Tafsir Surat As-Syu'aro Ayat 01 - 09      

 (1) Thaa-Siin-Miim.

(2) Itulah dia ayat-ayat daripada kitab yang memberikan pen­jelasan nyata.

(3) Boleh jadi engkau hendak mem­binasakan dirimu sendiri, karena mereka tidak mau beriman.

(4) Kalau Kami mau, niscaya Kami turunkan kepada mereka ayat (pertandaan) dari langit, sehing­ga kuduk mereka akan tunduk, demi melihatnya.

(5) Dan setiap datang kepada mereka sebuah peringatan yang baru daripada Tuhan Yang Rahman, senantiasa mereka tolak belakang.

(6) Mereka selalu mendustakan saja; maka akan datanglah kepada mereka kelak berita dari hal perkara yang mereka olok-olok­kan itu.

(7) Tidaklah mereka pandangi kepada bumi, berapa banyaknya Kami tumbuhkan padanya tumbuhan aneka warna dari pengawinan yang indah?

(8) Sesungguhnya pada semuanya itu adalah ayat belaka, tetapi tidaklah kebanyakan mereka percaya.

(9) Dan sesungguhnya Tuhan eng­kau itu adalah Maha  Kuasa dan Maha Penyayang.  

"Thaa-Siin-Mum." (ayat 1).

Hurut-huruf di permulaan Surat, sebagai Alif-Laam-Miim, Alif-Laam-Raa dan sebagainya adalah huruf-huruf yang pada hakikatnya Allah dan RasuINya­lah yang lebih mengetahui akan rahasianya.

Sungguhpun demikian ahli-ahli Tafsir tidak juga suni-suninya menjalankan renungan ataupun berkhayal mencari rahasia itu dengan kesungguhan sendiri. Maka adalah penafsir yang memberi huruf Thaa-Siin-Miim itu dengan Thaa, adalah rumusan daripada gunung Thursina tempat Nabi Musa mula-mula me­nerima Wahyu Kitab Taurat. Siin rumusan daripada sebuah bukit di Palestina bemama bukit SaI ir, tempat Nabi Isa mula menerima Wahyu Kitab Injil dan

Miim rumusan daripada negeri Makkah, Baladil Amin, kota yang aman sejah­tera, di sana ada gua Hira' tempat Nabi Muhamraad s.a.w, menerima Wahyu yang pertama.

Dari pengajian dan "penyelidikan" huruf-huruf ini timbul pula salah satu cabang ilmu terutama dalam kalangan kaum Shufi, diikuti pula oleh setengah penganut Syi'ah, bemama Ibnu Simiyaa. Muaarrikh Ibnu Khaldun panjang lebar mengupas soal-soal ilmu rahasia huruf itu di dalam kitab Muqoddimah­nya. Kadang-kadang Ilmu Huruf ini dapat pula dijadikan orang rajah-rajah untuk azimat .

Misalnya Kaaf-Haa-Yaa-`Ain-Shaad dengan Haa-Miim-`Ain-Siin-Qaaf. Mereka peradukan ayat yang Kaaf dengan ujungnya Haa. Maka bertemulah ayat:

     

"Laksana air yang Kami turunkan dari langit, maka bercampur-aduklah dengan dia tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di bumi, tiba-tiba kemudian men­jadi kering diterbang-hembuskan oleh angin.

Pangkal ayat ialah Kaaf, yang ada pada Kaaf-Haa-Yaa-`Ain-Shaad, dan ujung ayat ialah humf Haa yang sesuai dengan pangkal Haa-Miim-`Ain-Siin­Qaaf. Demikian pula selanjutnya. Huruf Haa dicarikan ayat yang berpangkal Haa dan berujung Miim dan seterusnya sehingga bertemu lima ayat yang ber­pangkal Kaaf-Haa-Yaa-`Ain-Siin-Shaad dan berujung Haa-Miim-`Ain-Siin­Qaaf, yang dipergunakan untuk pertahanan diri daripada bahaya.

Maka adalah golongan yang asyik dengan perbuatan menyesuaikan huruf itu. Dipandanglah dia sebagai "Ulama" kalau telah ada "ilmu"nya tentang rahasia yang demikian. Seperti ayat: "Rabbaka fakabbir"

Bisa dibaca dari muka rabbaka fakabbir dan bisa dibaca pula dari belakang, fakabbir robbaka juga.

Setelah kita turut membalik-balik kitab-kitab demikian, sebagai pusaka orang-orang Islam di zaman tengah, kagumlah kita memikirkan betapa jauhnya orang merenung, sehingga khayal yang tidak dapat dipertanggung jawabkan menurut ilmu pengetahuan yang asli daripada Rasulullah s.a.w. kemudian di­dakwakan orang sebagai suatu ilmu, dan dipandang tidak Alim barangsiapa yang tidak mengetahui itu, demikian besar pengaruhnya bahkan kadang-­kadang dia menjadi sumber pedukunan.

Penafsiran demikian bisa dijadikan bahan di waktu senggang, di waktu tidak ada pekerjaan yang lebih penting. Dapat juga diketahui, asa ljangan dikatakan bahwa yang demikian itu ilmu yang sebenamya.

Ada pula yang mentafsirkan bahwasanya huruf di awal Surat itu, yang menurut Ilmu Qira'at dan Tajwid, hendaklah dibaca menurut bunyi hurufnya.

Alif-Laam-Miim (A-L-M), tidak boleh dibaca Alam atau Ulam melainkan hendaklah menurut asli bacaan huruf H-M mestinya dibaca Haa-Miim. TH-S-M hendaklah dibaca Thaa-Siin-Miim, demikian juga yang lain-lain. Lantaran itu maka timbullah kesan setengah penafsir bahwasanya huruf-huruf di pangkal beberapa Surat itu maksudnya ialah untuk memfasihkan bacaan huruf-huruf itu yang membawa kepada fasihnya bacaan al-Quran adalah pada kekuatan kesadaranmembacanya.

Setengah penafsir lagi mendapat kesan bahwasanya huruf-huruf di pangkal beberapa Surat yang dibaca menurut makhrajnya itu adalah laksana peringatan supaya orang bersedia mendengarkan ayat-ayat yang akan datang di belakangnya. Bagaikan sirene pemberitahu bahwa beberapa ayat akan turun.

Penafsiran yang timbul dari ijtihad dan renungan masing-masing pe­nafsiran itu, tidaklah ada yang dapat disalahkan. Sebab larangan buat memakai renungan sendiri dalam perkara demikian tidak pula ada. Islam memberi kebebasan kita buat merenung, asal saja jangan kita katakan bahwa semuanya itu adalah ajaran Rasulullah s.a.w. atau sama kuat kuasanya dengan hajat Rasulullah .

Oleh sebab itu jika kita pakai saja keterangan "Allah dan RasulNyalah yang lebih tahu akan makna huruf-huruf itu", pada pendapat kita adalah penafsiran yang lebih dekat kepada kebenaran.

Pada ayat 2 Tuhan menerangkan, sebagaimana juga telah diterangkan dalam ayat-ayat pertanda clan perintah Ilahi, termaktub di dalam kitab yang nyata, memberikan penerangan yang jelas, pegangan hidup bagi yang percaya. Dengan ayat ini ditegaskan lagilah bahwa Nabi Muhammad s.a.w. adalah penyambung kehendak Tuhan, buat disampaikan kepada manusia. Dijelaskan dan diterangkan. Sehingga manusia mendapat pedoman dalam jalan hidup­nya.

Ayat ini harus dijelaskan karena adalah permulaan jalan. Ini masih di Makkah, di permulaan perjalanan. Pangkal kata tatkala di Makkah ialah menegakkan keyakinan Tauhid, membebaskan diri dari pengaruh yang selain Allah. Tugas yang pertama ini mesti tegas, mesti nyata (mubin). Kalau dalam persiapan pertama menegakkan cita sudah ada kompromi akidah (doktrin) alamat sampai ke akhir tujuan akan kabur. Itulah sebab maka ayat 2 itu ber­bunyi: "Inilah did ayat-ayat dari kitab yang nyata."

Ayat yang berikutnya, (ayat 3), membukakan rahasia perasaan yang pernah terlintas dalam batin Nabi Muhammad s.a.w, ketika beliau melihat beberapa sikap acuh tak acuh kaumnya ketika diajak kepada jalan yang benar.

Nabi Muhammad s.a.w. diutus kepada kaumnya, kaum Quraisy. Seliau . yakin akan benamya seruan yang beliau bawa.

Beliau yakin bahwa orang yang tidak mau menerima seruan ini akan bmasalah mereka. Dalam halt seorang Rasul yang merangkap menjadi pemim­pin besar terhunjamlah rasa cinta yang mendalam. Belas kasihan kalau mereka akan binasa. Tetapi sebelum kebenaran terbuka bagi mereka, selama hijab hati masih tertutup, orang yang mencintai mereka, yaitu Muhammad s.a.w. akan mereka pandang sebagai musuh. Alangkah banyaknya yang teringat pada waktu itu oleh beliau.

Penghalang-penghalangnya ialah ketuarga-keluarga karibnya, seketurunan darah dengan dia. Pamannya sendiri, saudara kandung clan ayahnya, ialah Abu Lahab, dengan keras menentang dia. Menumpahkan segenap kebencian kepada beliau. Padahal sebagai paman yang turut mem­besarkan beliau, tidaklah patut orang tua ini menjadi kepala daripada orang­orang yang menentangnya.

Demikian juga pamannya yang lain, yang sangat menyintainya dan sangat pula dicintainya, yaitu Abu Thalib. Dalam rumah Abu Thalib itu dia dibesarkan, tetapi ketika Abu Thalib diajak ke dalam Islam, Abu Thalib tidak mau, meskipun dia tetap mencintai Muhammad. Apalah artinya mencintai dan membela peribadi Muhammad, kalau ajakannya kepada ke­benaran tidak man menuruti?

Maka sebagai Insan, kadang-kadang terlintaslah dalam ingatan beliau, lebih baik saya mati saja, biar saya lompati lurah yang dalam, sehingga patah leherku, agar senang benar hati keluargaku ini. Kalau aku telah mati kelak, barulah mereka akan meratap mengingat kebenaran yang akyakrawa.

Ini hanyalah semata-mata lintasan fikiran, yang harus bertemu dalam fikiran beliau sebagai manusia. Kalau dikupas secara Ilmu Jiwa, yang terasa ini hanyalah semata-mata endapan yang tidak keluar. Nabi Muhammad tidak akan mengerjakan demikian. Seorang Nabi yang telah terdahulu daripadanya, yai4u Nabi Yunus, pemah seketika hiba hatinya melihat keingkaran kaumnya, me­ninggalkan kampung halaman dan merantau larat. Perbuatannya itu disesali Tuhan, sehingga disuruh seekor ikan raya menelannya dan memohon ampun­lah dia dalam perut ikan itu akan kelalaiannya meninggafkan tugas, sehingga setelah ikan itu menghantarkan dirinya ke tepi pantai dan beliau dapat keluar kembali, beliau pulang ke kampungnya, dibangunnya semangat ham, dan di­ajaknya kaumnya kembali ke dalam jalan yang benar, dan berhasil!

Beberapa Orientalis yang selalu mengorek-ngorek bahan untuk mencela NaSi Muhammad s.a.w. mencoba mengambil ayat itu mencari alasan buat menuduh bahwa Nabi Muhammad itu seorang yang berjiwa lemah. Karena kebencian kaumnya dan karena keingkaran mereka itu, dia berniat hendak membunuh diri .

Beberapa Ulama Islam sendiri membawa soal ini ke dalam perbincangan llmu Fiqh, berdosakah seorang yang terkhatar dalam hatinya hendak mem­bunuh dirinya karena orang tidak mau menerima kebenaian yang dibawanya?

Ketahuilah bahwa ini adalah rasa yang terlintas dalam batin, bukan niat dan azam. Orientalis yang menuduh bahwa ini adalah alamat suatu kelemahan dari Nabi, harus pula meminjam soal ini dari segi ilmu jiwa. Seorang pemimpin besar yang merasa beratnya tanggungjawab tidaklah akan membunuh dirinya karena ajakannya ditolak,orang. Tetapi kadang-kadang terlintas dalam batin bahwa pengurbanan diri sendiri kadang-kadang lebih besar faedahnya di dalam membangkitkan kesadaran bagi orang yang acuh tak acuh.

Misal yang terdekat masih hidup dalam ingatan kita. Beberapa orang Pendeta agama Budha di Vietnam Setatan membakar dirinya di hadapan umum supaya perhatian dunia tertumpah kepada soal yang mereka perjuang­kan. Maka pendeta-pendeta yang membakar dirinya itu bukanlah karena dia lemah, tetapi itulah dia sesuatu kekuatan jiwa. Dan Nabi Muhammad pemah terkhatir dalam hatinya demikian:

"Kalau aku binasakan diriku, barulah kaumku yang aku cintai ini mengerti apa yang aku serukan."

Lintasan fikiran atau khatiran hati yang kecil ini pun niscaya diketahui oleh Tuhan, Ialu dibujuk dia dengan teguran halus ini:

"Boleh jadi engkau hendak membinasakan dirimu sendiri, karena mereka tidak mau beriman." (ayat 3).

Dalam Surat al-Kahfi (Gua) ayat 6 pun, yang turun di Makkah juga, di saat merun cingnya suasana keingkaran kaum Quraisy datang juga ayat yang serupa itu: '

"Barangkali engkau mau saja membinasakan dirimu sepeninggal mereka, jika mereka tidak mau percaya dengan seruanmu ini, karena sangat dukacita­nya hatimu.

Dalam Surat al-Fathir ayat 8 datanglah bujukan halus Tuhan kepadanya, supaya dia terus bekerja:

"Janganlah engkau binasakan dirimu karena kemenyesalan menghadapi mereka."

Ini bukanlah dari kemarahan dan kejengkelan, melainkan dari dukacita dan pedih hati, seakan-akan terasa, apalah artinya perjuangan yang berat buat kebahagiaan kaumku ini, maksudku suci, padahal mereka tidak mau memper­dulikan. Lebih baik aku mati saja.

Maka tidaklah perlu soal yang dalam ini dibawa ke dalam daerah llmu Fiqh, berdosakah Nabi Muhammad s.a.w. jika pemah terkhatir dalam fikiran­nya yang demikian itu? Padahal tidak pernah diniatkannya?

Bagi orang yang mendalami perasaan kemanusiaan, khatir hati Nabi Muhammad yang demikian itu, bukanlah menambah jauhnya daripada Nabi, bahkan menambah imannya dan cintanya. Di sinilah terletak perjuangan batin beliau sebagai manusia.

Dan di sini pula dapat diketahui betapa hebatnya suasana yang beliau hadapi. Dan beliau sendiri pun pernah mengatakan:

"Saya ini adalah manusia seperti kamu juga."

Oleh sebab itu, bagi kita hal itu bukan suatu cacat, tetapi suatu kebesaran! Kemudian datanglah ayat 4:

"Kalau Kami mau niscaya akan Kami turunkan kepada mereka ayat (pertandaan) dari langit, sehingga kuduk mereka akan tunduk demi melihat­nya."

Khatir hati dan kekecewaan Nabi itu disadarkan Tuhan kembali kepada zaman depan yang gemilang. Datang kelak waktunya orang-orang yang sekarang bersikap masa bodoh itu akan merundukkan kepalanya. Waktu itu pasti datang, tidak dapat tidak. Sedangkan cita buatan manusia, yang hanya. disokong oleh ilham, lagi berhasil karena teguhnya keyakinan, apatah lagi kalau yang diperjuangKan itu adalah Wahyu Ilahi melalui Sunnatullah yang tertentu.

Ayat pertandaan Kebesaran Tuhan itu akan tumbuh, mulanya suatu benih kecil yang tumbuh di padang pasir yang kersang tidak bertumbuh-tumbuhan, tetapi akhir kelaknya pasir itu akan berubah menjadi mesiu membakar segala sisa kebekuan kafir, keberhataan dan kezaliman manusia alas manusia. Tidak­lah mengapa jika ada khatir hati yang kecil-kecil seakan-akan hendak me­nyudahi saja hidup yang penuh penderitaan clan penanggungan ini. Tetapi apabila difikirkan bila ayat itu telah datang kelak, apakah artinya din di hadapan kemenangan cita.

Kemudian pada ayat 5, diakui Tuhan adanya perangai orang-orang yang kafir itu: "Tidaklah datang kepada mereka suatu peringatan daripada Tuhan Yang Rahman, Yang Pengasih dan Pemurah, dalam keterangan dan cara yang baru, namun mereka selalu membelakanginya." (menolaknya).

Dalam ayat ini tersembunyilah suatu ilmu masyarakat (sosiologi), yakni bahwasanya manusia bersikeras bertahan pada yang lama, tidak mau me­nerima perbaharuan, walaupun perbaharuan itu benar adanya.

"Mereka selalu mendustakan saja; maka akan datanglah kepada mereka kelak berita dari hal perkara yang mereka olok-olokkan itu." (ayat 6).

Inilah suatu pemastian dari Tuhan sendiri, bahwasanya kata yang benar itu pasti menang. Sebab kebenaran tidaklah dapat diikat, dibelenggu atau ditolak. Zaman berputar terus. Orang yang berdiri di pinggir jalan menonton kebenaran akan digulungnya. Kekerasan hati dan kekerasan kepaia manusia tidaklah dapat menghambat berlakunya kebenaran Tuhan.

Sekarang timbullah pertanyaan. Apakah sebabnya maka kebanyakan manusia tidak suka menerima gagasan-gagasan yang baru? Apa sebab kaum Musyrikin Makkah begitu keras mempertahankan pendirian yang lama? Se­bagaimana terjadi alas diri Bilal bin Rabah dan Yasir dan ibunya? Dan lain-­lain?

Sebab yang terutama ialah karena daerah pandangan yang sempit. Mereka tidak dapat lagi berfikir dan merenungkan keadaan yang sekeliling. Pandangan mereka hanya dipusatkan kepada kepentingan din sendiri dan golongan mereka.

Fikiran baru yang mengajak ummat manusia supaya membebaskan din daripada perhambaan benda dan naik ke atas, kepada SATU Kuasa Mutlak Ilahi akan membawa akibat yang jauh sekali kepada kedudukan mereka dan keistimewaan mereka dalam masyarakat. Mereka merasa dirugikan. Kalau riba dilarang, ekonomi mereka macet. Kalau berhala tidak boleh dipuja lagi, tradisi mereka runtuh. Dan kalau zina dilarang, tersinggunglah puncak kadal pihak­pihak yang menguasai masyarakat. Bukankah pada masa itu wanita hanyalah laksana "segelas air diminum ketika haus" saja?

Jika kita tilik ayat-ayat al-Quran yang diturunkan di Makkah itu, sebagai telah kita bayangkan pada beberapa penafsiran yang telah lalu, seruan Muhammad s.a.w. yang berupa. Wahyu Ilahi itu bukanlah semata-mata me larang berbuat munkar, dosa besar atau Fawaahisy (perbuatan keji dan cabul). Bukan saja anjuran supaya berbuat baik kepada sesama manusia, tolong­menolong, membela yang lemah, tetapi juga selalu dianjurlczn supaya orang memperhalus jiwanya yang menyebabkan kehalusan budinya. Karena sikap yang kasar adalah lantaran jiwa yang kasar, jiwa yang tidak,mengenal ke­indahan.

Hal ini dapatlah dilihat pada ayat yang seterusnya. (ayat 7).

" Tidaklah mereka pandangi kepada bumi, berapa banyaknya Kami tumbuhkan padanya tumbuhan aneka wama dari pengawinan yang indah ? "

Alangkah kasar jiwa kalau manusia hanya tahu memakan hasil bumi saja, tetapi tidak mau tahu betapa asal tumbuh makanan itu? Semuanya terjadi "min kulli zaujin karimin", dari perkawinan atau perkelaminan jantan dan betina.

Orang Arab menanam korma. Korma yang subur adalah oculasi korma tam­pang yang jantan dengan korma tampang betina. Kadang-kadang buah­-buahan seba gai mangga dan rambutan, atau buah-buahan yang lain yang mulanya berbunga, beribu-ribu bunga mekar muncul dari celah dahan; se­paruh rontok ke bumi dan separuh menjadi buah. Diciptakan Tuhan berbagai makhluk untuk mempertemukan si jantan dengan si betina kembang itu, karena dia tidak dapat ziarah-menzia rahi. Kumbang, rama-rama, lebah dan bahkan angin , mempertemukan zat kejantanan dengan zat kebetinaan. Setelah bertemu gugurlah satu kembang ke bumi , atau separuh kembang ke bumi, dan yang tinggal melanjutkan hidup buat menga rangkan buah. Itulah pengawinan atau perkawinan yang indah.

Dengan pengetahuan yang dangkal kita telah tahu bahwa lahimya manusia ke dunia ialah karena pertemuan kelamin laki-laki dengan perempuan. Dengan pengetahuan yang dangkal pula kita telah tahu bahwa berkembangnya binatang temak kita karena pertemuan si jantan dengan si betina. Tetapi kalau kita telah berilmu lebih maju, akan tahulah kita bahwa buah korma, buah mempelam dan mangga dan beratus jenis buah-buahan yang lain adalah tercipta dalam rangka pertemuan "zaujin karimin", pertemuan jantan dan betina yang indah dan mulia.

Dan pengetahuan ini kelak akan dapat lebih tinggi lagi, bahwasanya seluruh Alam Raya ini, terkandunglah sesuatu kekuatan besar, gabungan tenaga dari benda. Kekuatan besar itulah Elektrisita. Barulah kekuatan itu menjadi kenyataan bila bertemu negatif dengan positif, betina dengan jantan, yang menerima dengan yang memberi. Kekuatan itulah yang menimbulkan atom. Dan atom itulah soal dari segala kejadian.

Dan itu semua diatur dengan satu peraturan oleh Pengatur Tunggal.

"Baik kejadian kamu, ataupun kebangkitan kamu kelak adalah laksana nafas yang satu saja-"

Oleh sebab itu apabila manusia sudi, janganlah hanya laksana burung merak mengigal melihat indahnya bulu diri , lalu timbul kesombongan. Manusia sekali-kali harus melepaskan perhatiannya dan perhatiannya dari sernata-mata diri , dan terus renung keadaan yang berada di sekelilingoya. Apalah artinya tubuh insan yang kecil ini di hadapan tenaga-tenaga dan peraturan yang ada di kelilingnya? Benarlah apa yang dikatakan orang, bahwasanya hidup di dunia bukanlah semata-mata untuk sandang untuk pangan, tetapi yang terutama sekali ialah berfikir, merenung dan meninjau.

Maka pada ayat berikutnya, ayat 8 ditegaskan oleh Tuhan: "Semuanya itu adalah ayat. Tetapi kebanyakan mereka tidaklah percaya."

Alangkah halusnya anjuran pada ayat 7 di atas tadi. Manusia dianjurkan merenung alam kelilingnya. Di ayat-ayat yang lalu dianjurkan pula melihat kejadian langit, melihat berkelap-kelipnya bintang-bintang, meninjau hujan turun, memandangi kejadian hidup yang beratapkan langit, bukit, gunung yang menjadi pasak bumi dan bumi yang menjadi hamparan. Kadang-kadang di­anjurkan melihat lalat, atau yang lebih atas daripada lalat. (Ba'udhatan fama fauqaha), bahkan dianjurkan juga melihat betapa lawa-lawa membuat sarang, atau lebah bersarang di gunung dan di bubungan rumah. Sekarang dalam ayat ini (8) dianjurkan pula melihat tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, sayur­sayuran, betapa terjadi perkawinan yang indah. Itu adalah ayat. Itu pun adalah pula tanda dart Maha Kekuasaan llahi. (pangkal ayat 8). Tetapi di ujung ayat dikatakan:

"Dan tidaklah kebanyakan mereka percaya."

Mengapa agaknya mereka tidak percaya?

lalah karena mereka tidak pemah menjuruskan fikirannya ke sana. Mereka hanya siang malam menjuruskan fikiran kepada sandang dan pangan, dan kepentingan diri sendiri, keuntungan laba-rugi benda, beragih gedang ke awak. Jiwa yang kosong dari penilaian. Maka datanglah ayat 9 sebagai simpulan kaji.

"Sesungguhnya Tuhan engkau itu adalah Maha Kuasa dan Maha Penyayang." (Maha Pemurah).

Dengan Tuhan memperingatkan sifatNya yang Maha Kuasa "AI-Aziz" tersimpanlah makna bahwasanya betapa pun keingkaran dan tidak percaya, betapa pun kelengahan dan tidak perduli daripada insan yang ingkar clan kutur, namun aturan Tuhan tidaktah akan berubah. Namun alam akan tetap berjalan menurut peraturannya yang tentu. Namun orang yang menyisih ke tepi tidak perduli itu, tidaklah dapat mengelakkan diri dari ketentuan llahi. Tidak ada satu kekuatan pun yang dapat menghambat kekuasaan Tuhan itu.

Dalam kalimat Asma Tuhan AI-Aziz tersimpullah makna kekuasaan mutlak, kewibawaan, kemegahan, tuah dan gengsi. Tersimpan juga di dalamnya makna disiplin.

Orang yang telah meresapkan ke dalam hatinya akan zauq (rasa halus) kalimat al-Quran, yang syarat membacanya adalah perlahan-lahan, (tartil), akan dapatlah menangkap betapa dalam kesannya jika Asma Tuhan "AI-Aziz" itu diiringi dengan Asma Tuhan "Ar-Rahim".

Melimpahkan rahmat dan kurnia, pengasih, penyayang dan pemurah. Artinya, betapa pun kuat kuasa aturannya dan keras disiplinnya, yang kadang-kadang.mengandung kemurkaan. Namun apabila seorang makhlukNya telah insaf, lalu taubat, di saat itu juga pintu ter­buka dan dia dipersilakan masuk.

Dosa dan kelalaian yang lama diampuni, jalan pun terbuka. Laksana seorang budak kecil yang baru dilahirkan dari dalam perut ibunya.

"Sesungguhnya rahmatKu dapatlah mengalahkan murkaKu."

Sekarang.cobalah baca kembali Surat dari ayatnya yang pertama dengan hati tenang dan terbuka. Bagi Nabi Muhammad s.a.w. yang pemah terkhatir dalam hati hendak menghabisi saja hidup ini karena sulitnya berhadapan dengan manusia yang ingkar, maka khatir hati tadi telah terobat. Dia telah diberi kepastian bahwa perjuangan menegakkan AI-Haq ini pasti menang. Kau ini hanya alat daripada Tuhan buat melangsungkan kehendak Ilahi yang mesti berlaku.

Dan kalau Tuhan telah memberikan obat bagi Rasulullah ikutan kita , maka betapa lagi bagi kita pengikut Muhammad? Yang telah sejak mulai sehitam semerah kuku. mulai lahir dari perut ibu dan dalam pengalaman hidup yang telah ditempuh, telah menyediakan diri jadi ummatnya, betapa kita akan ragu buat menurut jejak itu?

Dirikita ini apalah artinya? Dia hanya sekelumit kecil di hadapan makhluk Ilahi yang ada di keliling kita, sejak tumbuhnya sampai kepada margasatwa yang melata. Dan bumi tempat kita berdiam sejenak masa ini pun hanya se­buah bintang kecil yang menghiasi langit.

Maka apabila hati ini digantungkan kepada Yang Maha Esa, Maha Kuasa, Maha Perkasa dan Maha Kasih, niscaya akan menggetarlah kebenaranNya dan KebesaranNya ke dalam kelumit kecil ini, sehingga hidup ini berarti dan besar pula adanya.

 

01     02      03    04    05    06   07  08  09  10  11  12  13  14  15       Back To MainPage    >>>>