Tafsir Surat As-Syu'aro Ayat 52 - 68         

(52) Dan Kami wahyukan kepada Musa: Berjalan malamlah engkau dengan hamba-hambaKu itu, sesungguhnya kamu akan diikuti dari belakang.

 

(53) Lalu Fir'aun mengutus utusan-­utusannya ke kota-kota me­ngumpulkan tentara.

 

(54) Sesungguhnya orang-orang itu hanyalah gerombolan yang sedikit saja.

(55) Sesungguhnya mereka itu mem­buat kita jadi murka.

(56) Dan sesungguhnya kita semua­nya sudah cukup waspada.

 

(57) Maka Kami keluarkanlah mereka dari taman-taman sari dan mata-air.

(58) Demikian juga dari kekayaan dan kedudukan-kedudukan yang mulia.

 

(59) Demikianlah halnya, dan Kami wariskan segalanya kepada Bani Israil.

 

(60) Lalu (Fir'aun dan kaumnya) mengikuti mereka (dari bela­kang) di kala matahari terbit.

 

(61) Setelah kaum itu berpandang­-pandangan, berkatalah pengikut Musa: Sesungguhnya kita ini akan dapat mereka kejar.

 

(62) Musa berkata: Sekali-kali tidak! Karena bersama aku adalah Tuhanku, Dia pasti menunjuki aku jalan.

 
(63) Maka Kami wahyukan kepada Musa, agar engkau pukul dengan tongkatmu itu lautan. Maka laut itu pun belah dualah, dan setiap belahan itu lakssna gunung yang tinggi layaknya.

 
(64) Dan Kami hampirkan pulalah ke sana, pihak yang lain.

 
(65) Dan Kami selamatkanlah Musa dan sekalian orang-orang yang bersama dengan dia.

 
(66) Kemudian itu Kami tenggelamkanlah yang lain tadi.

 
(67) Sesungguhnya demikian itulah tanda kebesaran Kami, tetapi banyaklah di antara mereka yang tidak mau percaya.

 
(68) Dan sesungguhnya Tuhan engkau itu adalah Yang Maha Kuasa dan Maha Penyayang.

 

Pengungisan Besar-besaran
 

Maksud risalat yang diterima Musa daripada Tuhan ialah membawa Bani Israil keluar dari dalam negeri Mesir, agar kembali ke tanah yang telah dijanji­kan buat mereka. Di zaman itu, Bani Israil sebagai keturunan Nabi Ibrahim ada lah ditentukan Tuhan sebagai penerima waris ajaran Nabi Ibrahim tentang Tauhid: "Tiada Tuhan selain Allah".

Waris pusaka ajaran itu telah diterima dan dipelihara turun-temurun oleh anak cucu Nabi Ibrahim, sejak Ishak dan Ismail, sampai kepada Ya'kub dan Yusuf.

Dan seketika Yusuf telah mencapai kedudukan yang tinggi menjadi "Raja Muda" atau "Perdana Menteri" Kerajaan Fir'aun di Mesir, karena kesanggupan­nya memperbaiki ekonomi negeri itu, dibawanyalah ayah dan kesebelas saudaranya berpindah ke Mesir. Seketika Yusuf masih menjadi orang besar dalam negeri Mesir, kehidupan saudara-saudaranya masih terjamin baik. Dan bila Yusuf dan saudara-saudaranya tidak ada lagi, tinggallah keturunan­ keturunan mereka dari duabelas suku. Nasib mereka kian lama kian menurun, sebab tidak ada lagi orang-orang besar Bani lsrail yang naik menjabat jabatan yang tinggi-tinggi.

Setinggi-tinggi jabatan mereka hanyalah menjadi pengawal istana atau pemikul beban-beban yang berat. Kian lama mereka menjadi kaum kelas dua dalam masyarakat Mesir, menjadi kuli, menjadi seperti budak. Namun mereka tetap memelihara dan mernpertahankan kepercayaan yang mereka terima dari nenek-moyangnya. Sudah beratus tahun tinggal dalam negen itu, turunan demi turunan, namun pada umumnya tidak ada di antara mereka yang mau menukar agamanya, untuk memandang bahwa Fir'aun ada­lah Tuhan pula di samping Allah. Pemeluk agama yang taat, akan tetap bangga dengan agama yang dipeluknya, walaupun dia dipandang hina atau bangsa kelas dua. Hal itu kita alami sendiri seketika kita diperintah oleh bangsa Belanda atau bangsa Jepang di negen kita ini. Kecuali orang-orang yang telah mendapat didikan oleh penjajah, tidak ada orang Islam yang terjajah itu yang merasa bahwa agama bangsa yang menjajah itu lebih baik daripada agama Islam. Si penjajah itu terus disebutkan "kafir", walaupun kita di waktu itu diinjak dan ditindas oleh Belanda, dan oleh Jepang. Demikianlah halnya di Mesir pada waktu itu.

Bani Israil yang diperbudak dan dipandang hina , lagi menumpang dalam negeri orang lain, telah ditindas dengan berbagai ragam tindasan, namun mereka tidaklah ada niatan hendak merubah agamanya dengan agama bangsa-bangsa tempat dia menumpang. Dalam hidup yang melarat mereka masih tetap merasa mulia.

Tetapi karena kedudukan yang lemah, baik dalam hal Iqtishad (ekonomi), atau dalam hal kemasyarakatan, apatah lagi dalam hal politik, penderitaan batin yang mereka tanggungkan beratus tahun tidak mendapat jalan keluar. Mereka menginginkan agar Tuhan, yang mereka sebut Yehovah (Allah) mem­bangkitkan seorang pemimpin, atau seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membawa mereka keluar dari negen itu, berpindah ke suatu tempat yang di sana mereka bebas melakukan keyakinan agama yang mereka anut.

Dan Musa pun datanglah. Dialah pemimpin besar yang mereka tunggu­-tunggu itu. Ketika berhadapan dengan Fir'aun tegas-tegas dia menyatakan kehendaknya agar kaumnya diizinkan keluar dart Mesir, berpindah ke tanah yang telah dijanjikan buat mereka , di bumi Kanaan.

Itulah yang diperjuangkan oleh Musa di hadapan Fir' aun. Dia tidak meng­adakan Da'wah kepada Fir'aun sendiri supaya memeiuk agama Tauhid yang dia bawa dan dia pusakai dari nenek-moyangnya. Dia hanya minta kaumnya dibebaskan pindah atau pulang ke negen asal mereka, di seberang laut Qulzum.

Di zaman moden ini gerakan pindah karena agama itu terdapat per­umpamaannya pada cita-cita Pujangga Islam Iqbal mendirikan Pakistan.

Timbulnya seorang pemimpin dari golongan rakyat yang diperbudak selama ini, sungguhlah suatu tantangan besar bagi Fir'aun. Niscaya Fir'aun memandang Musa hanya seorang kecil, seorang yang dia besarkan dalam istananya sendiri.

Seorang yang dahulu lari sebab takut ditangkap karena bersalah membunuh seorang dari kaum keluarga Fir' aun. Lantaran itulah maka penerimaan yang pertama clan Fir'aun terhadap Musa memandang enteng saja. Tetapi seorang Rasul Allah yang bertugas maha berat itu tidaklah dapat dijauhkan dengan cara yang demikian, lain Musa mempertunjukkan Kebesarannya dengan Mu'jizat yang diberikan Tuhan kepadanya. Setelah Musa mengalahkan sihir tukang-tukang sihir yang amat dahsyat itu, yakinlah sudah Fir'aun bahwa Musa bukanlah sembarang orang. Bani Israil yang selama ini diperbudak sudah mempunyai pemimpin Dan dia mempunyai rencana tegas, yaitu meminta kepada Fir' aun supaya Bani Israil dibebaskan dari perbudakannya dan dibiar­kan berangkat meninggalkan Mesir. untuk pergi ke tempat yang di sana mereka bebas melakukan ibadat kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kalau kita fikir sepintas lalu, apatah salahnya kalau Fir'aun mengabulkan permintaan itu. Bukankah tuntutan Musa itu adil adanya?

Difikirkan dari sudut tempat berdiri Fir'aun, tidaklah mungkin Bani Israil diizinkan keluar dari Mesir. Kekuasaan, kemegahan dan kebesaran Fir'aun dengan kliek dan regimnya tidak dapat berdiri kalau di bawahnya tidak ada masyarakat yang diperbudak. Bani Israil adalah kaum yang dipandang hina, sebab mereka bukan asli orang Mesir, tetapi orang yang dipandang hina itu tidak boleh keluar dari Mesir. Sebab "tenaga" mereka amat diperlukan. Kalau mereka keluar, niscaya tidak ada budak fagi. Kerja-kerja besar terhenti. Siapa memikul yang berat.. mengangkat batu, untuk membangun Istana dan Pyramid ?

Berbagai ayat kebesaran Tuhan telah dipertunjukkan oleh Musa selain dari tongkat dan tangan bercahaya itu guna menguatkan tuntutannya. Namun Fir'aun tidak bisa dan tidak mau melepas mereka pergi. Jalan satu-satunya hanyalah dengan bertindak sendiri. Keluar dari Mesirl

"Maka Kami wahyukan kepada Musa, berjalan malamlah engkau dengan hamba-hambaKu. Sesungguhnya kamu akan diikuti dari belakang." (ayat 52).

Memang, Fir'aun tidak akan memberikan keizinan mereka keluar me­ninggalkan Mesir, hal itu akan buntu terus, walaupun akan berpuluh lagi Musa memperlihatkan Mu'jizatnya. Maka dimulailah menggembleng semangat Bani Israil. Di suatu malam yang ditentukan, mereka akan keluar dari Mesir. Akan pindah dengan Wahyu Tuhan. Resiko dari kepindahan itu telah dijelaskan oleh Tuhan, yaitu bahwa mereka akan diikuti dari belakang, dan akan dihalau kembali ke Mesir apabila mereka telah tertumbuk dengan lautan. Mereka tidak ­mempunyai kapal-kapal buat menyeberang, sebab itu kalau mereka dapat dikejar, mereka akan kembali ke Mesir untuk memikul penghinaan yang lebih hebat.

Khabar berita bahwa Bani Israil akan meninggalkan Mesir sudah diketahui. Tetapi Fir' aun menaksir bahwa perpindahan itu tidak akan berlangsung. Tidak ada jalan lain yang dapat mereka tempuh, kecuali dengan menyeberangi Lautan Qulzum, dan kapal tidak ada. Oleh sebab itu setelah santer berita Bani lsrail terdengar di mana-mana, Fir'aun pun mengutus utusan-utusannya ke kota-kota, untuk mengumpulkan bala tentara yang bersedia mengejar orang­orang itu apabila keluar dari kota, dan menghalau mereka, laksana menghalau kambing-kambing kembali ke kandangnya. (ayat 53).

Dan dibuatlah propaganda di dalam mengumpulkan tentara yang akan mencegat itu, bahwa tidaklah seluruh Bani Israil akan keluar, hanyalah segelin­tir kecil saja, satu golongan pengacau yang telah dihasut oleh dua pengacau besar. Musa dan Harun. (ayat 54). Golongan pengacau ketenteraman umum ini telah membuat kita menjadi marah. (ayat 55). Dan kita semuanya sudah cukup waspada menghadapi segala kemungkinan. (ayat 56).

Maka pada suatu malam di waktu penduduk negeri Mesir lena dalam kemegahannya dan orang besar besar tenggelam dalam kenikmatan yang tidak mengenal hari esok, di bawah pimpinan Musa dan Harun, Bani Israil telah meninggalkan Mesir, menuju tepi laut Qulzum, mengangkut segala barang yang dapat diangkut. Padahal apalah yang akan dapat diangkut, selain dari keyakinan akan hidup, di bawah pimpinan seorang pemimpin keras hati, Musa. Dibantu oleh saudaranya Harun.

Benarlah pimpinan tertinggi kerajaan Fir'aun sudah waspada. Orang-orang melarat itu telah berangkat, dasamya hanya berjalan kaki. Kendaraan hanya keledai dan unta, tetapi tidak semua mempunyainya. Oleh sebab itu perjalanan itu amat lambat. Fir'aun dan kaumnya menaksir sekira-kira mereka telah sampai di tepi laut dan tidak dapat melanjutkan perjalanan lagi, waktu itulah kelak tentara berkuda Fir'aun, di bawah pimpinan Fir'aun sendiri datang me­nyambut kemurkaannya kepada "budak-budak" yang tidak tahu diri itu.

Setelah mereka rasa tepat taksiran itu, mereka pun keluarlah laksana ombak dan gelombang layaknya mengejar Bani Israil. Mereka tinggalkan se­genap kemegahan, taman-taman indah dan mata-mata air yang jernih. Mereka tinggalkan kekayaan dan kedudukan yang mulia. (ayat 57-58). Mereka merasa bahwa penghalauan kembali Bani Israil itu pasti berhasil. Mereka tidak insaf bahwa keadaan tidaklah sebagaimana yang mereka taksir itu. Keadaan kelak akan berbalik dari kegedangan serta kebesaran akan bergilir. Kemegahan itu kelak akan diwariskan Tuhan kepada Bani Israil. (ayat 59).

Lalu Fir'aun dan kaumnya mengikuti mereka dari belakang di kala mata­hari mulai terbit. (ayat 60).

Niscaya tidaklah akan sukar mengejar orang-orang yang berjalan beribu-­ribu beriring-iring dengan membawa beban berat-berat, jika yang mengejar itu mengendarai kuda yang kencang larinya. Meskipun mereka telah berjalan sejak permulaan malam. Akhimya terkejarlah mereka, sehingga ketika para pengungsi itu telah dekat ke tepi laut, penqejar-pengejar itu telah dekat sekali kepada mereka, dan sudah kelihatan rupa mereka dengan pakaian kebesaran mereka yang berkilauan karena cahaya matahari pagi, sebagai tersebut dalam ayat 51.

Niscaya ribut dan cemasiah para pengikut Musa, banyak di antara mereka yang telah kehilangan akal dan berkata kepada Musa: "Sesungguhnya kita ini akar. dapat mereka kejar."

Tetapi seorang Utusan Tuhan adalah bekerja dengan tuntunan Wahyu. Mereka merasa bahwa diri.mereka hanya alat belaka dari Kekuasaan Tuhan Yang Maha Tinggi. Di saat yang sangat gawat itulah Musa menyatakan keyakinan kepada pengikut-pengikutnya itu, jangan khuatir. Sekali-kali mereka tidak akan dapat mengepung, menawan atau menghalau kita kembali ke Mesir. Karena bersama aku ini adalah Tuhanku. Dia pasti menunjuki aku jalan. (ayat 62). Itulah penegasan dan satu penegasan Iman yang kamil. Ini seorang Nabi, Utusan Tuhan dan pemimpin. Keyakinannya itu terbukti, karena tidak berapa saat kemudian, di saat Fir'aun dan tentaranya telah sangat dekat, dan Bani lsrail sudah sangat cemas, Wahyu Tuhan pun turun, supaya Musa memukulkan tongkatnya kepada laut. Maka laut pun belah dualah, dan masing-masing belahan itu berdiri laksana gunung yang tinggi layaknya. (ayat 63).

Ada berita lain dalam Kitab Perjanjian Lama, bahwa seketika itu juga datanglah angin samun mengandung api yang amat panas, mendinding di antara Fir'aun dan tentaranya dengan Bani Israil yang telah dekat itu, sehingga kuda-kuda yang sedang dihalau kencang itu tidak dapat maju setapak juga, me­lainkan mundur ke belakang. Walaupun sudah sangat berdekatan. (ayat 64).

Sedang jalan itu terbuka, Musa segera mengerahkan kaumnya yang beribu-ribu itu lalu di atas Lautan Qulzum yang telah mempunyai jalan raya lebar itu, meskipun kiri-kanannya laut telah membeku merupakan gunung yang menakutkan. Samasekali dengan Iangkah yang tidak ada keraguan sedikit jua pun dapatlah mereka mencapai pantai seberang. Benua Asia yang mereka tuju dengan selamat. (ayat 65). Setelah mereka sampai semuanya dengan selamat di seberang, angin samun yang panas, yang tadinya menghambat Fir'aun dan kaumnya buat mengejar, reda dan berhenti. Dengan komando yang garang Fir' aun mengerahkan kaumnya menghalau mencambuk kuda-­kuda mereka untuk mengejar Bani Israil, dan mengejar kedua Utusan Tuhan itu, Musa dan Harun, dengan melalui "jalan" laut yang telah disediakan Tuhan buat hambaNya yang telah diizinkannya itu. Fir'aun tidak merasa ragu me­ngejamya, karena dia memikirkan bahwa jalan itu telah terbuka dengan wajar buat dia dan kaumnya pula, sebab itu hanyalah pasang surut saja, tidak ada hubungannya dengan kekuasaan "Tuhannya si Musa dan Harun".

Tiba-tiba sesampai di tengah lautan, air lautan yang telah menggunung tadi mencair kembali. Amatlah hebatnya pertautan kembali dari dua unggunan air membeku, sehingga kecillah manusia-manusia gagah perkasa yang tidak tahu diri itu di dalam gulungan air. Alangkah dahsyatnya! Mereka berpakaian lengkap, bersenjata, berbaju zirah, berkuda berpelana, beribu-ribu pula banyaknya di bawah pimpinan Fir'aun sendiri tenggelam karam ke dasar laut. Dan laut pun tenang kembali, seperti tak terjadi apa-apa ayat 66.

Sejarah yang ngeri dan dahsyat, tentang tenggelamnya seorang Raja besar yang selama ini sombong dan angkuh dengan kebesarannya, dan tidak mau tahu bahwa ada lagi kekuasaan Maha Tinggi yang mengatasi segala kekuasaan, terlukislah sudah dalam sejarah turun-temurun, dibawakan oleh Bani Israil, oleh ummat-ummat Nabi-nabi yang datang sesudah itu, terlukis di dalam Kitab Taurat dan Kitab Injil, terlukis pula selanjutnya dalam Wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w.

Di dalam ayat 67 Tuhan menegaskan: "Sesungguhnya demikian itulah tanda Kebesaran Kami (Ayat Kami). tetapi banyaklah di antara mereka yang tidak mau percaya."

Siapakah yang tidak mau percaya itu ? Ialah manusia-manusia yang hidup­nya tidak mempunyai dasar kepercayaan akan adanya kuasa ghaib, manusia­ manusia yang memandang segala sesuatu hanya dari segi kebendaan. Yang tidak man percaya bahwa alam ini mempunyai peraturan tertinggi, undang­-undang tertentu yang tidak boleh dilanggar. Maka selalulah akan terjadi, sampai hari kiamat, pertentangan atau berhadap-hadapan, berkonfrontasi, di antara yang hak dengan yang batil, di antara kepercayaan di antara yang ghaib dengan hanya semata-mata bergantung kepada benda. Selalulah kelihatan seakan-akan pada mulanya menang teruslah yang batil. Bertambah dia menang, bertambah dia sombong. Demi apabila dia telah sampai di puncak, atau (klimaks) kesombongan itu, di saat itulah kejatuhannya yang kadang­kadang tidak disangka-sangka oleh manusia.

Maka berkata(ah Tuhan di ayat 68: "Dan sesungguhnya Tuhan engkau itu adalah Maha Kuasa dan Maha Penyayang." "Maha Perkasa" dan "Maha Pemurah". Artinya siapa yang melanggar garis yang ditentukan Tuhan, dia mesti ditelan oleh disiplin Keperkasaan Tuhan, akan tetapi barang siapa yang insaf, lain dia memilih jalan yang benar, jangan hendak mencoba mendabik dada mengangkat kepala merasa diri pun berkuasa, niscaya dia akan mendapat anugerah kerahiman dan kemurahan Tuhan.

Belah taut sebagai Mu'jizat Musa sudah jelas dalam al-Quran dan Kitab Suci Tuhan yang lain. Dan hal ini tidaklah mustahil dalam pertimbangan akal. Ada beberapa kemungkinan. Misalnya di waktu itu pasang sangat surut, sehingga lautan itu dapat dilalui, dan tidak beberapa saat kemudian pasang pun naik. Namun dia adalah alamat yang nyata dari kekuasaan Tuhan, bagi mem­bantu seorang NabiNya

01     02      03    04    05     06   07  08  09 10  11  12  13  14  15    Back To MainPage    >>>>