Tafsir Suroh Al-Baqoroh Ayat 21 - 25

(21) Wahai manusia ! Sembahlah olehmu akan Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, supaya kamu ter­pelihara .

Martabat dan tingkat yang dapat dicapai oleh orang yang beriman karena menerima petunjuk Tuhan sudah diterangkan, sebab-sebab orang menjadi kafirpun sudah dijelaskan. Orang yang pecah rohani dengan jasmaninya sehingga menjadi munafikpun sudah. Manusia yang mempergunakan akalnya sudahlah dapat mengerti jalan mana yang akan dia tempuh, jalan selamat atau jalan celaka. Sekarang dihentikan itu dahulu dan disuruhlah manusia supaya dengan pikiran yang tenang memikirkan hubungannya dengan 'Iuhan.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ
"Wahai Manusia !" (pangkal ayat 21). -

Rata seruan kepada seluruh manusia yang telah dapat berpikir

اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ
"Sembahlah olehmu akan Tuhanmu yang telah menciptakan kamu "

Dari tidak ada, kamu telah diadakan dan hidup di atas bumi. 

وَ الَّذِيْنَ مِن قَبْلِكُمْ
"Dan orang-orang yang sebelum kamu. "

Artinya datang ke dunia mendapat sawah dan ladang, rumah tangga dan pusaka yang lam dari nenek moyang sehingga yang datang kemudian hanya melanjutkan apa yang dicencang clan dilatih oleh orang tua-tua. Maka orang tua-tua yang telah meninggalkan pusaka itupun Allah jualah yang menciptakan mereka. Disuruh mengingat itu -

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
"Supaya kamu terpelihara. " (ujung ayat 21).

Disuruh kamu mengingat itu agar insaf akan kedudukanmu dalam bumi ini. Dengan mengingat diri dan mengingat kejadian nenek moyang bersambung ingatan yang sekarang dengan jaman lampau, supaya kelak diwariskan lagi kepada anak-cucu, yaitu supaya selalu terpelihara atau dan memelihara diri dan kemanusiaan, jangan jatuh martabat jadi binatang. Yaitu dengan jalan beribadat, berbakti dan menyembah kepada Tuhan, menyukuri nikmat yang telah dilimpahkanNya. Pikirkanlah olehmu hai manusia, akan Tuhanmu itu :

(22) Yang telah menjadikan untuk kamu akan bumi jadi hampar­an dan langit sebagai bangun an, dan diturunkanNya air dari langit, maka keluarlah dengan sebabnya buah-buahan, rezeki bagi kamu; maka janganlah kamu adakan bagi Allah sekutu-sekutu, padahal kamu mengetahui.

اَلَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشاً
"Yang telah menjadikan untuk kamu akan bumi, jadi hamparan. " (pangkal ayat 22).

Terbentang luas sehingga kamu bisa hidup makmur di atas hamparannya itu.

وَ السَّمَاءَ بِنَاءً
"Dan langit sebagai bangunan "

yang dapat dirasakan melihat awannya yang bergerak di waktu siang dan bintangnya yang gemerlap di waktu malam dan mataharinya yang memberikansinar dan bulannya yang gemilang cahaya.

وَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاء مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقاً لَّكُمْ
"Dan diturunkanNya air dari langit , Maka keluarlah dengan sebabnya buah-buahan, rezeki bagi kamu. "

Maka pandanglah dan renungkanlah itu semuanya, sejak dari buminya sampai kepada langitnya, sampai kepada turunnya air hujan menyuburkan bumi itu. Teratur turunnya hujan menyebabkan suburnya apa yang ditanam. Kebun subur, sawah menjadi, dan hasil tanaman setiap tahun dapatlah diambil buat dimakan.

Pikirkanlah dan renungkanlah itu semuanya, niscaya hati sanubari akan merasa bahwa tidak ada orang lain yang sekasih, sesayang itu kepadamu. Dan tidak ada pula kekuasaan lain yang sanggup berbuat begitu; menyediakan ternpat diam bagimu, menyediakan air dan menumpahkan bahan makanan yang boleh dikatakan tidak membayar. Sehingga jika terlambat hujan turun dari jangka yang terbiasa, tidaklah ada kekuatan lain yang sanggup mencepatkan datangnya.

فَلاَ تَجْعَلُوْا ِللهِ أَندَاداً وَ أَنتُمْ تَعْلَمُوْنَ
"Maka janganlah kamu adakan bagi Allah sekutu­ sekutu, padahal kamu mengetahui ." (ujung ayat 22).

Tentu kalau telah kamu pakai pikiranmu itu, mengetahuilah kamu bahwa Yang Maha Kuasa hanyalah Dia sendiriNya. Yang menyediakan bumi buat kamu hanya Dia sendiriNya, yang menurunkan hujan, menumbuhkan dan menghasilkan buah-buahan untuk makananmu hanya Dia sendiriNya. Sebab itu tidaklah pantas kamu buatkan untuk Dia sekutu yang lain. Padahal kamu sendiri merasa bahwa tidak ada yang lain itu berkuasa. Yang lain itu cumalah kamu bikin-bikin saja.

Ayat ini akan diikuti lagi oleh banyak ayat yang lain, yang nadanya menyeru dan membangkitkan perhatian manusia terhadap alam yang berada sekelilingnya. Ayat ini telah menunjukkan kehidupan kita di atas bumi yang subur ini, menyambung keturunan dari nenek-moyang kita.

Dikatakan di sini bahwa bumi adalah hamparan, artinya disediakan dan dikembangkan laksana mengembangkan permadani, dengan serba-serbi keseluruhannya. Dan di atas kita terbentanglah langit lazuardi, laksana satu bangunan besar. Di atas langit itu terdapat matahari, bulan dan bintang dan awan gumawan dan angin yang berhembus sejuk. Lalu diterangkan pula bahwa kesuburan bumi adalah karena turunnya hujan dari langit, artinya dari atas.

Ayat ini menyuruh kita berpikir dan merenungkan, diikuti dengan merasakan. Bukanlah kemakmuran hidup kita sangat bergantung kepada pertalian langit dengan bumi lantaran hujan ? Adanya gunung gunung dan kayu kayuan, menghambat air hujan itu jangan tumpah percuma saja ke laut, tetapi tertahan-tahan dan menimbulkan sungai­sungai. Setengahnya terpendam ke bawah bumi menjadi persediaan air.

Pertalian langit dengan bumi, dengan adanya air hujan itu teratur dengan sangat rapinya, sehingga kehidupan kita di atas bumi menjadi terjamin. Ayat ini menyuruh renungkan kepada kita, bahwasanya semuanya itu pasti ada yang menciptakan; itulah Allah. Tak mungkin ada kekuasaan lain yang dapat membuat aturan setertib dan seteratur itu. Sebab itu maka datanglah ujung ayat mengatakan tidaklah patut kita menyembah kepada Tuhan yang lain, selain Allah :

فَلاَ تَجْعَلُوْا ِللهِ أَندَاداً وَ أَنتُمْ تَعْلَمُوْنَ
"Maka janganlah kamu adakan bagi Allah sekutu- sekutu, padahal kamu mengetahui." (ujung ayat 22).

Kamu sudah tahu bahwa yang menghamparkan bumi dan membangun langit, lalu menurunkan hujan itu, tidak dicampuri oleh kekuasaan yang lain.

Di sini kita bertemu lagi dengan apa yang telah kita tafsirkan di dalam Surat al Fatihah.
Di ayat 21 kita disuruh menyembah Allah, itulah Tauhid Uluhiyah; penyatuan tempat menyembah. Sebab dia yang telah menjadikan kita dan nenek-moyang kita; tidak bersekutu dengan yang lain. Itulah Tauhid Rububiyah.

Di ayat 22 ditegaskan sekali lagi Tauhid Rububiyah, yaitu Dia yang menjadikan bumi sebagai hamparan, menjadikan langit sebagai bangunan dan Dia yang menurunkan hujan, sehingga tumbuhlah tumbuh-tumbuhan untuk rezeki bagi kamu. Ini adalah Tauhid Rububiyah. Oleh sebab itu janganlah disekutukan Allah dengan yang lain; itulah Tauhid Uluhiyah.
Maka pelajaran Tauhid didapat langsung dari melihat alam.

(23) Dan jika adalah kamu dalam keraguan dari hal apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami, Maka datangkanlah sebuah Surat yang sebanding dengan dia dan panggilah saksi-saksi kamu selain dari Allah itu, jika adalahkamu orang yang benar.

وَ إِنْ كُنتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا
"Dan jika adalah kamu dalam keruguan dari hal apa yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami. " (pangkal ayat 23)
.
Hamba kami yang Allah maksudkan ialah Nabi kita Muhammad s.a.w, satu ucapan kehormatan tertinggi dan pembelaan atas diri beliau. Dan yang kami turunkan itu adalah al-Qur'an. Di ayat kedua permulaan sekali, Tuhan telah menyatakan bahwa al-Kitab itu tidak ada lagi keraguan padanya, petunjuk bagi orang yang bertakwa.

Tetapi sudah terbayang selanjutnya bahwa masih ada manusia yang ragu-ragu, yang menyebabkan mereka menjadi munafik, sehingga ada yang mulanya menyatakan percaya tetapi hatinya tetap ragu. Ditantanglah keraguan mereka itu dengan ayat ini.

فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهِ
"Maka datangkanlah sebuah Surat yang sebanding dengan dia. "

Tuhan bersabda begini, karena masih ada di antara yang ragu itu menyatakan bahwa al-Qur'an itu hanyalah karangan Muhammad s.a.w saja, sedang hamba Kami Muhammad s.a.w itu adalah manusia seperti kamu juga. Selama ini tidaklah dia terkenal seorang yang sanggup menyusun kata begitu tinggi mutunya atas kehendaknya sendiri, dan bukan pula terkenal dia sebagai seorang Kahin (tukang tenung) yang sanggup menyusun kata sastra.

Maka kalau kamu ragu bahwa sabda yang disampaikannya itu benar-banar dari 'huhan, karnu cobalah mengarang dan mengemukakan agak satu surat yang sebanding dengan yang dibawakan Muhammad itu! Cobalah. Apa salahnya! Dan kalau kamu tidak sanggup maka:

وَ ادْعُوْا شُهَدَاءَكُم مِّنْ دُوْنِ اللهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ
"Dan panggildah saksi-saksi kamu selain Allah, jika adalah kamu orang-orang yang benar. " (ujung ayat 23)

Panggillah ahli-ahli untuk membuktikan kebenaranmu. Kalau kamu tidak bisa, mungkin ahli-ahli itu bisa. Boleh kamu coba-coba. Ayat yang begini dalam bahasa Arab namanya tahaddi yaitu Tantangan.

Di jaman Mekkah ataupun di jaman Madinah, bukan sedikit ahli­ahli syair dan ada pula Kahin atau tukang mantra yang dapat mengeluarkan kata tersusun. Namun tidak ada satupun yang dapat menandingi al-Qur'an. Bahkan sampai kepada jaman kita inipun bangsa Arab tetap mempunyai pujangga--pujangga besar. Merekapun tidak sanggup membanding dan mengadakan tandingan dari al­Qur'an. Sehingga dipindahkan ke dalam kata lain, meskipun dalam bahasa Arab sendiri untuk menyamai pengaruh ungka,pan-ungkapan wahyu tidaklah bisa, apatah lagi akan mengatasi.

Dr. Thaha Husain, pujangga Arab yang terkenal dan diakui kesarjanaannya dan diberi gelar Doctor Honoris Causa oleh beberapa Universitas Eropa, sebagai Universitas di Spanyol, Italia, Yunani, yaitu sesudah dicapainya Ph.D. di Sarbonne, mengatakan bahwa bahasa Arab itu mempunyai dua macam sastra, yaitu prosa (manzhum) dan puisi (mantsur) yang ketiga ialah al-Qur'an. Beliau tegaskan bahwa al-Qur'an bukan prosa, bukan puisi, al-Qur'an ialah al-Qur'an.

Tahaddi atau tantangan itu akan berlaku terus sampai ke akhir jaman.Dan untuk merasai betapa hebatnya tantangan itu dan betapa pula bungkemnya jawaban atas tantangan, seyogianyalah kita mengerti bahasa Arab dan dapat membaca al-Qur'an itu.

Dengan demikianlah kita akan mencapai ainal yakin dari tantangan ini. Bertambah kita mendalaminya, mempelajari sastra-sastranya dan tingkatan-tingkatan kemajuannya, bahkan bertambah kita dapat menguasai istimewa itu, bertambah yakinlah kita bahwa tidak dapat dikemukakan satu Suratpun untuk menandingi al-Qur'an. Surat al­Baqarah rnengandung 286 ayat; telalu panjang.

Tetapi ada Surat yang pendek, sebagai Surat al-lkhash (Qul Hualluhu Ahad), atau Surat al­Kautsar (Inna Athaina); Surat yang sependek pendek itupun tidak ada manusia yang kuasa membuat surat tandingan untuk melawan dia.

(24) Maka jika kamu tidak dapat membuat, dan sekali-kali kamu tidak akan dapat membuat, maka takutlah kamu kepada neraka yang penyala­kannya ialah manusia dan batu, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.

فَإِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا وَ لَنْ تَفْعَلُوْا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِيْ وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَ الْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِيْنَ
" Maka jika kamu tidak dapat membuat, dan sekali-kali kamu tidak akan dapat membuat, maka takutlah kamu kepada neraka yang menyalakannya ialah manusia dan batu, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir. " (ayat 24).

Kalau kamu sudah nyata tidak sanggup menandingi al­Qur'an, dan memang selamanya kamu tidak akan sanggup, baik susun kata atau makna yang terkandung di dalamnya, maka janganlah diteruskan juga lagi penantangan itu, lebih baik tunduk dan patuhlah, dan terimalah dengan tulus-ikhlas.

Jangan dilanjutkan juga lagi sikap yang ragu-ragu itu. Karena meneruskan keraguan terhadap perkara yang sudah nyata, akibatnya hanyalah kecelakaan bagi diri sendiri. Jika kebenaran yang telah diakui oleh hati masih juga ditolak, artinya ialah memilih jalan yang lain yang membawa kesesatan. Ka.lau dipilih jalan sesat, tentu nerakalah ujungnya yang terakhir. Neraka yang apinya dinyalakan dengan manusia dihukum dimasukkan ke dalamnya bercampur dengan batu-batu.

Perhatikan alun gelombang wahyu itu baik-baik. Ancaman bukanlah datang dengan serta-merta begitu saja. Lebih dahulu manusia diajak berpikir dan merenung alam, supaya sadar akan hubungan di antara mereka sebagai makhluk dengan Tuhan Allah sebagai Khaliq. Kalau masih ragu dipersilahkan rnembuat tandingan al-Qur'an. Dan inipun ternyata tidak sanggup. Kalau tidak sanggup bukanlah lebih baik tunduk dan menyatakan beriman ? Tetapi kalau bujukan lunak tidak diterirna, tantangan tidak sanggup menjawab, namun kekufuran diteruskan juga; apakah lagi yang pantas buat orang seperti ini, lain dari ancaman neraka ?

Manusia yang diancam akan menjadi penyalakan api neraka itu ialah yang keras kepala, sebagai pepatah orang kita, "Kanji tak lalu, airpun tak lalu," Yang ini tidak, yang itupun tidak. Tetapi menunjukkan yang mana ganti yang lebih baik, pun tidak sanggup. Ke mana lagi kalau bukan ke neraka ! Tetapi yang patuh clan sadar diberi kabar gembira.

(25) Dan gembirakanlah orang-orang yang beriman dan beramal ­shalih, bahwasanya untuk mereka adalah surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai­ sungai. Tiap-tiap kali diberikan kepada mereka suatu pem­berian dari semacam buah-buahan, mereka berkata : "Inilah yang telah dijanjikan kepada kita dari dahulu". Dan diberikan kepada mereka akan dia serupa, dan untuk mereka di dalamnya ada isteri­i steri yang suci, dan mereka akan kekal di dalamnya.

وَ بَشِّرِ الَّذِيْن آمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِيْ مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَار
"Dan gembirakanlah orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bahwa untuk mereka adalah surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai­sungai. " (pangkal ayat 25).

Keras kepala nerakalah ancamannya. Tetapi kepatuhan dijanjikan masuk surga. Sedangkan yang diajak buat kepatuhan itu ialah hal yang masuk di akal dan hal untuk keselamatan hidup sendiri di dunia ini, bukan memaksa. yang tidak dapat dikerjakan.

ُ كُلَّمَا رُزِقُوْا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِّزْقًا قَالُوْا هَذَا الَّذِيْ رُزِقْنَا مِن قَبْلُ وَ أُتُوْا بِهِ مُتَشَابِهاً
"Tiap-tiap kali diberikan kepada mereka suatu pemberian dari semacam buah-buahan, mereka berkata : Inilah yang telah dijanjikan kepada kita dari dahulu. Dan diberikan kepada mereka akan dia serupa. "

Baik juga kita ketahui perlainan pendapat di antara ahli-ahli tafsir tentang mafhum ayat ini. Penafsiran Jalaluddin as-Sayuthi membawakan arti demikian,

هَذَا الَّذِيْ رُزِقْنَا مِن قَبْلُ وَ أُتُوْا بِهِ مُتَشَابِها
"Inilah yang telah dikuruniakan kepada kita di waktu dulu. Dan diberikan kepada mereka serupa-serupa."

Beliau al-Jalal, memahamkan bahwa buah-buahan yang dihidangkan di surga itu serupa dengan buah-buahan yang telah pernah mereka diberi rezeki di dunia dahulu.

Padahal hanya rupa yang sama, namun rasa dan kelezatannya niscaya berlainan. Adakah sama rasa buah-buahan surga dengan buah-buahan dunia? Adapun penafsir-penafsir yang lain memaknakan ayat itu :

هَذَا الَّذِيْ رُزِقْنَا مِن قَبْلُ
"Inilah yang telah dijanjikan kepada kita di waktu dahulu "

Artinya, setelah mereka menerima buah-buahan itu terkenanglah mereka kernbali, memang benarlah dahulu waktu di dunia Tuhan telah menjanjikan itu buat mereka.

 وَلَهُمْ فِيْهَا أَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ
'Dan diberikan kepada mereka berbagai ragam. Dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci."

Meskipun setengah ahli tafsir menafsirkan pengertian suci bersih di sini ialah isteri di surga tidak pernah berhaid lagi, sebab haid itu kotor, namun sebaiknya kita memahamkan lebih tinggi lagi dari itu. Sebab setiap kita yang berumahtangga di dunia ini mengalami, bahwa betapapun bersih hatinya seorang istri, cantik rupanya, baik budinya istri di dunia kita ini, namun perangainya yang menjemukan mesti ada juga. Sebagaimana pepatah Melayu : "Tidak ada lesung yang tidak berdedak", tidak ada istri yang tidak ada cacatnya. Ada baiknya di segi ini, ada pula lemahnya di segi itu. Sehingga di dalam Surat an­Nisa (Surat 4 ayat 18), Tuhan menasihatkan :

وَ عاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسى‏ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئاً وَ يَجْعَلَ اللهُ فيهِ خَيْراً كَثيراً
"
Dan pergaulilah mereka dengan cara yang baik, karena jikapun kamu tidak suka kepada mereka, mudah-mudahan sesudah kamu benci kepada sesuatu, Tuhan Allah akan menjadikan padanya kebaikan yang banyak. " (an-Nisa : 18)

Istri-istri di surga itu suci bersih dari cacat yang menjemukan itu. Bukan sebagai istri dunia yang kadang-kadang memusingkan kepala. Baik istri surga anak bidadari yang dijanjikan, atau istri sendiri yang akan dipertemukan Tuhan kembali dengan kita, karena sama-sama taat beriman dan beramal yang shalih.

 وَهُمْ فِيْهَا خَالِدُوْن
"
Dan mereka akan kekal di dalamnya. " (ujung ayat 25) kekal di dalam surga itu dan tidak ada mati lagi.

Akan selalu kita berjumpa ayat-ayat janji gembira dari Allah, untuk hamba Allah yang diberi tempat di dalam surga kekal itu. Kepercayaan akan adanya surga dan neraka adalah termasuk dalam rangka iman, sehingga jika kita tidak percaya, kafirlah kita.

Tetapi ada suatu hal yang sebenarnya tidak perlu dipertengkarkan karena membuang-buang waktu, yaitu pertikaian beberapa Ulama tentang apakah surga itu telah ada sekarang itu atau nanti saja akan diadakan ? Kalau sekarang memang sudah ada, apakah dia masih kosong ? Mengapa seketika Rasulullah s.a.w mi'raj beliau melihat sahabatnya Bilal bin Rabah dalam surga, padahal. ketika itu Bila.l masih hidup ? Hal begini semuanya sudah termasuk hal yang gha.ib, yang kita percaya menurut yang diwahyukan dan tidak perlu kita tambah-tambah lagi dengan tafsiran-tafsiran lain yang akan memusingkan kepala kita sendiri.

Demikian juga tentang kekal . Yang perlu kita perhatikan ialah syarat masuk surga yang telah diterangkan tadi, yaitu iman dan amal shalih. Kepercayaan hati kepada Tuhan, lalu kepercayaan itu dibuktikan dengan amal perbuatari. Sebab tidak mungkin terjadi pertikaian di antara iman dengan amal. Tidak mungkin hanya ada keperca,yaan, sedang gerak amal tidak ada. Dan tidak mungkin pula ada gerak amal, padahal tidak datang dari suruhan hati.

Lantaran itu maka di antara iman dengan amal shalih dapat juga dirangkaikan kepada jalan pikiran kita tentang kebudayaan. Kata ahli kalimat kebudayaan itu adalah gabungan daxi dua kata. Budhi clan Daya. "Budhi"artinya cahaya yang timbul dari jiwa. "Daya"ialah perbuatan yang timbul dari gerak anggota. Maka bolehlah kita katakan bahwa mukmin sejati itu adalah orang yang berkebudayaan tinggi.

Sekarang tinggal lagi perhatian kita kepada usaha nenek-moyang kita meresapkan iman itu ke dalam bahasa yang kita pakai. Dalam bahasa Arab kalimat nar dan kalimat Jannah, keduanya mempunyai dua arti. Nar dalam alam kenyataan ini mereka artikan api. Tetapi dalam alam akhirat itu berati neraka. Jannah dalam arti duniawi ialah taman-indah, dan dalam pengertian akhirat artinya surga. Oleh karena nenek-moyang kita mempunyai dua kalimat pusaka dari agama yang dahulu untuk alam akhirat itu, yaitu suarga dan neraka, yang keduanya dari bahasa Sansekerta, maka untuk.jannah akhirat kita artikanlah suarga dan untuk nar akhirat kita artikan neraka. Kemudian oleh pengarang-pengarang Islam jaman Aceh, setelah kita memakai huruf Arab menjadi huruf sendiri, dituliskan suarga itu dengan huruf Syin, Ra dan Kaf pakai titik.

Lantaran itu kebanyakan pengarang-pengarang Islam yang datang kemudian, termasuk penulis "Tafsir"ini lebih cepatlah tangannya menuliskan menurut ejaan huruf Arab (syurga). Yaitu syurga, bukan suarga atau sawarga.

Ingatlah bahwa ini adalah pemakaian dan perkembangan bahasa belaka. Adapun hakikat yang sebenarnya, Allah jualah yang mengetahuinya.

01  02  03  04  05  06  07  08  09  10  11 12  13  14  15  16  17 18  19 20 21  22  23  24 25 26  27  28   29  30    31 32 33 34 35 36 37 38 39 40                                To Main Menu