Tafsir Al-Azhar Surat Al-Baqoroh ayat 108-114 
                                                                        

(108) Atau apakah kamu hendak bertanya kepada Rasul kamu sebagai telah ditanyai Musa di waktu dulu ? Dan barang siapa yang menukarkan dengan ke­kafiran akan iman itu, maka sungguh telah sesatlah dia dari jalan yang lurus.

Setelah Allah memberikan ajaran sopan-santun kepada umat yang beriman, supaya mereka memilih kata-kata yang balk, yang tidak bisa disalah-artikan, dilanjutkan lagi sekarang supaya mereka jangan meniru perangai-perangai Bani Israil yang suka banyak tanya, banyak soal, yang bukan semata-mata untuk menghilangkan keraguan ;

أَمْ تُرِيْدُوْنَ أَنْ تَسْأَلُوْا رَسُوْلَكُمْ كَمَا سُئِلَ مُوْسَى مِنْ قَبْلُ
`Atau apakah kamu hendak bertanya kepada Rasul kamu sebagai telah ditanyai Musa di waktu dulu ?" (pangkal ayat 108).

Nabi s.a.w akan bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan , dan mana yang musykil akan ditunggunya wahyu Ilahi memberikan penjelasan. Tetapi dapatlah dipahami bahwa dia pula orang yang datang bertanya hendak menyoal guru, hendak mengukur dalam dangkal  ilmu nya. Adapun yang bertanya karena hendak mencari helah dan memutar-mutar. Ada pula yang bertanya di hadapan orang banyak, supaya kelihatan bahwa dia orang istimewa.

Semuanya ini telah dilakukan oleh Bani Israil kepada Musa. Sekarang timbul pertanyaan kepada orang yang beriman, apakah kamu akan bertanya seperti itu pula kepada Nabi kamu Muhammad s.a.w. .

Apakah perangai demikian akan kamu contoh pula ? Maka dengan adanya pertanyaan secara demikian, jelas sajalah maksudnya bahwa orang yang beriman jangan menanya seperti Bani Israil kepada Musa a.s. itu terhadap Muhammad s.a.w Sebab perbuatan yang demikian nyatalah bukan timbul dari iman, melainkan dari perangai kufur juga adanya.

Jika datang perintah laksanakanlah dengan baik. Kalau tersangkut, pecahkan sendiri sangkutan itu, seakal-budimu. Kalau ada hal yang tidak dibicarakan, bukanlah itu karena lupa, melainkan disengaja untuk meringankan kamu.

Maka barang siapa yang masih juga menanya-nanya seperti pertanyaan Yahudi itu, berartilah dia menukar iman dengan kafir;

وَ مَنْ يَتَبَدَّلِ الْكُفْرَ بِالْإِيْمَانِ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيْلِ
`Dan barang siapa yang rnenukarkan dengan kekafiran akan iman itu, maka sungguh telah sesatlah dia dari jalan yang lurus ". (ujung ayat 108).

Sesat dari jalan yang lurus, lalu memilih jalan yang berbelit-belit dengan banyak  mengemu kakan pertanyaan, guna melepaskan diri, akhirnya tersesat kepada kufur, terlepas dari kebe naran, tenggelam dalam keingkaran. Dan memang kalau kita dalam masyarakat, kerap kali orang , yang banyak pertanyaan An adalah dengan maksud mencari jalan untuk melepaskan diri. Sekarang karena belum lepas dari rangka peringatan kepada kaum yang beriman ten - tang sikap menghadapi Ahlul-Kitab datang lagi ayat untuk menjelaskan lagi.

Tadi di ayat 105 sudah dijelaslcan bahwa Ahlul-Kitab dan musyrikin tidaklah bersenang hati kalau Allah menurunkan kebaikan kepada kaum yang beriman. Kalau mereka tidak senang atau tidak suka kaum beriman dianugerahi Allah kebaikan, apakah kiranya yang mereka senangi ?

(109) Sukalah kebanyakan dari Ahlul-Kitab itu kalau (dapat) mereka mengembalikan kamu sesudah iman menjadi kafir,karena dengki dari dalam diri mereka sesudah nyata kepada mereka kebenaran.Maka beri maaflah mereka dan biarkanlah,sehingga Allah menunjukkan KuasaNya. Sesungguhnya Allah atas tiap-tiap sesuatu adalah Maha Kuasa

وَدَّ كَثِيْرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّوْنَكُمْ مِّنْ بَعْدِ إِيْمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِّنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ
"Sukalah kebanyakan Ahlul-Kitab itu kalau (dapat) mereka mengembalikan kamu sesudah iman menjadi kafir, karena dengki dari dalam diri mereka, sesudah nyata kepada mereka kebenaran. "(pangkal ayat 109).

Maka kalau baru sehingga tidak suka jika kaum beriman beroleh kebaikan , belumlah begitu berbahaya.

Tetapi kalau mereka telah mulai berusaha agar kamu kembali menjadi kafir, ini sudah lebih berbahaya. Kalau semata-mata tidak suka kaum beriman mendapat kebaikan, itu namanya masih pasif. Tetapi kalau sudah berusaha menarikmu kembali kedalam suasana kekafiran, itta namanya sudah mulai aktif. Artinya sudah mulai dijadikan usaha. I'erasaan hati mereka tidak mereka benamkan lagi, tetapi telah dijadikan rencana. Yang menjadi sebab yang pokok ialah karena dengki. Hal itu wajib, sewajib-wajibnya oleh kaum yang beriman, supaya tetap awas dan waspada. Dan hendaklah senantiasa kamu perdalam imanmu, perkuat agamamu. Kalau imanmu bertambah kuat, usaha mereka itu tidaklah akan berhasil. Hanya orang yang bodoh yang akan suka mengganti kembali Allah Yang Maha Esa dengan berhala atau dengan kemegahan dunia yang fana.

فَاعْفُوْا وَ اصْفَحُوْا حَتَّى يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
"Maka beri maaflah mereka dart biarkanlah , sehingga Allah menunjukkan kuasaNya."

Sebab orang yang beriman sejati tidaklah akan mempan oleh usaha Ahlul-Kitab itu untuk mengkafirkan mereka kembali. Iman kepada Allah adalah Nur, clan pendirian yang mereka ajak kembali supaya dipakai itu ialah Zhulumat (gelap). Cobalah perhatikan nanti bagaimana Allah memperlihatkan kuasaNya; bagaimana gagalnya usaha mereka. Dengan sikap mereka mengajak kembali kepada yang gelap itu, mereka sebenarnya telah menentang kehendak Allah. Yaitu Allah yang menguasai seluruh langit clan bumi. Mereka yang kafir itu hanya me mandang yang disekeliling mereka saja. Mereka tidak memandang jauh dan tidak mau insaf bahwasanya pendirian yang salah dan bathil yang mereka pertahankan itu akan hancur. Dan itu hanyalah soal waktu belaka. Orang yang beriman diperintahkan Tuhan supaya membiar - kan mereka, artinya jangan gelisah. Tuhan memesankan:

فَاعْفُوْا
"Beri rnaaf mereka!"

Sebab mereka itu bodoh; jangan kamu lekas marah.

وَ اصْفَحُوْا
"Dan biarkanlah mereka. "

Sebab di dalam perjuangan menegakkan kebenaran dihadapan kebatilan, yang akan menang ialah barangsiapa yang lebih panjang nafasnya. Biarkanlah mereka. Sebab mereka segera akan kehabisan tenaga dan akal berhenti dengan sendirinya. Pada waktu itu kamu akan melihat betapa Allah memperlihatkan kuasaNya. Jangan kamu terpesona oleh gelagak buih ketika hari banjir ! Banjir akan segera reda, dan buih akan hilang disirnakan angin.

إِنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
"Sesungguhnya Allah atas tiap-tiap sesuatu adalah Maha Kuasa. " (ujung ayat 109).

Tuhan Allah yang menguasai langit dan bumi yang begitu besar dan luas pada pandangan kita manusia, maka bagi Tuhan Allah Yang Maha Kuasa itu, soal kekufuran orang yang kafir itu hanyalah sekelumit soal kecil saja. Mudah sajalah bagiNya memutarkan keadaan.

Kadang-kadang daripada yang tidak disangka-sangka. Dan itu selalu kejadian dan beberapa kali dialami oleh Rasul s.a.w dan tiap orang yang beriman. Ingatlah bagaimana orang Quraisy berusaha hendak mengepung Rasul clan hendak membunuhnya.

Ingatlah kisah kejadian-kejadian kecil yang terjadi seketika beliau bersembunyi di dalam gua. Kekuasaan siapa yang menghambat mata mereka, sehingga mereka tidak merungkuk kan kepala di pintu gua, sehingga mereka tidak rnelihat Rasul dan sahabatnya Abu Bakar yang tengah sembunyi, sedang Rasul dan Abu Bakar melihat kaki-kaki mereka sehingga lutut ? Oleh sebab itu maka yang amat penting ialah memperteguh hati.

Sebab benteng keislaman dan keimanan itu wajib diperteguh. Maka untuk memperteguhkannya ialah :

(110) Dan dirikanlah olehmu sembahyang clan keluarkanlah olehmu akan zakat; dan apapun yang kamu dahulukan untuk dirimu dan kebaikan, niscaya akan kamu dapatlah dia di sisi Allah; sesungguhnya Allah adalah melihat apa yang kamu kerjakan.

وَ أَقِيْمُوا الصَّلاَةَ
"Dan dirikanlah olehrnu sembahyang. "(pangkal ayat 110).

Selama ibadat sembahyangmu masih tegak, selama suara azan masih berdengung memenuhi udara, Shalatil Jama'ah masih berdiri, Jum'at masih ramai dikunjungi dengan shafnya yang teratur, tidaklah ada satu usaha Ahlul-Kitab itu yang berhasil, sebab shaf umat beriman itu rapat dan teguh.

وَ آتُوا الزَّكَاةَ
"Dan keluarkanlah akan zakat. "

Artinya, janganlah bakhil mukmin yang kaya, mengeluarkan harta membantu orang yang miskin. Sebab miskin itu adalah pintu kepada kufur. Asal perut berisi kadang-kadang orang tidak keberatan menjual agamanya. Bukan saja zakat yang wajib, malahan segala sedekah, hadiah dan hibah tandanya hati murah, demikian juga memberikan hartabenda untuk pembangunan segala usaha menegakkan agama, jangan ditahan-tahan :

وَ مَا تُقَدِّمُوْا لِأَنْفُسِكُمْ مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدَ اللهِ
"Dan apapun yang kamu dahulukan untuk dirimu dari kebaikan, niscaya akan kamu dapatilah dia di sisi Allah."

Artinya, jika diberi Allah rezeki di zaman sekarang ini, keluarkanlah terlebih dahulu sekarang juga, ini namanya telah dikirimkan terlebih dahulu untuk persiapan din sendiri di hadapan hadirat Allah; semuanya tidak akan hilang dengan sia-sia. Semuanya kelak akan engkau dapati kembali di sisi Allah. Lebih baik kirimkan harta itu terlebih dahulu dari sekarang. Sebab hartamu yang sebenarnya ialah telah engkau belanjakan.

Kalau engkau bakhil, engkau tahan ­tahan harta itu sementara engkau hidup ini , kelak jika engkau mati, tidaklah ada faedahnya buat kamu sama sekali. Maka kekuatan beribadat sembahyang, mengeluarkan zakat dan kesudian mengeluarkan harta-benda, itulah dia pokok penting di dalam menangkis serangan Ahlul-Kitab yang selalu berusaha keras memutar haluan hidupmu dari Islam kembali menjadi kafir itu .

إِنَّ اللهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْر
"Sesungguhnya Allah, adalah melihat apa yang kamu kerjakan." (ujung ayat 110).

Dengan berusaha terus dan bergiat terus menunjukkan dan mengamalkan iman, merapatkan hubungan dengan Allah dengan mendirikan sembahyang dan mengeluarkan zakat bagi merapatkan hubungan sesama sendiri, maka usaha mereka hendak mengkafirkan kamu kembali niscaya akan gagal. Allah selalu melihat bagaimana kegiatan kamu.

(111) Dan mereka berkata : Sekali­kali tidak akan masuk ke syurga melainkan siapa-siapa yang jadi Yahudi atau Nasrani. Yang begitu hanyalah angan-angan mereka. Katakanlah : Tunjukkan alasan kamu jika memang kamu orang-orang yang benar.

 

Di ayat 110 di atas tadi Allah Subhanahu wa Ta'ala me­merintahkan supaya Islam dan imanmu itu diamalkan, dijadikan kenyataan. Sembahyang dirikan , zakat keluarkan dan hendaklah bermurah hati mengeluarkan harta-benda untuk segala amal kebajikan. Dengan demikian maka usaha rnereka yang timbul dari hati dengki untuk mengkafirkan kamu kembali pasti gagal.

Tetapi kalau agama hanya sebutan saja, sembahyang sudah banyak ditinggalkan dan zakat tidak teratur keluarnya lagi, dan kaum Muslimin telah bakhil, Ahlul­Kitab tersenyum gembira. Dia rupanya mengerti bahwa segi kekuatan Islam ialah pada sejalannya iman dengan perbuatan. Kalau itu tidak ada lagi, maka orang yang dizaman jahiliyah di bawah martabatnya dari orang Yahudi dan Nasrani akan kembali kepada keadaannya yang semula dan mereka akan mendabik dada kembali mengatakan bahwa merekalah yang lebih tinggi. Itupun masih mereka katakan :

وَ قَالُوْا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ كَانَ هُوْدًا أَوْ نَصَارَى
"Dan mereka berkata : Sekali-kali tidak akan masuk ke syurga melainkan siapa-siapa yang jadi Yahudi dan Nasrani. " (pangkal ayat 111).

Inilah perkataan sombong dari Yahudi dan Nasrani. Yaitu mereka berkata yang akan masuk syurga hanyalah siapa yang menjadi Nasrani atau Yahudi. Mengapa mereka berkata demikian ? Inilah karena agama telah mereka jadikan golongan. Mereka tidak lagi menilai iman dan amal shalih seseorang. Sebab yang mereka pertahankan ialah golongan. Apatah lagi memang jelas dengan memakai nama Yahudi, yaitu nama suku yang terbesar dari dua belas suku Bani Israil dan nama Nasrani, negeri Nazaret tempat lahir Nabi Isa a.s., maka agama sudah menjadi nama golongan. Sebab itu dijelaskan oleh lanjutan ayat :

تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ
"Yang begitu hanyalah angan-angan rnereka."

Yaitu satu ucapan yarig tidak beralasan, yang hanya timbul dari angan-angan dan khayal belaka.

قُلْ هَاتُوْا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْن
"Katakanlah: Tunjukkan alasan kamu, jika kamu memang orang ­orang yang benar." (ujung ayat 111).

Apa sebabnya Yahudi mengatakan surga hanya untuk orang yang jadi Yahudi, apa alasannya dan buktinya. Orang Nasrani berkata begitu pula; surga hanya untuk orang Nasrani. Apa sebabnya ? Mengapa Yahudi tak boleh masuk? Mereka diminta mengeluarkan alasan atau dalil yang masuk akal , bukan hanya amani; yaitu angan-angan , khayal-khayal yang bersimpang-siur.

Tunjukkan alasanmu ! Inilah satu pokok yang ditegakkan oleh ajaran Islam di dalam menjunjung tinggi agama. Suatu dakwaan yang tidak ada alasan, tidaklah dapat diterima.
Orang Yahudi mengatakan bahwa yang akan masuk surga hanya orang Yahudi !
Orang Nasrani mengatakan begitu pula, surga hanya untuk orang Nasrani.
Mana alasan ? Apa sebab ? Ayat yang selanjutnya membantah perkataan itu :

(112) Sekali-kali tidak ! Barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, dan diapun berbuat balk, maka untuk­nyalah pahalanya di sisi Tuhannya, dan tidaklah ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berduka­ cita.

بَلَى
"Sekali-kali tidak!" (pangkal ayat 112).

Perkataan yang benar ialah:

مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ ِللهِ وَ هُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ
"Barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, dan diapun berbuat baik, maka untuknyalah pahalanya di sisi Tuhannya. "

Menyerahkan diri kepada Tuhan, tunduk dengan segenap jiwa dan raga, tidak membantah dan mendurhakai, tidak menolak kebenaran. Lalu dibuktikan dengan kesudian berbuat baik, beramal.

Bukan mengakui menyerah kepada Tuhan dengan mulut saja, melainkan mesti ada bukti. Itulah yang akan beroleh pahala dan beroleh syurga Allah. Tidak peduli apa dia orang Arab atau Yahudi, Nasrani atau Shabi'in. Pendirian ini pada ayat 62 pun telah diterangkan.

وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ
"Dan tidaklah ada ketakutan atas mereka."

Artinya tidak ada rasa takut akan rnendapat azab dan siksa dan murka Ilahi, karena diri telah menyerah kepadaNya sejak semula, dan amalpun telah diperbuat.

وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْن
"Dan tidaklah mereka akan berduka cita. " (ujung ayat 112).

Tidak akan berdukacita bahwa amalan tidak akan diterima dan usaha mereka akan sia-sia belaka. Sebab tujuan hidup telah disediakan oleh Tuhan.
`Aslamawajhahu "; artinya, mereka telah menyerahkan diri kepada Tuhan. Itulah yang pasti masuk syurga: Aslama menjadi Yuslimu dan mashdarnya atau pokok kata ialah Islam. Sebab itu orang yang Islamlah yang akan masuk syurga, walaupun tadinya dia dari Yahudi, dari Nasrani atau dari rnusyrik penyembah berhala.

Dia tinggalkan ikatan diri dengan yang lain itu , dia bebaskan diri daripadanya dan menyerah buat kepada Tuhan. Dibuktikan pula dengan perbuatan.
Sehingga walaupun ada orang yang menyebut dirinya telah Islam, tetapi sebutan saja, tidak diikuti oleh amal yang baik, tidaklah akan masuk ke dalam surga. Tidaklah akan bebas dia daripada rasa ketakutan dan duka­cita.
Lantaran itu maka nama Islarn bukanlah nama golongan. Bukan nama satu keturunan dan bukan nama satu negeri. Islam itu ialah sikap hidup !

Pendirian yang masuk akal ini bolehlah dibandingkan dengan pendakwaan dan amani mereka tadi, mana yang masuk akal dan mana yang benar. Ayat ini telah menyumbat mulut orang yang mengakui dirinya Islam, tetapi hanya mulut saja, padahal ketaatan pada Tuhan tidak ada. Bukti amal tidak ada. Pengertian tentang arti menyerah kepada Allah tidak ada.

Mereka Islam hanya karena keturunan atau tanda peta belaka. Maka sama sajalah keadaan mereka, sama-sama amani atau angan-angan dan khayal sebagai orang Yahudi dan Nasrani itu pula.

Dan menjadi pelajaran lagi bagi kita orang Islam; sekali-kali jangan mengemukakan suatu pendirian kalau tidak dengan alasan. Hatu Burhanakum : Keluarkan alasanmu, telah menutup pintu taqlid turut-turutan dengan serapat-rapatnya. Beragamalah dengan berpikir, pergunakanlah akal. jangan hanya beragama karena pusaka saja.

(113) Dan berkata orang Yahudi "Tidak ada orang-orang Nasrani itu atas sesuatu. Dan berkata orang-orang Nasrani; Tidak ada orang Yahudi itu atas sesuatu. Padahal mereka membaca kitab. Begitu jugalah orang-orang yang tidak berpengetahuan berkata seumpama kata mereka itu. Maka Allah akan memutuskan di antara mereka di hari kiamat pada barang yang telah mereka perselisihkan itu .

وَ قَالَتِ الْيَهُوْدُ لَيْسَتِ النَّصَارَى عَلَىَ شَيْءٍ
"Dan berkata orang Yahudi. Tidak ada orang-orang Nasrani itu atas sesuatu. " (pangkal ayat 113).

Pendeknya orang Nasrani itu tidak sebuah juga; Kamilah yang benar !

وَ قَالَتِ النَّصَارَى لَيْسَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى شَيْءٍ
"Dan berkata orang-orangNasrani: Tidak ada orang Yahudi itu atas sesuatu jua. "

Kamilah yang benar!

وَ هُمْ يَتْلُوْنَ الْكِتَابَ
"Padahal mereka membaca kitab. "

Orang Yahudi membaca Kitab Taurat, di dalamnya dinyatakan bahwa akan ada Nabi yang akan menyambung usaha Nabi­ nabi yang terdahulu. Orang Nasrani pun membaca Kitab; yaitu Kitab Injil. Di dalamnyapun tersebut bahwa kedatangan Isa al-Masih adalah menggenapkan isi Taurat, dan tidak akan mengubah isi Taurat.
Di antara Kitab dengan Kitab tidak selisih, tetapi pengikut menjadi berselisih. Yang satu mengatakan yang lain tidak berdasar, tidak sebuah juga. Yang lain berkata pula,

كَذَلِكَ قَالَ الَّذِيْنَ لاَ يَعْلَمُوْنَ مِثْلَ قَوْلِهِمْ
"Begitu jugalah orang-orang yang tidak berpengetahuan, berkata seumpama kata mereka itu (pula). "

Mengatakan diri awaklah yang lebih, orang lain tidak ada yang benar. Orang musyrikin Arab begitu pula berkata pada Yahudi dan Nasrani. Orang Majusi Persia niscaya begitu pula bicara terhadap pemeluk agama atau golongan yang lain, yaitu sudah rnenjadi kebiasaan yang merata dan umum di antara sekalian orang yang memeluk agama tidak dengan pengetahuan.

فَاللهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيْمَا كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ
"Maka Allah akan memutuskan di antara mereka di hari kiamat pada barang yang telah mereka perselisihkan itu." (ujung ayat 113).

Telah dapat dikira-kirakan apa keputusan yang akan diambil Tuhan terhadap mereka semuanya, balk dia bernama Yahudi , Nasrani ,Majusi, orang Arab Mekkah dan Madinah , orang Syabi'in dan lain ­lain, yang beragama tidak dengan pengetahuan itu , yang berkata bahwa yang benar adalah pihak mereka masing-masing saja.

Yang lain ahli neraka semua. Hanya mereka yang akan masuk surga. Sudah nampak terlebih dahulu garis yang ditentukan T'uhan. Yaitu siapa di antara mereka yang benar-benar berserah diri kepada Allah dan beramal yang balk ?

Yang agamanya bukan hanya di ujung lidah, tetapi kosong dari otak dan kosong dari hati? Yang agama bukan asal beragama orang , beragama pula awak ?

Yang beramal dengan pengetahuan dan keinsafan. Mereka itulah yang akan dibenarkan Tuhan. Adapun yang pengakuan mulut berteriak-teriak, tetapi amal tidak terbukti, tidaklah akan disahkan Tuhan untuk mendapat pahalaNya.

Bagaimana pula kita hai kaum Muslimin ? Apakah syurga hanya tertentu buat orang Islam saja? Dan yang benar hanyalah orang Islam saja ? Yahudi tidak sebuah juga, Nasrani tidak sebuah juga ? Kalau engkau mengatakan bahwa yang cukup segala sesuatunya hanyalah orang Islam, sudahkah engkau ketahui hakikat agamamu yang engkau peluk? Apakah sah beragama dengan kebodohan ?

Selanjutnya bersabdalah Tuhan tentang kesucian rumah-rumah tempat beribadat bersujud kepada Allah.

(114) Dan siapakah yang lebih aniaya dari orang-orang yang menghambat masjid-masjid Allah , daripada akan disebut padanya namaNya , seraya berusaha mereka pada meruntuhkannya ? Mereka itu tidaklah akan masuk kedalamnya, melainkan dengan ketakutan. Untuk mereka di dalam dunia ini adalah kehinaan, dan untuk mereka di akhirat adalah azab yang besar.

وَ مَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَّنَعَ مَسَاجِدَ اللهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيْهَا اسْمُهُ وَ سَعَى فِيْ خَرَابِهَا
"Dan siapakah yang lebih aniaya dari orang-orang yang menghalang­ halangi mesjid-mesjid Allah daripada akan disebut padanya namaNya seraya berusaha mereka pada meruntuhkannya?" (pangkal ayat 114).

Meskipun Nabi Muhammad s.a.w telah datang membawa agama Tauhid, membawa Islam dan telah berdiri mesjid Rasulullah di Madinah, namun perlindungan kepada sekalian tempat beribadat menyembah Allah Yang Maha Esa dengan ayat ini telah dinyatakan. Mesjid artinya ialah tempat sujud; di ayat ini dipakai kata jama' yaitu masaajid, artinya semua tempat bersujud, sernua tempat bersembahyang. Dengan jalan pertanyaan yang bernama Istifham-Inkari yaitu pertanyaan berisi sanggahan keras , tempat-tempat beribadat itu telah dibela dengan ayat ini; siapa yang lebih zalim dari orang-orang yang menghalang-halangi mesjid-mesjid Allah ? Artinya, tidak ada lagi orang yang lebih zalim dari orang yang berbuat demikian. Apatah lagi setelah menghalang ­halang berusaha pula meruntuhkannya. Orang-orang perusak mesjid, penghancur rumah-rurnah tempat beribadat itu memang jahat hatinya , jauh dari Tuhan :

أُولَئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوْهَا إِلاَّ خَآئِفِيْنَ
"Mereka itu tidaklah akan masuk ke dalamnya , melainkan dengan ketakutan. "

Padahal apabila telah masuk ke dalarn sebuah tempat beribadat, balk dia mesjid Islam atau sinagog Yahudi, atau gereja Nasrani, namun suasana di dalarnnya sudah lain. Orang-orang yang masuk ke dalamnya dengan hati lembut, telah menyediakan diri buat tafakkur kepada'Tuhan.

Betapapun cara mereka beribadat, namun yang mereka seru hanya Yang Esa juga. Meskipun kadang-kadang bertemu ibadat yang bid'ah atau tambahan-tambahan , namun dia dapat diselesaikan apa bila keinsafan beragama yang sejati sudah mendalam. Tetapi tidak boleh dihalangi , apatah lagi dirusak dan diruntuhkan.

Dikatakan di dalam ayat ini rahasia jiwa orang yang amat zalim itu. Mereka memang takut masuk ke dalam mesjid karena jiwa mereka sudah sangat berjauhan dengan Tuhan. Keganasan mereka menghalangi orang beribadat , atau rnenghancurkan mesjid bukanlah karena mereka gagah berani , tetapi si pengecut.

Orang yang beribadat kepada Allah , yang meramaikan tempat beribadah , memang tidak merasa takut dan tidak tunduk hatinya kepada penguasa dunia yang sombong lagi aniaya itu. Meskipun mereka kelihatan lemah , tetapi jiwa mereka tidak bisa diperkosa. Si zalim takut masuk ke dalam tempat beribadat karena takut mendengar khutbah yang berapi-api mencela perbuatannya. Bagaimana zalim pula ancaman Tuhan kepada mereka.

لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ
"Untuk mereka di dalam dunia ini adalah kehinaan."

Sebab mereka menjadi timbunan sampah dan nista orang yang dianiaya. Orang menutup mulut hanyalah karena takut akan aniaya saja. Kadang kadang apabila orang tidak tahan menderita lagi, orang akan merenggutkan mereka dari kekuasaannya.

Siang malam orang-orang yang zalim itu tidak akan bersenang diam, karena hati kecil mereka sendiri telah merasa amat bersalah, karena telah merusakkan tempat yang dimuliakan dan disucikan orang.

وَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيْمٌ
"Dan untuk mereka di akhirat adalah azab yang besar." (ujung ayat 114).

Macam-macam pulalah riwayat ahli tafsir tentang sebab turun ayat ini. Kadang-kadang mereka bawakan hikayat seketika Nebukadnesar menaklukkan Jerusalem, lalu meruntuh dan menghancurkan Haikal Sulaiman atau Baitul Maqdis yang terkenal itu. Ada pula yang mengisahkan masuknya tentara Romawi ke Palestina 130 tahun setelah wafatnya Nabi Isa al-Masih, lalu mereka hancurkan pula kembah bangunan bangunan ibadat orang Yahudi.

Ada pula yang mengatak-an bahwa ayat ini adalah suatu bayangan , bahaya besar yang akan datang kemudian hari dalam Islam sendiri, yaitu datangnya kaum Qaramithah menyerang Mekkah merusak mesjid dan mencungkil Hajarul Aswad (Batu Hitam) dari Ka'bah dan mebawanya ke Bahrain, pusat kedudukan merka. Sampai 22 tahun lamanya batu mulia itu tertahan disana. Dan ada juga mentafsirkan ketika tentara Salib menyerang negeri-negeri Islam dan meruntuhkan mesjid-rriesjid .

Tetapi meskipun semuanya itu dipandang dari sanad riwayat tidaklah kuat untuk menjadi sebab turun ayat, namun ayat ini telah menjadi pendirian yang pokok dari Islam, yaitu membela dan mempertahankan dan menjaga kemuliaan tempat-tempat beribadat.

Baik tempat beribadat orang Yahudi atau orang Nasrani, atau apatah lagi mesjid mesjid Islam. Dengan pemeluk kedua agarna itu pertukaran pikiran tentang i'tikad boleh diteruskan. Kepercayaan mereka yang salah boleh dibantah, akal dapat diadu dengan akal. Tctapi sinagog , gereja dan biara mereka tidak boleh diganggu.

Tidak boleh diganggu adalah kata yang masih pasif. melainkan lebih tegas lagi; wajib dibela dan dipertahankan. Malahan pembelaan terhadap tempat-tempat beribadat itulah yang menjadi dasar politik mendirikan pertahanan dalam Islam.
Artinya membentuk tentara dalam Islarn, menjadi senjata dan kendaraan untuk perang, semuanya itu tujuan pertama adalah guna mempertahankan dan merribela sinagog, gereja, biara dan mesjid dari kezaliman luar.

Pemeluk agama lain itu di dalam pemerintah Islam diberi jaminan dan dibela dalam ibadat dan rumah suci mereka *[Dasar pofitik dan pertahanan islam ini ditulis lagi dengan jelas didalam Surat al-Haj (Surat 22 ayat 40).Sudilah diperiksa]

Sebab itu maka seketika Saiyidina Abu Bakar akan menyuruh Usamah berperang, atau menyuruhKhalid bin al-Walid menaklukkan negeri-negeri taklukkan Roma-wi yang beragama Nasrani, beliau pesankan yang terutama agar rumah-rumah ibadat jangan diganggu. Pendeta-pendeta yang sedang mengerjakan upacara agama jangan dihalangi. Itu pula sebabnya maka seketika Jerusalem ditaklukkan oleh tentara Islam , Uskup Nasrani memohon Khalifah Umar bin Khathab sendiri datang menerima penyerahan takluk mereka , dan langsung Uskup itu diakui dalam jabatannya itu dengan tidak diganggu.

Bahkan dalam Kerajaan Turki Osmani , seketika Sultan Muhammad Penakluk (al-Fatih) menaklukkan Konstantinopel (1453) Patrick Nasrani di sana , beliau di akui dan diangkat menjadi menteri untuk urusan agama mereka dalam perlindungan baginda.

Sampai sekarang , Kerajaan Turki Osmani telah habis, dan Turki telah bertukar menjadi Republik namun gereja Kristen Orthodox , masih tetap berpusat di Konstantinopel. Patricknya yang tertinggi masih berkedudukan di negeri itu. Sebab yang terpenting ialah bahwa setelah negeri itu dikuasai oleh Kerajaan Turki Islam, kedudukan itu tidak diganggu, sehingga tidak ada niat Gereja Orthodox memindahkannya ke negeri lain. Sebab Konstantinopel dahulunya adalah pusat Kerajaan Byzantium.

Oleh karena ayat ini, Alhamdulillah, bersihlah sejarah perjuangan dan perkembangan Islam daripada meruntuhkan sinagog , gereja atau biara. Malahan seketika Khalifah Umar bin Khathab datang ke Syam menerima penyerahan takluk kaum Nasrani itu , hari telah petang , waktu Ashar sudah hampir habis , padahal beliau sedang dalam pekarangan Gereja Qiyamat , yang menurut kepercayaan or­ang Nasrani dari sanalah Nabi Isa a.s. naik ke langit setelah dia bangkit dari kubur.

Setelah beliau menyatakan bahwa beliau hendak sembahyang, pendeta di gereja itu mempersilahkan beliau masuk ke dalam saja, agar beliau sembahyang secara Islam di pekarangan dalam itu. Tetapi beliau menolak dengan alasan, kalau beliau sembahyang ke dalam, takut kalau-kalau datang orang Islam yang di belakang hari yang mendengar beliau pernah sembahyang di sana, merekapun meminta pula diizinkan sembahyang disitu, sehingga orang Nasrani sendiri yang hendak beribadat cara agamanya jadi terganggu karenanya. Sebab itu beliau sembahyang di luar pekarangannya saja.

Sungguhpun begitu sarnpai sekarang ini, turis orang Islam berziarah ke gereja itu, pendeta-pendeta yang di sana masih dengan bangganya menunjukkan bahwa di tempat ini pernah Umar bin Khathab sembahyang.

Padahal Kerajaan Perancis ditahun 1830 setelah menaklukkan Aljazair, sudah merampas mesjid Islam clan mengalihkannya menjadi gereja tidak dengan persesuaian penduduk Muslimin. Maka setelah Aljazair menang dalam perjuangan kemerdekaannya (1963), mesjid itu diambil orang kembali dan patung-patung yang ada di dalamnya , dihancurkan , mihrabnya ditegakkan sebagai semula .

Sudah banyaklah perjuangan yang ditempuh Islam, ada masa pasang naik dan ada masa pasang turun , namun suatu hal yang menimbulkan rasa bahagia dalam hati , tidaklah banyak kejadian raja raja dan penakluk Muslim yang melanggar larangan keras Allah dalam ayat ini , menghalangi pemeluk agama lain memasuki rumah ibadat mereka , apatah lagi menghancurkan. Sebab Allah sendirilah yang mencap mereka zalim , tidak ada zalim lebih atas dari itu lagi , jika menghalangi orang beribadat atau mereka runtuhkan tempat beribadat.

Cuma Kaisar Moghul Aurangzeb yang bertindak agak keras ketika baginda menaklukkan India. Yaitu baginda perintahkan meruntuhkan kuil-kuil Hindu tempat memuja Dewa-dewa: Dewa Brahmana, Dewa Wishnu, Dewa Shiwa dan beratus-ratus bahkan beribu dewa lagi.

Tetapi tidak beliau ganggu gereja-gereja Kristen yang telah ada dibawah orang Portugis (Katholik) di beberapa negeri waktu itu. Karena menurut hemat beliau, kuil-kuil itu tidaklah tempat memuja Allah, tetapi memuja berhala. Sebab itu seketika menulis riwayat Kaisar-kaisar Moghul di India itu , orang-orang Barat lebih memuji ­muji Kaisar Akbar dan memburuk-burukkan Kaisar Aurangzeb. Sebab Kaisar Akbar bukan saja menenggang orang Hindu, bahkan di akhir hayatnya, karena tenggang menenggang, tidak tentu lagi agama apa yang baginda peluk.

Di istana baginda ada api pujaan orang Parsi. Ada berhala ­berhala orang Hindu, ada pula panitia penterjemahan Taurat dan Injil. Dan beliau coba membentuk sebuah agama baru, gabungan segala agama, yang beliau namai Din Ilahi : Agama Tuhan. Dan beliau jadikan api sebagai rumus dari kekekalan Tuhan.

Karena tenggang­ menenggang , baginda korbankan agama baginda sendiri, dan beliau bentuk agama baru. Tetapi setelah baginda mangkat , yang mengantarkan jenazah baginda kekubur tidak lebih dari 10 orang , karena hanya 10 orang yang benar-benar menganut agama itu. Kemudian agama itu telah diteruskan oleh Nyonya Annie Besant , dan Nyonya Balavatsky dengan Theosofie.Dan di masa puteranya Syah Jehan, agama Akbar itu dipadamkan kembali.

Tetapi toleransi yang demikian luas dalam Islam telah disalah ­gunakan oleh pemeluk agama lain, terutatna Nasrani. Di mana-mana negeri yang mereka merasa kuat , berebutlah mereka mendirikan gereja di daerah orang Islam , sehingga Ulama Fiqh mengeluarkan berbagai hasil Fiqh mengatur , bahwa di daerah Islam tidak boleh didirikan gereja yang baru. Ulil-Amri Islam berhak mengaturnya.

Dan di Tanah air kita Indonesia, setelah negeri ini bebas dari penjajahan Belanda-Kristen , perlombaan mendirikan gereja di tanah­tanah orang Islam , meskipun di tempat itu tidak ada orang Kristen bertambah hebat dari pada waktu penjajahan sendiri. Meskipun golongan penduduk yang terbesar (mayoritas) adalah kaum Muslimin. Apa sebabnya ?

Karena umumnya pemegang kekuasaan adalah orang yang mendapat pendidikan Belanda khususnya dan Barat umumnya, yang bagi mereka tidak perduli dan tidak jadi perhatian , apakah yang banyak itu gereja atau mesjid. Dan pendidikan Barat yang telah berurat-berakar itu menyebabkan timbulnya satu perasaan , bahwa kalau rnereka mempertahankan hak kaum Muslimin, rnereka akan dituduh fanatik. Oleh karena taktut dituduh fanatik itu , mereka akan marah dan sangat murka kepada orang Islam sendiri, kalau orang Islam itu saja menentang orang mendirikan gereja di pekarangan kaum Muslimin.

Keluasan dada Islam yang ditanamkan oleh ayat yang bertuah ini, adalah satu perinngatan keras yang wajib dipegang teguh oleh penguasa-penguasa Islam. Itu sebabnya maka sampai sekarang orang Nasrani minoritas di negeri-negeri Islam , sebagai di Mesir, di Suria , Irak dan Transyordania , masih tetap ada. Mereka itu telah diakui dan dilindungi (dzimmi) sejak 14 abad yang telah lalu.

Di Libanon mereka dapat mendirikan negara sendiri , di mana mereka dapat menjadi presiden menurut Undang Undang Dasar yang disokong oleh Perancis di waktu Libanon mencapai kemerdekaannya. Tetapi orang Islam di Spanyol setelah pertahanan terakhir Kerajaan Islam di Granada (Banil Ahmar) kalah, maka mereka yang tinggal di Spanyol dipaksa masuk Nasrani dengan keras , dan mesjid-mesjid mereka dijadikan gereja .

Yang masih saja berkeras memegang agamanya diusir besar-besaran berjuta banyaknya. Sebab itu maka babis musnahlah minoritas Islam dari negeri Spanyol, Portugal dan juga Prancis.

Seketika hebat peperangan Turki 0smani dengan Rusia-Tsar di dalam abad kesembilan Belas, Kerajaan Tsar menuntut Kerajaan Turki memberikan hak bagi Rusia memperlindungi umat Kristen di negeri Turki.

Padahal perlindungan yang diberikan Turki kepada minoritas Kristen itu telah cukup baik. Malahan sampai sekarang ini sebagai kita tuliskan di atas tadi, Gereja Orthodox Yunani yang banyak tersebar di Eropah Timur dan Rusia masih tetap berpusat di Istambul dan Gereja Kopti masih tetap berpusat di Iskandariyah.

Ada orang membantah , mengapa Sultan Muhammad Penakluk menjadikan gereja Aya Sophia menjadi mesjid Islam. Kita akui itu adalah sebagai lambang kemenangan politik pada waktu itu , yang disodarkan oleh Sultan kepada Uskup Besar Kristen di Istambul (Konstantinopel) karena gereja di waktu itu terlalu banyak sedang mesjid Islam belum ada, padahal kekuasaan sudah di tangan kerajaan Islam. Hal ini berbeda dengan menukar mesjid Gordova menjadi gereja, setelah memaksa sisa orang Islam yang ada di Gordova menjadi Kristen.

Dan Sultan Muhammad Penakluk dan raja-raja Turki kemudiannya tidak ada terdengar meruntuhkan gereja atau sinagog.
Malahan sampai saat tafsir ini dikarang, orang-orang tua-tua Kristen di Yugoslavia masih saja mengenang kebahagiaan yang mereka rasai tatkala negeri mereka dibawah kekuasaan Turki , yang baru pada tahun 1912 dihabiskan dari sana.
Sudah pasti jauh lebih baik pernerintah T'urki-Islam dari pemerintah Komunis Tito.

Dan seketika Jakarta yang didirikan Syarif Hidayatullah (Fatahillah) sebagai lambang kemenangan Islam di Jawa Barat (1527), jadilah Jakarta atau Jayakarta sebuah negeri Islam yang makmur. Tetapi se.jak tahun 1611 masuklah pengaruh Belanda. Maka seketika pengarang Inggris yang besar Arnold Toynbee datang ke Jakarta setelah Indonesia merdeka , dia mengakui keluasan dada kaum Muslimin , karena di mana-mana berdiri gereja-gereja yang megah.

Sebagai penglihatan sepintas-lalu beliau telah terkesan akan keluasan dada Islam. Padahal bukan keluasan dada saja, melainkan karena tidak ada kekuasan selama 350 tahun. Maka berdirilah gereja-gereja yang rnegah di tempat yang penting-penting ,di tempat yang di diami oleh penduduk sengsara , dengan tidak ada sokongan pemerintah , hanya dari iuran jama'ahnya saja.

Scjarah berjalan terus , kadang-kadang membawa suka , kadang kadang membawa duka. Namun ayat ini terus menjadi ancaman keras kepada penguasa-penguasa Islam, jangan menghalangi orang beribadat , di rumah ibadat, jangan merusakkan tempat beribadat.

Karena perbuatan itu adalah sangat zalim. Dan pertahankanlah sinagog , gereja dan biara, dan. kemudian itu mesjid Islam, daripada gangguan orang-orang yang bermaksud kepada agama memuja Al­lah : Tuhan Allah. Yang Maha Esa.

Memang telah berdiri di beberapa tempat dan kota beberapa mesjid yang besar. Tetapi seluruhnya tidaklah didirikan oleh pemerintah, tidaklah didirikan oleh Kementerian atau Departemen Agama. Hanya sebuah mesjid dalam kota Jakarta, yaitu Mesjid Agung Al-Azhar, yang berdiri di atas suatu pekarangan yang luas di Kebayoran Baru Jakarta Selatan. 90% mesjid itu. adalah bantuan pemerintah, namun panitia dan pengurusnya tetap swasta.

Mengapa yang satu itu lolos ? Ialah karena Perdana Menteri yang mempermudahnya waktu itu ialah Mohammad Natsir, Menteri Agamanya Kyai Faqih Usman dan walikota Jakarta almarhum Syamsurrijal. Ka1au tidaklah karena itu, 90% kemungkinan bahwa tanah itu telah diserahkan kepada Katholik.

Mesjid Istiqlal yang dikerjakan dalam masa lebih 10 tahun, asal mulanya telah diprakarsai oleh satu panitia swasta. Tetapi untuk kemegahan dirinya , Ir Sukarno rnencaplok panitia itu , lalu dikepalainya sendiri. Setelah dia jatuh, kembali seret lagi pembangunan mesjid itu.

Dan seluruh panitia pendirian mesjid-mesjid di daerah yang luas di Indonesia ini , seperti Mesjid Ambon , Mesjid Kota Medan , Mesjid Agung di Palembang , mesjid di Flores dan lain-lain , adalah panitia swasta belaka, pengusaha pemerintah takut rnenonjolkan diri , mengelakkan tuduhan fanatik agama.

Di beberapa kota orang mendirikan mesjid dengan memakai nama Jendral-jendral supaya jangan terlalu bayak desas-desus menghalang-halanginya. Sebab orang takut kepada nama tentara.

01  02  03  04  05  06  07  08  09  10  11  12  13  14  15  16  17  18  19  20  21  22  23  24  25  26  27 28  29  30    31 32 33 34 35 36 37 38 39 40                                To Main Menu