Tafsir Surat As-Syu'aro Ayat 38 - 51      

(38) Lalu dikumpulkanlah ahli-ahli sihir pada suatu waktu hari yang ditentukan.

 
(39) Dan diserukan kepada orang banyak: Adakah kamu akan ber­kumpul?

(40) Mungkin kita akan menjadi pengikut para pandai sihir itu. jika merekalah yang menang.

 
(41) Setelah datang ahli-ahli sihir itu, merekapun berkatalah kepada Fir'aun: Niscaya kami akan mendapat upah kalau kamilah yang beroleh kemenangan.

(42) Berkata Fir'aun: Tentu! Dan kamu pun pada waktu itu akan menjadi orang yang paling dekat kepada kami.

 
(43) Berkatalah Musa kepada me­reka : Jatuhkanlah apa yang hen­dak kamu jatuhkan itu.

 
{44) Maka mereka pun menjatuhkan tali-temali dan tongkat-tongkat mereka, sambil berkata: Demi kemuliaan Fir'aun, sesungguh­nya kamilah yang pasti akan menang.

 
(45) Maka Musa pun menjatuhkan tongkatnya pula, lantas ditelan­nya segala apa yang mereka sunglapkan itu.

(46) Maka meniarap sujudlah se­kalian ahli-ahli sihir itu.

(47) Mereka berkata: Kami percaya kepada Tuhan sarwa sekalian Alam.

 
(48) Yaitu Tuhan daripada Musa dan Harun.

 
(49) Berkata Fir'aun: Berimankah kamu kepadanya sebelum men­dapat izin daripadaku? Sungguh lah dia itu pemimpin besar kamu yang mengajarkan sihir kepada kamu. Kalian akan tahu sendiri! Akan aku potong tanganmu dan kakimu semuanya, dari sebelah menyebelah yang berlainan, dan sungguh akan aku salibkan kamu sekalian

(50) Mereka menjawab: Tidak me­ngapa! Kami semuanya sekarang telah kembali kepada Tuhan kami.

(51) Kami ingin sekali agar kiranya Tuhan kami memberi ampun ke­pada kami atas sekalian kesalahan kami karena kamilah orang-orang yang mula-mula sekali menyatakan kepercayaan.

 

Di Antara Sihir Dan Mu`jizat

Meskipun tongkat langsung menjadi ular yang hidup, dan bila diambil oleh Musa dia pun kembali menjadi tongkat seperti biasa, dan meskipun tangan Musa yang diangkat ke atas langsung menimbulkan cahaya gemilang, kalau difikirkan oleh Fir'aun dengan seksama, sudah nyata bukanlah sihir, namun Fir'aun belum juga mau tunduk. Memang berat bagi suatu penguasa akan me­nerima kenyataan dari kebenaran, karena yang difikirkannya bukanlah semata kebenaran itu, melainkan kedudukan. Menyerah dan menerima kenyataan ini,. berarti mengaku takluk.

Pada ayat 35 di atas sudah keluar rahasia hatinya yang sebenamya, kalau keganjilan yang dibawa Musa itu diterima, artinya ialah tunggang baliknya kekuasaan mereka: "Dengan sihir itu dia akan mengeluarkan kamu daripada bumimu," akan hilang kekuasaanmu. Fir'aun tidak menyebut dirinya yang akan jatuh, tetapi orang-orang besar yang menyokong regimnya itulah yang akan jatuh. Fir'aun rupanya sudah mengerti bahwa peraduan kekuatan dalam perkara ini akan membawa akibat yang jauh sekali, yaitu jatuhnya pamor kerajaannya. Oleh sebab itu orang besar-besar tadi haruslah rnenunjukkan jalan keluar buat mengatasi kekuatan baru yang dibawa Musa ini. Mungkin Fir'aun sudah kehilangan akal, sehingga tanggungjawab mencari jalan keluar diserahkannya kepada orang besar-besarnya, dan dia hendak melepaskan tanggung jawab kepada orang besar-besar itu, yang kelak, katau masih gagal juga,.merekalah yang disalahkan.

Mengingat janji yang telah mereka berikan, bahwa mereka hidup mati mesti setia' kepada Fir'aunnya, mereka pun memberikan nasihat supaya tukang-tukang sihir di seluruh negeri Mesir dikumputkan. Sementara mengumpulkan ahli-ahli sihir itu Musa dan Harun jangan diganggu dahulu. "Arjih wa akhoa-hu",- "Beri tangguhlah dia dan saudaranya itu:"
Maka diutuslah para utusan ke seluruh kota-kota. Mesir dari Hulu sampai ke Hilir, pada suatu hari yang telah ditentukan. (ayat 38).

Dan diadakanlah propaganda di mana-mana mengajak manusia supaya berkumpul ke tempat yang telah ditentukan itu_ "Apa saudara akan hadir berkumpul bersama-sama, beramai-ramai?" (ayat 38).

Satu pertandingan dan peraduan kekuatan akan ter­jadi di antara ahli-ahli sihir kita dengan Musa dan tongkamya akan beradu kekuatan dengan sihir kita yang piawai. Tentu saja Musa akan kalah, mana boleh sebuah tongkat mengalahkan beribu hasil sihir dari ahli-ahli sihir yang telah berpengalaman ? Sudahlah menjadi adat bagi ahli-ahli Diktator adikara , sejak di dunia ini ada peneguhan kekuasaan manusia atas manusia, bahwa mereka suka sekali mengadakan keramaian-keramaian besar , tontonan , pameran, dengan maksud mempertunjukkan kekuatan. Maka tontonan per­tandingan Musa dan ahli-ahli sihir itu telah dipropagandakan terlebih dahulu di mana-mana, dihebat-hebatkan sehingga orang tertarik hadir, dan kelak bila Musa kalah, dia akan jatuh di hadapan orang banyak, dan kekuasaan Fir'aun akan bertambah kokoh dan teguh, tidak ada lagi "oposisi" yang berani meng­angkat muka.

Sebagaimana tersebut di dalam ayat 40, tukang-tukang memberi pene­rangan dan propaganda telah mulai menyebarkan propaganda bahwa mung­kin yang akan menang ialah ahli-ahli sihir , dan kalau mereka menang , tidaklah ada ragu-ragu lagi , kita pun mesti jadi mengikut ahli sihir, artinya ialah taat setia kepada Fir' aun , Raja kita !.
Menjelang hari yang ditentukan, tukang-tukang sihir itu pun datanglah ber­kumpul dari kota-kota yang jauh itu ke hadapan Fir'aun. Setelah mereka berkumpul menghadap, teruslah mereka berdatang sembah kepada Fir' aun.
"Niscaya kami akan mendapat upah yang setimpal jika kami yang menang kelak." (ayat 41).

Begitulah sikap jiwa dari setiap manusia yang bekerja tidak didorong oleh keyakinan, hanya didorong oleh nafsu menarik untung. Mereka tahu sudah, bahwa raja mereka terdesak. Merekalah sekarang yang menguasai keadaan. Kalau mereka tidak mau, pertunjukan besar itu tidak jadi. Dan kalau mereka mau, berapa mereka akan mendapat upah? Ini adalah kesempatan yang se­baik-baiknya bagi mereka. Jika tidak saat seperti ini, mana pula Raja akan mengingat mereka. Itulah macam jiwa dari kepuyuk-kepuyuk yang datang ber­kerumun mencari keuntungan, laksana semut mengejar gula. Orang-orang semacam inilah yang dapat dikumpulkan Fir' aun.
.
Hari telah dekat juga, nasib kebesaran Fir'aun akan diuji pada hari yang telah dekat itu, maka Fir' aun tidak dapat memberikan jawab lain lagi. Kontan dia berkata:

"Tentu saja! Bahkan bukan saja upah kemenangan sihir hari ini yang akan kalian dapati, bahkan nasib kalian akan diperbaiki, kalian akan dijadikan "orang yang dekat ke istona." (ayat 42).

Setelah mendapat jawaban yang pasti itu, gembiralah hati tukang-tukang sihir itu. Dan setelah datang hari pertunjukan besar itu, berkumpullah mereka di lapangan yang telah ditentukan itu, berhadap-hadapan dengan Musa .
Fir'aun dan orang besar-besarnya menonton dengan serba keangkuhan dan rakyat banyak pun datanglah berduyun-duyun karena propaganda telah ber­jalan berhari-hari sebelumnya. Bukan main riuh rendahnya. Telah banyak orang yang memastikan dalam , hati bahwa Musalah yang akan kalah, sebab mereka belum mengerti apa perbedaan di antara Mu'jizat Kuasa Tuhan dengan sihir khayalan orang yang keha sugesti.

Pertandingan dimulai, kedua belah pihak telah sama tampil ke medan per­tandingan, berpuluh ahli-ahli sihir menghadapi Musa dan Harun.

Hadirin menunggu dengan dada berdebar-debar. Menunggu mana yang akan kalah dan mana yang akan menang. Setelah berkumpul ke tengah clan penonton menunggu dengan dada ber­debar, Musa Utusan Tuhan yang gagah perkasa itulah yang lebih dahulu ber­kata:

"Jatuhkanlah apa yang akan kalian jatuhkan." (ayat 43). Artinya kalian mulailah terlebih dahulu, saya mau melihat apa macamnya sihir yang akan kalian keluarkan.

Ahli-ahli sihir itu pun segeralah memperlihatkan kepandaiannya. Mereka membawa bergulung-gulung tali, mereka pun membawa berpuluh-puluh tongkat. Melihat gulungan tali dan tongkat-tongkat itulah Musa dapat mengerti bahwa semuanya ini akan dilemparkan atau dijatuhkan. Mungkin juga bicara dari mulut ke mulut sudah tersiar, sehingga Musa tahu bahwa sihir yang akan dikeluarkan itu ialah cuma menjatuhkan tali dan tongkat.

Tali dan tongkat itu pun mereka jatuhkanlah ke tanah, sambil menyebut tuahnya:

"Demi Kebesaran dan Kemuliaan Fir'aun, kami pasti menang." (ayat 44).

Dalam ayat di Surat yang lain diterangkan bahwa tali-tali yang bergulung­-gulung dan tongkat yang Iurus itu mereka lemparkan ke bumi, lalu kelihatan seakan-akan tali-tali clan tongkat-tongkat itu bergerak-gerak menyerupai ular. Semuanya menuju kepada Musa. Orang banyak tentu terpengaruh oleh sugesti, sehingga mereka merasa bahwa semuanya itu telah jadi ular hendak mengejar Musa.

Wajah Musa tidak berubah melihat ancaman itu, Fir' aun niscaya merasa gembira dan menunggu apa sikap tangkisan clan Musa. Dengan tenang:

"Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu dimakannya habis segala sunglap mereka itu." (ayat 45).

Tongkat Musa benar-benar menjelma menjadi seekor ular besar, dia men­jalar di tanah dengan kepala terangkat ke atas, lalu ditelannya tali-tali dan tongkat-tongkat yang disulapkan menjadi ular itu. Ditelannya satu demi satu, sehingga habis masuk ke dalam perutnya, sehingga bersihlah tanah lapang itu. Dan setelah habis semua dimakannya, dia pun membelok kembali ke hadapan Musa, dia pun kembali kepada keadaan semula, yaitu jadi tongkat, se­banyak itu tali-temali, tongkat-menongkat yang masuk ke dalam perutnya, namun besar tongkat itu tidak bertambah.

Seluruh orang yang menonton, termasuk Fir'aun sendiri heran terpesona. Yang lebih heran terpesona ialah ahli-ahli sihir itu. Nyatalah bahwa yang mereka hadapi bukanlah sihir, tetapi kekuasaan Yang Maha Tinggi, yang tidak dapat dicapai dengan ilmu. Sihir hanya berlaku kalau orang yang menonton sihir terlebih dahulu merasa bahwa jiwanya terpengaruh. Tetapi sebelum jiwa orang lain terpengaruh oleh keajaiban-besar ini, tukang-tukang sihir itulah yang terlebih dahulu terpengaruh. Mantra-mantra dukun tidak berlaku lagi, hembus­hembusan datu habis kuasanya, tali clan tongkat yang dikhayalkan jadi ular benar-benar ditelan habis, entah ke mana perginya. masuk perut clan ular jelmaan tongkat Musa.

Berpandang-pandanganlah di antara satu dengan yang lain. Sebab mereka telah menyebut tuah sihirnya. "Demi kebesaran kemuliaan Fir' aun," namun bekas sihir mereka habis ditelan.

Bila membaca ayat-ayat ini, seakan-akan tergambarlah dalam pandangan batin kita betapa besarnya Musa pada waktu menanyakan apa yang akan kalian jatuhkan, cobakanlah sekarang.

Nampak betapa tenangnya dan tidak berkocak hatinya seketika tali-temali dan tongkat-menongkat itu telah berjalan menjalar di bumi, karena dia telah mempunyai keyakinan, yaitu keyakinannya seorang Rasul Allah bahwa semua­nya itu tidak ada artinya samasekali di hadapan kebesaran Tuhan.

Tukang-tukang sihir yang tadinya terpesona termenung, akhirnya berfikir, apalah artinya pekerjaan mereka selama ini. Sudah terang kekuasaan dan kebesaran Fir aun kalah di hadapan kebesaran yang disebut Musa, Tuhan Rabbul `Alamin.

Jatuh satu, jatuh dua. Hidayat Ilahi masuk ke dalam hati ahli-ahli sihir itu. Jatuh satu. jatuh dua, mereka bersujud ke bumi, sebagai tersebut dalam ayat 46. Mereka berkata terus-terang:

"Kami percaya kepada Tuhan Rabbul 'Alamin itu." (ayat 47). Mereka tidak perduli lagi bahwa mereka sedang berada di hadapan Fir'aun dan segenap orang besat-besamya. Mereka memang tidak ingat itu lagi. Ke dalam hati mereka telah masuk cahaya Iman.

Orang banyak terdiam!

Niscaya murka besarlah Fir' aun atas perubahan sikap yang tiba-tiba itu. Ahli-ahli sihir yang tadinya meminta upah dan telah dijanjikan upah, bahkan dijanjikan lagi bahwa mereka akan dimasukkan daftar orang yang dekat pada Fir'aun, sekarang berubah demikian saja. Ini adalah satu pengkhianatan.

Maka dengan murkanya yang amat sangat Fir'aun berkata: "Apa? Kalian beriman kepadanya sebelum aku beri izin7 Memang dia (Musa) itu pemimpin besar kalian yang mengajarkan sihir kepada kalian. Kalian akan tahu sendiri! Akan aku potong tanganmu dan kakimu semua, dari sebelah-menyebelah yang ber­lainan, dan sungguh akan aku salibkan kamu sekalian." (ayat 49).

Dimuntahkannyalah kemurkaannya oleh Fir'aun karena kekalahannya yang dua ganda itu. Kalau sekiranya tali-tali dan tongkat-tongkat ahli sihir itu hanya semata dimakan habis oleh tongkat Musa, dipandang sebagai suatu keka(ahan, maka kekalahan yang lebih menyolok ialah karena ahli-ahli sihir itu bembah haluan, dalam sebentar waktu saja. Fir'aun tidaklah mau tahu kepada kenyataan yang dihadapi, sebab bagi dia soal ini adalah soal naik atau hancur bagi kekuasaannya. Sebab itu dia mengancam! Tukang sihir itu akan dipotong tangannya. Kalau tangan kanan yang dipotong, akan dipotong pula kakinya yang sebelah kiri, kalau tangan kiri dipotong timbalannya ialah kaki kanan, tangan hilang, kaki pincang. Bahkan sesudah itu dilakukan, mereka,akan disalib, akan ditegakkan pancang kayu di tengah padang, dan mereka akan digantung sambil dipakukan di atas kayu palang itu.

Ahli-ahli sihir. itumenyambut ancaman itu dengan tenang: "Tidak me­ngapa! Karena sesungguhnya kami semuanya akan kembali menghadap Tuhan kami." (ayat 50).

°Kami ingin sekali agar Tuhan kami itu memberi ampun kami atas ke­salahan-kesalahan kami, karena kami adalah orang-orang yang mula-mula menyatakan Iman."
Dalam beberapa saat saja, ahli-ahli sihir yang beruntung clan berbahagia itu telah merasai lezat dan manisnya Iman. Tidak mereka ingat lagi upah yang telah dijanjikan dan pangkat istimewa yang akan dianugerahkan. Yang me menuhi hati sekarang ini adalah kepercayaan. Berapa banyaknya tukang­tukang sihir, dukun-dukun dan datu mencari berbagai macam ilmu kebal, ilmu tidak hangus berjalan di alas api clan lain-lain namun jiwa tidak juga puas, karena belum bertemu dengan inti ilmu, yaitu mengenal Kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, Ilmu Tauhid.

Sekarang mereka telah melihat dengan mata kepala mereka sendiri kebesaran Tuhan itu, bagaimana mereka akan melepaskannya lagi. Walaupun mereka telah diancam akan dikerattangan dan kaki, bahkan akan digantung kan di atas kayu palang sampai mati, namun bagi seorang yang telah merasai lezat citanya Iman, karena keyakinan yang telah padu, ancaman itu tidaklah ada faedahnya. Mail adalah tujuan bagi setiap orang yang hidup. Kini kau mati, esok pun kau mati. Kalau hukuman itu dilakukan, alangkah bahagianya mereka. Orang-orang yang menghadapi mati karena keyakinannya yang pekat padu, memandang bahwa mati itu adalah satu kepuasan batin yang tiada tara­nya, suatu pengurbanan karena Iman. Sebab itu tidak takut-takut mereka lagi kepada Fir'aun. Fir'aun tidak ada aninya lagi bagi mereka, mereka telah men­dapat pegangan teguh, yaitu Tuhan Rabbul 'Alamin.

Mereka menjawab: "Tidak mengapa! Silakan hukum kami. Lebih lekas lebih baik. Sebab nyatalah sudah dengan kematian Au kami akan lekas berjumpa dengan Tuhan kami, setelah bertahun-tahun hidup di dunia dengan menipu mata manusia. Dengan kemati­an karena engkau hukum hai Fir'aun, engkau hanya berkuasa membunuh badan kami.. adapun Roh kami tidak dapat engkau kuasai lagi, hai Fir'aun. Sebab Roh ini akan kembali kepada Tuhan. Di hadapanNya kami akan me­mohon ampun atas segala kesalahan kami. selama ini, baik kesalahan bekerja menjadi tukang sihir, menipu orang, atau kesalahan karena dia selama ini kami jadikan mata pencarian mencari upah, dan kesalahan terbesar ialah karena kami telah mau diperalat untuk menentang Tuhan Rabbul `Alamin. Kami akan memohon ampun atas sepia kesalahan itu langsung kepada Tuhan kami itu, dan kami yakin bahwa semuanya akan diampuni, karena kami adalah orang­orang yang mula-mula sekali berani menyatakan bedman kepadanya.

Saatnya'hanya sedikit untuk menyatakan Iman, tetapi saat yang sedikit itu telah meliputi kepada seluruh hidup yang dilalui. Seakan-akan sesuailah sikap ahli-ahli sihir itu dengan ucapan penyair.

"Sekali berarti,
Sesudah itu rnati.....

Hukuman lelah dijalankan kepada mereka sebagai "titah baginda", dipotong tangan kaki lalu dipalangkan pula, tetapi mereka mati dengan ke­puasan. Fir'aun boleh tertawa atas kebesaran kuasanya, boleh memotong tangan dan kaki, dan boleh membunuh. Disangkanya bermula bahwa dengan demikian urusan telah selesai. Memang orang yang zalim aniaya selalu me­mungkiri kenyataan. Dengan terbunuh matinya tukang-tukang sihir, orang banyak mungkin jadi tenang -dan kewibawaan Fir'aun dapat dipelihara dari luar. Tetapi tidaklah dia mempunyai kekuasaanyang demikian luas, sehingga dapat menguasai perasaan yang menjalar kepada seluruh rakyat, bahwa dengan dibunuhnya tukang-tukang sihir itu bukanlah berarti bahwa Fir'aun menang, melainkan adalah penyempumaan dari kekalahannya.
 

   01     02      03    04    05     06   07  08  09 10  11  12  13  14  15       Back To MainPage    >>>>