Muqoddimah


Nama Surat ini AN-NAML, yang berarti SEMUT, yaitu karena nama semut itu ada tersebut di dalam ayat 18 dan 19, seketika seekor semut mengatakan kepada teman-temannya sesama semut agar mereka segera bersembunyi ke dalam sarang-sarang mereka karena tentara Nabi Sulaiman akan lalu di tempat itu, jangan sampai mereka hancur lumat diinjak-injak oleh Nabi Sulaiman dan tentara-tentaranya itu.

Lalu diterangkan di dalam ayat 19 bahwa apa yang dikatakan oleh seekor semut kepada teman-temannya itu didengar oleh Nabi Sulaiman dan beliau faham akan artinya. lalu beliau bersyukur kepada Allah atas ilmu pengetahuan yang telah diberikan Allah kepadanya itu.

Surat an-Naml ini diturunkan sesudah surat asy-Syu'ara' dan susunannya di dalam al-Quran pun asy-Syu'ara' juga yang didahulukan. Maksud isi Surat akan sama jugalah dengan maksud isi Surat-surat yang lain yang diturunkan di Makkah, yaitu memperkuat Akidah Tauhid. Iman kepada Allah, Ibadat semata­mata kepadaNya, tiada mempersekutukan yang lain dengan Dia dan Iman akan Hari Akhirat, ban berbangkit manusia kelak pada hidup yang kedua kali, untuk diperiksa diperhitungkan buruk dan baik (Hisab). Lalu ditimbang (Mizan), lalu dijatuhkan keputusan dan balasan (Jazaak). Dan untuk menerima semua­nya itu hendaklah beriman kepada Wahyu yang diturunkan kepada Nabi-nabi dan Rasul-rasul, dan oleh Nabi-nabi dan Rasul-rasul itu disampaikan clan dida'wahkan kepada ummat manusia yang beliau-beliau datangi. Di batik itu menjadi pokok kepercayaan pula bahwa alam ini berkenyataan dan berghaib. Sepercaya kita kepada yang nyata demikian pula kepercayaan kita kepada yang ghaib. Lalu iman pula bahwa kita manusia bukanlah semata-mata dicipta­kan lalu dilepaskan begitu saja, malahan dijadikan clan diberi petunjuk jalan yang benar untuk dituruti dan jalan yang salah untuk dijauhi, dan beriman pula bahwa kekuasaan sejati dan mutlak adalah semata pada Allah. Allah yang menentukan, Allah yang memberikan rezeki dan Allah yang menjamin hidup. Dan tidak ada yang berdaya dan tidak ada yang berupaya dan berkekuatan, melainkan semuanya itu hanya ada pada Allah.

Sesudah itu sesudah beriurut diuraikanlah tentang perjuangan Musa menentang kekuasaan Fir'aun. Dengan segala daya dan kesungguhan Musa mempimpin kaumnya dan menentang kezaliman Fir'aun, dan dengan segala daya upaya, kekuatan dan kekuasaan yang ada padanya pula, Fir'aun sebagai Raja di Raja menentang kebenaran yang dibawa Musa itu. Akhirnya Musa juga yang menang, dan Fii aun berhadapan dengan kekuasaan yang lebih tinggi dan kekuatan yang lebih perkasa, kekuasaan clan kekuatan Allah, yang ke­kuasaan dan kekuatan Fir aun menjadi kecil kerdil di hadapan kekuasaan dar. kekuatan besar itu. Fir'aun yang merasa kuatkuasa tidaklah kuat clan ticlaklah kuasa buat melepaskan dinnya dari cengkeraman ombak dan gelombang lautan!

Kemudian diuraikan pula agak panjang tentang Kerajaan Daud dan puteranya Sulaiman. Artinya Nabi-nabi dan Rasul-rasul Allah pun pernah men­capai kekuatan dan kekuasaan sebagai Fir'aun itu pula; namun mereka tidaklah menjadi sombong karena mendapat nikmat Allah itu, melainkan bersyukur. Dalam pada itu, di waktu dia mencapai puncak Kebesaran dan Kekuasaan itu, tidak juga beliau lupa melakukan Da'wah. Malahan seorang Raja Perempuan di zamannya, Ratu dari bangsa Arab Purbakala yang memerintah di negeri Saba' akhirnya takluk dan berlindung ke bawah panji-panji Kerajaan Besar Sulaiman dan menukar agamanya yang tadinya menyembah matahari kepada menyembah Allah Yang Maha Esa.

Sesudah kisah Daud dan Sulaiman mengikut pulalah kisah Shalih dengan kaumnya Kaum Tsamud. Demikian besar keingkaran kaum itu; telah membuat janji fidak akan mengganggu unta perjanjian Allah, namun unta itu mereka bunuh dan mereka makan dagingnya, bahkan mereka hendak membunuh Shalih pula. Akhirnya mereka dibinasakan Allah. Negeri mereka musnah di­hancurkan, mereka sendiri musnah mati kejang karena tidak tahan mendengar pekik seruan Malaikat, sedang Nabi Shalih sendiri beserta orang yang berimar. kepada beliau diselamatkan oleh Allah.

Kemudian itu diikuti lagi dengan kisah Nabi Allah Luth. Mereka telah ber­maksud sejak lama hendak mengusir Luth bersama orang yang beriman kepadanya clan negeri mereka, sebab dipandang mengganggu kebiasaan mereka yang buruk. Tapi yang berlaku lebih dahsyat itu. Yaitu bahwa Nabi Luth dan orang-orang yang beriman kepadanya diselamatkan Allah, dikeluar­kan dari negeri itu, dan tidak beberapa lama setelah beliau keluar bersama orang yang beriman, negeri itu dihancur-leburkan oleh Allah.

Tentulah segaia centers ini akan jadi pemandangan bagi Kaum Quraisy, karena keiakuan Fir'aun menolak Musa, berlaku pula kepada mereka menolak Muhammad. Padahal kalau Muhammad berhasii membebaskan mereka dan penyembahan berhala, negeri Makkah beliau taklukkan di tahun ke 8 setelah beliau Hijrah dan berhala-berhala itu telah beliau hancurkan, dan seluruh Tanah Arab itu telah beliau kuasai, namun beliau tetap tidak menganggap dirinya menjadi Raja, tidak menyombong seperti Fir'aun, lebih Tawadhu' lagi daripada Daud dan Sulaiman.

Begitu juga terhadap kaumnya. Kaum Quraisy, tetaplah beliau berbelas­ kasihan, meskipun telah ada komplotan hendak membunuh beliau berkali-kali. Setelah beliau menang menghadapi mereka semuanya, beliau masuk ke Makkah sebagai seorang penakluk, tidaklah beliau membalas dendam, melain­kan memberi maaf.

Dan ketika seluruh kaumnya telah mengusir dia, sehingga terpaksa Hijrah ke Madinah sebagaimana Luth Hijrah pula meninggalkan negerinya Sadum dan Gamurrah, tidaklah Nabi Muhammad memintakan supaya kaumnya itu dikutuk dan dibinasakan. Bahkan seketika Malaikat Jibril menanyakan kepada­nya, apakah dia ingin supaya Jibril menghancurkan kaumnya itu yang telah begitu jahat mengusir dan menganiaya Nabi Allah? Yaitu seketika beliau meng­adakan Da'wah ke negeri Thaif. Beliau telah menyatakan bahwa beliau tidak­lah ingin kaumnya itu binasa. Dikatakannya bahwa, kaumnya yang sekarang tidaklah diharapkannya. Yang diharapkannya ialah anak-anak dan keturunan mereka .

Sesudah menerangkan kisah ini, yang tujuan pertama kepada Quraisy dan tujuan umumnya untuk jadi pedoman bagi seluruh ummat yang beriman, banyaklah dijelaskan tentang Kekuasaan dan Kebenaran Ilahi dan Kemaha KuasaanNya, yang sendiriNya mengetahui yang ghaib, sendiriNya mengatur alam dan juga menguraikan tentang akan kembalinya makhluk sekalian ke hadhrat Ilahi dengan tak dapat tidak.

Di ayat penutupnya sekali Tuhan menyatakan bahwa Tuhan akan mem­perlihatkan ayat-ayatNya, yakni tanda-tanda KebesaranNya yang tidak habis­-habis dalam alam ini, yang kian lama kian ajaib. "Maka kamu sendiri akan mengetahuinya kelak," Kalau sudi kamu memperhatikannya, dan Tuhan pun tidaklah lalai dan tidaklah lengah daripada memperhatikan apa jua pun yang kamu kerjakan.

Itulah beberapa isi daripada Surat an-Naml atau intisari yang terkandung di dalamnya, sepertiga pertama termasuk dalam Juzu' 19 ini, dua pertiganya lagi termasuk dalam Juzu' 20.