TAFSIR AYAT 40 - 46  

(40) Wahai Bani Israil : Ingatlah nikmat Ku yang telah Aku karuniakan kepada kamu dan penuhilah janjimu, agar Aku penuhi (pula) janjiKu, dan semata-mata kepadaku sajalah kamu takut.

Dakwah Kepada Bani Israil

Sebagai telah kita maklumi pada keterangan-keterangan di atas selain dari persukuan Arab Bani Aus dan Bani Khazraj, maka ada pula penduduk Madinah dari pemeluk agama Yahudi. Mereka bukanlah bangsa Arab keturunan Qahthan atau Adrian.

Tetapi mereka adalah keturunan dari Nabi Ya'qub a.s , Ya'qub putra dari Ishak a. s. dan Ishak putra dari Ibrahim a.s., semuanya adalah Rasul Allah.  Beliau beranak laki-laki 12 orang , di antaranya Nabi Yusuf a.s. Maka berkembang-biaklah anak keturunan Nabi Ya'qub a. s. yang 12 orang ini. Gelar kehormatan yang diberikan Tuhan kepada Nabi Ya'qub a. s. ialah Israil. Ll di ujung itu ialah bahasa Ibrani yang artinya Allah. Israil kononnya berarti Amir pejuang bersama Allah.

Bani Israil menerima Taurat dari Musa a. s. Lama-lama timbullah pada mereka kesan bahwasa nya agama yang mereka pusakai dari nenek-moyang mereka itu yang dirumuskan dalam Taurat Nabi Musa a.s. dan Nabi-nabi yang lain sesudah Musa a.s., adalah khusus buat mereka belaka. Di antara 12 suku Bani Israil itu, yang terbesar adalah keturunan suku anak yang kedua, yaitu Yahuda. Lama kelamaan menjadi kebiasaanlah mereka menyebut diri Yahudi dan agama mereka agama Yahudi, yang dibangsakan kepada Yahuda itu. Padahal yang lebih tepat, supaya semuanya tercakup ialah kalau disebutkan Bani Israil.

Maka selain dari dakwah untuk orang Arab, Qahthan dan Adnan, Nabi Muhammad s.a.w diperintahkan Tuhan menyampaikan dakwah kepada Bani Israil , persukuan mereka yang besar di Madinah ketika itu adalah Bani Nadhir, Bani Qainuqa, Bani Quraizhah dan lain-lain persukuan yang kecil-kecil.

Dengan pindahnya Nabi Muhammad s.a.w ke Madinah, rapatlah pergaulan dengan mereka. Apatah lagi ketika itu kegiatan perdagangan ada di tangan mereka. Mereka selalu bertemu di pasar. Dan telah dibuat perjanjian akan hidup berdampingan secara damai.

Maka diperintahkan kepada Rasulullah supaya menyampaikan dakwah pula kepada mereka.

يَا بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ الَّتِيْ أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَ أَوْفُوْا بِعَهْدِيْ أُوْفِ بِعَهْدِكُمْ وَ إِيَّايَ فَارْهَبُوْنِ
"Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmatKu yang telah Aku karuniakan kepada kamu dan penuhilah janjimu agar Aku penuhi (pula) janjiKu, dan semata-mata kepadaKu sajalah kamu takut. " (ayat 40).

Dihadapkanlah seruan kepada mereka, karena patutlah mereka yangterlebih dahulu menerima kebenaran yang dibawa Muhammad s.a.w mengingat nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka. Di antara bangsa-bangsa yang sejaman dengan mereka dahulunya, kepada merekalah dikhususkan Tuhan nikmat wahyu.

Sampai mereka dilepaskan dari perbudakan Fir'aun dan diberi tanah istimewa pusaka nenek-moyang mereka Ibrahim a. s. dan Ishak a.s., dan berpuluh-puluh banyaknya Nabi dan Rasul dibangkitkan dalam kalangan mereka.

Patutlah mereka mengingat nikmat itu dan dari sebab itu patut pulalah mereka yang dahulu sekali menyatakan percaya pada Muhammad s.a.w. Di samping itu disuruh mereka mengingat kembali janji khusus mereka dengan Allah. Meskipun kitab Taurat sudah tidak ada aslinya lagi, namun janji itu masih bertemu, yaitu bahwa mereka tidak akan mempersekutukan yang lain dengan Allah. Dan supaya beriman kepada Rasul-rasul Allah yang datang menegakkan kepercayaan kepada Allah Yang Maha Esa itu.

Dan dijanjikan pula kelak kemudian hari akan diutus pula searang Rasul dari antara saudara mereka, yaitu Bani Ismail. Itulah Nabi Muhammad s.a.w sekarang Nabi itu telah datang mernbawa ajaran persis ajaran yang telah mereka janjikan dengan Allah itu pula, yaitu Tauhid mengesakan Tuhan. Patutlah mereka ingat janji itu kembali.

Dan Tuhanpun telah berjanji pula dengan mereka, akan memberi mereka kemuliaan di antara manusia dan bangsa-bangsa. Asal mereka tetap setia akan janji itu, Tuhanpun akan memenuhi janjiNya pula. Dan kata Tuhan selanjutnya, kepadaKu sajalah takut! Jangan takut kepada yang lain. Jangan segan menyatakan iman kepada Muhammad karena ancaman dari ketua-ketua mereka, rabbi-rabbi dan ahbar (pendeta-pendeta) mereka. Dan jangan segan menyatakan iman, karena takut akan kalah pengaruh.

Kemudian dijelaskan lagi oleh Tuhan:
 

(41) Dan percayalah kepada apa yang Aku turunkan, yang bersetuju dengan apa yang ada sertamu, dan janganlah kamu jadi orang yang mula sekali mengkufurinya. Dan jangan­lah kamu jual ayat-ayatKu dengan harga yang sedikit; dan semata-mata kepadaKu saja­lah kamu bertakwa.

وَ آمِنُوْا بِمَا أَنزَلْتُ
"Dan percayalah kamu kepada apa yang Aku turunkan. " (pangkal ayat 41)

Yaitu al-Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w.

مُصَدِّقاً لِّمَا مَعَكُمْ
"Yang bersetuju dengan apa yang ada sertamu. "yaitu kitab Taurat.

Tika kamu tilik kembali isi Taurat, yang memerintahkan kamu percaya kepada Allah Ta'ala atau Allah Yang Esa, jangan membuat berhala untukNya dan hendaklah hormat kepada ibu bapakmu, jangan berzina, jangan mencuri, jangan naik saksi dusta, niscaya kamu akan mengakui kebenaran al-Qur'an yang memang itu pulalah pokok ajaran yang dibawanya.

وَلاَ تَكُوْنُوْا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ
"Dan janganlah kamu menjadi orang-orang yang mula­mula mengkufurkannya. "

Karena kalau kamu kufuri, kamu tolak dan kamu tentangkan al-Qur'an itu, berarti kamu menentang kitab yang ada dalam tanganmu sendiri :

وَلاَ تَشْتَرُوْا بِآيَاتِيْ ثَمَنًا قَلِيْلاً
"Dan janganlah kamu jual ayat-ayatKu dengan harga yang sedikit. "

Artinya, karena mcngharapkan kemegahan, lalu kamu dustakan kebenaran ayat Allah. Berapapun pangkat yang kamu dapat lantaran mendustakan kebenaran, namun itu masihlah harga yang sedikit jika dibandingkan dengan kerugian rohani yang kamu dapat.

وَإِيَّايَ فَاتَّقُوْ
"Dan semata-mata kepadaKu sajalah kamu bertakwa. " (ujung ayat 41)

artinya semata-mata perhubungan dengan Allahlah yang patut kamu pelihara clan perbesarlah perasaan tanggungjawabmu dengan Tuhan. Karena kesegananmu menerima kebenaran, lain tidak hanyalah karena kamu hendak memelihara perhubungan dengan kepala-kepala dan ketua-ketua kamu, padahal kepala-kepala dan ketua­ketua itu tidak akan dapat melepaskan kamu daripada bahaya yang akan ditimpakan Allah kepada kamu.

(42) Dan janganlah kamu campur­adukkan yang benar dengan yang batil dan kamu sembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui.

وَلاَ تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَ تَكْتُمُوا الْحَقَّ وَ أَنتُمْ تَعْلَمُوْن
"Dan janganlah kamu campur-adukkan yang benar dengan batil dan kamu sembuyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui. " (ayat 42).

Rasul akan datang dari kalangan saudara sepupu mereka Bani Ismail. Tanda-tandanya sudah jelas dan sekarang tanda itu sudah bertemu. Tetapi pemuka-pemuka agama mereka melarang pengikut mereka percaya kepada Rasul s.a.w karena kata mereka dalam Kitab-kitab Nabi-nabi mereka itu tersebut juga bahwa akan ada Nabi-nabi palsu.

Lalu mereka katakan kepada pengikut-pengikut itu bahwa ini adalah Nabi palsu. Bukan Nabi yang dijanjikan itu. kalau pengikut mereka datang bertanya, mereka sembuyikan kebenaran, dan kitab mereka sendiri mereka tafsirkan lain dari maksudnya semula, padahal mereka telah mengetahui bahwa memang Muhammad s.a.w itulah Nabi dari Bani Ismail yang ditunggu-tunggu itu. Untuk mempertahankan kedudukan, mereka telah sengaja mencampur-adukkan yang benar dengan yang salah, dan menyembunyikan yang sebenarnya.

Ayat 41 untuk peringatan bagi orang-orang awam mereka dan ayat 42 untuk peringatan bagi pemuka-pemuka agama mereka.

(43) Dan dirikanlah sembah - yang dan berikanlah zakat, dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'.

وَ أَقِيْمُوْا الصَّلاَةَ وَ آتُوا الزَّكَاةَ وَ ارْكَعُوْا مَعَ الرَّاكِعِيْن
"Dan dirikanlah sembahyang dan berikanlah zakat, dan rukulah bersama-sama orang-orang yang ruku. " (ayat 43)

Setelah diperingatkan kepada mereka kesalahan-kesalahan dan kecurangan mereka yang telah lalu itu, sekarang mereka diajak membersihkan jiwa dan mengadakan ibadat tertentu kepada Allah, dengan mengerjakan sembahyang, dan mengeluarkan zakat. Dengan sembahyang, hati terhadap Allah menjadi bersih dan khusyu dan dengan mengeluarkan zakat, penyakit bakhil menjadi hilang dan timbul hubungan batin yang baik dengan masyarakat, terutama orang­ orang fakir-miskin, yang selama ini hanya mereka peras tenaganya, dan mana yang terdesak mereka pinjami uang dengan memungut riba.

Apabila Tuhan Allah telah memerintahkan supaya iman kepada keesaan Allah itu lebih di dalamkan dengan mengerjakan sembahyang, kemudian dengan mengeluarkan zakat, maka akan tumbuhlah iman itu dengan suburnya. Karena ada juga orang yang telah mengaku beriman kepada Allah tetapi dia malas sembahyang. Berbahayalah bagi iman itu, karena kian lama dia akan runtuh kembali. Dan hendaklah dididik diri bermurah hati dengan mengeluarkan zakat; karena bakhil adalah musuh yang terbesar dari iman. Apabila berperangai bakhil, nyatalah orang itu tidak beriman !

Kemudian mengapa disuruh lagi ruku' bersama dengan orang yang ruku' ? Tidakkah cukup dengan perintah sembahyang saja ? Apakah ini bukan kata berulang ?

Bukan ! Ada juga orang yang berfaham bahwa asal aku sudah sembahyang sendiri di rumahku, tidak perlu lagi aku campur dengan orang lain. Itulah yang salah ! Sembahyang sendiripun belum sempurna, tetapi rukulah bersama-sama dengan orang yang ruku', bawalah diri ke tengah masyarakat. Pergilah berjama'ah !.

Maksud yang kedua, arti ruku ialah khusyu'. Jangan hanya sembahyang asal sembahyang, sernbahyang mencukupi kebiasaan sehari-hari saja, tidak dijiwai oleh rasa khusyu' dan ketundukan.

Inilah yang diserukan kepada Bani Israil yakni agar mereka teruskan saja agama yang diajarkan Musa a.s. kepada lanjutannya, yaitu yang diteruskan oleh Muhamrnad s.a.w agar mereka menjadi Muslim, menyerah diri kepada Tuhan, dan hiduplah sebagai Muslim yang sejati.

Kemudian itu Allah meneruskan lagi sabdaNya kepada Bani Israil dengan mengingatkan
kesalahan selama ini :

(44) Apakah kamu suruh manu- sia berbuat kebajikan, akan kamu lupakan dirimu (sendiri) pada hal kamu membaca kitab; apakah tidak kamu pikirkan ?

أَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَ تَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَ أَنْتُمْ تَتْلُوْنَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُوْن
"Apakah kamu suruh manusia berbuat kebajikan dan kamu lupakan dirimu (sendiri), padahal kamu membaca kitab, apakah kamu tidak pikirkan?" (ayat 44).

Teguran keras ini adalah kepada pemuka-pemuka dan pendeta­pendeta mereka. Bukan main keras larangan mereka : "Ini haram !" Bukan main keras perintah mereka : "Ini wajib", seakan-akan merekalah yang empunya agama itu, padahal diri mereka sendiri mereka lupakan. Hanya mulut mereka yang keras mempertahankan agama untuk dipakai oleh orang lain, adapun untuk diri mereka sendiri, tidak usahlah dipersoalkan; padahal mereka membaca kitab, hafal nomor ayatnya, ingat pasalnya, bahkan salah titik dan salah baris sedikit saja, mereka tahu. Tetapi apa isi dan intisari dari kitab itu, apa maksudnya yang sejati, tidaklah mereka mau mengetahui dan tidak mereka pikirkan.

Inilah penyakit pemuka-pemuka atau yang disebut pendeta atau ahbar mereka pada waktu itu. Dengan keras mengoyak mulut mempertahankan apa yang rnereka katakan agama, padahal sudah tinggal hanya mempertahankan kata (textbook), tetapi tidak ada paham mereka sama sekali akan maksud. Paham menjadi sempit dan fanatik, takut akan perubahan, dan gentar mendengar pendapat baru. Maka datanglah teguran : Apakah tidak kamu pikirkan ? Atau lebih tegas lagi; Apakah kamu tidak tidak mempergunakan akalmu ?

Dengan ini Tuhan telah memberikan terguran bahwa iman yang sebenarnya, melainkan iman yang tumbuh dari hati sanubari. Sebab itu jika ayat ini tertentu kepada pemuka Yahudi pada mulanya, namun dia telah direkam dalam al-Qur'an untuk ingatan kita. Jangan sampai kita membacanya, lalu Yahudi yang terbayang di hadapan kita, tidak diingat bahwa Islam sendiripun akan runtuh dari dalam, kalau iman sudah hanya jadi hafalan mulut, tidak rumpunan jiwa.

(45) Dan mohonlah pertolongan dengan sabar dan sembahyang. Dan sesungguhnya hal itu memang amat berat, kecuali. atas orang-orang yang khusyu.

وَ اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَ الصَّلاَةِ
"Dan mohonlah pertolongan dengan sabar dan sembahyang. " (pangkal ayat 45).

Dipesankan dalam rangka nasehat kepada pemuka-pemuka Yahudi, sebagai merangkul mereka ke dalam suasana Islam, supaya meminta tolong kepada Tuhan, pextama dengan sabar, tabah, tahan hati dan teguh, sehingga tidak berkucak bila datang gelombang kesulitan.

Maka adalah sabar sebagai benteng. Dengan sembahyang, supaya jiwa itu selalu dekat dan lekat kepada Tuhan. Orang yang berpadu di antara sabarnya dengan sembahyangnya, akan jernihlah hatinya dan besar jiwanya dan tidak dia akan rintangan dengan perkara-perkara kecil dan tetek-bengek.

Percobaan yang harus kita tempuh dalam menyeberangi kehidupan ini kadang-kadang sangatlah besarnya. Sehingga jiwa harus kuat dan pendirian harus kokoh. Sebab itu untuk memintakan agar selalu mendapat pertolongan dari Tuhan, agar kita dikuatkan menghadapi kesulitan itu, tidaklah botch terpisah di antara keduanya ini. Sabar dan Shalat yaitu membuat hati jadi tabah dan selalu mengerjakan sembahyang.

Ingatlah betapapun menyabarkan hati., kadang-kadang karena beratnya yang dihadapi, jiwa bisa bergoncang juga. Maka dengan sembahyang khusyu sekurang-kurangnya 5 waktu sehari semalam, hati yang tadinya nyaris lemah niscaya akan kuat kembali.

Maka sabar dan sembahyang itulah alat pengokohkan pribadi bagi orang Islam. Sebab selalu terjadi di dalam kehidupan, suatu marabahaya yang kita hadapi sangatlah sakitnya, kadang-kadang tidak tertanggung, padahal kemudian, setelah marabahaya itu lepas, barulah kita ketahui bahwa bahaya-bahaya yang kita lalui itu adalah mengakibatkan suatu nikmat yang amat besar bagi diri kita sendiri. Yang saya katakan ini adalah pengalaman berkali-kali, baik bagi diri saya ataupun diri tuan.

Dalam cerita Nabi Ibrahim a.s. (kelak pada ayat 124 Surat al-Baqarah ini) kita akan bertemu kenyataan itu. Beliau diuji dengan berbagai ujian , dan setelah dengan segala kesabaran ditempuhnya ujian itu dan diseberanginya, diapun diangkat menjadi IMAM. Kehidupan Nabi­-nabi adalah contoh teladan yang harus diambil orang yang beriman.

Tetapi ayat selanjutnya mengatakan:

وَ إِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ
"Dan sesungguhnya hal itu memang berat. "

Yang dimaksud ialah sembahyang; bahwa mengerjakan sembahyang itu amat berat. Orang disuruh sabar, padahal hatinya sedang susah. Lalu dia disuruh sembahyang; maka dengan kesalnya dia menjawab: "Hati saya sedangsusah, saya tidak bisa serrrbahyang. "Mengapa dia merasa berat sembahyang ? Sebab jiwanya masih gelap, sukarlah menerima nasehat supaya sabar dan sembahyang. Kalau nasehat yang benar itu ditolaknya, tidaklah dia akan terlepas dari kesukaran yang tengah dihadapinya. Lalu datang penutup ayat :

إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِيْن
"Kecuali bagi rnang-orang yang khusyu'. " (ujung ayat 45)

Khusyu artinya tunduk, rendah hati dan insaf bahwa kita ini adalah hamba Allah. Dan Allah itu cinta kasih kepada kita. NikmatNya lebih banyak daripada cobaanNya. Saat kita menerima nikmat lebih banyak daripada saat menerima susah. Lantaran yang demikian itu, jika diajak supaya sabar dan sembahyang, orang yang khusyu itu tidak bertingkah lagi. Sebab dia insaf bahwa memang keselamatan jiwanya amat bergantung kepada betas kasihan Tuhannya. Jika datang percobaan Tuhan, bukanlah dia menjauhi Tuhan, tetapi bertambah mendekatiNya.
Dan siapakah orang yang bisa menjadi khusyu ?

( 46 ) (yaitu) orang-orang yang sungguh percaya , bahwasanya mereka akan bertemu dengan Tuhan mereka, dan bahwasa­nya mereka akan kembali kepadaNya.

اَلَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ أَنَّهُمْ مُّلاَقُوْ رَبِّهِمْ وَ أَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ
"Yaitu orang-orang yangsungguh percaya, bahwasarrya mereka akan bertemu dengan Tuhan mereka, dan bahwasanya kepadaNya mereka akan kembali. " (ayat 46).

Untuk menambahkan khusyu hendaknya kita ingat, sampai menjadi keyakinan, bahwasanya kita ini datang ke dunia atas kehendak Tuhan dan akan kembali ke akhirat dan akan bertemu dengan Tuhan. Di hadapan Tuhan akan kita pertanggung jawabkan semua amal dan usaha kita selama di dunia. Maka dari sekarang hendaklah kita latih diri mendekati Tuhan. Ibaratnya ialah sebagai apa yang disebut di jaman sekarang dengan kalimat relasi (relation). Datang tiba-tiba saja kita berhadapan dengan Tuhan, padahal makrifat terlebih dahulu tidak ada, dan hubungan kontak jarang sekali, tentu akan membuat bingung, karena tidak ada persiapan. Sampailah Imam Ghazali mengatakan bahwa jika kamu berdiri sembahyang hendaklah sebelum kamu takbir kamu ingat seakan-akan itulah sembahyangmu yang terakhir. Mungkin nanti engkau akan mati, sebab itu engkau khusyukan hatimu menghadap Tuhan.

Inilah beberapa seruan kepada Bani Israil, untuk mengembalikan mereka kepada pangkalan agama yang sejati. Sebab inti agama yang mereka peluk selama ini itulah dia inti Islam dan marilah menjadi Islam. Kamulah yang lebih patut mula-mula menyambutnya.

Dalam ayat ini bertemu kalimat yazhunnuuna, yang kita artikan "Mereka yang sungguh percaya". Pokok ambilan kalimat ialah zhann yang menurut arti asalnya ialah berat pikiran kepada satu jurusan dan belum yakin benar. Hasil ijtihad di dalam seorang mujtahid menetapkan suatu hukum tidaklah ada yang yakin, melainkan zhann saja.

Kalau yazhunnuuna [ يَظُنُّوْنَ ] dalam ayat ini kita artikan: "Orang-orang yang telah berat sangkanya bahwa dia akan berjumpa dengan Tuhannya, "niscaya tidaklah kena maksud iman. Sebab seorang mukmin wajiblah yakin bahwa hari akan kiamat dan dia akan mempertanggungjawabkan amalnya di hadapan Tuhan. Di dalam ayat 4 daripada Surat 2, al­Baqarah dijelaskan sifat-sifat orang yang takwa, yaitu orang yang yakin akan hari akhirat.

Oleh sebab itu maka kebanyakan Ulama Tafsir memberi arti Yazhunnuuna, dengan "mereka yang sungguh-sungguh percaya. "Bukan menurut artinya yang asal, yaitu "orang-orang yang berat sangkanya".

Ibnu Jarir menegaskan dalam Tafsirnya: "Orang Arab kadang­kadang menamai yakin itu dengan zhann, sebagaimana juga mereka pernah menamai gelap dengan sadafah dan terang dinamainya sadafah. Orang yang menyeru meminta tolong mereka namai shaarikh , dan orang tempat memohonkan pertolongan itu kadang-kadang mereka namai shaarikh juga. Dan ada lagi beberapa perumpamaan pemakaian nama-nama yang lain, yaitu menamai sesuatu keadaan dengan lawannya."Sekian kata Ibnu Jarir.

Memang terdapat dua tiga kali di dalam al-Qur'an, kata zhann artinya yakin. Di antaranya terdapat dalam Surat 69, al-Haqqah ayat 20. Dan pernah juga terdapat dua ayat berdampingan, keduanya memakai kalimat zhann, ayat yang pertama berarti berat sangka saja. Dan ayat yang kedua berarti saya yakin. Yaitu jelas tertulis di dalam Surat 17, al-Isra' ayat 101 dan 102, menerangkan dialog bertukar-kata di antara Fir'aun dengan Nabi Musa a. s., di ayat 101 Fir'aun menyatakan perasaanya bahwa dia menyangka Nabi Musa a.s. seorang tukang sihir. Sedang di ayat 102 Musa. a.s. membalas, menyatakan bahwa dia yakin bahwa Fir'aunlah yang akan kena bencana kemurkaan Tuhan.

01  02  03  04  05  06  07  08  09  10  11 12  13  14  15  16  17 18  19 20 21  22  23  24 25 26  27  28   29  30    31 32 33 34 35 36 37 38 39 40                                To Main Menu