Tafsir Surat As-Syu'aro Ayat 90 - 104         

(90) Dan dihampirkanlah syurga bagi orang-orang yang bertakwa.

 

(91) Dan dinampakkanlah neraka bagi orang-orang yang sesat.

 

(92) Dan dikatakan kepada mereka: Di manakah dia benda yang kamu sembah selain dari Allah?

 

(93) Adakah bisa mereka menolong kamu atau mereka mendapat pertolongan?

 

Penyesalan

Dalam rangka peringatan tentang kisah Nabi Ibrahim berlawanan dengan ayahnya karena bertentangan kepercayaan itu, sehingga di akhirat akan ter­paksa mereka bersimpang jalan, dan tidak akan berfaedah walaupun Nabi Ibrahim mendoa kepada Tuhan memohonkan ampun untuk ayahnya, maka di ayat 88 dijelaskan suatu kenyataan, yaitu bahwa di hari itu harta dan anak tidaklah akan dapat menolong. Walaupun misalnya ayah Nabi Ibrahim seorang yang kaya-raya, tidaklah hartanya itu dapat menolongnya dan menebusnya daripada siksaan Tuhan. Dan walaupun Nabi Ibrahim itu anak kandungnya. namun anak kandung itu pun tidak dapat menolong. Di ayat 89, diterangkan­lah bahwasanya yang akan selamat hanyalah orang yang datang atau kembali kepada Allah dengan hati yang salim, hati yang bersih daripada syirik. Hati yang tempatnya bergantung hanya Allah Yang Esa.

Pada penafsiran yang telah lain, kita sudah tahu bahwa Nabi Ibrahim itu sangat cinta kepada ayahnya. Dia kasihan kalau ayahnya akan mendapat siksa­an Tuhan. Tetapi walaupun dia kasihan, tidaklah dia berdaya buat menolong ayahnya itu di saat amat genting itu. Di sinilah kita mendapati bahwa dukacita keluarga itu banyak menimpa Rasul-rasul Allah yang besar. Nuh tidak dapat menolong anaknya, sehingga anak itu turut tenggelam bersama-sama orang­orang yang tenggelam, sedang yang terlepas selamat dengan bahtera Nuh hanya orang-orang yang beriman. Nabi Luth selamat, seketika negeri Sadum dan Gamurrah dihancurkan, tetapi isterinya sendiri turut dalam golongan orang yang kena azab. Sebab itu maka Nabi Muhammad pernah menyatakan kepada anak kandungnya yang dikasihinya, yaitu Fatimah Azzahra, tebuslah dirimu hai anakku daripada api neraka, karena aku tidaklah akan dapat menolongmu! Hanya orang yang pulang kepada Allah dengan hati yang bersih jualah yang akan selamat.

Sekarang serangkaian dengan kisah Nabi Ibrahim itu, Tuhan memberikan penjelasan lagi tentang ihwal yang akan dihadapi pada hari Kiamat itu.

وَ أُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقينَ
"Dan dihampirkanlah syurga bagi orang-orang yang bertakwa." (ayat 90)

وَ بُرِّزَتِ الْجَحيمُ لِلْغاوينَ
“Dan dinampakkanlah neraka bagi orang-orang yang sesat."(ayat 91) .

Pada kedua ayat ini diterangkanlah apa yang akan dihadapi pada hari kiamat itu. Yang akan dihadapi hanyalah salah satu daripada dua, pertama syurga, kedua neraka. Yang akan menghadapinya dua macam manusia pula; pertama orang yang muttaqin, orang yang bertakwa; kedua orang yang ghawin, orang-orang yang sesat langkah.

Apakah arti dihampirkan di sini? Apakah orang yang muttaqin itu duduk atau berdiri saja, lalu Tuhan memerintahkan malaikat membawa syurga itu ke dekat mereka? Tentu bukan demikian!

Untuk memahamkan arti dihampirkan, hendaklah kita ingat kembali jalan apa yang mesti kita tempuh supaya kita lebih hampir dan lebih dekat kepada Allah? Yaitu yang di dalam Surat al-Fatihah sudah kita ketahui rumus jalan itu, yaituAsh-Shirathal Mustaqim. Jalan yang lurus. Sudah kita fahami pula bahwa­sanya garis lurus atau jalan lurus ialah jarak yang paling dekat atau paling hampir, di antara dua titik. Supaya kita selamat menempuh jalan lurus itu, kita disuruh mempersiapkan diri dengan takwa. Yaitu selalu Wiqayah, selalu me­melihara hubungan baik dengan Tuhan. Mengerjakan apa yang diperintahkan, menghentikan apa yang dilarang, dan menjaga terus-menerus agar hubungan kita dengan Dia jangan putus dan jangan kendur. Di dalam menegakkan takwa itu diikutilah ajaran-ajaran yang ditunjukkan oleh Rasul. Maka di dalam kata takwa itu terkandunglah tawakkal, ridha, ikhlas, takut, harap dan cinta. Dan pokok tempat tegaknya ialah Tauhid dan Iman.

Nama sifat ialah Takwa, nama orang-orang yang menjalankannya ialah Muttaqin. Biasa juga orang memberi arti takwa dalam bahasa kita dengan takut. Apabila kita dalam maksud kata takwa maka kalau diartikan takut, belumlah tercakup seluruh makna yang terkandung di dalamnya. Dalam takwa juga terkandung cinta sedang di dalam arti takut belum tentu terkandung cinta. Ada juga orang memberikan arti dengan bakti. Padahal kata bakti bisa dipakai untuk yang lain juga. Misalnya bakti kepada dua orang ibu-bapa, bakti kepada bangsa dan tanahair. Bakti kepada masyarakat. Tetapi tidak dapat kita mengatakan takwa kepada ibu-bapa, takwa kepada bangsa dan tanah air dan takwa kepada masyarakat. Takwa hanya kepada Allah saja.

Oleh sebab itu tepatlah keputusan yang diambil oleh seminar yang diada­kan oleh Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) pada bulan November 1961, ketika mengambil definisi tentang Kebudayaan Islam, yaitu Kebudayaan yang berdasar Takwa. Artinya kata-kata Takwa itu diambil seluruhnya, dengan tidak dicari arti yang lain lagi.

Maka di dalam ayat ini Tuhan menegaskan bahwa syurga didekatkan atau dihampirkan, tidak salah pula agaknya kalau dikatakan dihidongkan ke hadapan orang-orang yang bertakwa.

Dan neraka dinampakkan kepada orang yang sesat. Sejak mereka hidup di dunia, mereka telah menempuh jalan yang sesat. Mereka telah meninggalkan Ash-Shiratal Mustaqim. Maka ujung jalan yang tersesat itu tidak lain daripada neraka. Meskipun belum sampai masih di tengah jalan, mereka telah menam­paknya, atau telah dinampakkan kepada mereka. Akan surut tidak mungkin lagi. Meskipun anak dengan ayah kandungnya, sebagai Ibrahim dengannya. Sampai di akhirat mereka terpaksa bersimpang jalan.

Sebelum mereka dimasukkan ke dalam neraka itu, yang selalu mereka lihat sebelum mereka masuki, mereka terlebih dahulu didesak dengan berbagai pertanyaan. Di antara pertanyaan yag pokok ialah:

وَ قيلَ لَهُمْ أَيْنَ ما كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ
"Dan dikatakan kepada mereka: Di manakah dia benda yang kamu sembah selain daripada Allah itu?" (ayat 92).

مِنْ دُونِ اللهِ هَلْ يَنْصُرُونَكُمْ أَوْ يَنْتَصِرُونَ
“Adakah bisa mereka menolong kamu atau mereka mendapat per­tolongan?" (ayat 93).

Cobalah gambarkan dalam fikiran kita membaca ayat ini. Api neraka yang berkobar-kobar dan bernyala-nyala senantiasa dinampakkan jua, dalam pada itu pertanyaan datang bertubi-tubi. "Sekarang mereka sudah nampak di hadapanmu. Dahulu di waktu hidup di dunia kamu menyembah kepada yang selain Allah, seumpama berhala yang disembah oteh ayah Nabi Ibrahim itu atau benda yang lain atau manusia yang dipandang sebagai memandang Tuhan. Sekarang mana dia segala yang kamu sembah itu ? Mengapa tidak mereka tolong melepaskan kamu, padahal di kala hidupmu di dunia kamu sembah mereka? Di antara yang kamu sembah itu ialah manusia sendiri. Maka cobalah kamu lihat, apakah manusia yang kamu berhalakan itu dapat me­nolong kamu atau dapat menolong diri mereka, karena mereka pun meng­hadapi pertanyaan di hari ini?

Niscaya tidaklah dapat dijawab lagi pertanyaan itu. Karena memang sudah salah.

(94) Maka dihumbankanlah mereka kepadanya: mereka dan orang-­orang yang sesat.

 

فَكُبْكِبُوا فيها هُمْ وَ الْغاوُونَ
"Maka dihumbankanlah mereka kepadanya. Mereka dan orang-orang yang sesat itu." (ayat 94).

Kata "dihumbankan" kita ambil menjadi arti daripada kubkibu. Karena menurut rasa bahasa penafsir, kata "humban" ialah yang lebih dekat dengan kubkibu itu. Artinya yang lebih luas ialah diambil badan orang, lalu dilempar kan ke dalam neraka dengan kepalanya didahulukan. Humban adalah bahasa Minangkabau. Di ayat ini disebutkan bahwa mereka dihumbankan kepadanya. Di sini didahulukan menyebut manusia-manusia yang diberhalakan itu, yang selama ini dijadikan persembahan selain Allah. Bagaimana mereka akan dapat menolong orang-orang yang menyembahnya itu, padahal mereka sendirilah yang terlebih dahulu dihumbankan dan tidak pula dapat menolong diri mereka sendiri. Mereka dihumbankan bersama-sama dengan orang-orang sesat yang telah menyembah mereka di masa hidup itu.

Yang dimaksud di sini niscayalah orang yang dengan suka jika dia di­berhalakan, atau yang menganjurkan supaya dia diberhalakan.

Kalau manusia menyembah mereka di luar suka mereka, misalnya orang­-orang yang dikeramatkan kubumya sesudah dia mati, sehingga dia tidak tahu­ menahu, tidaklah kena oleh ayat ini.
(95) Dan tentara-tentara iblis semua­

 

وَ جُنُودُ إِبْليسَ أَجْمَعُونَ
"Dan tentara-tentara iblis semua." (ayat 95).

Pada ayat ini diterangkan Iagi bahwasanya bukan manusia yang diberhala­kan itu saja bersama dengan orang-orang yang sesat itu yang akan dihumban­kan ke neraka, bahkan seluruh tentara iblis pun sama-sama dihumbankan. Tentara iblis itu terdiri daripada manusia dan jin, syaitan kasar dan syaitan halus, yang dipasang oleh iblis menjadi kaki-tangan buat merayu manusia supaya sesat daripada "Ash-Shirathal Mustaqim" tadi. Tentara iblis yang halus berbisik atau menuangkan waswas kepada hati manusia yang kurang iman, yang tidak ada pegangan yang tidak mau takwa. Dan tentaranya yang kasar berusaha pula menyesatkan dengan bujuk rayu mulutnya, semua dihumban­kan masuk neraka. Sebab iblis sendiri tidaklah akan berhasil maksudnya menyesatkan orang, kalau dia tidak memasang kaki-tangan atau tentara.
(96) Mereka pun berkata, sedang mereka itu di  dalam nya bertengkar.

 

(97) "Demi Allah." Sesungguhnyalah kami di dalam kesesatan yang nyata.

 

(98) Tatkala Kami samakan kamu dengan Tuhan Sarwa Sekalian Alam.

 

(99) Dan tidaklah ada yang me­nyesatkan kami, kecuali orang­orang yang berdosa.

 

(100) Lantaran itu tidaklah ada bagi kami orang-orang yang akan menolong.
 

 

(101) Dan tidak pula sahabat-sahabat yang setia.

 

(102) Maka sesungguhnya kalau ada­lah bagi kami kesempatan kem­bali sekali lagi, niscaya jadilah kami daripada orang-orang yang beriman.

 

(103) Sesungguhnya dalam hal yang demikian adalah satu ayat, tetapi kebanyakan dari mereka tidak lah man percaya

 

(l04) Dan sesungguhnya Tuhan ang­kau itu, adalah Dia Yang Maha Gagah, lagi Penyayang.

 



قالُوا وَ هُمْ فيها يَخْتَصِمُونَ
"Mereka pun berkata; sedang mereka itu di dalamnya bertengkar." (ayat 96).

Artinya, setelah semua, baik manusia yang diberhalakan itu ataupun manusia yang telah sesat menyembah berhala itu, ataupun tentara-tentara iblis tadi sampai dalam neraka, bertengkarlah mereka, salah-menyalahkan. Di dalam ayat ini diterangkanlah apa yang akan jadi perkataan orang-orang yang telah terlanjur sesat itu.


 

"Demi Allah! Sesungguhnyalah kami di dalam kesesatan yang nyata." (ayat 97).

إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعالَمينَ
"Tatkala kami samakan kamu dengan Tuhan sarwa sekalian alam." (ayat 98).

Setelah dalam neraka, barulah mereka menyatakan penyesalan. Mengaku­lah mereka bahwa amalan mereka selama hidup itu, menuhankan manusia atau benda, adalah perbuatan yang sesat. Sesat, karena telah menyamakan makhluk dengan Tuhan Allah Rabbul `Alamin. Padahal segata makhluk yang disembah itu tidak berkuasa sedikit jua, tidak memberi manfaat dan tidak memberi mudharat. Bahkan temyata sekarang bahwa orang yang disembah itu sendiri pun sama masuk ke dalam neraka dengan mereka. Dan penyesalan itu mereka teruskan juga.

وَما أَضَلَّنا إِلاَّ الْمُجْرِمُون
"Dan tidaklah ada yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa." (ayat 99).

Di kala hidup mereka telah tersesat karena menurutkan bujuk rayu orang­-orang itu. Mereka mengatakan bahwa merekalah yang akan menolong, rupa­nya sekarang tidaklah dapat mereka menolong, bahkan mereka yang disangka akan menolong itu telah terlibat pula dalam dosa yang sangat besar, sebab mereka mengajak manusia mempersekutukan yang lain dengan Allah, kadang­kadang termasuk din mereka sendiri.

 

"Dan tidak pula sahabat yang setia." (ayat 101).

Apabila orang telah mengeluh mengingat kealpaan masa lampau, banyak­lah yang teringat kembali

Di dalam keluhan yang dilukiskan pada ayat 101 ini mereka menyebut salah satu sebab yang penting yang menjerumuskan manusia ke dalam kesesat­an, yaitu teman sejawat, atau sahabat setia. Kadang-kadang juga isteri, karena dialah teman hidup yang paling akrab. Banyak orang terjatuh terjerumus karena kesalahan isteri serta sahabat-sahabat karib yang tidak pernah datang lagi. Mereka tidak dapat menolong apa-apa, sebab mereka pun sibuk dalam urusan mereka sendiri dan mempertanggungjawabkan pula segala kesalahan yang mereka perbuat.


"Maka sesungguhnya kalau adalah bagi kami kesempatan kembali sekali lagi, niscaya jadilah kami daripada orang-orang yang beriman." (ayat 102).

Inilah penyesalan yang timbul setelah berada dalam neraka. Menyesal memohonkan yang tidak-tidak, yaitu ingin kembali lagi ke dunia, supaya dapat memperbaiki hidup dan menempuh jalan lurus "Ash-Shirathal Mustaqim". Kalau Tuhan berkenan memulangkan mereka hidup sekali lagi ke dunia, mereka berjanji hendak menjadi orang yang beriman.

Di dalam bahasa Arab keinginan yang tidak dapat terlaksana ini dinamai tamanni. Orang yang telah menempuh kelanjutan hidup di akhirat, tidak bisa lagi ke dunia buat mengulangi hidup yang fana. Sebagaimana orang yang mengeluh di hari tua tidaklah bisa meminta kembali jadi muda. Dan orang muda yang kesal dalam kemudaannya tidaklah bisa kembali bergelung ke dalam perut ibunya.

Dalam Agama Islam tidak ada ajaran perulangan hidup, yang oleh orang Hindu disebut Karma. Yaitu manusia mengulang hidup ke dunia kembali. Filsa­fat Ajaran Karma Hindu ini pun pada hakikatnya takut akan Karma itu. Mereka ingin janganlah mereka berulang-ulang hidup. Sebab itu mereka berusaha berbuat baik di dunia ini, karena mengharap terus saja masuk ke alam baqa yang kita namai syurga itu. Sebab itu kalau ada orang yang ingin mengulangi hidup untuk berbuat amal yang baik, menempuh jalan yang lurus, ada pula orang yang takut hidupnya akan terulang lagi.

Setelah menguraikan keluhan dan penyesalan orang yang sesat itu, ber­sabdalah Tuhan:

"Sesungguhnya dalam hal yang demikian adalah satu ayat, tetapi kebanyakan dari mereka tidaklah mau percaya." (ayat 103).

Di dalam ayat ini Tuhan Allah memperingatkan bahwasanya kisah yang akan kejadian atas orang yang sesat karena mempersyarikatkan yang lain dengan Allah, sampai demikian peringatan yang wajib dicamkan. Yang menjadi dari ayat peringatan Tauhid ini, ialah betapa pun mengeluh menyadari nasib, semua buat pulang ke dunia setelah di neraka tidaklah mungkin lagi. Dan ayat peringatan ini pun boleh menimbulkan pertanyaan dalam hati, yaitu: °Apakah orang yang jiwanya telah tercap sesat karena tidak mau menerima kebenaran semasa mereka hidup, akan dapat berubah jika mereka berulang hidup?"

Berapa banyaknya orang yang jiwanya telah demikian rusak, sebagai pencuri besar, telah dihukum dan dimasukkan ke penjara, selama dalam tahanan itu menyesal, tetapi setelah keluar mencuri lagi?

Dalam ayat ini Tuhan menyebut bahwa ini adalah ayat, tetapi kebanyakan mereka tidak man percaya, ayat-ayat ini telah dihadapkan kepada ummat penyembah berhala seketika ayat ini diturunkan di Makkah. Banyak bidal dan perumpamaan dan banyak kisah dan pengajaran telah diberikan, namun mereka masih tetap saja dalam kesesatan, tidak juga mau beriman­

Tetapi di antara yang banyak itu tentu ada juga yang akan insaf. Bahkan kita yang membaca ayat ini sekarang pun akan timbul pengaruh ayat ini dalam hati. Dan kita akan bertanya dalam hati kita sendiri: "Bagaimanakah kalau hal itu kejadian pada diriku sendiri? Bagaimanakah kalau aku akan terlanjur mem­persekutukan Tuhan dengan yang lain, sehingga aku dihumbankan ke dalam neraka, dan aku menyesal pula, apalah akan dayaku!"

Perasaan ini akan timbul dalam diri kita sendiri kalau kita membaca al­Quran menurut sistem yang diajarkan oleh Imam Ghazali. Beliau pernah mengajarkan, kalau membaca al-Quran hendaklah tiap-tiap ayat itu dibawakan kepada diri sendiri, jangan disangka untuk orang lain. Kalau sudah dibaca cara demikian, akan timbullah pertanyaan dalam hati, bagaimana kalau hal ini terjadi padaku?
Perasaan kita hamba Allah yang diselesaikan oleh ayat yang selanjutnya yaitu:

"Dan sesungguhnya Tuhan engkau itu adalah Dia Yang Maha Gagah; lagi Penyayang." (ayat 104).
Dalam ayat ini Tuhan menyatakan dua daripada AsmaNya yang mulia. Pertama ialah: Yang Maha Gagah; AL-AZIZ! Boleh diartikan Maha Gagah dan keras peraturanNya dan keras disiplinNya. Bahwa hukum yang telah ditentu kanNya tidaklah akan berubah. Tidak mungkin orang yang memilih jalan sesat lalu didekatkan kepada syurga dan orang yang Muttaqin dinampakkan ancaman neraka Peraturan akan tetap berlaku. Tetapi Dia mempunyai satu sifat lagi, yaitu Penyayang. Membimbing hambaNya ke dalam jalan yang benar itu, asal saja si hamba menempuh jalan orang yang Muttaqin itu sekarang ini. Umar bin Khathab dan Khalid bin Walid dahulunya sebelum masuk Islam, juga penyembah berhala. Tetapi setelah mereka merubah tujuan hidup, maka dengan RAHIM Allah mereka diberi hidayat. Maka kalau takut akan Allah yang Aziz dengan ancaman nerakaNya, kembalilah kepada Allah Yang Rahim di kala hidup ini sekarang juga.

01     02      03    04    05     06   07  08  09 10  11  12  13  14  15            Back To MainPage       >>>>