada kehidupan yang lebih tinggi dan cita yang lebih mulia.

Bukan mereka di luar pagar menunjuk-nunjuk, ini benar ini salah, padahal tak berani ke terigah, Rasul bukan begitu. Tetapi mereka berjalan di muka sekali memberi contoh clan berkata: "Mari turutkan aku!"

 Adu-mengadu nilai, banding-membanding kebenaran. Yang sejati tidak akan dijalankan dengan paksaan. Kebenaran rnemang dengan sendirinya, tetapi pintu hati buat menerima kebenaran, tidaklah semudah menarikkannya. Kebenaran mutlak datang dari Tuhan, clan Rasul adalah saluran Tuhan me­nyampaikan kebenaran itu kepada manusia, berupa wahyu. Yang mendapat wahyu hanyalah Nabi itu saja. Ketika Nabi Muhammad Rasulullah s.a.w. me­nerima tugas wahyu itu, dia makan clan minum dan dia masuk ke fengah pasae, ke tengah pergaulan hidup. Kata wahyu itu dilemparkannya ke tengah masya­rakat. Ada golongan yang menerima sebagai Abu Bakar, Umar, Usman clan Ali clan seluruh sahabat yang mula-mula, clan ada pula golongan yang menolak mentah-mentah, "air tidak lalu, bubur pun tidak lalu", artiya tidak mau me­nerima samasekali. Itulah golongan sebagai Abu Jahal, Abu Lahab clan Abu Sufyan dengan para pengikutnya pula.

 Maka datanglah pertanyaan dalam ayat ini. Atashbiruuna?" Apakah kamu tahan? Apakah kamu tabah? Apakah kamu kuat?

 Pertanyaan ini tidak lagi dihadapkan kepada seorang Muhammad sebagai Rasul, tetapi kepada seluruh yang telah memegang keyakinan yang telah di= ajarkan Muhammad. "Apakah kamu sekalian sabar?"

 Nabi Muhammad s.a.w. dan para pejuang angkatan pertama telah ber­pulang ke rahmatullah, tetapi al-Quran masih tinggal, sehuruf pun tiada yang hilang, sebaris pun tiada yang lupa dan setitik pun tiada yang hapus. Al-Quran masih tetap tinggal sebagai pedoman, perjuangan kita.

 Penerima-penerima waris dari Rasul dan meneruskan perjuangan ini. Sekali kita telah menyatakan tekad bahwa tidak ada Tuhan selain Allah clan Muhammad utusan Allah, sekali kita telah bertekad menganggap al-Quran sebagai imam, tidaklah akan berarti pengakuan itu kalau kita bawa al-Quran itu bersemadi ke dalam istana gading, atau bersembunyi ke rimba sunyi. Bahkan kita pun harus makan minum untuk menguatkan tubuh, dan masuk ke tengah pasar ramai, ke tengah masyarakat membawa obor kita. Di antara kita akan mendapat ujian tentang kebenaran pendirian kita, pendirian yang berdasarkan pada wahyu. Kebenaran yang mutlak. Apakah kita sabar kena angin dan taufan? Apakah kita tabah menghadapi kesulitan? Kejayaan perjuangan kita sebagian besar tergantung kepada kesabaran dan ketabahan kita juga. Kerap­kali orang tidak lekas menerima kebenaran yang kita bawa, bukanlah karena dia tidak beriar, melainkan karena kitalah yang tidak sanggup memperjuang­kannya.

 Kadang-kadang kita - gagal, maka jika kita gagal, janganlah ragu akan kebenaran yang kita perjuangkan. Mungkin teknik belum kena atau taktiknya belum sempuma. Tertumbuk biduk dibelokkan, tertumbuk kata difikiri! Per­jalanan teruskan juga.

 Di akhir ayat diberikanlah peringatan bahwa Tuhan selalu melihat mem­perhatikan dan memandang dengan amat teliti apa jua pun yang kita kerjakan. Isi yang mendalam lagi pada ayat ini, ialah bahwa sekalian Rasul itu adalah manusia belaka, manusia pilihan. Mereka adalah manusia yang dipilih-pilih dari kalangan manusia sendiri, akan diutus kepada sesamanya manusia. Maka jika dia memberikan contoh teladan dapatlah mata kita menyaksikan clan dapat pula kita tiru. Dengan tegas Tuhan bersabda:

"Sesungguhnya adalah Rasul itu menjadi teladan yang baik untuk kamu."

Kehidupan Nabi Muhammad s.a.w. adalah contoh kehidupan yang paling sempurna, yang dirumuskan oleh salah seorang Pujangga Islam dengan sebutan "The Ideal Prophet" atau "Al-Matsalul Kamil", artinya teladan hidup yang paling sempuma. Maka sejak kita menerima taklif dari Ilahi, kita akan ber­usaha meneladan kehidupan itu sedaya upaya kita. Tujuan terakhir kehidupan kita ialah: "Hidup menyontoh kehidupan Nabi, menurut tenaga yang ada pada kita." *

Pengalaman ummat-ummat yang terdahulu menjadi perbandingan bagi kita ummat yang datang di belakang. Dan kita bersyukur bahwa al-Quran telah terkumpul secukap selengkapnya di dalam Mushhaf. Sehingga penyelewengan tidak bisa terjadi.

 Ummat Yahudi telah tersesat seketika dari rasa dendam mereka menuduh bahwa Nahi Isa `alaihis-salam adalah anak yang dilahirkan di luar nikah. Alang­kah rendahnya tuduhan itu. Sebaliknya orang Kristen karena sangat cinta kepada Nabi ?sa dan sebagai menghargai pengurbanan mengatakan pula bahwa beliau: "Anak Tunsgal Tuhan".

 Tidak!

 Seluruh utusan Allah itu adalah manusia yang telah dipilih. Dan rohnya telah dilatih buat menerima wahyu itu. Seluruh utusan, sejak Adam atau sejak Nuh, melalui Ibrahim, Musa, Isa dan sampai kepada Muhammad s.a.w. semua­nya manusia. Manusia pilihan dan terpilih!

 Kalau al-Quran sebagai tempat pulang yang mutlak bagi seorang Muslim tidak terpelihara baik-baik, ada juga kemungkinan bahwa Nabi Muhammad itu sendiri pun akan dilupaken pula, kedudukannya dari manusia dinaikkan kepada` derajat ketuhanan. Bahkan meskipun al-Quran ada, pemah juoa di­coba orang buat membawanya ke sana, sebagaimana terjadi dalam pelajaran­pelajaran kaum Shufi yang kemasukan pengaruh dari kaum filsafat Neo Platonisme. Mereka mengatakan bahwa Muhammad itu adalah mempunyai dua arti. Arti yang lahir ialah Muhammad anak Abdullah yang terjadi daripada `alaq, sebagai manusia yang lain juga.

 Tetapi arti yang hakiki, bahwa Muhammad itu adalah "Al-Haqiqatul Muhammadiyah", yaitu Allah Ta'ala menyatakan diriNya yang hakikat Muhammad, (Ibraza Haqiqatihil Muhammadiyah), malahan Jismahu (tubuh­Nya) Waruhahu (rohNya) dan Ma'naahu. Malahan ada penafsir yang mengata­kan bahwa ketika dia dilahirkan ke dunia langsung dari perutnya, seumpama orang yang dibedah.

Al-Quran dengan tegas menyatakan:

"Saya ini tidak lain, melainkan manusia sebagai kamu juga, lalu diwahyukan kepadaku."

Al-Quran sekali lagi al-Quran.

Jangan sampai kita diselewengkan oleh penafsir setengah penafsir yang sadar atau tidak sadar, sudah kemasukan pelajaran lain yang diselundupkan ke dalam Islam.

SELESAI TAFSIR JUZU' 18 DENGAN KURNIA DAN HIDAYAT ALLAH

01  02  03  04  05  06  07  08  09  10             Back To MainPage       >>>>