Tafsir Surat An-Naml ayat 15 - 19         

 (15) Dan sesungguhnya telah Kami berikan ilmu kepada Daud dan Sulaiman. Dan keduanya telah mengatakan: Segala puji-pujian bagi Allah yang telah melebih­utamakan kami dari hamba­hambaNya yang beriman!

 

 (16) Dan Sulaiman telah mewarisi Daud dan dia pernah berkata: Wahai manusia! Telah diajarkan kepada kami percakapan burung dan telah dianugerah kan kepada kami dari segala sesuatu. Sesungguhnya ini adalah benar­benar suatu kumia yang nyata.

(17) Dan telah dikumpulkan untuk Sulaiman bala tentaranya dari Jin dan manusia dan burung burung, dan semua mereka diatur.

 

 (18) Hingga apabila mereka telah sampai di lembah semut, ber­katalah seekor semut: Hai sekali an semut-semut! Masuklah kamu sekalian ke dalam sarang-sarangmu, supaya kamu jangan dihancur-leburkan oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedang mereka tidak merasakan.

 (19) Maka tertawalah dia tergelak­gelak dari sebab perkataan semut itu, dan berkatalah dia: Ya Tuhankul Berilah aku peluang untuk bersyukur atas nikmat Engkau dan yang telah Engkau nikmatkan kepadaku dan kepada kedua orang ayah-bundaku, dan supaya aku beramal dengan amalan yang shalih yang Engkau ridhai dan masukkanhah kiranya akan daku, dengan Rahmat Eng­kau ke dalam golongan hamba-­hamba Engkau yang shalih.

Nikmat Tuhan Atas Daud Dan Sulaiman

Pada ayat-ayat ini Allah akan menceriterakan dari hal kedua orang Nabi­Nya, ayah dan anak, yaitu Daud dan Sulaiman. Allah memberikan anugerah kepada mereka keduanya kelebihan dunia dan kelebihan akhirat. Dalam ke lebihan dunia beliau keduanya mencapai menjadi Raja Bani Israil, menguasai sebuah kerajaan besar. Dan nikmat akhiratnya atau kerohaniannya ialah karena kedua beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul Allah. Artinya dengan kekuasaan yang ada pada beliau-beliau Syariat yang diturunkan Tuhan dapat mereka jalankan dengan memakai kekuasaan. Beliau-beliau bukan lagi se­mata-mata menyeru manusia supaya tunduk kepada AllahYang Maha Esa, bahkan dapat mengerahkan ummat supaya mentaati Tuhan dan beliau-beliau sendiri menunjukkan contohnya dalam ketekunan hidup beragama. Untuk mengisi kekuasaan sebagai Raja, beliau keduanya pun diberi Allah pula Ilmu.

"Dan sesungguhnya telah Kami berikan ilmu kepada Daud dan Sulaiman." (pangkal ayat 15).

Di dalam ayat ini Ilmu Pengetahuan disebutkan `Ilman dengan shighat Nakirah, artinya secara umum, bukan satu ilmu yang khusus. Sebab itu sebagai Kepala Negara, beliau telah diberi Allah ilmu-ilmu yang perlu di dalam memimpin rakyatnya. Sebab kalau Kepala Negara itu bodoh, jahil, kurang ilmu, tidaklah akan tegak wibawa mereka di dalam memimpin rakyat. Dalam ayat-ayat yang lain ditegaskan bahwa sebagai Raja Besar yang me­merlukan perajurit-perajurit yang tangkas di medan perang, Nabi dan Raja Daud ahli dalam membuat baju besi untuk dipakai berperang. Dan sebagai sebuah negara besar, Raja pun harus pandai bermain musik. Maka beliau pun ahli menabuh kecapi dan dapat bernyanyi dengan suara yang merdu. Tetapi oleh karena beliau Raja-Nabi, nyanyian beliau penuh dengan puji-pujian kepada Ilahi. Jika beliau bernyanyi, menurut riwayat, burung yang sedang terbang pun akan tertegun lalu hinggap ke dekat beliau untuk turut men­dengarkan.

Demikian juga putera beliau Sulaiman. Nabi dan Raja Sulaiman ini pun terkenal dalam berbagai ilmu, bahkan dalam banyak hal melebihi ayahnya. Misalnya sampai diajarkan Tuhan kepadanya ilmu untuk mengetahui bunyi burung apa artinya. Di zaman kita sekarang ini ahli-ahli penyelidik binatang­binatang mempergunakan alat-alat pita perekam suara (tape recorder) untuk menangkap bunyi binatang atau burung-burung guna mempelajarinya. Kepada Sulaiman telah diberikan Allah ilmu untuk mengetahui itu. Dan ke­lebihan dia dari ayahnya ialah karena beliau pun mempunyai ilmu untuk menundukkan jin-jin halus, sehingga dapat diperintahnya: "Dan keduanya telah mengatakan: "Segala puji-pujian bagi Allah yang telah melebih-utama­kan kami dari hamba-hambaNya yang beriman!" (ujung ayat 15).

Ujung ayat ini menyatakan bahwa Raja-Nabi dua beranak itu bersyukur kepada Tuhan atas nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka, di antara hamba-hamba Allah yang beriman. Di sini pula ayat Allah memberikan tuntunan kepada manusia, bahwa apabila mereka telah dapat nikmat Kerajaan dan Kekuasaan, hendaklah mereka bersyukur dan janganlah menyombong. Itulah kelebihan Nabi-nabi. Berbeda dengan Fir'aun yang mentang-mentang mendapat kekuasaan, lalu menyombong sampai mengakui dirinya jadi Tuhan .

Menurut suatu riwayat daripada Ibnu Abi Hat:m, Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang terkenal sebgai seorang Khalifah yang shalih, menyerupai Khulafah­ur Rasyidin, pernah menulis sepucuk surat kepada,seorang kepercayaannya: "Bilamana Allah mencurah nikmatNya kepada seseorang hambaNya, lalu sihamba itu memuji syukur kepada Allah. maka pujiannya itu akan lebih tinggi di sisi Allah daripada nikmat itu sendiri."

Nabi kita Muhammad s.a.w. meskipun telah memakai gelar Raja atau Sultan, tetapi jelaslah di dalam mengadakan da'wah Agama Islam, Allah telah memberikan pula kepada beliau kekuasaan yang sangat besar, sehingga setelah Hijrah ke Madinah itu samalah kedudukannya dengan seorang Raja. Tetapi nikmat yang diberikan Allah itu tidaktah merubah kesederhanaan hidup beliau sedikit jua pun. Malah di saat beliau mencapai puncak kemenang­an, yaitu seketika beliau menaklukkan Makkah, beliau masuk ke dalam kota yang sangat dirinduinya itu mengendarai "Al-Qashwaa" dengan menekur, sampai tercecah kepalanya ke leher kendaraannya, tidak menyombong karena kemenangan itu, melainkan menekur bersyukur kepada Allah karena ke­menangan itu tidak akan tercapai kalau bukan kurnia dari Allah.

"Dan Sulaiman telah mewarisi Daud." (pangkal ayat 16).

Dikatakan di sini mewarisi, atau mempusakai. Yang dimaksud bukanlah mewarisi kekayaan emas dan perak. Karena kalau cuma itu, tidaklah ada pentingnya diwahyukan oleh Tuhan. Karena sudah sewajarnya anak mewarisi harta ayahnya. Apatah lagi anak Daud bukanlah Sulaiman saja; ada lagi anak yang lain. Mereka pun menerima waris pula. Maka yang dimaksud di sini ialah menerima waris Nubuwwat dan Kerajaan.

Ayahnya Nabi, Sulaiman pun Nabi. Ayahnya Raja, Sulaiman pun Raja. Ayahnya seorang yang cerdik pandai memerintah. Sulaiman pun cerdik pandai memerintah, bahkan dalam beberapa hal melebihi ayahnya.

Apatah lagi terlukis dalam riwayat bahwa Nabi Daud itu beristeri banyak sekali, sampai lebih daripada 100 orang perempuan. Dan hampir semuanya beranak. Kalau beliau mewariskan harta, tentu terbagilah harta yang banyak itu kepada putera yang banyak. Tetapi Nabi Muhammad s.a.w. pernah bersabda:

"Kami Nabi-nabi tidaklah diwarisi, harta yang kami tinggalkan adalah shadaqah."
(Riwayat Bukhari dan Muslim, clan Imam Ahmad, dan Abu Daud dan Termidzi, an-Nasa'i dan Thabrani)

Keterangan Nabi kita Muhammad s.a.w. itu pun memperkuat lagi bahwa yang diwariskan oleh Daud kepada Sulaiman ialah Nubuwwat dan Kerajaan dan Ilmu Pengetahuan. Sebanyak tin saudara-saudara Sulaiman, tidak seorang jua pun yang jadi Nabi seperti dia. Dan tidak seorang pun yang menjadi Raja. "Dan dia pemah berkata: "Wahai manusia! Telah diajarkan kepada karat percakapan burung dan telah dianugerahkan kepada kami dari segala sesuatu." Oleh karena ini adalah ilmu yang khusus dianugerahkan Allah kepada Sulai­man, maka tanda bersyukur Sulaiman kepada Allah tidaklah dia sembunyikan hal itu. Bahkan diberitahukannya kepada manusia. Yang biasa disembunyikan atau dirahasiakan orang kepada sesamanya manusia ialah ilmu sihir, karena ilmu sihir tidaklah tahan uji. Sihir dapat dikalahkan oleh sihir pula, dan seluruh sihir dapat dikalahkan oleh Mu'jizat. Mu'jizat tidaklah ada yang dapat meng­atasinya.

Mu'jizat beliau yang terbesar itu ialah kesanggupannya mengetahui per­cakapan burung-burung.

Janganlah kita salah faham tentang burung yang pandai bercakap. Burung hung, burung kakatua, burung nuri dan burung bayan atau burung beo, pandai bercakap kalau diajar. Tetapi tidaklah dia faham apa yang dikatakannya. Dia hanya mengulang-ulangi apa yang diajarkan. Demikian juga diberikan kepada beliau segala sesuatu yang diperlukan sebagai seorang Raja, alat-alat tanda kebenaran. Apa saja yang beliau perlukan diperlengkapi oleh Allah.

"Sesung­guhnya ini adalah benar-benar sesuatu kumia yang nyata." (ujung ayat 16).

Kalau segala yang diperlukan di dalam suatu Kerajaan yang besar, dapat saja dicapai dengan mudah, tentu teranglah bahwa itu kumia yang paling nyata dari Tuhan. Sebagai alamat bahwa Tuhan memberikan restu dan berkat kepada Kerajaan yang didirikan oleh Sulaiman itu.

"Dan telah dikumpulkan untuk Sulaiman bala tentaranya dari Jin dan manusia dan burung-burung." (pangkal ayat 17).

Pangkal ayat 17 ini adalah berkait dengan ayat 16 sebelumnya. Yaitu bahwa segala sesuatu perlengkapan Kerajaan yang diperlukan disediakan oleh Tuhan buat Sulaiman. Yang terpenting sekali ialah perajurit bala tentara.

Maka tentara Sulaiman itu terdiri dari tentara ghaib, tentara udara dan tentara biasa! Tentara ghaib ialah Jin, tentara udara ialah burung dan tentara biasa ialah manusia. Masing-masing ditempatkan daiam lapangan dan bidang nya. Sebab itu maka di ujung ayat dikatakan: "Dan semua mereka diatur." (ujung ayat 17). Disusun sebaik-baiknya. Atau diberi berbarisan.

Ahli Tafsir Mujahid berkata: "Tiap-tiap kelompok itu mempunyai pengatur sendiri, sehingga tidak terkacau di antara satu kelompok dengan kelompok yang lain!

Dengan ini dapatlah kita fahamkan bahwa bala tentara Nabi Sulaiman itu telah diatur sedemikian rupa, dengan memakai komandan sendiri-sendiri. Dengan mengingat bahwa dari zaman ke zaman telah banyak kemajuan susunan ketenteraman di seluruh dunia ini, namun al-Quran telah memberikan isyarat sejak semula bahwa tentara yang tersusun rapi adalah salah satu syarat mutlak di dalam mencapai kemenangan peperangan dan menjaga keamanan dalam negeri.

Di sini disebutkan secara berturut jenis bala tentara Baginda Nabi-Raja Sulaiman itu. Pertama disebutkan Jin. Yaitu makhluk halus. AI-Quran (Surat 55 ar-Rahman ayat 15). Menyebutkan bahwa Jin itu terjadi dari gejala api. Yaitu ujung api yang sangat panas yang tidak merah lagi warnanya, malahan telah jadi kebiruan, seperti yang dipancarkan orang untuk menyambung best (las). Dart itu kata al-Quran - itulah asal Jin - itu.

Sedang syaitan atau Iblis adalah berasal dari Jin itu (Surat 18 al-Kahfi ayat 50). Dan Tuhan memberi anugerah kepada Sulaiman, diberi kebesaran Rob sehingga Jin itu pun bisa diperintah­nya.

Di dalam Surat 34, Saba' ayat 12 diterangkan bahwa di antara Jin itu ada yang Baginda perintah memperbuat barang-barang yang Baginda kehendaki, yaitu membuat gedung-gedung bertingkat, patung-patung perhiasan dan piring-piring besar seperti kolam untuk tempat makan perajurit-perajurit yang banyak, juga periuk-periuk yang selalu terjerang. Di ayat 14 dari Surat itu juga, dinyatakan pula bahwa Jin-jin itu juga dikerahkan membuat bangunan­bangunan besar. Ahli-ahli Tafsir mengatakan bahwa bangunan-bangunan besar itu ialah salah satu di antaranya Baitul Maqdis.

Dalam membangun itulah Baginda wafat, sedang berdiri memerintahkan dan menjaga orang bekerja. Namun Baginda masih tetap berdiri juga, tidak ada yang tahu bahwa Baginda telah mangkat, walaupun jin-jin itu sendiri. Melainkan setelah tongkat tempat beliau bertelekan patah dimakan anai-anai dan beliau pun jatuh, barulah orang tahu bahwa beliau telah mangkat.

Menurut tafsir dari Ibnu Katsir dalam peraturan barisan pergi berperang, bala tentara terdiri dari manusia berjalan di muka sekali dan jin di belakang dan burung-burung terbang di atas. Maka jika kita perkaitkan di antara ayat-ayat di Surat Saba' itu dengan ayat 17 yang tengah kita tafsirkan ini, diperhatikan pula tafsiran Ibnu Katsir tersebut, mungkin kita akan sampai kepada pendapat bahwa Jin adalah berjalan di garis belakang. Pekerjaan mereka amat penting menyediakan perlengkapan-perlengkapan kerajaan dan perlengkapan perang. Mereka tidak tertonjol ke muka. Dalam kaedah tentara moden dapat dikatakan bahwa Jin adalah memegang urusan Intendant.

Tentang burung-burung dapat juga kita fahamkan bahwa mereka diberi tugas oleh Nabi Sulaiman untuk memegang perhubungan, pengiriman surat­menyurat. Sampai ke zaman sekarang burung-burung merpati dapat dididik menjadi "Merpati Pos " . Burung-burung tertentu sebagai burung elang dan rajawali dapat dipergunakan buat mengejar musuh. Sampai ke zaman kita sekarang ini bangsa Arab masih memelihara burung elang buat berburu kijang atau rusa di padang pasir. Bahkan berburu singa pun mereka tidak takut dengan memakai burung elang. Elang yang terlatih dapat menampar buruan yang telah terdesak dengan sayapnya, sambil mematuk mata buruan dengan paruhnya, sampai tidak dapat melihat lagi. Di waktu itu mudahlah membunuh­nya.

Apabila kita tidak menambah-nambah apa yang diterangkan di dalam al-Quran dengan ceritera-ceritera Israiliyat yang berisi banyak tambahan dan dongeng, dapatlah kita kira-kirakan bagaimana Nabi-Raja Sulaiman me­manfaatkan burung-burung yang beliau jadikan tentaranya dan perajuritnya itu. Bahkan burung HUD-HUD, atau burung Takur, beliau jadikan Spion atau mata-mata.

Allah memberikan kelebihan dan kekuatan jiwa bagi Sulaiman, hingga sanggup menangkap dan memahamkan kata-kata atau nyanyian dari burung­burung yang beliau jadikan tentara itu.

Sayid Quthub memberikan pula tafsiran beliau dalam tafsir beliau yang terkenal, bahwa dengan demikian bukanlah berarti bahwa Nabi Sulaiman menguasai sekalian yang bernama burung dalam dunia ini, bukan! Yang jelas ialah bahwa beliau mempunyai tentara yang terdiri dari burung-burung. Sebagaimana beiiau mempunyai tentara yang terdiri dart manusia biasa, bukanlah berarti bahwa sekalian manusia jadi tentara beliau. Sedang daerah kekuasaan beliau hanya meliputi dari tanah-tanah Syam dan Irak sekarang ini, kemudian menaklukkan Tanah Arab bagian Selatan, danqan takluknya Ratu Saba' sebagai yang akan tersebut selanjutnya.

Maka pada suatu waktu berangkatlah Nabi-Raja Sulaiman bersama tentaranya yang besar itu; tentara manusia, jin dan burung-burung.

"Hingga apabila mereka telah sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut.° (pangkat ayat 18).

Rupanya dalam Angkatan Perang Nabi-Raja Sulaiman yang besar itu, lengkap diiringkan pula oleh orang-orang besar Kerajaan, sampailah Baginda ke satu lembah, yang di sana ada sarang semut. Rupanya adalah seekor semut d! antara semut-semut yang banyak itu memberitahu kepada teman-temannya "masyarakat" semut, bahwa tentara Nabi Sulaiman akan lewat di tempat mereka itu.

Di dalam memikirkan ayat ini, dapatlah kita menggambarkan bahwa semut di musim panas atau mendekati musim dingin sangat aktif mengumpulkan makanan yang mereka bawa ke dalam sarang yang telah tersedia. Kadang kadang berbentuk "lobang kelam" saja. Ada yang berjalan sendiri-sendiri, seekor-seekor mencari-cari. Kalau bertemu makanan yang penting, segera yang seekor itu menemui kawannya, "membisikkan" atau tegasnya memberi­tahu dengan mencicipkan rasa "makanan" atau objek penting itu. Dan teman baru itu pergi pula mencari kawan Dalam beberapa menit saja, tempat itu telah ramai dikerumuni. Kalau perlu diangkat bersama-sama, misalnya bangkai lipas (kacoa) atau yang lain. Kalau sukar membawa, mereka datang bersama ke sana. Maka semut yang memberitahu atau yang berkata itu rupanya seekor semut "pengintai" atau pencari keterangan. Perkataan semut yang seekor itu kepada teman-temannya ialah begini:

"Hai sekalian semut-semut! Masuklah kamu sekalian ke dalam sarang-sarangmu, supaya kamu jangan dihancurleburkan oleh Sulaiman dan bola tentaranya; sedang mereka tidak merasa­kan." (ujung ayat 18).

Begitu besarnya jumlah tentara itu yang akan melintas di sini, sedang kamu adalah makhluk yang sangat kecil. Kamu pasti akan kancur kena injak kakinya, dan kaki kendaraannya. Beribu-ribu kamu akan binasa, sedang Sulaiman dan tentaranya tidaklah akan sadar atau meskipun mereka tahu, meskipun mereka lihat bangkai semut telah bergelimpangan tidaklah akan jadi perhatian mereka, karena kita bangsa semut adalah makhluk kecil saja dibanding dengan mereka.

"Maka tertawalah dia tergelak-gelak dari sebab mendengarkan perkataan semut itu." (pangkal ayat 19).

Tersenyum dan tertawalah Baginda Nabi Sulai­man mendengar perkataan semut itu kepada kawan sejenisnya. Mungkin beliau tertawa memikirkan bahwa binatang atau serangga kecil itu bersiap-siap hendak menangkis bahaya yang akan menimpa, padahal tidaklah mereka akan dapat mengelak kalau manusia berniat hendak menghancurkan.

Kita teringat semut-semut selimbada atau semut kerangga yang sengatnya sangat pedih dan sakit. Kalau kita mendekati dia, misalnya kita bermaksud hendak menangkap, lalu kita acukan jari kita, dia pun bersiap dengan me ngangakan mulut hendak menggigit. Semut selimbada memang sangat pedih bila dia menggigit. Maka jika kita lihat semut kecil itu mengangakan mulut ber­sedia menggigit dan meludahkan "serum" bisanya, padahal dia begitu halus, namun tidak ada perasaan takut samasekali, walaupun berhadapan dengan manusia yang beribu kali lebih besar dari mereka, niscaya kita akan tersenyum. Walaupun seekor semut selimbada telah menggigit dan memang pedih terasa gigitan itu, dengan sekali tekan saja dengan jari kaki beberapa ekor bisa mati, apalagi dengan sepatu. Itu agaknya yang menyebabkan Nabi-Raja Sulaiman tertawa sampai tergeiak-gelak.

"Dan berkatalah dia: Ya Tuhanku! Berilah aku peluang untuk bersyukur atas nikmat Engkau dan yang telah Engkau nikmat­kan kepadaku."

Yang beliau sangat syukuri di waktu itu ialah karena ilmu yang dianugerah­kan Tuhan kepadanya dapat dia mengetahui perkataan semut. Atau dapat dia mengetahui perikehidupan semut. Mempunyai Spion yang mengintip dan menyelidiki kalau-kalau ada bahaya yang akan menimpa, lalu memberi per­ingatan cepat-cepat kepada kaumnya sesama semut supaya lekas menyingkir, di samping nikmat-nikmat yang lain; nikmat kekuasaan, nikmat kerajaan, nikmat nubuwwat terutama dan nikmat dapat menguasai pula makhluk­makhluk halus buat dimanfaatkan tenaganya bagi kepentingan kerajaannya:

"Dan kedua orang ayah-bundaku."

Sebab nikmat yang dia terima sekarang ini, sebagaimana telah diterangkan pada ayat 16 di atas, sebahagian ialah sebagai warisan dari ayahnya. yang digelerkan Tuhan kepada dirinya. Dan ayahnya Nabi Daud pun adalah Nabi dan Raja pula, dibantu oleh ibunya yang telah melahirkan dia ke dunia. Sebab itu meskipun yang terkemuka hanya ayahnya, maka Sulaiman sebagai putera yang berbakti tidaklah man melupakan bahwa ibunya pun sangat patut turut disebutnya di hadapan Tuhan. Karena ibu itu yang melahirkannya ke dunia:

"Dan supaya aku beramal dengan amalan yang shalih."

Pekerjaan yang baik, usaha yang berfaedah, perbuatan yang berguna:

"Yang Engkau ridhai,"

yaitu bahwa sesuai hendaknya baik yang aku pilih itu dengan kehendak dan keridhaan Engkau, ya Tuhanku!

"Dan masukkanlah kiranya akan daku, dengan Rahmat Engkau ke dalam golongan hamba-hamba Engkau yang shalih."(ujung ayat 19).

Tercatat kiranya diriku ini dalam golong­an atau dalam daftar Tuhan sebagai hamba-hambaNya yang shalih, yang ber­faedah, yang berjasa, yang hidupnya di dunia ini tidak percuma terbuang-­buang saja.

Dengan itulah Nabi Sulaiman menyatakan syukur kepada Allah atas nikmat berlipat-ganda yang dia terima. Sedang Tuhan akan sangattah gembira bilamana hambaNya mensyukuri nikmat yang telah Dia berikan, dan bila nikmat yang telah diberikan itu disyukuri. Tuhan pun berjanji akan melipat­gandakannya lagi.

Dalam satu riwayat dart Ibnu Abi Hatim tersebutlah suatu ceritera yang diterimanya dengan sanadnya dari Abish Shiddiq an-Najiy, bahwa pada suatu hari Nabi Sulaiman bin Daud pergi ke suatu tanah lapang berdoa kepada Tuhan memohonkan hujan. Tiba-tiba bertemulah beliau dengan seekor semut sedang tidur menelentang di alas pasir dan kakinya menadah ke langit. Beliau mendengar semut itu berdoa: "Ya Allah! Aku ini adalah salah satu daripada makhiuk engkau. Kami semuanya sudah sangat kehausan. Kalau tidaklah segera Engkau turunkan air minum untuk kami, binasalah kami semua!"

Hanya Nabi Sulaiman yang mendengar doa itu. Lalu beliau berpaling kepada rakyat dan bala tentara yang mengiringkan beliau dan beliau berkata: "Marilah kita kembali! Salah satu makhluk Allah telah berdoa dengan khusyu'­nya di hadapan Tuhan, dan doanya dikabulkan Tuhan!"

Kisah semut dalam al-Quran dengan kemajuan ilmu pengetahuan tentang keadaan binatang, terutama tentang serangga, tidaklah boieh kita pandang enteng saja.

Semut marabunta di Afrika.. bisa memusnahkan segala yang dilaluinya apabila dia sedang melalui sesuatu tempat dengan beribu-ribu dan berlaksa­-laksa banyaknya. Kambing yang dipanjatnya, kambing mati. Setelah mati dimakannya bersama-sama, sampai tinggal tulang yang sudah kering. Bahkan manusia pun bisa mati dikeputungi semut.

Syaikh Thanthawi Jauhari di dalam Tafsir beliau yang terkenal "Al-Jawahir' menceriterakan kehidupan semut dalam berbagai jenisnya dengan memakai gambar-gambar. Ada semut yang sanggup membuat sarangnya dari tanah liat yang menonjol di permukaan bumi. Sarang semut itu lebih keras daripada tembok beton semen sekalipun.

01  02    03    04    05   06    07    08     09                                          Back To MainPage       >>>>