(29) (Ratu) itu berkata: Wahai Pembesar-pembesarl Sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku se­pucuk surat yang   mulia.

 

 (30) Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman, dan sesungguhnya dia, °Dengan nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang."

 

 (31) Janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kamu sekalian  kepadaku dalam keadaan menyerah.

 

(32) Dia berkata: Wahai Pembesar sekalian! Berilah aku fatwa pada perkaraku ini, tidaklah aku memutuskan suatu pekerjaan se­belum kamu menyaksikan.

(33) Mereka berkata: Kita semua adalah mempunyai kekuatan dan mempunyai persiapan perang yang tangkas, dan perkara ini terserah kepada engkau. Per­timbangkanlah apakah yang akan engkau perintahkan.

(34) Dia berkata: Sesungguhnya raja-­raja apabila mereka masuk ke dalam suatu negeri akan dirusakkannyalah negeri itu dan akan dijadikannya penduduknya yang mulia menjadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka lakukan.

(35) Dan sesungguhnya aku hendak mengirimkan kepada mereka suatu hadiah, dan akan menunggu dengan apakah akan kembali orang-orang yang diutus.

 

(36) Maka tatkala datang (utusan itu) kepada Sulaiman, berkatalah dia: Apakah kamu hendak membantu aku dengan harta? Maka apa yang telah diberikan ke­padaku oleh Allah lebih baik daripada apa yang telah Dia berikan kepadamu; tetapi kamu dengan hadiahmu itu merasa bangga.

 

(37) Kembalilah kepada mereka! Sungguh kami akan datang ke pada mereka dengan bala tentara yang tidak tertangkis oleh mereka dan sungguh kami akan mengeluarkan mereka dari negeri itu dan mereka dalam keadaan kecil.

 

Ratu Balqis Menerima Surat Nabi Sulaiman

Rupanya setelah surat Nabi Sulaiman itu dibacakan kepada Ratu, di­panggilnya lah orang besar-besamya dan diajaknya musyawarah dalam meng­hadapi perkara yang sulit dan politik yang tinggi itu. Isi surat menunjukkan kekuasaan yang besar dari seorang Raja besar pula. Ini surat nampaknya tidak mau tahu bahwa Ratu itu pun seorang Ratu yang besar. Isinya melarang me­nyombong atau meninggikan diri terhadapnya dan meminta supaya mereka semua Muslimin, yaitu tunduk.

Ibnu Abbas mentafsirkan Muslimin itu menurut maksudnya yang asal, yaitu mengakui bahwa Tuhan hanya Satu. Itulah Islam.Sufyan bin Uyainah mentafsirkan: Taat setia atau tunduk! Yang lain mentafsirkan: Ikhlas! . Oleh sebab itu Ratu mempertimbangkan bahwa surat penting ini mesti dimusyawaratkan baik-baik. Lalu:

"Da berkata: "Wahai Pembesar-pembesar!" (pangkal ayat 29).

Atau Menteri-menteri dan Orang Besar-besar Kerajaan:

"Sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sepucuk surat yang mulia." (ujung ayat 29).

Sebelum Ratu menyebut siapa yang mengirimkan, beliau telah memberi isyarat terlebih dahulu bahwa surat itu adalah surat yang mulia, yaitu surat yang mesti dihargai tinggi, bukan sembarang surat. Supaya perhatian orang besar besar itu lebih tertumpah untuk membicarakannya dan Ratu pun tidak me­mandang entengnya. Kemudian itu barulah beliau sebutkan dari siapa surat itu:

"Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman." (pangkal ayat 30).

Dengan menyebutkan siapa yang mengirimkannya, perhatian orang besar-besar pun tentu lebih tertumpah. Niscaya sudah sampai juga kepada mereka berita ten tang Raja Besar yang merangkap menjadi Nabi yang namanya Sulaiman dan nama ayahnya Daud, memerintah negeri-negeri di sebelah Utara itu. Setetah fikiran orang besar-besar mengetahui baliwa surat yang mulia itu datang dari  Raja Sulaiman, dilanjutkan lagi oleh Ratu tentang sifat surat:

"Dan sesungguhnya dia."

Yaitu surat yang diterimanya itu:

"Dengan nama Allah, Maha Penga­sih, Maha Penyayang." (ujung ayat 30).

Dalam cara Ratu menerangkan terlebih dahulu dari hal surat yang Baginda terima itu:  

1. Surat yang mulia.

2. Dari Raja Sulaiman yang besar.

3. Memakai nama Allah Yang Maha Besar, Maha Penyayang.

Kita pun dapat memahamkan bagaimana cerdik cendekianya Ratu ter­sebut. Maksudnya tentulah agar orang besar-besamya di dalam masyarakat mempertimbangkan hendak membalas surat itu jangan ceroboh. Kemudian Baginda menerangkan isi surat:

Janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku." (pangkal ayat 31).

Atau menurut arti harfiahnya:

"Janganlah kamu meninggi di atasku!" Janganlah aku dipandang enteng:  

"Dan datanglah kamu sekalian kepadaku dalam keadaan menyerah." (ujung ayat 31).  

Isi surat ini memang hebat. Kalau selama ini Ratu merasa bahwa dia seorang Ratu yang besar dan banyak raja-raja kecil di bawahnya, sekarang dia menerima surat yang menyatakan bahwa yang mengirim surat itu melarang dia merasa diri lebih tinggi atau kerajaan lebih besar. Dalam cara menguraikan isi surat sekali lagi kita melihat bahwa perempuan ini memang pantas jadi Ratu karena bijaksananya. Disebutnya terlebih dahulu kemuliaan surat itu dan siapa yang mengirim dan dimulai dengan nama Allah. Kemudian itu baru disebutnya isi surat.

Dengan cara demikian Ratu telah mengatur siasat agar jangan sampai orang besar-besar terburu marah atau ceroboh mengambil keputusan. Setelah sifat surat, siapa yang mengirim surat, bagaimana aturan surat dan apa isi surat diterangkan secara terperinci barulah Ratu menyatakan maksudnya, mengapa mereka beliau panggil berkumpul di hari itu.

"Dia berkata: Wahai Pembesar sekalian! Berilah aku fatwa pada perkaraku ini." (pangkal ayat 32).

Pangkal kata itu pun sudah menunjukkan sikap dan wibawa seorang Raja. Beliau hanya meminta fatwa atau nasihat. Baginda Ratu selalu sadar bahwa masalah ini adalah perkaranya sendiri. Keputusan terakhir tetap di dalam tangannya.

"Tidaklah aku memutuskan suatu pekerjaan se­belum kamu menyaksikan." (ujung ayat 32). 

Artinya, tidaklah aku memutuskan suatu keputusan melainkan dengan kehadiran kamu sekalian dan hasil musya­warat dengan kamu sekalian. Saya tidak pemah bertindak sesuka sendiri.

"Mereka berkata: Kita semua adalah mempunyai kekuatan dan mem­punyai persiapan perang yang tangkas." (pangkal ayat 33).

Di sini terdapat kalimat NAHNU yang di dalam bahasa Indonesia (Melayu) mempunyai dua arti. Pertama KAMI, kedua KITA. Kalau NAHNU diartikan KAMI, maka orang yang diajak bercakap (Mukhathab) tidak termasuk dalam lingkungan KAMI itu. Tetapi kalau dipakai arti KITA, maka orang yang diajak bercakap pun tennasuklah dalam lingkungan pembicaraan. Padahal NAHNU dalam bahasa Arab tidak mempunyai arti pemisahan yang sejelas itu.

Di sini kita pakai kata KITA. Orang besar-besar melaporkan kepada Ratu bahwa kita, atau Negara kita ada mempunyai kekuatan dan persiapan yang tangkas, atau dipakai juga kata-kata lain, yaitu tangguh! Tegasnya ialah bahwa persiapan kita buat berperang cukup, kita waspada dan tidak usah Ratu khuatir. Dan sembah mereka lagi: "Dan pekerjaan ini terserah kepada engkau." Kami semuanya akan patuh melaksanakan perintah. Jika diperintah berperang, kami bersedia berperang.  

"Pertimbangkanlah apakah yang akan engkau perintah­kan." (ujung ayat 33).

Susunan kata seperti ini pun menunjukkan kebijaksanaan orang besar­besar kerajaan Saba' itu terhadap ratu mereka. Mereka menginsafi bahwa Ratu mempunyai hak mutlak. Mereka tidak hendak menghasut ataupun meng halangi apa pun yang dimaksud oleh Ratu, asal saja keputusan yang kelak akan dikeluarkan Ratu timbul daripada pertimbangan yang sudah masak!  

Maka keluarlah pertimbangan Ratu: 

`Dia berkata: Sesungguhnya raja-raja apabila mereka masuk ke dalam suatu negeri.' (pangkdl ayat 34).

Yaitu masuk secara menaklukkan, jika pertahanan negeri yang ditaklukkan itu telah patah atau tidak melawan sejak semula:

"Akan dirusakkannyalah negeri itu."

Suatu negeri aman tenteram ialah karena susunan pemerintahannya teratur. Tetapi kalau kekuasaan lain telah masuk dengan secara kegagahan, aturan itu akan diubahnya, maka timbullah kerusakan.

"Dan akan dijadikannya penduduknya yang mulia menjadi hina."

Inilah ilmu kenegaraan yang tepat sekali diajarkan oleh Ratu Balqis dan di­turunkan oleh Tuhan sebagai Wahyu kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan jadi penunjuk jalan bagi kita ummat Muhammad sampai selama-lamanya. Yaitu apabila satu kekuasaan asing telah masuk menaklukkan suatu negeri, maka orang yang mulia dalam negeri itu akan dibuatnya jadi hina.

Kalau negeri itu melawan, mempertahankan kemerdekaannya dengan gagah perkasa, tetapi kalah, maka pemimpin-pemimpin perlawanan itu akan jadi tawanan. Tawanan adalah hina.

Mungkin kekuasaan akan dikembalikan kepada mereka kembali, tetapi bukanlah kekuasaan yang seperti dahulu lagi, melainkan tinggal "gelar" saja. Sama dengan raja-raja dan sultan-sultan di tanahair kita yang di"perlindungi" oleh penjajah asing, Belanda atau Inggeris. Raja-raja dan sultan-sultan itu masih "merdeka" memakai pakaian-pakaian kebesaran, merdeka memakai gelar-gelaran yang panjang-panjang, namun yang mereka peringatkan tidak boleh bertentangan dengan apa yang ditentukan oleh bangsa yang menjajah­nya dan meminjaminya kebesaran itu.

Yang lebih hina lagi ialah cecunguk-cecunguk, orang-orang hina-dina yang tidak pemah merasakan kemegahan, lalu diberi sedikit kekuasaan oleh bangsa penakluk itu. Mereka ini pun lebih hina dan menjadi kebencian orang banyak. Karena mereka inilah yang lebih kejam dari  musuh itu sendiri, menjual bangsanya dan memberitahukan rahasia negerinya kepada musuh.  

Penulis Tafsir ini dapat menyaksikan kehinaan itu ketika tentara Jepang masuk ke Medan di tahun 1942. "Tuan-tuan Besar" Belanda dan serdadu­-serdadunya menjadi orang yang hina dalam tawanan, dibawa dengan truck truck gerobak ke tempat-tempat kerja paksa. Lalu muncul orang-orang yang patut disebut "kutu balai" (kutu pasar) disuruh-suruh oleh Jepang melaksana­kan perintahnya mencari simpanan Belanda, di lengannya diikatkan kain putih memakai letter "F"; yang berarti "Fuyiwara Kikan". Lalu Ratu Balqis bertitah selanjutnya:

"Dan demikian pulalah yang akan mereka lakukan." (ujung ayat 34).

Tegasnya, kalau Raja Sulaiman itu masuk ke negeri kita dengan kekerasan, sebagaimana dibayangkannya dalam suratnya itu, dia pun sudah nyata akan berbuat begitu pula.  

Sebelum orang besar-besar menunjukkan tanggapan atas kesan Ratu yang "seram" itu, baik yang berani berperang ataupun yang ragu-ragu, Ratu telah meneruskan titahnya:

"Dan sesungguhnya aku hendak mengirimkan kepada mereka suatu hadiah." (pangkal ayat 35).

Artinya, akan segera aku kirim kepadanya suatu tanda mata yang layak untuk seorang Raja Besar. Nanti akan saya lihat bagaimana kesan penerimaannya atas hadiah itu. Karena sudah kebiasaan bagi manusia yang berbudi jika dia menerima hadiah yang layak, hadiah itu akan mempengaruhi sikapnya. Kalau tadinya ada rasa permusuhan, mungkin akan bertukar jadi persahabatan atau penghargaan yang baik. Mung­kin setelah menerima hadiah itu berubah fikirannya, tidak jadi kita ditaklukkan­nya dan tidak jadi kita berperang dengan dia. Atau ditukarnya sikap; yaitu karena disangkanya bahwa kita ini lemah, dikirimnya saja utusan buat me­nentukan berapa kita membayar upeti kepadanya setiap tahun. Dengan demi­kian maka peperangan pun terhindar dan kita hidup di dalam damai.

Dan titahnya lagi:

"Dan akan menunggu dengan apakah akan kembali orang-orang yang diutus."(ujung ayat 35).

Menurut Tafsir Ibnu Abbas: "Ratu Balqis berkata kepada orang besar­-besarnya itu: "Kalau hadiahku itu diterimanya, tandanya dia hanya seorang Raja; kita perangi dia. Tetapi kalau hadiah itu ditolaknya, tandanya dia seorang Nabi; kita ikuti dia!°  Hasil itulah yang ditunggu oleh Ratu dari kembalinya utusan kelak.

"Maka tatkala datang (utusan itu) kepada Sulaiman." (pangkal ayat 36).

Membawa hadiah yang dikirimkan dengan serba kebesaran oleh Ratu Balqis itu:

"Berkatalah dia: "Apakah kamu hendak membantu aku dengan harta? "

Pertanyaan itu menunjukkan bahwa Sulaiman tidaklah menerima suka hadiah itu. Tentulah hadiah tersebut barang-barang yang mahal, yang layak dari se­orang Ratu kepada seorang Raja. Dan macam-macamlah ceritera dongeng Israiliyat tentang ragam hadiah itu, yang tidak ada faedahnya kita salin dalam tatsir kita ini. Karena bagaimanapun besarnya hadiah, bagaimanapun mahal atau ganjilnya, semuanya tidaklah menarik hati Sulaiman. Sulaiman tidak memerlukan hadiah itu. Sulaiman tidak akan merasa terbujuk dengan hadiah itu. Dia berkata seterusnya:

"Maka apa yang telah diberikan kepadaku oleh Allah lebih baik daripada apa yang telah Dia berikan kepadamu."

Hadiah yang kamu bawakan kepadaku itu tidak ada artinya bagiku. Aku lebih kaya daripada kamu dari pemberian Allah. Pemberian Allah yang diberikan kepadaku, jauh lebih mulia daripada yang diberikan Allah kepadamu.

"Tetapi kamu dengan hadiahmu itu rnerasa bangga." (ujung ayat 36).

Karena kamu menyangka bahwa harta yang kamu hadiahkan kepadaku itu sudah sangat bagus, lalu kamu membangga. Padahal aku mempunyai lebih bagus daripada itu. Lalu Sulaiman menyampaikan titahnya kepada utusan Balqis tersebut:

"Kembalilah kepada mereka."(pangkal ayat 37).

Yaitu kepada Balqis dan orang besar-besar yang telah mengutus kamu kepadaku ke man! Pulanglah! Dan bawalah hadiah ini kembali. Katakan kepada mereka:

"Sungguh kami akan datang kepada mereka dengan bala tentara yang tidak tertangkis oleh mereka."

Karena rupanya belum juga jelas bagi mereka selama ini apa yang kami maksud! Yaitu menyeru mereka supaya meninggalkan penyembahan kepada matahari dan hanya kepada Tuhan Allah Yang Maha Kuasa. Kami akan datang!

"Dan sungguh kami akan mengeluarkan mereka dari negeri itu."

Artinya, bahwa mereka pasti akan dikalahkan, karena tentara kami kuat. Setelah kalah mereka akan dihalau keluar dari negeri Saba' dan digiring sebagai tawanan kenegeri kami, sebagai alamat kemenangan kami. Mereka akan dihalau.

"Dalam keadaan hina."

Tidak lagi sebagai Ratu ataupun orang besar. Tidak lagi sebagai Menteri atau Kepala Perang :

"Dan mereka pun menjadi kecil." (ujung ayat 37).

Menjadi orang hina dan kecil tidak berharga lagi. Itulah ancaman yang di­sampaikan Sulaiman dengan perantaraan utusan yang disuruhnya membawa barang hadiah-hadiah itu pulang kembali. Ancaman berisi kata dua: "Atau datang menyerah menyatakan tunduk, atau negerinya dimasuki dan mereka semua ditawan dan dihinakan!"

 
 
01    02     03    04    05     06    08    09    10                              Back To MainPage       >>>>